
Cinta karena paksaan tidak akan mendapatkan hasil yang baik, begitu juga dengan percintaan Safira, meski Safira ingin memberikan yang terbaik buat Riswan, dan meskipun Ruswan sudah berusaha mencintai Safira, jika hati sudah tak bisa maka kita tak bisa apa.
Kalau hati sudah terlanjur cinta maka kita tak bisa memaksa
Kalau hati juga tak cinta juga jangan di paksa.
Setiap hari, Safira mendatangi perusahaan Riswan, membawa kannya Makan siang, berharap Riswan melihat akan perhatian nya.
"Bagaimana keadaan Kanaya? apakah susah sadar ?" tanya Riswan
"Belum, Kak ... kasihan sekali dia, padahal dia sekarang lagi hamil" ucap Safira tanpa sengaja.
Betapa terkejutnya Riswan mendengar kabar kehamilan Kanaya. Seharusnya ini memang akan terjadi, tapi kenapa masih terasa sakit dan menusuk.
"Dia hamil, selamat untuk nya" ucap Riswan seraya memalingkan wajahnya.
"kakak sedih ... aku tahu, tapi Kak, Kanaya sudah bahagia bersama suaminya, ayo kita berjalan bersama agar kakak bisa melupakan apa yang sudah kakak rasakan pada Kanaya" ucap Safira memegang kedua tangan Riswan
"Kau kembalilah keperusahaan, jangan sampai kau di marahi hanya karena aku, dan aku juga banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" ucap Riswan seraya melepaskan tangan Safira.
Begitulah selalu yang Ruswan lakukan setiap kali bertemu dan setiap Safira berkunjung.
Kadang Safira ingin berfikir ulang akan kebersamaan nya bersama Riswan.
Ia sadar ... bahwa dirinya lah yang mengemis cinta untuknya. Menyedihkan sekali bagi Safira.
Safira pun keluar dari perusahaan Riswan, dimana banyak karyawan yang bergosip tentang Safira.
*Kasihan sekali, cantik sih, tapi ... harus mengemis cinta pada Tuan Riswan
Masak ... bukankah mereka saling mencintai ... ?
Ih, yang ada wanita itu yang datang kemari dan meminta Tuan Riswan agar mau menerima cintanya, apa sebegitu gak laku nya kali ya* ... ?
Banyak lagi gosip di sepanjang jalan yang Safira dengar, sehingga tanpa terada air matanya terjatuh.
Mengapa sehina dan serendah ini dalam memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Saat Safira sudah ada di depan perusahaan, ia meluapkan segala tangisnya, ia berteriak berharap sakit hatinya merasa lebih baik.
Tiba-tiba ada tangan yang mengulur di hadapannya.
"Apa yang mereka katakan benar, kenapa kau menangis, bukankah itu kenyataannya ... ? kau mendatangi seorang pria yang sama sekali tidak mencintaimu dan memaksanya agar menjalin hubungan dengan mu, apakah kau tidak memiliki harga diri lagi, hanya karena cinta yang menurutku itu adalah Obsesi mu semata, Nona Safira" ucap orang itu yang mana yang mana tangannya sekarang telah berpegangan dengan tangan Safira.
"Di siang hari, kau rela tidak makan hanya demi mengantarkan nya makanan, lalu bagaimana dengan kesehatan mu ... ?a apakah ia pernah bertanya, sudah kah kau makan ... ? Tidak kan ... ! kenapa wanita di ciptakan bodoh seperti mu" ucap emosi Orang itu, yang ternyata adalah Jav.
Safira hanya diam, ia membenarkan apa yang sudah Jav katakan.
Apakah benar, dirinya telah merendahkan diri di hadapan Riswan ... ?
"Laki-laki akan semakin jauh jika sang wanita semakin mengejar, berhenti lah menyiksa diri sendiri, ini sudah hampir 1 bukan kau melakukan ini, apakah kau tidak lelah ... ?" ucap Jav dengan penuh Emosi.
"Sekarang say bertanya, kenapa Tuan setiap haru mengikuti saya, apakah Tuan tidak memiliki pekerjaan lain selain itu ... ?" tanya Safira
"Kau mengalihkan setiap apa yang kita bicarakan, aku tidak akan peduli padamu, jika kau bukan adiknya bos ku sekaligus sahabatku, apakah kau faham ... !" ucap Jav,
Melihat Safira yang terdiam, Jav langsung mengambil tangan Safira lalu menariknya masuk ke dalam mobil.
