
Ilyas hanya diam mendengar kan segala saran dari Jav.
Sedangkan Riswan selalu melamun di perusahaan kecilnya.
"Tuan ada seorang wanita yang ingin bertemu denganmu" ucap sekertaris Riswan
"Siapa ...?" tanya Riswan
"Di bilang namanya Safira, Tuan" ucap sekertaris itu, membuat Riswan gugup
"Safira, anak itu ... baiklah suruh dia masuk" ucap Riswan seraya membetulkan posisinya.
Akhirnya Safira pun masuk kedalam ruangan Riswan. dengan wajah cantiknya Safira berdiri tepat di hadapan Riswan
"Duduklah, tumben kau kemari ?" ucap Riswan
Safira duduk dengan bibir yang masih terkunci, namun pandangan nya tidak teralihkan dari Riswan.
"Jelaskan semuanya Kak" tiba-tiba Safira berkata
Tentu membuat Riswan menatap kearahnya.
"Apa yang harus aku jelaskan, Fir"tanya Riswan
"Apa arti nya aku dalam hidup kakak, ke apa kakak dengan mudah memberiku harapan, setalah itu kakak langsung menghancurkan nya dalam sekejap " ucap Safira yang sudah tidak bisa menahan emosinya .
"Apa arti dari perhatian kakak selama beberapa hari ini ? apa arti gandengan tangan kakak selama ini ? dan apa arti hari-hari yang kita lewati beberapa hari ini ? kenapa dalam sekejap kaka bisa jalan dengan wanita lain ... ? kenapa kak ... ? kenapa ... ?" teriak Safira dalam tangisannya.
"Aku tahu, kakak bukannya tidak tahu akan perasaan ku, tapi kakak tidak mau tahu, karena kakak itu pengecut !" ucap Safira dengan penuh emosi, air matanya sudah mengalir di wajah cantik nya.
"Kenapa kakak diam ... ! hanya dalam semalam, dalam waktu semalam, sudah ada wanita lain yang memanggil kakak sayang, kenapa kakak memberiku harapan,jika akhirnya dihancurkan begini kak ... kenapa ... " ucap akhir nya Safira seraya menjatuhkan tubuhnya lagi di kursi, kepala nya tertunduk menyembunyikan tangisnya yang begitu jelas.
"Kenapa kakak diam ... ! " teriak Safira lagi, sesenggukan yang kini Safira alami.
__ADS_1
Bertahun - tahun menyimpan rasa, tapi hanya rasa gagal yang aku dapat kan, kurang apa aku di mata kakak? " ucap terus Safira mengeluarkan semua isi hati yang tersimpan.
Lama mereka terdiam, Riswan tidak menyangka Safira akan datang padanya dan mengatakan semuanya secara mendadak.
"Kenapa kakak diam ? apakah sekarang kakak mau berubah jadi lelaki brengsek, baiklah ... selamat untuk kakak, saya Safira berjanji tidak akan lagi mengganggu kakak, saya Safira tidak akan mencintai kakak lagi, seharusnya kakak tahu bagaimana rasanya cinta terbaikan, sakit kan kak ... ? sakit banget, dulu aku merasa tenang karena aku tahu, Kanaya tidak mencintai kakak, dan aku masih bisa berharap, tapi ... ternyata harapan ku hanya anganku saja, Kakak selamanya tidak bisa melihat perasaan ku, kakak jahat ... " ucap Safira dengan begitu emosional.
Saat Safira hendak pergi, Tangannya Ruswan menarik nya dalam dekapannya.
memberi nya pelukan, berusaha menenangkan hati yang hancur.
"Maafkan aku ... " hanya kata itu yang keluar dari mulut Riswan
"Aku telah menyakiti mu dengan begitu dalam, aku tak pantas mendapatkan cinta itu, aku tidak pantas sama sekali Fir, kau tahu ... aku sudah berusaha, berusaha membuka hatiku untukmu, tapi tetap saja, tetap saja nama temanmu yang selalu ada, aku harus bagaimana ... ? mencintai orang lain tapi menjalin hubungan denganmu, aku tidak ingin memberi harapan, aku hanya ingin membuat kesempatan pada diriku sendiri, hanya saja, aku belum bisa" ucap Riswan menangis seraya memeluk Safira.
