
Malam ini Ilyas menginap dirumah sakit, ia menjaga Kanaya dengan baik.
"Tuan, maksud ku Ilyas ... apakah harus melakukan pernikahan jika hanya ingin Alina pergi, bukankah hal ini sudah bisa membuat ia tidak akan berani lagi mengganggu mu" ucap Kanaya.
Ilyas tersenyum menatap Kanaya, ia mendekat Kanaya lalu berkata
"Kau belum mengenali Alina, dia cerdas aku akui itu, hanya saja kecerdasan nya ia gunakan dengan jalan yang salah, kenapa kau tidak suka menikah dengan ku ? " goda Ilyas
"Bukan begitu ... kau membuat ku terkejut saja, pernikahan bukanlah hal yang bisa kita buat main"ucap Kanaya
"Aku tahu, jika akhirnya kita akan masuk kedalam perasaan, kita lanjutkan saja, yang kumaksud dari hutang mu selama ini adalah ini ... , pernikahan ini akan memicu dua hal, 1 bisa membuat Alina pergi jauh, 2 bisa membuat seseorang datang, aku ingin dia datang" ucap Ilyas tanpa sadar, sehingga membuat hati Kanaya perih.
"Apakah pernikahan ini semacam pernikahan kontrak, kalau begitu baiklah ... berapa lama aku akan memainkan peran rumah-rumahan dengan mu" tanya Kanaya, mencoba tetap tersenyum padahal hatinya terasa perih.
'Kenapa hatiku sakit saat mendengar ia menunggu kedatangan seseorang ... Kanaya sadarlah ... dia bukan orang yang bisa kau jangkau kehidupan nya'
"jangan terlalu di fikirkan, kau istirahat lah ... ini sudah malam" Ilyas mengelus kepala Kanaya
"Kamu memberiku perhatian seperti ini ... bukan kah akan membuat wanita lemah seperti ku akan jauh cinta ... " goda Kanaya ingin membuang perasaannya.
"hahahhaha ... aku tahu ... kau wanita yang baik, akan sangat beruntung jika aku di cintai olehmu hahahhaha" tawa Ilyas membuat Kanaya tersenyum.
"Baiklah ... aku akan istirahat, jika terus mendengar kata-kata manismu, aku yakin hatiku tidak akan baik-baik saja " ucap Kanaya yang kini telah merosot kan tubuhnya agar terbaring sempurna.
"Tidurlah yang nyenyak, aku akan menjagamu " Ilyas membenarkan selimut yang Kanaya pakai, kanaya memperhatikan semua yang di lakukan Ilyas.
Lalu menatap langkah Ilyas yang menuju ke arah sofa.
'Aku sangat ingat, dia sangat peduli padaku bukan hanya sekarang, tapi saat aku masih menjadi Kanaya yang dulu, kau yang membuat kau selalu memperhatikan mu, apakah kau sengaja ingin aku jatuh cinta padamu, selama ini tidak ada orang yang memberiku perhatian seperti dirimu, Kak Riswan baik ... hanya saja kami jarang sekali bertemu, Ilyas ... jangan terlalu memberiku perhatian, aku takut hatiku meminta lebih ' bathin Kanaya seraya memejamkan matanya.
Ilyas bukannya tidak menyadari akan tatapan Kanaya, tapi ia memang ingin membuat Kanaya memikirkan kembali perasaan nya, karena pernikahan akan terlihat sangat nyata saat emosi seorang wanita benar-benar nyata.
'Ku harap dengan pernikahan ku ini, kau akan datang, setelah itu ku akan cari tahu apa alasan mu menghilang dariku' bathin Ilyas seraya memandang langit-langit kamar rumah sakit.
Akhirnya mereka sama-sama lelap dalam tidurnya, Kanaya dengan perasaan labilnya, Ilyas dengan rasa penasaran nya.
__ADS_1
*****
"Seperti nya, aku tidak akan pernah dekat dengan nya, itu salah ku juga, karena selama ini aku sibuk" ucap Riswan pada sepupunya.
"Kau bilang dia sudah jauh beda dari yang dulu, apakah ini juga ada hubungannya dengan pria yang membantu nya membawa kerumah sakit ?" tanya sepupunya itu.