Jav menutup pintu mobil dengan begitu keras, sehingga membuat Safira terkejut. Safira diam.
Mobil itupun meninggalkan halaman perusahaan Riswan, mereka berdua di dalam mobil bagaikan orang asing yang tidak saling berucap bahkan mereka sama-sama mengalihkan pandangan satu sama lain.
Hingga tanpa terasa, mereka pun sampai di depan halaman perusahaan Ilyas.
Jav membukakan pintu untuk Safira. Safira pun turun lalu langsung melangkahkan kakinya dengan cepat agar Jav tidak bisa menangkapnya.
Di dalam ingatan Safira hanya kata menyedihkan yang selalu teringat.
"istirahatlah di ruanganku,Tuan Ilyas sekarang tidak ada di kantor, jadi kebebasan untuk mu istirahat "ucap Jav saat Safira ingin masuk kedalam ruangan nya.
"Bagaimana keadaan Kanaya ... ? Apakah sudah ada perkembangan ... ?" tanya Safira
"Nona sudah mulai menggerakkan jarinya meski hanya sedikit, karena itulah Tuan selalu pulang setengah haru dari perusahaan" ucap Jav
"Dari pada kau berkunjung pada pria yang tidak menghargaimu, lebih baik kau pergi menjenguk sahabatmu, jangan tukar persahabatan hanya karena cinta yang terbalaskan" ucap Jav.
__ADS_1
Jav mengambil tangan Safira lalu membawanya kedalam ruangannya, dimana di sana sudah ada ruang untuk istirahat.
"Istirahat lah, sebentar lagi waktu istirahat akan habis, aku akan menemui kepala Divisi mu" ucap Jav seraya menutup pintu ruang istirahat nya.
"Tuan Jav, terimakasih" ucap Safira
"Matamu sudah seperti panda, jangan menangisi hal yang tidak berguna, lebih baik kau baca Novel agar kau tak selalu memikirkan nya" ucap Jav
"Akan aku ikuti saran mu Tuan" ucap Safira yang kini sudah mendudukkan tubuhnya di ranjang Tuan Jav.
Sedangkan Jav menengadahkan kepalanya, menenangkan perasaan nya agar tidak emosi, seperti tadi saat melihat Safira menumpahkan tangis nya. Sudah berapa kali Jav melihat nya begitu, apakah sebegitu cintanya dia hingga mau berulang kali di sakiti.
Jav pun duduk di kursinya, berusaha kembali fokus pada pekerjaan nya saat ini. Dengan sesekali ia melihat kearah pintu yang tertutup.
Sesaat Jav ingat kalau Safira belum makan siang.
"Sial" umpat Jav seraya berdiri lalu menghubungi seseorang untuk membawa lam makanan keruangannya.
*****
"Bagaimana sekarang ?" tanya Ilyas
"Banyak perkembangan, Tuan ... kami usahakan Nona akan segera bangun dari komanya" ucap Dokter
"Apakah masih butuh waktu lama ? ini sudah hampir satu bulan, dan kalian hanya bilang akan berusaha dan berusaha " ucap Ilyas
Dokter itu hanya diam, Mereka mengaju salah karena tidak bisa melakukan apa yang Ilyas inginkan.
Semua usaha sudah Dokter lakukan, tapi hasilnya hanya tuhan yang menentukan.
"Pergilah, aku ingin bicara dengan istriku" ucap Ilyas lada Dokter dan beberapa suster yang masih ada di ruangan itu.
"Kami permisi, Tuan " ucap Dokter itu.
Kini hanya tinggal Ilyas dan Kanaya yang ada di ruangan itu, Orang Tua Kanaya memang sengaja tidak di beritahukan, karena Ilyas tahu kesehatan Ibu Kanaya kini juga kurang bagus.
Di saat mereka menghubungi Kanaya, Ilyas selalu mencari alasan agar keluarga Kanaya tidak curiga.
__ADS_1
Tapi insting seorang Ibu itu kuat terhadap anak-anak nya. Begitu juga dengan Ibunya Kanaya.
Tanpa memberi tahu Ilyas mereka datang ke kota.