
Waktu berjalan dengan begitu cepat, seperti yang Ilyas katakan.
Ia mengantarkan kedua orang tua Kanaya dan juga adiknya ke kampungnya dan juga memenuhi semua keinginan adiknya untuk memiliki kasur empuk.
"Maafkan kakak, besok-besok akan ku buat rumah adek besar juga gimana ... ?" tanya Ilyas pada adiknya Kanaya saat mereka masih berdua
"Benarkah ... ? seperti rumah pak RT ... ?" tanya polos anak itu
"Lebih besar dari itu, asal ... adek berjanji akan selalu jaga Ibu bapak dan membuat mereka bangga sama adek" ucap Ilyas
"Baik, adek tidak akan nakal, akan selalu bantu bapak dan Ibu juga biar kakak bisa membuat rumah ini jadi besar, Hore ... aku mau punya rumah besar ... " anak itu terlihat begitu bahagia.
Rumah yang bangunan separuh nya masih terbuat dari bambu itu membuat nya terlihat kecil, padahal memiliki tanah yang luas.
Karena itulah ... Ilyas akan merenovasi rumah itu agar bisa lebih layak untuk di huni mertuanya yang sudah mulai tua.
"Hai, kenapa mas di luar ...? ayo masuklah ...! panas ya mas ...?" tanya Kanaya
"Eh tidak, bukan karena itu, aku tadi sedang bicara sama adek, makanya belum masuk" ucap Ilyas yang kini sudah berdiri.
Ilyas pun masuk kedalam kamar Kanaya.
"Apa aku boleh membuka bajuku ... biar gak terlalu panas, kau lihat matahari sepertinya sangat ingin menguji ku hari ini" ucap Ilyas
"Buka saja mas, bentar aku ambilkan kipas angin juga ya ... " ucap Kanaya, lalu mengambil kan Ilyas kipas angin.
"Mas istirahat lah, aku bantu-bantu ibu dulu " ucap Kanaya seraya menghidupkan kipas anginnya.
"Baiklah ... " ucap Ilyas
Sebelum Kanaya keluar kamar, Kanaya merapikan bantal agar bisa di tiduri oleh suaminya
"Maaf ya Mas, mas harus istirahat ditempat seperti ini" Kanaya merasa tidak enak sendiri pada Ilyas
"Apa yang kau katakan, ini bukan pertama kali.kita kemari kan ... ? ini rumahku juga" ucap Ilyas menatap Kanaya.
"Tidak usah merasa tidak enak padaku, katanya mau bantu-bantu ibu, udah sana " ucap Ilyas
"Selamat istirahat " Kanaya menampilkan deretan gigi putihnya sebelum berlalu.
*****
__ADS_1
"Nay, bisa belikan ibu kopi, gula semua barang
dapur gak ... ?" tanya sang Ibu saat melihat anaknya datang.
"Bisa Bu ... di warung Bu marni kan ... ?" tanya Kanaya
"Iya, ini uangnya" ibunya Kanaya menyodorkan uang 50ribuan karena bahan yang akan di beli itu banyak.
"Tidak usah, pakai uang Kanaya saja, ibu simpan uang itu ya" ucap Kanaya
"Terimakasih ya nak" ucap sang Ibu melanjutkan merapikan dapurnya.
Kanaya pun pergi ke warung Bu Marni, benat saja di perjalanan, banyak mata yang menatapnya.Banyak yang tidak percaya kalau itu adalah Kanaya yang selalu mereka rendahkan dulu.
Mereka tidak menyangka ... bahwa Wanita gendut dan jelek itu kita sudah jadi primadona
"Hai, kau benar-benar Kanaya ya ... " tanya salah satu pemuda yang duduk di Warung Bu Marni
"Iya kak, Kak ahmad sedang belanja juga ... ?" Tanya Kanaya menghilangkan kegugupan karena pandangan banyak mata.
"Iya, saya tidak menyangka kalau itu kau Nay, sudah jauh beda ... " ucap Ahmad dengan ramah.
Betapa terkejutnya Kanaya, dan betapa sakitnya hati nya.
"Ibu, kalau bicara di saring kenapa kok seperti air comberan yang main geluyur saja" ucap Bu Marni yang memang selalu ramah.
