
Malam ini terasa begitu bahia untuk Kanaya, beberapa kejutan dari orang terbaru dalam hidupnya tidak pernah ia bayangkan sama sekali.
Disaat seperti ini ia teringat akan Riswan, sosok yang beberapa hari ini tidak pernah ia lihat, Bahkan di acara pernikahannya ia tidak datang dengan alasan ada pekerjaan di luar negri.
Tapi Kanaya sedikit mengerti, karena ia teringat dengan ucapan orang tua Riswan, dalam keadaan apapun jangan sampai ia menghubungi Riswan lagi, tentu itu sangat melukai hati Kanaya.
Semua yang ada di ruangan itu terlihat begitu bahagia, apalagi pamannya Ilyas yang memang sudah lama mengenal sosok Kanaya.
''Ilyas ... ! ingatlah,Nak ... lelaki bukan di lihat dari seberapa ia sukses membangun sebuah bisnis, Tapi ... seberapa ia bisa bertahan dalam satu rumah, satu hubungan dan satu hati, dan semua itu di namakan dengan kesetiaan.
Setia itu mahal ... karena itu, sangat tidak banyak orang yang memiliki kesetiaan itu, istri ibarat pakaian suami, jika istri tidak cantik ... tidak seksi ... maka jangan salahkan istri saja tapi ... intropeksi diri kita juga, sudah benarkah kita menjadi seorang suami''ucap pamannya Ilyas.
Sejenak ruangan itu menjadi hening dengan pembicaraan antara paman dan keponakan itu.
''Nak, hidup itu adalah pilihan ... mau kita hidup nyaman tentram, perbanyak bersyukur ... harta bukan jaminan kita untuk bahagia, bahagia tanpa ada rasa syukur itu hanya sesaat yang kita rasa, kalau tidak percaya dengan apa yang paman katakan, coba kalian tanyakan pada Mama kalian ... Apakah yang paman ini benar atau hanya omongan belaka'' ucap pamannya Ilyas yang termasuk kakak kandung Almarhum Ayahnya Ilyas.
''Mas menyindirku rupanya dari tadi, tapi apa yang paman kalian ucapkan adalah kebenaran sayang, jangan ngoyo mencari harta, harta kita sudah cukup, tapi ... perbanyaklah anak, agar tidak kayak mama yang hanya memiliki Ilyas'' ucap sang mama
'' Sekarang Ilyas sudah menjadi milik istrinya ... tentu mama akan kesepian, karena itu ... kalian buatlah anak yang banyak agar mama kalian ini tidak kesepian'' ucap sang mama yang inti dari perkataannya adalah anak yang banyak.
''Jadi arah pembicaraan mu sedari tadi hanyalah tentang banyak anak toh ...!'' ucap istri pamannya Ilyas yang diiringi tawa oleh semua anggota keluarga.
''Terimakasih, terutama untuk mama ... Nay mengira ... mama masih tidak menyukai Nay ... tapi ...melihat semua ini,Nay sangat terharu" ucap Kanaya
*****
Malam semakin terlihat indah kala Kanaya dan Ilyas kini sudah berada di balkon kamarnya.
Ilyas mengunci tubuh Kanaya dari belakang, sambil menikmati semilirnya angin yang berhembus, dan terang mya rembulan.
"Happy Birthday sayang " ucap Ilyas seraya mencium Kanaya dari samping, dan memeluk tubuh Kanaya dari belakang.
Kanaya gugup, namun ... ia harus bisa mengendalikan kegugupan nya.
Ia harus bisa menerima setiap sentuhan Ilyas mulai sekarang, Karena ia tahu ... untuk menjalin hubungan suami istri yang sesungguhnya adalah penyatuan tubuh mereka.
Sekarang menghadap lah ke arahku, aku punya hadiah untukmu" ucap Ilyas di telinga Kanaya.
__ADS_1
Kanaya nurut, ia membalikkan tubuhnya menghadap kearah Ilyas.
Benar saja, Saat Kanaya menghadap seuntai kalung berlian menjuntai di depan wajahnya.
"Apakah kau suka ... ?" tanya Ilyas
"Ini untukku Mas ... ?" tanya Kanaya
"Tentu, liontin yang indah untuk orang tersayang " ucap Ilyas.
"Mas pakaikan ya ... " ucap Ilyas
Tanpa menunggu jawaban Kanaya, Ilyas memakai kan kalung itu ke leher Kanaya.
