Kalexsa Alavo

Kalexsa Alavo
Part 64. >~<


__ADS_3

Beno berjalan dengan menghela nafas panjang dan duduk kembali kesofa.


"Hampir aja Gue berbuat yang enggak-enggak sama itu anak, huh."


"Baru sadar Gue, kalo diliat dari dekat kayak tadi dia beneran...."


"Akhh! Gue gak boleh begini. Tenang Beno tenang." Beno menarik nafas dan membuangnya secara perlahan dan dia lakukan berulang ulang.


Setelah udah rileks, ia menyenderkan kepalanya disofa dan memejamkan matanya.


"Assalamualaikum kita balik."


"Mami Gue mana?."


"Ohh, tadi kata Nyokap Lo ada Metting mendadak dikantornya yaudah deh gitu aja." Jelas Reyla.


"Ahh sampek lupa, ini makanan Lo." Reyla memberika makanan yang udah dipesan sama Wina.


Beno menerimanya dan meletak bungkusan itu dimeja.


Gesy melihat kesekitar. "Sasha mana?. Lo jual dia?."


"Iya, dia Gue jual. Kan lumayan bisa balek modal uang Nyokap Bokap gue."


Sasha keluar dari toilet dengan mendorong tiang infusnya dan menatap teman-temannya yang udah kembali. "Kalian udah siap makannya?."


Sasha kembali berbaring dibrangkarnya.


"Udah, Nyokap lo baik juga ya kak. Gue kira jutek kayak anaknya hehe." Kata Liva cengengesan.


"Tersera kalian mau katain gue apa." Beno enggak menanggapi setiap cibiran mereka dan hanya bermain Handphonenya.


"Kalian gak boleh kayak gitu. Harusnya mengucapkan makasih sama keluarga kak Beno." Tegur Sasha.


"Asik'ileh kakak Beno haha..." Kata Reyla yang memang tau Beno dari SMP.


Mendengar ledekan Reyla mereka tertawa terbahak-bahak.


Sasha menahan tawanya karna Reyla. Tapi gak sengaja Sasha melihat Beno udah menatap dengan mata yang udah melotot kearah mereka semua.


Beno menatap mereka semua sinis. "Kalian pulang sana, Sasha udah waktunya istirahat. Ganggu aja kalian disini biken rusuh."


"Yahh marah, awas cepet tua lu marah-marah mulu." Kata Gesy.


Beno melempar bantal sofa kearah mereka. "Pergi nggak lo pada hah."


"Iye-iye, Sha kita pamit dulu yah bye." Mereka pun pergi bagaikan setan.


"Tenang juga nih ruangan, huh." Kata Beno sambil mengambil bungkusan yang ada dimeja dan berjalan mengambil piring dilemari samping brangkar dan kembali duduk disofa dengan menghidupkan televisi.


Beno membuka bungkus nasi soto yang tadi dia pesan, serta menghidupnya.


Beno menyendok nasinya dan akan memasukkannya kedalam mulutnya tapi,


"Kak, aku mau dong."


"Enggak boleh, lo blom boleh makan kayak gini. Tuh makanan lo usah ada dimeja noh" Kata Beno menunjuk pakai dagunya dan menyuapkan nasi kemulutnya dengan menatap Sasha.


Sasha memanyunkan bibirnya. "Tapi aku mau yang itu, dikit.... aja." Sasha menirukan anak kecil yang ingin meminta sesuatu.


"Gak boleh." Beno mas terus menyuapkan nasi kemulutnya.


Sasha mengambil infisnya dan bangkit dari brangkasnya serta berjalan kearah Beno.


"Sedikit aja, aku bosen makan yang warna putih itu aja tiap saat. Yah, dikit aja." Sasha mengapitkan jari telunjuk dan ibu jarinya tanda sedikit.


"Gak boleh Sasha."


"Mau yang ini, aduh!" Pekik Sasha karna tersandung kaki meja dan hampir menimpa tubuh Beno.

__ADS_1


Sasha menahan tubuhnya dengan lengannya agar enggak jatuh ketubuh beno.


