
Lama mereka berbincang-bincang, akhirnya Ilyas pun berpamitan untuk pulang.
"Kalian tidak makan siang disini ... ?" tanya Ibunya Safira
"Tidak usah bi ... kami akan makan di rumah, ada Ibu bapak juga di sana " ucap Ilyas
"Salam kan untuk mertuamu, kami belum sempat berkenalan dengan nya, tapi suatu saat kami akan mendatangi kediaman mertuamu " ucap Pamannya Ilyas
"Memangnya paman tahu ....?" tanya Ilyas
"Daerah mana yang tidak paman tahu ..., semuanya paman tahu, apalagi rumah besan, iya kan Bu ... " ucap Pamannya Ilyas pada istrinya.
Drama pamitan itupun telah selesai, akhirnya Ilyas dan Kanaya pun pulang, dalam perjalanan, mereka berdua hanya diam dan diam.
"Ingin makan di luar ... ?" tanya Ilyas
"Lalu Ibu bapak mas ... ?" tanya Kanaya
"Kita bawakan saja, kasihan juga kan kalau masih harus masak?" ucap Ilyas
"Memangnya mas tidak repot ... ?" tanya Kanaya
"Hari ini aku adalah suamimu heheheh kita nikmati selagi aku cuti oke" ucap Ilyas
Kanaya menatap Ilyas yang kini fokus mengemudi, ia ingin berharap namun ... ia takut.
Akhirnya mereka pun sampai di sebuah restoran, bisa di bilang lumayan besar.
Banyak pengunjung yang sudah duduk singgah.
"Ayo ...!"ajak Ilyas pada Kanaya
"Iya ... " Kanaya tersenyum saat Ilyas membuka kan pintu untuk nya.
Kanaya merasa benar-benar memiliki suami, bukan hanya pernikahan pura-pura atau semacam nikah kontrak.
Ilyas memperlakukan nya dengan sangat baik, bahkan ia mengambil cuti di tengah pekerjaan nya yang kini sudah mulai padat.
Kanaya terus menatap Ilyas seraya mengikuti langkahnya.
"Kenapa berjalan di belakang ku, aku bukanlah bos mu, kemarilah ... berjalan lah di samping ki, karena aku adalah suamimu" ucap Ilyas yang membuat Kanaya berhasil meloloskan air matanya.
Ilyas faham akan hal itu, masih banyak keraguan dalam hati masing-masing.
Namun ... Ilyas akan memastikan bahwa ia sudah berusaha membuka hatinya untuk Kanaya.
__ADS_1
Mengharapkan seseorang untuk datang sudah Ilyas rasakan terlebih dahulu, hanya kecewa yang Ilyas rasakan.
Kini rasa kecewa itu tidak ingin Kanaya rasakan, Ilyas akan memastikan itu.
"Kau menyukainya ...?" tanya Ilyas
"Ya ... tentu, Mas ... kau berkata seperti itu tidakkah kau akan membuat aku berharap banyak padamu, sedangkan hubungan kita ... ucap Kanaya
"Biarkan hubungan kita berjalan seiring nya waktu, Nay ... aku berharap rasa itu segera datang di antara kita " ucap Ilyas menatap Kanaya
"Aku sudah mengatakan padamu, aku akan belajar memenuhi tanggung jawabku, jika ia datang ... bukan berarti aku akan langsung mendatangi nya kan ... ? cintailah aku Nay ... ayo kita belajar mencintai pasangan kita " ucap Ilyas dengan sungguh-sungguh.
Kanaya tersenyum membalas pegangan tangan Ilyas, keduanya saling menatap sehingga datangnya menu yang mereka pesan menjadi akhir dari keromantisan mereka.
"Tapi ingat, jika di kantor aku adalah atasan mu, jika di rumah aku adalah suamimu " ucap Ilyas Seraya mencubit kecil hidung Kanaya.
"Terimakasih ... terimakasih untuk semua nya" ucap Kanaya.
Akhirnya Kanaya dan Ilyas pun menikmati makan siang mereka .
Tidak lupa mereka membungkus kan untuk kedua orang tua Kanaya dan juga untuk adiknya Kanaya
Tentu mereka semua bahagia.
