
"Rumah Lo dimana?." Tanya Beno ketika sudah melaju membelah Kota Jakarta.
"Didekat taman Laraska. Jalan Tamrin." Jawab Sasha. Beno melajukan Mobilnya kejalan Tamrin.
Sesudah memasuki jalan Tamrin, ada persimpangan, Beno menghentikan mobilnya. "Terus ini kekanan, kiri, apa terus?."
"Belok kekanan, nantik kalo ada warung kamu berhenti. Nggak jauh kok, dari sini nampak tuh." Tunjuk Sasha.
Beno memutar stirnya kekanan dan berhenti tepat didepan warung yang tadi ditunjuk Sasha.
Sasha keluar begitu aja dan berjalan kearah halaman kos'annya.
Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Sasha, Beno menurunkan kaca mobilnya.
"Nggak tau terima kasih Lo, yah."
Sasha berbalik badan. "Hah?."
"Ha he ha he pula tuh, dasar."
Sasha kembali mendekat kearah Beno. "Terima Kasih sudah mengantarkan Aku, kak Beno." Tersenyum paksa kearah Beno. "Puas." Sasha berbalik badan.
"Udah basih. Nggak berlaku lagi ucapan terima kasih Lo, bye." Menyalakan mesin mobilnya menuju rumah.
"Udah basih. Nggak laku lagi ucapan terima kasih Lo, bye." Sasha menirukan kembali ucapan Beno. "Emang makanan bisa basih, aneh huh."
...- - -...
Pagi hari tiba, Sasha sudah siap dengan baju rapi.
Orang pasti bertanya-tanya. Hendak kemana Dia dihari libur seperti ini?
Keluar rumah sudah banyak ibu-ibu sedang belanja untuk dimasak, diwarung depan kos'annya.
"Ehh neng Sasha mau kemana? Pagi-pagi gini udah cantik." Kata ibuk
"Iya, pasti mau kencan yah sama pacarnya, yakan ibuk-ibuk?." Timpal ibuk yang disebelah ibuk berbaju daster motif batik sambil senyum-senyum.
"Ihhh ibuk, saya nggak punya pacar kok." Menimpali dengan senyuman kepada ibu-ibu disana.
"Tapi kamu tadi malem ada tuh dianterin sama laki-laki, pasti pacar kamu itu." Kata salah satu dari mereka sambil mengibaskan tangannya ala-ala mak rumpi. Kebetulan tadi malam ibu itu melihatnya dengan Beno.
"Itu bukan pacar saya bu. Dia hanya kakak kelas, udah nggak lebih kok. Lagian saya mau fokus belajar dari pada pacar-pacaran."
"Nah ini baru anak muda yang patut dicontoh. Bagus nak pemikiran kamu."
Sasha hanya menanggapinya dengan senyuman. "Kalo gitu saya permisi dulu ya bu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab kompak ibu-ibu disana.
Sasha berjalan, dia celingak-celingukan sambil berjalan. Entah apa yang sedang Ia cari.
Sasha berhenti disalah satu toko baju dipinggir jalan. "Permisi pak."
"Iya ada yang bisa saya bantu nak?." Kata bapak pemilik toko baju itu.
"Saya mau tanya apakah ditempat bapak ataupun didaerah sini ada lowongan pekerjaan, pak?."
"Saya lagi tidak ada lowongan pekerjaan nak. Kalau didaerah sini saya kurang tau nak." Jawab bapak itu.
"Ohh begitu ya pak. Kalau begitu saya permisi, terima kasih pak."
Bapak itu mengangguk dan kembali menyusun-nyusun baju dimanekin.
Sasha menghela nafas, akhirnya dia memutuskan ketaman laraska. Sesampainya disana, dia duduk disalah satu kursi yang sedikit menjauh dari kerumunan.
Ditaman itu lumayan banyak orang. Sasha mengeluarkan Handphonenya dari dalam tas dan mencari loker diinternet, mana tau ada yang cocok untuknya.
Cukup lama Sasha berkutat dengan Gawai digenggamannya, tapi sayangnya keberuntungan tidak memihak kepadanya.
Sasha pun memutuskan memasukkan kembali Gawainya kedalam tas selempangnya.