"Ya, seperti tebakanmu, Pria itulah yang membuat Kanaya seperti saat ini, Tapi melihat kenyataan nya mengapa masih terasa sakit" ucap Riswan
"Kau salah dalam hal ini, seandainya kau ungkap kan perasaan mu, mungkin Kanaya akan kau miliki, tapi ucapan orang tuamu, itu tidak mungkin, mereka tidak akan membiarkan kamu dan Kanaya bersatu, secara finansial kalian berbeda jauh, tapi untuk memastikan perasaan mu, sebaiknya kau datangi Kanaya, katakan apa yang ingin kau katakan, ungkapkan semua yang kau rasakan" saran yamg menjadi pikiran bagi Riswan.
Malam telah berlalu, menyelimuti ssmua.insan.yang sudah ada dalam mimpi.
Riswan sudah mantap, sebelum berangkat bekerja, ia akan menjenguk Kanaya.
Benar yang di katakan sepupu nya, krang tuanya lah yang membuat ia semakin jauh dengan Kanaya, beberapa bulan ini ia.di berikan tanggung jawab yang besar untuk mengurus sendiri bisnis keluarga.
Pagi telah bersambut.
"Apakah benar tidak apa-apa jika aku tinggal ... ?" tanya Ilyas
"Baiklah, pulang kerja aku akan langsung kesini, jangan banyak gerak, istirahat lah yang cukup, jangan telat makan, dan minum obatnya " Ucap Ilyas dengan cerewet
" Oke ... siap komandan " ucap Kanaya membuat Ilyas mengacak rambutnya Kanaya.
" Kalau begitu aku pamit," Ilyas berkata seraya menyentuh pipi Kanaya.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Siapa yang tidak akan goyah mendapatkan perhatian Sebegitu rupa.
Di saat Ilyas sudah berlalu, dan Kanaya masih dalam lamunannya, suara pintu membuat nya terkejut.
__ADS_1
"kenapa kembali lagi " ucap Kanaya tanpa melihat siapa yang datang.
Betapa terkejutnya Kanaya saat melihat Riswanlah yang datang.
"Eh, kak Riswan ... duduklah kak" ucap guguk Kanaya
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Riswan
"Sudah baikan Kak, kakak tidak kerja?" tanya Kanaya
"Kerja, ini ku bawakan untukmu " Riswan menyerah kan buket bunga yang indah pada Kanaya.
"Terimakasih Kak, kakak tidak perlu repot-repot "ucap Kanaya
"Nay, aku tadi berpapasan dengan Tuan Ilyas, fan dia berkata kau dan dia akan segera menikah ... ? benarkah ... ? katakan kalau itu hanya bohong Nay?" ucap Riswan menahan sesak di dadanya
"Masalah itu, benar tidaknya apakah akan berpengaruh pada kakak ... ?" ucap Kanaya seraya menundukkan kepalanya
"Tentu Nay, aku tahu ... kamu pasti mengerti perasaan ku selama ini kan ... ?" ucap Riswan
"Tapi itu percuma kak, orang tua kakak tidak bisa menerima ku, dan juga kakak tidak akan bisa memperjuangkan aku, kakak tidak bisa melawan kehendak orang tua kakak, Ya ... kak, aku dan Ilyas akan segera menikah" ucap Kanaya seraya memalingkan wajahnya dari tatapan Riswan.
Tangan Riswan mengepal marah.
"Jadi semua yang ia katakan benar?" tanya Riswan lagi
"Ya ... benar ... ku harap kakak bisa menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua kakak, menikah lah dengan pilihan orang tua kakak, dan juga ... "
Sebelum Kanaya meneruskan kalimatnya Riswan sudah pergi dengan perasaan marahnya.
'Maafkan aku kak, aku sudah tahu perasaan kakak, tapi sebelum itu, Ibu kakak datang dan berkata jika aku dan kakak bagaikan langit dan bumi, perbedaan nya sangat jelas terlihat, karna itu ... aku juga tidak ingin terlibat perasaan dengan kakak, kakak orang yang baik, kelak akan bertemu dengan orang yang baik pula '.
Kanaya pun memejamkan matanya, mengalir kan air mata yang membasahi nya.
'Nay, semangat, sisa pernikahan yang akan menjadi akhir dari balas budimu pada Ilyas, ingat ... tutup hatimu, Ilyas sudah berkata kalau dia ingin kedatangan orang lain'
__ADS_1