Kanaya Gadis Culun Jadi Primadona

Kanaya Gadis Culun Jadi Primadona
Part 6 Kanaya melawan Alina untuk pertama kalinya


__ADS_3

Karena bahagia, Kanaya keluar dengan bibir tetap tersenyum.


"Kenapa lama ... kau tidak pingsan di dalam kan ... ?" tanya Ilyas emosi.


"Tidak, Tuan ... " dengan masih tersenyum Kanaya berdiri di hadapan Ilyas.


Ilyas merasa heran dengan senyum bodohnya Kanaya.


"Apakah Berat badan mu mulai turun ... ?" tanya Ilyas menebak jalan pikiran Kanaya.


"Tuan tahu ... apakah sudah kelihatan ya Tuan ... " Kanaya bahagia ia mengira tubuhnya sudah mukai terlihat lebih kecil.


Ilyas ingin tertawa saat melihat senyum dan harapan kanaya yang seperti orang bodoh itu.


" Hahahaha ... Kanaya ... kanaya ... kamu masih beberapa hari menjalani olahraga ini, turun mungkin ... tapi ... untuk mencapai hasil yang ideal akan butuh waktu yang lumayan, tapi ... aku salut dengan kegigihan mu, tetaplah semangat ..." Ilyas memberi semangat pada Kanaya.


Terlihat bibir Kanaya tertarik lagi saat tadi sempat murung.


"Ayo olahraga, setelah itu kita sarapan pagi" ajak Ilyas pada Kanaya.


Kanaya pun mengikuti langkah Ilyas keruang olahraga.


"Mulai lah ... kenapa masih diam ... ? kau malu padaku ... ? ingat tujuan utama mu, dan fokus pada tujuannya, abaikan apapun yang sekiranya itu bisa mengalihkan tujuan" ucap Ilyas.


Ilyas pun memulai olahraga raga nya dengan menggunakan Treadmill.


"Ayo ... , cukup kau olahraga dengan itu, bisa menurunkan berat badan mu, menghilang kan perut buncitmu itu, ingat ... kau harus berhasil, ini tidak gratis" ucap Ilyas seraya masih terus melakukan lari di tempat.


"Boleh aku tahu alasan Tuan membantu saya ... ?" tanya Kanaya dengan menatap Ilyas yang ada di sampingnya.


"Karena aku ingin wanita yang memiliki kekurangan bisa berubah menjadi yang ia inginkan, Kanaya ... kau termasuk hebat menurutku, dalam hinaan orang, kau masih mampu bertahan, tidak seperti orang yang aku kenal" ucap sedih Ilyas.


Kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 kurang 15 menit, Ilyas dan Kanaya menghentikan olahraga nya.


Kanaya pun membersihkan tubuhnya begitupun dengan Ilyas.

__ADS_1


Setelah itu mereka sarapan pagi bersama, Ilyas mengurangi porsi Kanaya.


Kanaya yang heran hanya bisa menatap nasi yang Ilyas ambil kembali.


"Kurangi porsi mu, perbanyaklah makan buah seperti Alpukat, apel hijau dan minuman Green tea, dan juga hindari nyemil di malam hari, meskipun siang kalau bisa dikurangi, ingat itu ...!" ucap Ilyas yang di balas anggukan kepala oleh Kanaya.


selesai sarapan Kanaya pun membereskan piring nya sebelum memulai lari paginya.


"Satu lagi ... kau tidak harus diam saat di hina oleh Alina, masalah kau akan di pecat itu keputusan ku bukan keputusan Alina, jadi ... lawanlah ... jangan diam dan takut jika kau tidak salah, aku tidak akan berpihak padanya, atau padamu, di kantor aku hanya atasan mu, di luar aku bisa kau anggap teman atau semacamnya" ucap Ilyas.


Kanaya tersenyum mendengar perkataan Ilyas, ia juga tidak ingin melawan Alina, karena baginya hinaan itu adalah cambukan baginya untuk bisa sukses dalam usahanya,


"Kau tidak perlu lari pagi ini, ikut mobilku ... !" ucap Ilyas.


"Maaf Tuan, tapi pagi ini saya ... saya ... tidak ke kantor tapi ... ke kampus" ucap Kanaya gugup.


"Ah, aku lupa ... baiklah ... sampai jumpa besok" Ilyas langsung meninggalkan Kanaya sendiri, ia berdiri terus menatap mobil Ilyas.


Kanaya tersenyum, karena masih ada orang yamg baik padanya, apalagi sampai membantunya sejauh ini.


Saat ia sampai di kampus nya, banyak mata yang menatap nya.