Dia memperhatikan setiap orang yang sedang berlalu lalang didepannya. Mereka semua tampak bahagia, dan dia sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Apa Aku harus kembali kepanti dan melupakan cita-citaku?, kalau pada akhirnya hidup-ku sangat kesepian seperti sekarang ini." Terlihat kesedihan diwajahnya.
"Nggak, enggak Sasha, enggak." Sasha menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak boleh seperti ini, kamu udah berjuang sejauh ini demi mendapatkan beasiswa, dan kamu mau menyerah kayak gitu aja, dan ingin kembali, itu nggak boleh. Aku harus berusaha, demi diri ku dan juga semua orang dipanti." Tekatnya.
Mengangguk dan mengepalkan tangannya keudara menyemangati diri sendiri agar tidak pantang menyerah.
Sasha kembali menanyakan kekios-kios, mana tau ada lowongan pekerjaan.
Sasha menghembuskan nafas lelah dan duduk dikursi dekat warung. "Udah hampir malam, tapi belum juga menemukan pekerjaan yang cocok. Persyaratannya harus sudah tamat sekolah, sedangkan aku masih sekolah." Tubuhnya merosot dengan kaki diselonjorkan.
"Bu, Teh dinginnya satu." Penjaga warung mengangguk.
"Ini neng tehnya."
"Terima kasih buk." Sambil menyeruput Teh dingin itu. "Dimana lagilah Aku cari pekerjaan paruh waktu ini, huh."
Penjaga warung yang sedang mengambil gelas kosong dekat ku tidak sengaja mendengar ucapan ku.
"Maaf neng, ibu tadi tidak sengaja mendengar kalau neng sedang mencari pekerjaan?."
"Iya bu saya sedang cari pekerjaan, tapi tidak mereka membutuhkannya yang sedang tamat sekolah, sedangkan saya masih sekolah." Jawab Sasha lesu.
"Didekat sini kalo nggak salah ada yang memerlukan orang gitu neng, apa neng mau?."
"Mau, mau bu. Tapi, pekerjaannya jadi apa ya bu?."
"Jadi badut ditaman hiburan diujung sana neng, dan kebetulan itu sedang buka lowongan kerja bagi yang mau."
Sasha tersenyum merekah. "Beneran bu?." Ibu itu mengangguk dan tersenyum.
Aku berdiri dan langsung menyalami tangan ibu itu. "Terima kasih bu, terima kasih. Saya akan kesana, ini bu pesanan saya. Terima kasih sekali lagi bu." Sasha berlari ketaman hiburan diujung jalan, dan lebih beruntung lagi hari ini mereka buka.
Sesampainya disana, Aku celingak-celukan kesana-kemari. "Permisi pak apakah disini sedang membuka lowongan pekerjaan?. Tanya ku pada Satpam yang berjaga.
"Iya, kami sedang ada lowongan." Kata pak satpam.
"Bisakah saya bertemu dengan pemiliknya pak, saya ingin bekerja disini pak."
"Baik, mari saya antar."
"Suruh Dia masuk."
Aku pun masuk dan berhadapan dengan pria paruh paya.
"Jadi kamu orangnya!." Tanya pria itu yang berusia 45 tahun.
"Iya saya pak, yang ingin bekerja disini."
"Kamu sudah tau pekerjaannya apa?."
Aku mengangguk. "Menjadi badut untuk menghibur yang berkunjung kesini."
"Baik kamu cukup paham rupanya. Apakah kamu sudah tamat sekolah atau masih kuliah."
"Saya masih sekolah SMA kelas 11 Pak." Sasha menunduk, ia harap-harap cemas kalau ditolak lagi.
Pak Juda membulatkan matanya. "Masih SMA?."
"Iya pak. Tolong terima saya pak, saya sangat membutuhkan pekerjaan demi mencukupi kehidupan saya disini."
Juda tertawa dan itu membuat Aku bingung. "Saya menerima kamu, mungkin ini hari keberuntungan kamu."
"Hah! Saya diterima pak?." Melongo nggak percaya.
"Iya, kamu saya terima."
"Terima kasih pak." Membungkuk tanda hormat.
"Mulai besok kamu sudah boleh bekerja. Jam berapa kamu selesai belajar."
Sasha tampak berpikir."Saya selesai sekolah kurang lebih jam 3 pak."
"Berarti jam 4 kamu harus sudah sampai disini, oke. Karna, ini bukanya mulai jam segitu."