Beno diam menatap manik coklat Sasha, hidung dan beralih kebibir.


"Ben. Lo, kita telp---, ups." Orang itu berbalik arah dan menutup pintu.


Sasha dan beno buru-buru kembali keposisi semula. Beno enggak sengaja menggeser lengan kiri Sasha yang diperban dan tersentak.


"Aduh! lengan aku kayak mau patah." Sasha kesakitan karna ini beneran sakit walau udah dipasang penyangga untuk tangannya.


Dia terduduk disofa, Beno segera duduk disebelah Sasha dan melihat kondisinya.


"Ayo gue papah balik kebrangkar," Beno memapah Sasha.


"Woi kalian berdua ngapain bengong?. Pencet tombol itu cepetan, untuk panggil dokter."


"Haaa iya-iya." Mereka berdua mendekat.


"Lemesin aja lengannya jangan dibawak kaku, nanti tambah sakit."


Sasha memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakit dan mengangguk mendengar ucapan Beno.


Dokter datang dengan suster, mereka langsung mengecek kondisi Sasha. "Tolong beri kami ruang untuk menanganinnya pasien."


Beno dan dua temannya keluar. "Lo kok tau gue disini?."


"Tadi kita kerumah lo, tapi elo enggak ada. Kata pembantu lo dirumah sakit, yaudah kita samperin aja." Kata Danu


"Kenapa gak telpone atau tanyak gue dulu?."


"Yaelah, udah ribuan kali kita telpone. Emang dasarnya elo mau pacaran, mala udah tidur-tiduran lagi." Kata Elga yang langsung blak-blakan.


"Mata lo soak, jangan fitnah kalian."


"Lah emang kayak gitu nyatanya." Ucap Elga gak mau kalah.


"Terserah lo pada, cukup tau aja gue."


Dokter dan suster keluar....


"Bagaimana kondisi lengannya dok?. Enggak ada masalahkan dok?." Tanya Beno.


"Tulangnya tadi bergeser karna ada benturan dan mengakibatkan tulang itu bergeser. Alhamdulillah sudah saya kembali normal. Tapi khusus untuk lengan jangan banyak untuk digerakkan dulu dan jangan membawa barang-barang yang berat, agar proses penyatuan tulangnya cepat menyatu kembali. Masnya harus jaga dan selalu awasi pasien."


"Baik dok."


"Tadi juga sudah saya kasih obat pereda rasa sakit dan menenang. Mungkin, pasien sekarang sudah tidur. Kalau gitu saya permisi."


"Ya, silahkan dok."


Mereka bertiga masuk dan duduk disofa.


"Ehh Ben, itu bukannya yang lo bilang babu lo disekolah itu ye?." Tanya Elga.


"Masa sih Ga?." Danu pun mulai penasaran.


"Iye, gak mungkin gue salah dah." Mereka berdua berjalan mendekati brankar Sasha.


"Ehh buset, beneran woii ini cewek yang waktu itu. Kok bisa di elo nih cewek sekarang, sampek dirumah sakit segala?." Kata Danu kaget.


"Lo aniyaya nih cewek Ben?. Kebangetan lo jadiin babu sampek kayak gini." Ceplos Elga.


"Bisa diem gak lo, gue sumpelin nasi soto kelambemu ini nantik."


"Mau doang gue nasi soto, mumpung belom makan." Elga kembali duduk dan menikmati sebungkus nasi soto sengan tenang.


"Nah, lo makan tuh nasi kalo bisa sama bongkosnya sekalian lo telen."


"Tadi waktu kita masuk baek-baek aja tuh tangannya." Tanya Danu.

__ADS_1


"Gue gak sengaja nyenggol lengan dia tadi waktu kalian masuk."


"Teros kok bisa tuh lo berdua tidur-tiduran disofa hah?." Tanya Elga dengan memasukkan kerupuk kemulutnya.


Danu pun mengangguk ingin tahu alasan itu juga.