Celana besar dan baju yang besar, kaca mata yang selalu bertender di ayas hidung ya, rambutnya yang di ikat dua menjadi ciri khas nya, biasanya akan selalu ada cemilan di tangannya, tapi kini ... Kanaya mematuhi apa yang Ilyas katakan.


"Hai, kau baru nyampek ... ?" tanya Safira


"I ... iya, kau sudah dari tadi ya ... ?" tanya Kanaya


"Ya ....lumayan, Kak Riswan tadi kemari, katanya kemaren kau menolaknya untuk mengantarkanmu, padahal dia udah bela-belain loh jemput kamu" ucap Safira


"Aku tidak enak sama kak Riswan Fir" Kanaya tertunduk sambil duduk di bangku yang ada di depan ruangannya.


"Kenapa ... ? bukankah kak Ruswan baik banget ya sama kamu, sepertinya dia suka sama kamu" ucap Safira yang membuat Kanaya tersedak ludahnya sendiri.


"Kalau bercanda jangan pakai hal itu Fir ... gak lucu tau ..." ucap Kanaya menatap sahabatnya itu.

__ADS_1


"Memangnya ada kata ku yang salah ya ... Kanaya jangan tutup mata deh, selama ini siapa yang melindungi kamu dari bully-an anak-anak, Kak Riswan ... saat kau dilempari makanan oleh teman-teman, siapa yang menjadi tameng untukmu ... Kak Riswan Nay ... " Safira tidak habis pikir kenapa Kanaya juga bodoh dalam mengenal sikap seseorang.


"Aku mengerti dengan apa yang kau katakan, tapi ... aku tidak ingin berharap akan hal yang tidak mungkin Fir, kau tahu ... kak Riswan adalah idola di sini, mana mungkin ia akan tertarik pada siburuk rupa seperti ku" Kanaya tertunduk, ia berharap apa yang di katakan oleh Safira adalah kebenaran, karena tidak bisa Kanaya pungkiri kalau sebenarnya ia juga suka sama Riswan, tapi dia sadar diri ... siapa Riswan dan siapa dirinya.


Jam 10 siang, Kanaya dan Safira sudah pulang, Kanaya mampir.ke tempat ia bekerja,ia tidak enak pada pemilik cafe yang sudah baik padanya.


Safira mengantarkan Kanaya untuk bertemu dengan mantan atasannya itu.


Ya .... Kanaya sudah mengirim pesan kalau dirinya untuk sementara waktu tidak bisa bekerja, karena padatnya pekerjaan tempat dirinya magang, Dan pemilik cafe itu memaklumi nya.


"Kanaya ... kau kemari, duduklah ... " ucap wanita paruh baya itu.


"Maafkan saya, Bu ... saya ... belum bisa masuk" ucap Kanaya


"Tidak apa-apa, kau harus menyelesaikan kuliahmu dengan baik, kau anak yang kuat ... abaikan sua yang telah terjadi padamu, kau harus tetap semangat" nasehat itu yang selalu Kanaya dengar dari atasan nya itu.


Meski Kanaya hanya sebagai pelayan bersih- bersih tapi, ia sudah bersyukur karena telah memberinya gaji.


Saat Kanaya ingin pulang, Ternyata Alina ada dalam cafe itu bersama teman-teman nya.


Kanaya yang menyadari keberadaan Alina ingin segara menghindar, tapi sayang ... Alina sudah melihat keberadaan Kanaya dan Safira.


"Hai, Monster berhenti ... !" suara Alina mampu membuat semua mata melihat kearahnya, Kanaya ingin melangkah namun ... ucapan Alina menghentikan langkahnya.


"Apa selain kau buta, kau budek juga .... !" tambah Alina semakin banyak mata yang melihat kearahnya.


Terlihat Kanaya dan Safira menarik nafas dalam-dalam untuk menahan emosinya.


Safira sudah berbalik badan dan ingin berkata, Namun Kanaya mencegah nya.


Terlihat Alina yang berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekati Kanaya dan Safira, di tangan nya ada segelas minuman, Kanaya faham, Alina ingin mempermalukan nya saat ini.


Saat Alina ingin menuangkan air yang ada di gelas itu ke kepala Kanaya, tangan Kanaya malah merebut gelas itu dan menyiramkan nya ke wajah Alina. Sontak itu membuat Safira terkejut, bahkan semua mata terkejut melihatnya.


"Nona ... saya tidak tahu ... seberapa besar kebencian anda pada saya, tapi saya diam dengan hinaan anda, saya diam karena menghormati kalau anda adalah tunangan atasan saya, tapi ... saya harap Nona sadar ... disini bukan lingkungan perusahaan ... jadi anda bukan siapa-siapa, saya punya hak untuk melawan anda" ucap Kanaya sok berani, padahal hatinya dag dig dug serr.

__ADS_1


__ADS_2