" Kalian tidak makan, Nak ...?" tanya Bapak nya Kanaya
"Nay, bapak dan Ibu akan segera kembali, kau jaga diri baik-baik disini ... jangan suka keluar rumah, dan layani suami dengan baik" ucap sang Ibu Kanaya
"Apa Kalian tidak bisa tinggal di sini untuk beberapa hari lagi ... ?" tanya Kanaya dengan raut wajah sedih
"Lalu siapa yang mengurus sawah nanti Nduk ... "ucap sang bapak
"Benar yang dikatakan bapakmu, tidak apa-apa, lain hari jika kami ada waktu, kami pasti akan mengunjungi mu" ucap sang Ibu
"Apa yang Ibu katakan, kamilah yang sebagai anak akan mengunjungi Ibu dan bapak" ucap Ilyas yang kini bergabung duduk dengan ibu dan bapak Kanaya
"Nak Ilyas, bapak harap jika Kanaya melakukan kesalahan, nak Ilyas bisa menasehati jangan pernah main kasar padanya, jika Nak Ilyas tidak sanggup dengannya ... cukup kembalikan saja dia pada kami" ucap sang bapak dengan kerutan banyak di wajahnya, warna kulit yang sudah gelap serta mata yang sudah berkaca tentu Ilyas tersentuh dengan penuturan nya.
"Kanaya adalah gadis baik yang tuhan kirimkan untuk Ilyas, bapak tidak perlu cemas, saya tidak akan pernah main kasar apalagi terhadap perempuan" Ilyas tersenyum pada bapaknya Kanaya agar kecemasan di wajahnya bisa hilang saat itu juga.
Bapaknya Kanaya tersenyum lega mendengar jawaban Ilyas.
Mereka pun istirahat saat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang hari.
Di tambah lagi suasana hari ini sanagt panas, Ibu dan bapak Kanaya berbaring menikmati kamar yang sejuk karena ada Ac nya.
__ADS_1
"Bu, akhirnya Kanaya mendapatkan jodoh yang baik ya bu ... " ucap sang bapak
"Bapak benar, meski ada sedikit keraguan, tapi kembali lagi, anak kita Kanaya bukanlah wanita yang lemah pak, dia pasti sudah bisa mengatasi masalah nya sendiri" ucap sang Ibu
"Ya ... dia akan tetap menjadi kebanggaan kita Bu" mata sang bapak berbinar kala mengatakan hal itu.
Kebahagiaan seorang ayah ada ketika melihat kebahagiaan di wajah sang anak perempuan.
Entah itu mitos atau fakta tapi kebanyakan memang begitu.
Sedangkan Kanaya di dalam kamar sudah membersihkan diri, begitu juga dengan Ilyas.
Mereka kini sama-sama memegang ponsel mereka
"Nay, kau ada pemotretan besok ... ?" tanya Ilyas saat melihat jadwal di ponsel nya
"Iya Mas ... kenapa ... ?" tanya Kanaya
"Tidakkah kau cuti juga ... ?" tanya Ilyas
"Memangnya di izinin, lagian hanya sebentar kan Mas ...?" ucap Kanaya
"Baiklah ... aku akan mengantar mu, setelah itu kita keperusahaan" ucap Ilyas
"Aku kerja Doble ya mas ... ? hehhehe awas bonusnya ya ... " ucap Kanaya
"Tentu ... yang bekerja yang di bayar, Oh iya .. ini adalah belanja bulanan kamu, jika kurang silahkan katakan saja" ucap Ilyas seraya menyerahkan kartu ke tangan Kanaya
"Tidak usah mas, kan Kanaya ada uang sendiri ... " ucap Kanaya polos
"Ini nafkah dariku, uangmu buat kau tabung saja kalau ada keperluan apapun mintalah padaku" ucap Ilyas.
"Terimalah Mas " ucap Kanaya.
*****
*Cinta itu ibarat lukisan yang tidak dapat di lukiskan, ibarat umpama yang tak bisa di umpamakan.
Cinta alan hilang seiring nya waktu yang telah terbuang, cinta itu akan lenyap saat hati mulai senyap.
Bukankah hati juga ada rasa lelah saat harus menanti namun tak kunjung henti.
Bukankah cinta juga akan larut seiringnya waktu yang berlalu*.
*****
__ADS_1
"Dia hanya ingin aku datang kan ... ? makanya dia menikahi wanita buruk rupa itu!" ucap wanita yang kini kamarnya sudah sangat berantakan.
"Tidak, tidak bisa begini ... akan ku buat Ilyas Kembali bersujud di kaki ku" ucap lagi wanita itu.