Kalexsa Alavo

Kalexsa Alavo
Part 62. Om dan Tante


__ADS_3

Seusai jam pelajaran selesai...


Reyla, Gesy, dan juga Liva keluar kelas berbarengan.


"Gimana gais! kita cari Sasha atau gimana?." Tanya Reyla


"Gue udah selalu kekos'annya tapi kata ibuk yang semalem, katanya Sasha belum pulang-pulang dari yang kita tanyak waktu itu."


"Kita mesti ngapain dong?. Liv Lo kok diem aja dari tadi?." Tanya Reyla.


"Emm... kalian ingat gak apa yang dibilang ibuk itu."


"Yang mana? Sasha gak ada!." Kata Reyla


"Bukan, bukan kalimat itu. Tapi waktu itu katanya ibuk kos'annya ada bilang kalok sebelum kitakan ada yang tanya Sasha juga, kan!." Jelas Liva.


"Nah, menurut kalian itu siapa?." Tanya Liva.


"Yang sering deket sama Sasha cuman kita-kita doang." Kata Reyla.


"Gue tau siapa orangnya. Ayo ikut Gue." Gesy langsung pergi dan diikuti oleh Liva dan Reyla.


Mereka menuju kelantai dua kelas XI Bisnis1. Ternyata disana ada seorang laki-laki berdiri dikoridor depan kelasnya sedang menerima telepon dari seseorang.


Dia kaget dari percakapan disebrang telepon itu. "Apa kok bisa Mi, Sasha kabur."


Ketika hendak mendekati Beno, Gesy dan yang lainnya tersentak mendengar nama Sasha.


Gesy membalik bahu Beno dan meninju wajah Beno, hingga Beno kaget.


"Apa-apa Lo ini?."


"Lo yang apa-apaan, jadi selama ini Lo yang sembunyi'in Sasha."


Beno memandang mereka bertiga yang juga menatapnya. "Maksud Lo apa hah?."


"Udahlah Lo gak usah berlagak bodoh. Gue tau Lo benci banget sama Sasha, kali ini mau Lo apain dia, hah!." Teriak Gesy.


"Sekarang kasih tau dimana Sahabat Gue!, Lo sembunyi'in dimana dia?."


"Untuk apa Lo nyariin dia, ketika Lo udah nyakiti perasaannya dengan omongan Lo itu." Teriak balik Beno tepat dihadapan Gesy. Sehingga membuat Gesy dan yang lainnya tersentak kaget.


"Elo kan, yang ngomong kedia, kalo Sasha takut kehilangan beasiswanya? Gara-gara ucapan Lo itu, sekarang dia merasa gak pantas mendapatkan beasiswa itu, ngerti gak Lo." Sambung Beno.


"Dari mana Lo tau soal itu?." Tanya Gesy dengan suara rendah dan menunduk.


"Lo ngaku sahabat kedia, tapi dia gak Lo perlakukan layaknya seorang sahabat ataupun teman." Setelah mengucapkan itu Beno pergi meninggalkan Mereka bertiga disana.


"Lo mau kemana?." Tanya Gesy


"Kerumah sakit, cari Sasha. Dia kabur."


"Sasha dirumah sakit?." Kata Gesy.


"Ayo Ges gak usah banyak omong kita ikuti aja Beno." Usul Liva dan juga Reyla.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Sakit....


"Kayak mana Mih? Udah ketemu?."


"Belom Ben."


"Kayak mna ceritanya Sasha bisa kabur gitu tan." Kata Gesy dan diangguki oleh Liva dan Reyla menatap Wina. Mereka bertiga mengikuti Beno.


Wina tampak bingung sama tiga gadis didepannya. "Kalian Bertiga ini siapa?."


"Kami sahabatnya Sasha tante." Kata Liva lembut kepada Wina.


"Kalian yakin ngaku sebagai sahabatnya dia?. Padahal kalian sendiri yang buat dia merasa kecewa sama keadaannya." Kata Beno.


"Ya, kami ngaku, kami salah. Termasuk Gue, Gue nyesel ngelontarkan perkataan itu ke dia." Gesy mengakui kesalahannya kepada Sasha.


"Tapi sekarang Sasha dimana?. Dimana kita harus menemukannya?." Reyla mulai khawatir dengan sahabatnya itu.


"Kok bisa Sasha pergi? pasahal siumannya, kan?." Bram datang dan langsung bertanya pasal Sasha yang kabur.


"Hah!. Sasha sempet Koma?." Pekik mereka bertiga, mereka betulan gak tau kalau selama Sasha pernah koma.


"Yah, dia tertabrak mobil waktu itu dan koma kurang lebih tiga hari."


"Kenapa Lo nggak ngasih tau kami?." Gesy menatap Beno


"Buat apa? biar kalian bisa ngomong sesuka hati kalian sama dia!."


"Sudah-sudah kenapa kalian mala bertengkar, bukannya cari dimana Sasha sekarang."


"Yaudah Mih, Pih , aku cari dia dulu." Beno melangkah keluar kamar Sasha dirawat dan segera mencari keberadaannya.


Dan disusul Gesy, Liva serta Reyla. "Kita mesti cari kemana?." Ucap Liva.


