
Ini pertama kalinya Ilyas mencium kening Kanaya sebelum memejamkan matanya.
Besok mereka sudah akan mulai bekerja lagi, sesuai kesepakatan, Kanaya akan menjadi Sekertaris ILyas.
"Mas, bukankah kita akan ada pertemuan di luar nanti ... ?" tanya Kanaya saat Ilyas masuk kedalam kamar mandi
"Isss, kenapa aku bisa lupa, Terimakasih sudah mengingatkan" ucap Ilyas seraya melihat ke arah Kanaya yang kini sedang menyiapkan pakaian Ilyas.
Dirinya sudah mandi kini tunggal memakai baju kantor.
Benar saja, Ilyas menyiapkan beberapa setelan baku kerja untuk Kanaya, tentu dengan setelan yang bermerek sesuai dengan kanaya sekarang.
Dia bukan hanya Sekertaris nya tapi juga istrinya.
Kanaya memakai salah satu baju itu dengan senyuman nya.
"Apakah kau suka ..." tanya Ilyas saat baru keluar dari kamar mandi.
"Sangat suka, terimakasih ... " ucap Kanaya seraya membantu Ilyas mengeringkan rambutnya.
Perhatian kecil seperti inilah yang membuat hati Ilyas berbunga-bunga
Perhatian kecil ini lah yang telah mampu membuat hatinya yang hancur kini telah kembali hidup.
"Sudah ...! kita sarapan" ucap Kanaya
"Kedepannya kita harus memakai jasa IRT, kau tidak mungkin melakukan ini semua sendiri " Ilyas berkata seraya melangkah kan kakinya berdampingan dengan Kanaya
"Aku masih bisa mas, jadi tidak usah ya ... " pinta Kanaya
"kenapa ...?" tanya Ilyas
"Mas, hubungan kita bukan seperti suami istri pada umumnya, aku tidak mau ada seorang pun mengetahui hubungan suami istri kita " ucap lirih Kanaya namun berhasil membuat Ilyas menghentikan langkahnya.
Ilyas menatap Kanaya, ia sangat tahu maksud dari istrinya itu, benar kata Kanaya, hubungan mereka tidak sama seperti yang lainnya.
Ilyas mengambil kedua tangan Kanaya lalu mengecup punggung tangan itu.
"Aku akan menjadikan mu istriku sepenuhnya, kau jangan khawatir itu, kau adalah segalanya bagiku sekarang" ucapan yang tidak pernah Kanya bayangkan akan ia dengar dari suaminya
Ilyas menarik tubuh Kanaya hingga berada dalam pelukannya.
"Seperti janjiku, aku akan menomor satukan mu setelah ini " Setelah berkata, Ilyas mendarat kan ciuman di bibir Kanaya, bibir yang yang tidak pernah Ilyas rasakan selama ini.
__ADS_1
Kini untuk pertama kalinya Ilyas mencium nya, ada rasa manis yang tidak pernah Ilyas rasakan.
Kanaya menikmati setiap sentuhan dari Ilyas, karena tanpa ia sadari ... ia sudah tertarik pada Ilyas suaminya sendiri.
Ia berharap kisahnya tidak sama dengan novel sebelah yang nikah kontrak tapi mengalaminya sakit hati dan fisik.
Ya ... Ilyas tidak sama, meski awalnya mereka nikah kontrak, tapi Ilyas selalu memperlakukan nya dengan sangat baik, sehingga mungkin karena itulah tumbuh rasa itu.
Rasa nyaman yang tidak pernah Ilyas rasakan saat bersama dengan yang lainnya.
Menyadari ciuman itu sudah lama, Kanaya mendorong tubuh Ilyas dengan pelan.
"kita akan terlambat nanti" ucap lirih Kanaya
Ilyas tersenyum lalu menarik tangan Kanaya, mereka duduk untuk sarapan bersama, masakan Kanaya selalu Ilyas nikmati.
Tidak bisa di pungkiri, Kanaya pintar masak, dan itu membuat Ilyas tidak pernah lagi makan di luar.
"Apakah itu ciuman pertama mu" goda Ilyas saat mereka sudah selesai sarapan
Kanaya tidak menjawab hanya merah di pipi nya sudah memberi Ilyas jawaban.
"Kau yang terbaik istriku" ucap Ilyas
Begitu juga dengan Kanaya, ia merasa malu karena ciuman nya yang begitu buruk.
