
Kini Kanaya dan teman-teman yang lain sudah bisa bernafas lega karena sudah selesai magang.
Kanaya puas dengan hasil nilai yang ia peroleh, bahkan Perusahaan akan memanggil nya saat ia sudah benar-benar selesai kuliah.
"Cih, enak banget kamu Nay, ambil jalan dalam untuk memperoleh nilai bagus, pakai ilmu apa sih, sampai pak Ilyas bisa tertarik sama cewek jelek kayak kamu" ucap wanita teman kampus Kanaya yang juga ikut magang di perusahaan itu.
Tentu ia tahu semua kejadian di perusahaan, namun ... apa yang bisa ia lakukan saat Ilyas mengancam akan mengeluarkan mereka dari kantor, bagi yang berani menghina Kanaya lagi.
Safira terlihat emosi, namun Kanaya menahannya agar tidak mengatakan hal yang buruk.
"Aku jelek, kamu cantik, benar begitu kan ...? itu pandangan mu ..., tapi mengapa kamu yang cantik begini tidak bisa memikat lelaki hebat di perusahaan ...? kenapa aku yang jelek ini ... yang malah mampu menaklukkan hati seorang Ilyas" ucap Kanaya dengan santai.
"Itu berarti dia lebih jelek hahahaha" tawa safira sudah meledak kala Kanaya menyelesaikan ucapan nya, tentu itu semakin membuat temannya itu tambah kesal, dan berfikir akan kebenaran apa yang kanaya ucapkan.
kedua wanita dan 1 pria itupun pergi dari hadapan Kanaya dan Safira dengan raut wajah kesal, sedang kan Safira masih terus tertawa karena sangat suka dengan ucapan Kanaya.
"Semakin hari kamu semakin hebat loh ... " Safira mengacungkan jempol untuk Kanaya.
"Hebat apanya ...? aku hanya tidak ingin kamu selalu bertengkar hanya karena aku, Saf, aku tidak apa-apa di hina mereka, tapi kamu ... kamu jangan bertengkar terus karena aku" Kanaya terlihat sedih menatap kearah Safira.
"Nay, ... kau sahabat ku ..., aku hanya melakukan apa yang harus seorang sahabat lakukan, aku yakin ... kau juga akan melakukan hal yang sama jika aku yang ada di posisi mu, iya kan ...?" Safira menatap Kanaya.
Kanaya memeluk Safira, ia terharu memiliki sahabat seperti dirinya.
Ya ... hanya Safira dan Safira ..., dia tidak memiliki siapapun selain dirinya, Riswan ... dia pria yang baik pada Kanaya, Tapi Riswan tidak bisa selalu ada untuk Kanaya.
"Emmm ... kau masih tinggal di apartemen Tuan Ilyas kan ...?" tanya Safira
"Iya, mungkin seminggu lagi, sampai Tuan Ilyas datang dari luar negri" ucap Kanaya
"Kau yakin tidak akan merindukan beliau ...?" tanya Safira
"Aku masih memiliki hutang padanya, suatu saat nanti dia pasti akan memanggil ku untuk aku membayar nya" ucap Kanaya dengan suara lemah
"Hutang ...? berapa ...?" tanya Safira, karena ia tahu ... jika hanya uang 1 atau 2 juta, tidak mungkin bagi seorang Ilyas Hakim akan menagihnya.
__ADS_1
"Bukan uang, juga bukan barang, tapi janji" ucap Kanaya.
"Janji ...?" semakin membuat Safira bingung.
"Untuk saat ini aku belum bisa mengatakan nya, tapi jika semua sudah sesuai keinginan, aku yakin ... kau akan tahu sendiri" ucap Kanaya.
"Baiklah, aku tidak akan lagi memaksa mu untuk bicara, by the way ... kau yakin akan berjalan kaki untuk pulang ...?" tanya Safira
"Iya, sekalian olahraga hehhehe" ucap Kanaya cengengesan.
"Baiklah ... semangat ... Kanaya pasti bisa" safira menyemangati Kanaya
Kanaya pun melambaikan tangan nya saat motor Safira sudah berjalan meninggalkan nya.
Hari sudah semakin sore, ia berjalan santai tidak lari, karena ia ingin melihat dengan tenang suasana di area sekitar kantor.