"Alhamdulillah saya tidak sampai melakukan hal itu,Bu ... " ucap Kanaya dengan berusaha menampilkan senyuman nya.
"Alah ... pasti di sana jadi simpanan Om-om kan emang begitu anak perempuan jaman sekarang, apalagi tinggalnya di kota, pergaulan mereka bebas, tanpa pengawasan orang tua juga ... !" ucap ketus wanita gendut yang dandanan nya menor itu.
"Kanaya bukanlah wanita seperti itu, kita sudah tahu jelas bagaimana dia selama ada di sini" bela Ahmad.
"Bu Marni, berapa semuanya, Kak ahmad ... tidak apa-apa, biarkan saja Ibu ini bilang apa tentang ku" ucap Kanaya seraya menyodorkan uang lembaran merah kearah Bu Marni
"Tuh kan ... kalian lihat sendiri kan ... uangnya juga banyak tuh, pasti dia jadi wanita panggilan atau simpanan Om-om di sana"
"Atas dasar apa anda mengatakan istri saya wanita seperti itu" ucap Tiba-tiba Ilyas dari arah halaman rumah Bu Marni.
Seketika semua orang terdiam saat Ilyas berjalan menghampiri Kanaya.
Lalu mereka melihat mobil yang di bawa Ilyas,mata semua orang terbelalak.
__ADS_1
"Istrimu ... Kanaya ... ?"ucap gugup ibu yang mengatakan hal jelek tentang Kanaya
"Mas kenapa kesini .. ?" suara lembut Kanaya membuat semua mata terpana.
"Aku sudah menyangka kau akan mendapatkan perlakuan ini dari mereka, aku sudah mengatakan ... kalau..." Kanaya langsung menarik tangan Ilyas agar tidak meneruskan kalimatnya.
"bu Marni terimakasih ya ... kak Ahmad permisi ya kak" pamit Kanaya, Kanaya menundukkan kepala sopan pada! mereka semua.
Masih terdengar decak kekaguman mereka terhadap suami Kanaya
'*Kau sih Bu mengatakan yang tidak-tidak pada Kanaya, aku pernah melihat pria itu, dia juga yang sudah menebus sawah bapaknya Kanaya' ucap Bu Marni'
'Bu Ijah emang begitu kan orangnya, suka iri sama orang lain ' timpal ibu-ibu yang lain.
"Bahkan suami Kanaya sangatlah tampan, mujur sekali nasibnya'
'Aku lihat di sosial media, suami nya itulah yang membantu Kanaya menjadi seperti sekarang, beruntung banget kan Kanaya, dia di cintai apa adanya oleh suaminya*'
Masih banyak lagi gosip yang mereka bicarakan sekedar hanya membahas Kanaya.
Sedangkan Kanaya sudah berlalu dari halaman rumah Bu Marni.
"Mengapa kau tidak melawan ... ?" tanya Ilyas
"Untuk apa Mas, mereka Ibu-ibu awam, tidak akan mengerti dengan istilah olahraga agar bisa diet, yang mereka tahu, pasti melakukan perawatan dengan harga fantastis, percuma juga menjelaskan pada mereka kalau mereka niatnya memang bergosip, diam saja mungkin lebih baik" ucap Kanaya.
"Jangan mau di hina terus, kau sudah beda dengan yang dulu" ucap Ilyas
"Tapi hatiku masih sama mas, " ucap Kanaya seraya tersenyum pada Ilyas.
Ilyas juga membalas senyuman Kanaya, tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di deon rumah Kanaya.
Ilyas membantu Kanaya membawa barang belanjaan nya.
"Seharusnya kita ke supermarket saja, di sana lebih lengkap barangnya" ucap Ilyas
"Tidak masalah mas, beginilah kalau hidup di kampung, apalagi dengan tabiat ibu dan bapak" ucap Kanaya
"Bapak selalu bilang, utamakan beli barang di tetangga terdekat, karena jika ada apa-apa bukan orang supermarket yang menolong tapi para tetangga, tidak apa-apa meski lebih mahal sedikit dari tetangga, anggap saja itu amal" begitulah ucapan bapaknya Kanaya.
Dimana Kanaya selalu ingat akan hal itu.
__ADS_1