__ADS_1
"Baik pak, saya mengerti. Sekali lagi terimakasih pak."
...- - -...
"Apa Gue melupakan sesuatu?." Gesy menatap Sasha.
Mereka sedang istirahat dengan Reyla dan
"Nampaknya sedang terjadi sesuatu?." Kata Reyla dan teman sebangkunya kompak menatap Sasha, begitu juga dengan Gesy.
"Emang ada apa?." Tanya balik Sasha yang tidak tahu sambil senyum-senyum gak jelas.
"Ya Elo, macem orang kesambet tuyol senyam-senyum, kayak abis dapet uang satu trek." Kata Gesy memakan camilannya.
Sasha memperhatikan penampilannya. "Aku biasa aja, nggak ada yang salah Aku pikir, mala kalian yang aneh."
"Ngelunjak nih anak." Gesy menoyor kepala Sasha dengan botol plastik kosong sambil memegang keripik. Sasha hanya tertawa ringan dengan memakan camilannya.
"Eh, btw kepsek suruh kita sepulang sekolah disuruh ngumpul dilapangan utama kan?. Menurut Lo pada siapa yang bakal jadi wakil ketua osis ini?." Kata teman Reyla
"Pasti Gue lah, ya kali Elo." Gesy pe'de abis sambil nyengir.
Reyla menoyor kepala Gesy. "Ngaca neng, ngaca." Katanya. "Kalo Gue pikir sih, Elo Sha."
"Nah itu Gue setuju, Gue sependapat sama Lo Rey." Menatap Sasha.
"Aku sih nggak yakin. Tapi bagusan Aku nggak terpilih deh."
...- - -...
"Selamat siang semua." Salam Pak Durse diatas podium.
"Siang pak."
"Hasil dari tes semalam, saya selaku Kepala Sekolah disini sudah mengambil keputusan." Kata Pak Durse.
"Dari kalian semua yang ada disini, Saya sudah konfirmasi dengan semua Guru dan juga anggota Osis, ditangan saya sudah ada 2 nama diantara kalian, dan nantinya akan divote satu sekolah besok." Sambungnya.
"Mudah-mudahan Gue yang terpilih, amin." Ucap Gesy.
"Jangan ngarep." Celetuk Reyla.
"Tanpa mengulur waktu, maka akan saya Panggil siapa-siapa saja nama yang terpilih."
"Nama pertama jatuh kepada..... Ferna dari kelas 11 jurusan Bisnis1." Firna maju kedepan dengan gayanya yang angkuh dengan kepalanya sedikit didongakkan.
"Nggak biasanya tuh anak ikutan partisipasi dalam sekolah." Pikir Beno.
"Ehh, dia bukannya anak Kepsek?." Ujar Reyla.
"Masa sih!," Kata Gesy melihat kearah Firna. "Bener, gila sih. Pasti dia ngehasut Bokapnya, dasar picik."
"Kalian berdua jangan su'uzon." Kata Sasha menasihati.
"Emang kenyataannya, tuh." Kata mereka kompak
"Dan yang kedua adalah.... Sasha dari kelas 10 jurusan Modeling 1. Kepada nama yang disebut mohon maju kedepan."
Sasha melongo, enggak percaya. Pasalnya dia ikut ini hanya mengikuti kemauan Gesy. Tapi, siapa sangka dia terpilih.
"Kan apa Gue bilang Elo pasti yang terpilih lagi. Udah sana maju, tunggu apa lagi."
"Inilah 2 orang yang terpilih diantara kamu semua. Saya harap satu diantara kamu berdua nantinya yang akan terpilih, mohon partisipasinya."
"Baik pak, kami akan melakukan semampu kami." Kata Sasha dan Firna.
"Berhubungan sudah siang, dan hanya ini informasi yang saya sampaikan, kalian boleh pulang."
"Terima kasih pak."
"Jangan harap Lo bisa caper seenak jidat nenek moyang Lo disini." Firna mendengus, menyindir Sasha dan pergi bersama gengnya. Sasha heran dengan ucapan Firna.
"Dan satu lagi," Dia berbalik menatap ku. "Jauhi sepupu Gue, pasti Lo paham apa maksud Gue."
__ADS_1
...#BERSAMBUNG#...