Kalexsa Alavo

Kalexsa Alavo
Part 37. Kesialan


__ADS_3

" Hadeh saket kali punggung ku gendong ni anak ". Katanya dengan membaringkan tubuh Sasha di dalam apartemennya Beno.


" Woiii bangun ". Ucapnya menyenggol lengan kanan Sasha.


" Emmm... ". Sasha menggerang dengan menampol tu muka Beno.


" Kurang asem ni cewek ".


Beno memegang pundak Sasha dan mengangkatnya, lalu di guncang - guncang tubuh Sasha.


Sewaktu di guncang seperti itu oleh Beno.


Beno menyadari kalau Sasha udah mau muntah ni ceritanya, Beno langsung melepaskan kedua tangannya dan di angkatnya ke atas, mundur beberapa langkah.


' Huek... '.


Sasha mengelap sudut bibirnya dan kembali berbaring di ranjang. Dia belum sadar akan dirinya di mana sekarang.


Muntahan efek alkohol itu pun jatuh di lantai. Untung saja gak terkena baju Beno.


" Ni cewek gak bisa minum tapi sok - sok'an minum ". Kata Beno. " Terpaksa gue lah ni yang ngapain ni muntahannya ". Lanjutnya dan beranjak ke dapur untuk mengambil kain pel.


" Awas aja, lo harus bayar semua ini saat lo dah sadar ". Gerutu Beno sambil mengepel tu lantai dengan rasa jijik menutup hidungnya.


" Akh... ". Teriaknya karna muntahannya yang sedang dia pel terkena kakinya.


Dia pun buru - buru lari menuju kamar mandi untuk membasuh kakinya sampai gak bauk lagi. " Kok sial hamba mu hari ni yaa allah ". Cercahnya masih dengan menggosok - gosokkan kakinya.


" Lebih baik gue urus luka gue aja deh dulu ". Beno pun mengobati lukanya sendiri agar tidak terasa nyeri. Karna tadi sewaktu Betonjok sama tu preman, sudut bibirnya di tonjok sampek memar dn mengeluarkan darah.


" Kamvret tu preman iya, sampek jedor gini bibir gue kan jadinya ". Katanya mengelus - elus sudut bibirnya yang baru saja di kompres sambil memandang kecermin. " Parah tu emang preman sialan, kan dah gak seksi lagi kan bibir gue ni akh-- ".


Pede abis tuh si Beno, pakek segala bilang bubirnya seksi lagi, jadinya kan para pembaca novel ini membayangkan bentuk bibirnya Beno kayak manaπŸ˜….


" Sekarang aku mau tidor mana?. Mau pulang dah malem lagi pasti dah gak ada taksi, motor gue pasti udah di ambil sama supir. Bantre handpone gue habis lagi, lengkap sudah penderitaan yang ku alami saat ini ". Keluhnya duduk di sofa dengan badan merosot kebawah.


β˜†β˜†β˜†


Paginya tiba tapi Sasha belum juga bangun dari tidurnya itu.


Sedangkan Beno dia sudah siap mandi sambil mengelap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Untungnya di apartemennya ada beberapa potong baju jadi bisa ia kenakan untuk pulang.

__ADS_1


" Hais-- belum bangun jugak ni orang ". Ucapnya yang melihat Sasha masih tidur pulas di sana, padahal Sasha masih menggunakan baju kemarin dan di tambah balutan jaket yang di berikan Beno semalem.


" Gue tinggal balik gak masalah kali ni orang ya ". Katanya dengan memandang Sasha. " Ohh astaga gue belum ngabarin Mami Papi ". Pekiknya.


Beno segera berlari dari apartemennya dan keluar memanggil taksi.


β˜†β˜†β˜†


Beno bergegas keluar taksi dan membayar bil nya kepada supir tersebut.


Beno membuka pintu rumahnya, celingak - celinguk kesana kemari memastikan kalau Mami dan Papinya udah pigi kekantor atau kemana.


" Aman ni kayaknya ". Beno berjalan mengendap - ngendap masuk kedalam. Baru juga sampai ruang tamu dia sudah di kejutkan dengan suara.


" Emm-- emm... dari mana aja kamu!, pagi gini baru pulang ". Kata Bram Papinya Beno yang ternyata sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan wina.


Mereka memasang tampang marah dengan bersedekap dada yang siap menerkam Beno.


Beno memutar kepalanya sedikit demi sedikit melihat kedua orang tuanya. " Ehh Mami, Papi! gak kekantor Mi, Pi? " Tanya Beno basa basi dengan muka cengar - cengir.


" Dari mana aja kamu? ". Tanya Bram sekali lagi.


" Anu Pih! ".