"Aku sama seperti mu, aku juga tersiksa dengan cintaku, kau tahu ... bagaimana hancurnya hatiku saat aku merasa sakit melihat keadaan nya dan sakit karena menyakiti mu, aku hampir stress, aku sudah menyakitimu, Maafkan aku Safira, bukalah pintu hatimu untuk orang lain" ucap Riswan membelai kepala Safira
"Apakah tidak ada kesempatan untukku, Aku akan berusaha menggantikan nama Kanaya" ucap Safira yang masih sesenggukan.
"Kita duduk dulu, jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang" ucap Riswan seraya mengusap air mata Safira.
Mereka pun duduk di sofa, Ruswan memegang kedua tangan Safira.
"Aku tahu rasanya, bagaimana mencintai tapi tak di cintai, sakit nya tuh di sini" ucap Riswan seraya menyentuh dada atas Safira.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu, hanya saja aku tidak ingin kau merasakan apa yang sedang aku rasakan, mengerti lah Safira, aku tidak ingin kau merasakan bagaimana selalu mencintai, tapi aku ingin kau merasakan bagaimana rasa di cintai" ucap Riswan
"Jadi, kakak kencan dengan wanita lain, hanya ingin membuat ku membenci kakak begitu?" tanya Safira
"Bukan, bukan itu tujuanku kencan dengan wanita lain, kau salah faham, aku tidak tahu kalau ternyata kau semalam mendengar kata itu dari balik ponsel ku, Safira ... kadang ada hal yang tidak bisa kita jelaskan, tapi intinya ... jangan lah terlalu mencintaiku, karena aku masih mencintai sahabat mu" ucap Riswan
"Ini mungkin sangat menyakitkan bagimu, tapi akan lebih menyakitkan lagi, jika aku membiarkan kau terus mencintai ku, aku sudah menganggap mu sebagai adikku sendiri, lihatlah orang yang selalu melihat mu, jangan melihat orang yang tidak melihat cintamu" ucap Riswan menepuk punggung tangan Safira.
"Mengapa seperti ini rasanya jatuh cinta Kak? hiks ... hiks ... hiks " ucap Safira seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seraya sedikit menunduk dari duduknya.
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Riswan seraya membawa Safira dalam pelukannya
"Belajarlah mencintai pria lain, karena aku tak pantas untukmu" ucap Riswan
"Tidak bisakah kita sama-sama memberi kesempatan, 1 bulan saja ... jika dalam 1 bulan kakak belum bisa mencintai ku, aku akan mundur" ucap Safira menatap Riswan dengan wajah yang menyedihkan.
"Kau sangat cantik, baiklah ... Mari kita beri kesempatan untuk hati ku, semoga aku juga bisa melupakan nya" ucap Riswan
"Jadi ... apakah kita sudah jadian sekarang ... ? "tanya Safira
"Ya ... kita jadian sekarang" ucap Riswan tersenyum ke arah Safira
"Kakak janji tidak akan kencan dengan wanita lain lagi?" tanya Safira
"Tentu tidak" jawab Riswan
Safira langsung memeluk Riswan.
"Aku janji ... aku berjanji akan berusaha membuat kakak jatuh cinta padaku" ucap Safira
"Terimakasih atas cinta yang sudah kau berikan padaku" ucap Riswan
*****.
"Bagaimana keadaan nya, Dok?" tanya Ilyas yang kini sudah ada di rumah sakit.
"Masih belum ada perkembangan Tuan" jawab Dokter itu. Membuat Ilyas merasa lesu.
Kini Ilyas duduk di samping Kanaya, tangannya memegang tangan Kanaya seraya menciumnya, lama tangan itu menempel di bibir Ilyas.
"Kau tahu ... Riswan, lelaki itu semalam dayang kemari, dia masih begitu peduli dengan mu, kau sangat beruntung bukan ? sebenarnya aku cemburu saat tahu kalau masih ada pria lain yang mencintai istriku, tapi aku percaya, bahwa istriku adalah wanita setia, meskipun banyak pria yang menyukai nya, tapi hatinya hanya ada aku, benarkan sayang" ucap Ilyas
"Nay, cepatlah sadar, disini sudah ada anak kita, apakah kau tidak ingin bicara dengannya ... ? bukankah kau bilang, kalau kau akan menjadi cerewet saat kau hamil, dan kau bilang ingin menyiksaku dengan cara ngidammu " ucap Ilyas
__ADS_1