Beno pun menceritakan dari awal kenapa Sasha bisa kayak sekarang. Enggak lupa tentang yang Sasha tersandung kaki meja dan mereka berdua jatuh disofa.


Waktu kejadian ditoilet tadi diskip dong sama Beno. Iya kali mau nyeritain semuanya, yang ada nanggung malunya sampek keubun-ubun.


"Prihatin gue sama nih orang. Kalo gue punya sahabat yang kaya gitu, males dah gua temenan lagi sama mereka." Kata Erga.


"Tapi gue salut sama dia. Walaupun udah disakiti tapi dia mau memaafkan dan menerima mereka kembali jadi sahabatnya." Kata Beno.


"Jarang-jarang ada cewek sebaik dan selembut dia Ben. Kalo gue punya cewek yang sifatnya kaya dia!," Danu menggeleng sambil menyengir kearah Beno. "Pasti gak bakal gue biarin dia pergi dari sisi gue."


"Jangan macem-macem lo bro." Kata Beno menatap Danu tajam.


"Tenang gue gak akan ambil dia dari lo. Jaga dia baek-baek."


"Terus, ngapain lo berdua nyamperin gue sampek sini?. ada apa?." Tanya Beno.


"Yaampun sampek lupa tujuan kesini mau ngapain." Danu mengambil flesdist dari saku celana jensnya dan memberikan keBeno.


"Tugas kelompok kita tentang pengelola keuangan, kata Bu Santi ada yang gak belens, gak sesuai hasilnya. Coba lo periksa nanti."


"Masa sih?. Udah gue jumlah, pas hasilnya."


"Makanya itu, coba lo periksa lagi. Mana tau Lo silap ngitongnya." Timpal Elga


"Okelah-oke, nanti gue periksa."


"Kita balik kalo gitu udah malem. Titip salam buat tu orang yah, bilang dari Danu I LOVE YOU."


"Jangan macem-macem lo Dan, habis lo sama gue."


"Canda ngeb, baper amat. Cabut El, udah siap lo mamamnya kan."


"Tuh dah abis, makasih ya Ben. oh iya tolong bersihkan ya piring gue." Mereka cepetan lari takut ditampol sama Beno.


Beno udang mengangkat gelas vas plastik ditangannya siap melayang mengenai kepala mereka berdua. Tapi diurungkan takut Sasha tersanggu. "Kurang ajar lo berdua emang."


Beno membersihkan sisa makanan miliknya yang udah dimakan habis sama Elga.


Setelah itu membersihkan badan dari tadi sore Beno belum mandi, bahkan dia masih menggunakan seragam sekolah.


"Hah, seger." Beno mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Ia mengambil laptop dan duduk dikursi samping brangkar Sasha. Dipangkunya laptop dan dihidupkannya, dia mengecek apakah ada yang salah tentang penjumlahan yang kerjakan.


"Ternyata kesalahnnya disini pantes aja gak belns." Kata Beno dan segera ia perbaiki.


Lagi fokus merekap ulang tugasnya, ada panggilan masuk dari Maminya Beno. Beno pun segera mengangkatnya.


Beno: Iya ada apa Mih?.


Wina: Ben, malam ini Mami dan Papi ada penerbangan keluar kota mendadak nak.


Beno: Berapa hari Mami diluar kota?.


Wina: Kemungkinan satu minggu, tapi kami usahakan urusan ini cepat selesai agar segera kembali.


Beno: Yaudah Mami sama Papi hati-hati disana, jaga kesehatan.


Wina: Iya nak, kamu juga. Sama jagain terus Sasha sampai membaik.


Beno: Iya, akan aku jagain dia, Mami tenang aja.


Panggilan berakhir. Setelah Beno menyelesaikan tugasnya ia meletakkan laptopnya diatas meja dan tertidur dikursi dan mengangga kepalanya atas brangkar tepat disamping perut Sasha.

__ADS_1


"Terimakasih karna kamu dan keluarga kamu udah sangat baik dan perhatian sama aku." Kata Sasha sambil menitikkan air matanya.


...~~~...


__ADS_2