"Aku pun bingung." Kata Reyla. Akhirnya mereka berpencar mencari Sasha.


Sasha terus berjalan dipinggir trotoar masih menggunakan pakaian rumah sakit. "Sttts, kepalaku kok tiba-tiba sakit begini yah."


Dia pun menyebrang jalan raya dengan sembarangan, gak melihat kanan kiri. Tidak disangka, hampir saja mobil sedan menabrak tubuhnya seperti kejadian digang waktu itu.


"Kamu gak apa-apa?." Tanya pria paruh baya pemilik mobil keluar.


Sasha yang terduduk di jalan dengan memegang kepala mendongak melihat orang tersebut.


Mata mereka saling pandang dengan tatapan tidak bisa diartikan.


"Om, Tante." Sasha bangkit dan langsung aja memeluk keduanya.


"Ternyata kalian masih hidup." Kata Sasha dengan derai air mata. Ia gak nyangka ternyata selama ini masih ada anggota keluarganya yang tersisa. Dia kira selama ini Ia udah benar-benar sendirian, ternyata itu salah.


Win, Omnya Sasha mendorong bahunya hingga Sasha jatuh dan lengan kanannya terluka. "Maaf, kamu siapa?. Kami berdua tidak mengenal kamu."


Sasha kaget, ternyata mereka berdua gak mau mengakui Sasha sebagai keponakannya. "Om, Tante ini aku Sasha keponakan kalian. Om sama Tante jahat banget sama aku." Ucap Sasha dengan isak tangis.


"Udah ah Pah kita tinggal aja dia, orang kita gak kenal sama dia, mala ngaku-ngaku keponakan kita lagi ihhh dasar." Kata Ily dengan merangkul Win kembali kemobil meninggalkan Sasha.

__ADS_1


Sasha menangis tersedu-sedu melihat nasibnya yang sangat menyedihkan kayak gini.


"Sha, Lo dimana? Capek Gue nyariin Lo dari tadi." Keluh Beno masih mengendarai motornya.


"Lah itu dia, tapi ngapain dia diem aja ditengah jalan kayak gitu?." Beno segera menambah kecepatan laju motornya kearah Sasha.


"Lo ngapain duduk ditengah jalan kayak gini hah?. Mau jadi pengemis?." Beno melihat ada luka dilengan kanannya.


Beno pun menuntun Sasha untuk duduk dikursi halte bus.


Sasha menunduk masih menangis, dia masih mengingat perkataan Om dan Tantenya barusan.


Beno menyenggol bahu Sasha. "Woii...! Lo kenapa sih?."


"Ternyata mereka masih hidup." Kata Sasha.


Beno bingung dengan perkataan Sasha. "Siapa yang masih hidup?."


"Om dan Tante aku ternyata mereka masih hidup, tadi aku kebetulan ketemu mereka." Kata Sasha. "Bahkan mereka seakan-akan gak kenal sama aku hiks..." Kata Sasha menangis menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Beno merangkul dia dan membawanya kedalam pelukannya. "Lo gak sendiri, masih banyak tuhan dan orang-orang yang sayang dan perhatian sama Lo. Lo nggak boleh kayak gini."


Sasha melepas pelukannya dan berdiri. "Enggak!. mereka hanya kasihan sama kondisi aku."


"Oke, Lo tenangin diri dulu ya. Kita balik kerumah sakit, Lo baru juga sadar udah maen keluyuran aja."


Mereka pun kembali kerumah sakit. Sesampainya disana, kedua orangtua Beno dan sahabat Sasha udah menunggu disana.


"Ya Allah nak, kamu tuh nekat banget." Wina langsung memeluk Sasha.


"Maaf, karna ulahku kalian semua sampai khawatir seperti ini." Kata Sasha pelan dan menunduk.


"Iya nak, lain kali kalau ada perlu apa-apa bilang sama aja, kami siap membantu kami." Ucap Bram.


Sahabat-sahabatnya Sasha hanya memandang sedih, melihat kondisinya kayak gini.


Sasha pun dibawa masuk kembali kedalam ruangannya dan dicek kondisinya oleh dokter.


"Kondisi Sasha belum stabil, masih perlu pemulihan. Dan luka dilengan sudah saya lerban, jangan kena air dulu nanti infeksi karna lukanya tergores aspal cukup parah. Jadi untuk Sasha banyak istirahat ya, jangan kabur-kuburan seperti tadi ya."


"Baik dok."


Dokter pun pergi...


"Ben, itu kok bisa ada luka baru kayak mana ceritanya?." Tanya Wina.


"Aku pun gak tau Mih. Waktu aku ketemu sama dia, ditengah jalan emang usah ada luka disana."


"Sha, kita mau bicara sama kam..." Kata Reyla terpotong dengan perkataan Sasha.


"Maaf ya teman-teman, aku mau istirahat, bicaranya nanti aja gak apa-apa kan." Ucap Sasha dan membalikkan badan kearah jendela.


Mereka bertiga saling tatap. "Em... Oke, cepet sembuh ya Sha kita pamit dulu." Kata Gesy dengan berat hati tidak bisa mengobrol dengannya.


"Om, Tante kita pamit dulu ya." Sambung Gesy

__ADS_1


"Iya, hati-hati dijalan."


__ADS_2