Kanaya memeluk tubuh nya sendiri, merasakan ada sesuatu yang sudah berkurang, ya ... lemak tubuh nya sudah banyak berkurang.
'Nay, Semangat ... setelah kau berhasil ... tutuplah mulut mereka yang sudah menghina mu, terutama Alina, si wanita ngeselin itu' rutuk Kanaya dalam hati.
Kanaya pun berlari kecil dengan senyuman di wajahnya, siapa sangka langkah nya terhenti kala mobil berhenti di hadapan nya.
"Kak Riswan ...!" ucap Kanaya saat melihat siapa yang ada dalam mobil.
"Hai, kau baru pulang ...? bukankah ini haru terakhir mu magang ...?" tanya Riswan pada Kanaya
"Iy ... iya kak, Kakak dari mana ...? kenapa bisa ada di sini ...?" tanya Kanaya gugup
"Masuklah ... aku akan mentraktir mu makan bakso, bukankah itu makanan kesukaan mu, sudah lama kita tidak jalan kan ...?" ucap Riswan dengan senyum tampan nya.
Kanaya dengan wajah bodoh nya menatap Riswan.
"Tidak usah kak, kakak ajak saja wanita kemaren itu ..." jawab Kanaya
"Yang mana ...?" tanya Riswan
__ADS_1
"Itu loh ... yang kemaren itu ..." ucap Kanaya
"Dia adikku, Nay ... tepatnya adik sepupu ku, ini aku baru mengantar nya kembali ke kotanya, sudah ayo masuk" ajak Riswan.
Kanaya akhirnya luluh dan ikut masuk kedalam mobil Riswan.
Riswan sedikit menyadari perubahan Kanaya.
"Apakah kau sangat terganggu ...?" tanya Riswan.
"Maksud kakak ...?" Kanaya berbalik tanya
"Aku sudah dengar tentang semua yang terjadi di perusahaan, kau terlihat kurusan saat ini, apakah nafsu makan mu berkurang karena masalah itu ...?" tanya Riswan
Kanaya tersenyum seraya berkata.
"Hal seperti itu ...? bukankah sudah biasa di kampus kak ...? ada saat nya kita akan berada di fase dimana kita harus diam untuk membuat mereka bungkam, aku hanya mencoba hal itu, berhasil tidaknya ... aku hanya bergantung pada usahaku" Kanaya tersenyum pada Riswan, Riswan tahu ... senyum itu mengartikan betapa terlukanya hatinya saat ini.
Kanaya memperhatikan, jalan yang ia lewati bukanlah jalan yang ia kenali.
"Kak, kakak akan membawaku kemana ...?" tanya Kanaya seraya kebingungan menatap arah sekitar.
"Kau akan tahu nanti, aku baru menemukan tempat yang indah itu, aki ingin kau yang pertama ku ajak kesana" ucap Riswan dengan senyum nya.
Kanaya menatap Riswan, benarkah yang Safira katakan, bahwa Riswan menyukainya? tapi mana mungkin ... ? Riswan termasuk pria yang sempurna ... dia tampan, dari keluarga berada juga.
Tanpa Kanaya sadari, mereka sudah sampai di tempat yang Riswan maksud.
Ya ... sebuah taman yang sudah tidak terurus sama sekali, namun dari situ ... kita bisa melihat matahari terbenam secara langsung.
Di ujung Taman, adalah sebuah Danaunya no mo yang airnya sangat jernih, meskipun tak terurus, Danau itu masih tampak indah.
Sekilas Riswan melihat raut wajah Kanaya yang begitu takjub.
"Aku sudah sangat yakin, kalau kau akan menyukai nya, Kanaya ... di tempat ini, aku ingin mengatakan kalau apa yang Safira katakan padamu adalah hal yang benar, ku harap kau bisa terbuka padaku, anggaplah keberadaan ku, aku juga ingin kau tahu, betapa aku perduli dengan mu" ucap Riswan seraya menatap matahari yang sudah hendak berbunyi dari keramaian dunia.
__ADS_1
Riswan merasa lega saat semua yang ada dalam hatinya sudah ia katakan, namun ... siapa yang menyangka, bahwa Kanaya tidak mendengar semua hal yang Riswan katakan.
Benar saja ... saat Riswan melihat kearah samping nya, ia tidak menemukan Kanaya.