' Jawab jujur aja kali ya '. Pikirnya. ' Iyalah jawab jujur aja, kalok Mami sama Papi marah bodo amat lah, yang penting aku jawab jujur aja dulu '. Pikirnya lagi sampai terbengong.


" Beno jawab!. Kok mala bengong ". Kata Wina membuyarkan lamunannya.


" Hah!, iya mi ".


" Ya jawab ". Ucap Bram udah mulai ngegas ngomongnya pada anaknya itu.


Beno menatap kedua orang tuanya itu yang mulai seruis mendengarkan penjelasannya. Lagi - lagi Beno mala buat bercanda. " Yaelah, jangan tengang kek gitu kali napa Mi, Pi. Santai aja ekan, kan enak di tengok jadinya. sambel dudok, minum kopi apa teh gitu, mantul itu ekan Mi ".


" Beno cepetan jelasin. Kalok gak ni sepatu melayang kemulut mu itu. Mau? ". Ucap Bram sudah bersiap mengangkat kaki sebelah kanannya dan mencopot sepatu kantornya itu.


Beno mencegahnya dengan sedikit mundur kebelakang. " Ehh-- ehhh, iya - iya Pi ni kan lagi mau aku jelasin, sabar - sabar kalem, tarik nafas buang dan lakukan berulang kali ".


" Gak usah bek tingkah, emang kamu kira kita mau olahraga pakek segala gitu - gituan hah ". Ucap Wina. " Sekarang kamu jelaskan saja, gak usah berbelet - belet kesana - kemari. CEPETAN..... ". Teriaknya.


Beno menutup kupingnya karna barusan saja dia mendengar aungan harimau sudah mengangung. " Iya - iya Mi ". Kata Beno. " Sebenernya aku semalem abes nologin tu anak culun ".

__ADS_1


" Hah anak culun ". Pekik Wina dan Bram saling tatap, karna bingung dengan ucapan anaknya itu.


" Iya anak culun. Itu loh Mi yang kata Mami pernah nolongin Mami jugak waktu kecelakaan ".


Wina mengingat - ingat kembali siapa yang pernah nolongin dia tempo hari. " Ah... Sasha maksud kamu ".


" Iya mungkin, Beno kurang tau namanya siapa ".


Bram mengernyit dahi, ia merasa bingung sebenernya mereka ini sedang membicarakan apa cobak. " Tunggu - tunggu, tadi siapa! Sasha!. Itu siapa lagi hah ".


" Nanti saja Mami ceritain sama Papi Sasha itu siapa oke Pi ". Kata Wina memandang suaminya, sedangkan Bram hanya ngangguk - ngamgguk aja. Padahal sebenernya dia itu gak ngerti.


" Terus kek mana ceritanya kamu bisa nolongin Sasha, Ben? ". Tanya Wina mulai Kepo.


" Singkatnya dia hampir aja di lecehkan sama preman di jalan, dan di situ pas kali aku lewat. Yah jadinya aku tolongin deh. Ehh pas aku tolongin dianya mala ketiduran abes minum bir. Mungkin dia syok sampek minum kayak gitu ".


" Sashanya sekarang ini di mana? ".


" Karna aku gak tau rumahnya, aku bawak aja dia ke apartemen yang pernah Mami kasi ke aku itu ". Jelas Beno.


" Hah jadi kalian tidur berdua gitu, jangan - jangan--- ". Ucap Wina dan Bram bersamaan.


" Ya gak lah Mi, Pi. Aku tu tidurnya di sofa dia di kamar aku. Iya kali tidur satu ranjang ".


" Syukurlah ".


" Terus keadaannya sekrang ba---- ". Wina masih mau bertanya lagi, tapi Beno udah keburu naik ke atas untuk ke kamarnya.


" Udah ah Mi, aku mau ke sekolah udah telat nih. Kalok Mami mau lihat kondisi tu orang mendeng Mami lihat langsung aja ke apartemen dia masih di sana ". Teriaknya di ambang pintu kamarnya. Lalu masuk untuk mengganti dengan pakaian sekolahnya.


Setelah sudah rapi, Beno turun kebawah. Di bawah dia sudah tidak menemukan Mami dan Papinya di sana. Mungkin Papi udah Pigi Ke kantor kali ya. Kalok Maminya entah kemana dia gak tau.


Beno berjalan ke garasi dan mengambil kunci motornya yang tergantung di tempat kunci dan mengambilnya. Lalu menancap gas moge hitamnya kesekolah.


###


****Jangan lupa tinggalin jejak untuk author dan jangan lupa Like untuk setiap partnya yaaπŸ˜„πŸ‘„πŸ’•


Salam author.


Selamat malam minggu untuk semua bay - bay.

__ADS_1


See you all πŸ‘πŸ˜š*


__ADS_2