*****
"Maaf Nona ... Tuan masih belum datang, kemungkinan beliau masih libur karena pernikahan nya" ucap resepsionis itu lada Lola yang kini sudah ada di perusahaan Ilyas
"Kau orang baru di kantor ini kan ... ? jadi kau belum tahu siapa saya, saya adalah orang terpenting dalam hidup Ilyas, bahkan kedudukan istri jeleknya itu, aku jauh lebih tinggi di hatinya, jadi ... jika kau masih melarang ku untuk keruangan Ilyas, maka akan ku pastikan kau aman di pecat ...!" ucap sombong Lola lada resepsionis itu.
"Maafkan saya Nona, tapi ini perintah ... ! tidak boleh ada yang pergi keruangan Tuan selama Tuan tidak ada" ucap karyawan itu yang semakin membuat Lola murka.
"Kau ... ! apa kau mengerti bahasa manusia ... !" bentak Lola seraya mendorong tubuh karyawan itu, untungnya ada seseorang yang menangkap tubuh kecil itu.
"Kamu tidak apa-apa ... ?" tanya orang yang menangkap tubuh karyawan itu, yang tak lain lagi adalah Kanaya.
Inilah pandangan pertama Ilyas dan Lola setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Pandangan keduanya saling terkunci satu sama lain, Lola sudah siap dengan semuanya. Namun tidak untuk Ilyas, pandangan nya terhenti saat Kanaya menyentuh jari kelingking Ilyas
"Jangan membuat kekacauan di kantorku, jika ingin bertemu buatlah janji terlebih dahulu" ucap Ilyas yang langsung berlalu.
__ADS_1
Saat Lola ingin mengejar Ilyas ada tangan yang menariknya
"Apakah Nona tidak mendengar ucapan Tuan, buatlah janji terlebih dahulu" ucap Kanaya
Dengan kasar Lola menghempas kan tangan Kanaya .
"Kau belum tahu siapa saya ... ! jadi jangan cegah saya ... !" bentak Lola
"Maaf Nona, tidak perduli siapa anda, tapi Tuan ku sangat sibuk hari ini, jika gin bertemu dengan nya, maka buat lah janji dulu" ucap Kanaya
"Mbak ... lanjutkan pekerjaan mu" ucap Kanaya tersenyum pada arah Karyawan itu.
"Baik,Nona" ucap Karyawan itu.
Di saat Lola masih diam, Kanaya melangkah kan kakinya.
Kanaya bukannya tidak tahu dia siapa? Lola ... wanita yang sudah di nanti oleh suaminya dalam beberapa tahun ini.
Kini ia muncul tepat di hadapan suaminya.
Tentu ... di hati Kanaya ia merasa takut dan was-was, tapi Kanaya di sudah menyiapkan hal ini, ia selalu menguatkan hatinya.
Agar ia bisa menang dalam mempertahankan rumah tangganya.
Kanaya pun masuk kedalam ruangan Ilyas, yang mana Kanaya melihat Ilyas berdiri di dekat jendela.
"Kau sangat ingin bicara dengan nya, kenapa malah menghindar ... ?" tanya Kanaya
"Dia sudah banyak berubah Nay, sikap nya sudah jauh beda"ucap Ilyas
"Mungkin itulah karakter dia yang sebenarnya, Mas ... jika kau ingin memperjelas semuanya, temui dia bicarakan semua yang ada dalam hatimu, jangan buat hatimu selalu mengganjal " ucap Kanaya, suaranya bergetar, ia hanya berusaha kuat, namun nyatanya tidak akan ada wanita yang akan rela jika melihat sang suami bicara dengan wanita lain, apalagi seorang wanita yang pernah ada di hati sang suami.
"Baiklah ... akan ku buatkan kopi kesukaan mu dulu " ucap Kanaya yang langsung menuju ke mesin mobil.v
Ilyas menyaksikan senyum terpaksa itu.
Ilyas tahu, Kanaya hanya pura -pura kuat saat ini.
Setelah memberikan kopi itu untuk Ilyas, Kanaya langsung menuju ke mejanya.
Ia segera memeriksa semua berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
Ia tidak boleh terfokus dengan masalah Lola, dia harus bisa mengalihkan pikiran nya pada pekerjaan.
__ADS_1