
Pagi ini ketegangan sangat dirasa oleh seluruh orang yang ada dalam ruangan itu.
ilyas selalu menggenggam tangan Kanaya,seolah ingin mengatakan bahwa ada dia di sisi nya.
Kanaya merasa tidak nyaman dengan apa yang sudah Ilyas lakukan, kerana itu Kanaya engan perlahan melepaskan tangannya.
"Baiklah ... sebelum rapat ini di mulai perkenalkan dulu istriku, Kanaya sekaligus pemegang separuh saham ku di kantor ini, jadi ... jika Nona Kanaya membuat suara maka hormatilah itu juga sama dengan keputusan saya " ucap Ilyas, semua orang terkejut begitu juga dengan Kanaya namun di tengah keterkejutan semua orang ada seseorang yang bertepuk tangan sehingga mereka semua sadar dan juga ikut bertepuk tangan untuk Kanaya.
"Kalian kembalilah duduk, kita bisa mukai rapatnya" ucap Ilyas seraya menatap Jav yang selalu tersenyum padanya.
Semua suara dalam rapat itu menjadi imam dan mencekam.
disaat ada beberapa kesalahan, Ilyas langsung melempar kan berkas di hadapan orang yang berbuat salah.
Ilyas memang ramah tapi ia tidak mentoleransi sedikit kesalahan saja.
tentu itu membuat Kanaya sangat terkejut, ini yang pertama kalinya ia melihat wajah suaminya yang berubah.
"Buatlah laporan ulang dan harus selesai satu jam lagi" ucap Ilyas Seraya berdiri dari duduknya.
setelah mengatakan hal itu, Ilyas langsung meninggalkan ruang rapat diikuti oleh langkah kaki Kanaya dan juga Jav.
"Jangan marah begitu ... ? mereka bukan robot yang harus melakukan semuanya dengan benar" ucap Kanaya saat sudah sampai di dalam ruangan Ilyas.
Ilyas memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Kita belum sarapan,maaf aku lupa memesankan mu Sarapan pagi" ucap Ilyas
"Tidak usah ... aku masih kenyang" ucap Kanaya.
Namun saat mereka masih berdebat suara ketukan pintu membuat mereka tersadar.
"Biar aku saja yang membukanya "ucap Kanaya pada Ilyas
Kanaya langsung berdiri dan menegakkan kakinya menuju pintu ruangan.
Saat pintu terbuka ia melihat sosok yang tidak ingin Kanaya lihat saat ini.
"Kau ... ! silahkan masuk " ucap Kanaya
"Ada urusan apa kau datang kemari ... ?" tanya Ilyas
"Sinis banget sih pertanyaan nya, tidak kah kalian ingin membuat kopi ?" tanya Kanaya dengan suara yang menahan kesal.
"Hai Nay, wah selamat ya ... kau pemegang saham terbaru di perusahaan ini" ucap Alina seraya menatap ke arah Kanaya
"Jangan basa-basi ... katakan ... !" ucap Ilyas
"Aku mewakili ayahku kemari, jadi tidak ada salahnya kan jika aku keruangan kamu, maafkan aku atas masa lalu yang sudah aku lakukan, teruta padamu Nay" ucap Kanaya yang membuat Ilyas menghentikan tangannya yang menulis
Kata maaf dari mulut Alina sangatlah langka bagi Ilyas
__ADS_1
"Kenapa kalian terkejut, bukankah setiap manusia di beri kesempatan untuk berubah ... ? ucap Alina
"Nona benar ... semoga perubahan Nona menjadi awal yang baik untuk d
perusahaan kedepannya" ucap Kanaya
"Kau benar Nay, maafkan aku ya ... " Alina menatap tajam Kanaya begitu juga dnegan Kanaya.
"Sebaiknya Nona duduklah dulu, akan saya buatkan minuman sebentar" ucap Kanaya mempersilahkan Alina duduk.
Setelah berkata, Kanaya langsung ke mesin kopi dan membuat nya tiga gelas untuk mereka.
"Ilyas ... percayalah padaku, aku benar-benar sudah berubah, dan aku ingin bekerja dengan baik" ucap Alina pada Ilyas
"Aku senang jika kau menyadari kesalahan mu Alina, kita awalnya tidak saling kenal, kita langsung terikat dengan sebuah pertunangan, mungkin karena itulah aku tidak bisa dekat dengan mu" ucap Ilyas pada Alina
"Kau benar, seharusnya kita memberi waktu buat kita saling terbuka, bukan malah membuat kita semakin jauh dengan kata damai" ucap Alina
"Silahkan di minum Nona , Tuan" ucap Kanaya seraya meletakkan kopi yang sudah Kanaya siapkan.
"Terimakasih Nay , ayo duduklah di sini" ucap Alina pada Kanaya
"Tidak usah, saya kembali pada kursi saya saja" ucap Kanaya seraya tersenyum pada Alina dan juga Ilyas yang tersenyum pada keduanya.
Kanaya pun berbalik dan melangkah kan kakinya ke kursinya yang tidak jauh dengan Ilyas.
__ADS_1