"Maaf jika kau tidak suka, ini dadakan mas belinya " ucap Ilyas saat bersamaan selesai nya ia memakaikan kalung itu.
"Aku suka mas, sangat suka, terimaksih " ucap Kanaya yang langsung melingkar kan tangannya di leher Ilyas.
"Sudah siap kan ... ?" tanya Ilyas seraya merangkul tubuh Kanaya yang bergelayut padanya
Tentu Ilyas langsung menggendong tubuh Kanaya, dan membawanya ke atas ranjang nya.
Ilyas meminta jatah malam pertamanya yang tertunda.
Dengan pelan Ilyas menidurkan Kanaya dengan tatapan mereka yang masih saling terkunci.
Saat Kanaya sudah terbaring, Ilyas mendekati wajah Kanaya, mencium nya dari kening, hidung hingga kini bibir indah Kanaya yamg menjadi sasarannya.
Bibir itu saling bertautan, meski terasa kaku ... tapi Ilyas memaklumi, dan akan mengajarinya dengan perlahan.
Di saat Ilyas masih bermain dengan bibir Kanaya, tangannya masuk kedalam baju tidur Kanaya yang longgar.
Sehingga bisa dengan leluasa tangan itu sampai pada kedua daging yang begitu menggoda nya.
Tanpa Kanaya sadari, ia mengeluarkan suara irama yang mampu membangkitkan has*at Ilyas.
Merasa Kanaya sudah ada dalam kendali nya, Ilyas menurun kan ciumannya hingga kini berada di leher jenjang sang istri yang terlihat indah dengan kalung yang baru saja ia pakai kan.
__ADS_1
Kanaya mendongakkan kepalanya, sehingga membuat Ilyas lebih leluasa bermain di area sana, tidak puas dengan itu, Kini tangan Ilyas sudah berhasil membuka ikatan baju tidur Kanaya serta membuka kancing depan bajunya.
Na*su sudah menggerogoti mereka berdua, Ilyas menikmati setiap inci tubuh Kanaya, Hingga bibir itu kini telah sampai pada dua buah yang begitu indah dan menantang.
Tanpa aba-aba, Ilyas menyesap setiap ujung buah, sehingga menimbulkan suara irama yang indah dari sang pemilik.
Ilyas tidak memberi kesempatan untuk Kanaya berdiam, ia langsung membuka celana tidur Kanaya, disitulah terpampang lagi benda yang paling menggoda.
Di sentuh nya benda segitiga yang menghalangi benda itu, membu kaki Kanaya reflek mengapit menyembunyikan benda segitiga itu, namun sudah terlambat ia kini sudah tidak memakai kain apapun sebagai pelindung kulit nya yang kini jauh lebih cerah.
"Sayang ... " bisik Ilyas di telinga Kanaya
"Kau sudah siap kan ... ?" tanya Ilyas lagi
Lagi-lagi Kanaya hanya menunduk karena malu, pandangan nya saja teralihkan, ia tidak sanggup jika harus saling pandang dengan sang suami, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.
"Tatap aku ... " ucap Ilyas seraya menarik wajah Kanaya dengan lembut.
Akhirnya Kanaya kini bertatapan dengan Ilyas.
"Aku mencintaimu Nay, jadilah Ibu dari anak-anak ku nanti" bisik Ilyas mengusap peluh Kanaya di dahinya.
Dengan pelan, Ilyas mengarahkan benda dempul itu ke tempatnya.
Ilyas kesulitan dalam memasuki kawasan hutan rimba yamg sangat lama sudah menanti tamunya. Meski terasa sulit ... Ilyas tidak berhenti, ia mengarahkan tangannya sebagai cari pelicin ya, namun ... lagi dan lagi, Ilyas tidak putus Asa, ia terus berusaha hingga akhirnya
Slep ...
Akhirnya gawang itu tergol kan.
Ilyas mengehentikan gerakannya, sambil menikmati denyutan kewanitaan Kanaya.
Lama Ilyas diam seraya menikmati buah kembar itu ia memompa junior nya dengan perlahan.
Ia tidak ingin rasa sakit Kanaya rasakan.
"Kalau sakit, katakan pada Mas" ucap Ilyas seraya ******* bibir Kanaya dengan begitu Gair*h.
__ADS_1