
"Sejak saat itu, sifatnya berubah drastis akibat dihasut oleh Mamanya nggak terima anaknya Tante tuduh. Padahal itu memang salah anaknya." Kata Wina.
Wina menggeleng. "Firna yang tante kenal dulu sangat jauh dengan Firna yang sekarang."
"Apa mungkin, waktu Dia membully disekolah adalah kebiasaan sifatnya yang sekarang?." Dugaan-ku.
"Setiap manusia bisa aja berubah sifatnya setiap saat Tante."
"Iya, termasuk Lo." Kata Beno dengan menuruni anak tangga. "Mami jangan tertipu juga sama ni anak." Pandangan matanya menuju kearah ku.
"Didepan aja manis, didalemnya busuk." mendorong pelan kening-ku dengan jari telunjuknya.
Aku menautkan alis-ku. "Apaan sih!." Aku bergumam kepada Beno.
"Mami tau, Sasha pasti nggak seperti itu orangnya, iyakan sayang?."
Aku mengangguk mantap kearah Wina dengan senyuman-ku.
"Bisa aja kali Mi." Beno duduk disamping-ku dengan menyulangkan satu kakinya.
Otomatis Aku bergeser kesudut kursi, malas dekat-dekat dengannya.
"Kenapa Lo?. Gue dah mandi, dah wangi lagi, nih-nih rasain Lo." Beno mendekat dan mencapit kepala-ku dan mengasih ketiaknya tepat dimuka-Ku.
"Aduh apaan sih, susah napas nih gara-gara nyium bau ketiak kamu, lepasin."
"Beno udah, lepasin."
"Oh iya Mi, tadi kayaknya Aku denger suara Firna?."
"Kamu nggak usah bahas dia."
"Mi udahlah, sekarang Aku udah Baik-baik aja, kan?."
"Tapi Mami masih belum bisa memaafkannya. Mami mau kekamar aja, kamu temenin Sasha dulu disini." Wina beranjak pergi menuju kamarnya.
Kami berdua memandang Wina berjalan menaiki tangga.
"Nah sekarang giliran Lo, ayo ikut Gue."
"Mau kemana?."
"Jangan banyak tanya, tadi Gue udah bilang sama Lo untuk bayar utang Lo jadi babu Gue, kan?."
"Ahh iya, hampir aja lupa kalo Aku masih terikat utang dan disuruh jadi babu sama nih orang." Gumam-ku pelan.
"Jangan bilang Lo lupa yah, atas perbuatan dan ucapan Lo waktu itu!."
"Iya-iya nggak mungkin juga Aku lupa," Kata-Ku menatapnya dan langsung memalingkan wajah-ku. "Tapi boong hehe." Ucap-ku lirih.
Beno berjalan dan aku mengikutinya dari belakang.
"Masuk." Suruh Beno.
Ternyata dia mengajak-ku kekamarnya. Aku melongo menatapnya didepanya pintu kamarnya dan langsung menyilangkan kedua tangan ku dibadan-ku, takut dia mau macem-macem nantinya.
Beno yang sudah lebih dulu masuk melihat kebelakang, mendapatkan Sasha bertingkah seperti itu langsung mengernyit heran.
__ADS_1
"Lo ngapain?. Nggak selera Gue sama Lo, dasar cewek culun."
Aku menurunkan tangan-ku dan masuk kekamar Beno. "Ngapain kamu bawak Aku kekamar kamu, diluar aja bisa, kan?."
Dia berjalan rak buku dan mencari beberapa buku. "Gue mau Lo kerjain semua tugas rumah Gue. Gue denger-denger kalo Lo itu anaknya pinter dan dapet beasiswa juga. Jadi, kerjain nih sekarang." Dia melempar 3 buah buku kearah-ku. Dengan sigap Aku menangkapnya.
"Yah, ini tugas kamu, kenapa harus Aku yang mengerhain?." Tanya ku.
"Karna Lo itu babu Gue sekarang, ingat BABU." Menekankan kata babu tepat dimuka-Ku.
Badan-ku sedikit kebelakang yang melihat Beno seperti itu, setelah itu berdiri tegak.
"Iya BABU." Aku kembali menekankan kata-kata-ku dan berjalan keluar kamar dan menuruni tangga.
"Siapa yang suruh kebawah?. Kerjain disini." Cegah Beno.
Aku berbalik badan, bingung mendengar ucapannya. "Enggak mungkin kita berdua ngerjainnya didalam kamar, kan?."
"Siapa yang bilang didalam kamar!."
"Terus?."
"Tuh, dibalkon dekat kamar Gue." Tunjuk Beno pada pintu yang ditutup disamping kamarnya.
"Sama aja itu mah." Aku bergumam.
"Lo bilang apa barusan?."
"Itu kayaknya Tante Wina manggil barusan, tapi mungkin Aku salah denger." Kilah-ku dan dan kembali menaiki tangga.
"Halah pakek ngeles lagi Lo."
"Lo yang nyarik ribut duluan sama Gue."
"Iya-iya Aku yang nyarik ribut, puas kamu."
Aku duduk dilantai beralaskan karpet mengerjakan tugas Beno.
"Awas, jangan sampek salah." Katanya duduk disamping-ku sambil bermain Games diHandphonenya.
"Bawel."
Mengerjakan berbagai tugas Beno, memutar otak mencari jawaban. Sedangkan yang punya tugas?. Enak-enak duduk santai main Handphone.
"Lama banget Lo ngerjain kayak gitu." Kata Beno, pandangan masih tertuju pada Handphonenya.
"Kok diem aja nih anak?." Pikir Beno, lalu melirik sekilas kearah-ku.
Dia membulatkan matanya. "Malah tidur dianya!."
Ternya Sasha tertidur dengan kepala diletakkan diatas meja.
Baru juga Beno mau teriak, tapi melihat Aku tertidur pulas seperti itu, ada rasa tidak tega.
Beno menghela nafas. Lalu, meletakkan Handphonenya dan ikut merebahkan kepalanya diatas meja menghadap Sasha.
Dipandangnya wajah sasha yang terlelap dalam mimpi. Beno melihat ada nyamuk nempel dipipi-ku.
__ADS_1
Dia mau memukulnya tapi takut Sasha terbangun. Jadi, dia meniupnya agar nyamuk itu pergi.
Sasha sedikit terusik karna ada terpahan angin meniup pipinya. Tiba membuka matanya dia terkejut, ternyata Beno berada didepannya, begitu dekat dengan wajah Sasha dan sedang memperhatikannya.
Sasha Mendorong jidatnya agar menjauh. "Ahh kamu ngapain?." Teriak-ku.
Beno yang kaget didorong jidatnya, sampai terantuk dinding dibelakangnya dan mengeluh kesakitan. Lalu, Dia menatap-ku tajam.
Melihat Beno kesakitan, Aku berdiri menghampirinya. "Maaf, Aku nggak sengaja." Dengan wajah khawatir.
"Nggak ikhlas Lo ngerjain tugas Gue, yah?." Kata Beno sambil mengusap-usap kepalanya. "Mana nih sakit lagi."
"Yah kamu sih, ngapain muka kamu deket banget sama wajah aku!."
"Jangan kege'eran Lo. Tadi, dipipi Lo ada nyamuk dan berusaha aku singkirkan." Ucapnya rada-rada gugup.
Aku mencipitkan mata-ku menatapnya. "Kok Aku nggak percaya, yah?."
"Terserah Lo mau percaya atau nggak, bukan urusan Gue." Beno keluar dari balkon.
Segera Aku membereskan Buku-buku yang berserakan disana dan menyusul Beno keluar.
Aku mendapati Tante Wina didapur. Aku menghampirinya.
"Tante, Sasha pamit pulang dulu yah." Pamit-ku.
Wina berbalik badan menatapku. "Iya sayang, kamu diantar Beno aja yah!. Udah malem banget soalnya."
Aku menggeleng. "Ahh--Nggak usah Tante, Aku pulang sendiri aja naik ojek online."
"Enggak baik anak gadis pulang sendiri malem-malem gini. Udah biar Beno aja yang nganterin kamu pulang." Kata Wina. Belum sempat menolak Wina sudah memanggil anaknya yang baru saja keluar dari kamar mandi dapur.
"Beno, kamu antar Sasha pulang yah. Udah malem kesian dia."
Beno yang baru saja keluar, melirik kekanan kekiri, lalu menunjuk dirinya.
"Iya Beno, kamu tolonglah antarkan Sasha pulang."
Aku menggeleng. "Udah nggak usah Tante, Aku naik ojek aja, enggak apa-apa kok Tante."
Baru saja Wina mau melarang Sasha untuk pulang naik ojek. Beno berkata. "Yaudah, ayo Gue antar."
"Nah, itu baru anak Mami yang Gentel."
Beno mengambil jaket jens yang tersampir disofa, lalu berjalan keluar.
Aku pun pamit dan mencium tangan Wina. "Tante, Aku pulang dulu yah. Tente cepet sembuh."
"Makasih sayang."
"Jadi nggak nih?. Kalok nggak Gue mau tidur, ngantuk." Teriak Beno diujung pintu.
"Aku pamit Tante, Assalamualaikum."
____
Maaf ya kalok cerita aku kurang menarik.
__ADS_1
Tapi aku udah berusaha membuat novel aku kedepannya lebih baik lagi :)