
Kanaya diam meski cacian demi cacian ia dengar, bahkan seluruh perusahaan kini sudah mengetahui nya.
Kemurkaan Ibunya Ilyas, membuat Kanaya benar-benar terluka, dia bukan hanya menghina fisiknya tapi juga orang tuanya.
"Hiks ... hiks ... kalian boleh menghinaku sepuas nya, tapi bisakah kalian tidak menghina orang tuaku ... ? Hiks ... hiks ... ibu ... ayah ... aku merindukan kalian, Kanaya sangat merindukan kalian, maafkan Kanaya karena belum bisa kembali" hiks ... hiks ... hiks ...
Kanaya kini berada di gedung paling atas perusahaan, ia menangis menjerit, tanpa ada orang lain dengar, tapi sayang ... telinga Ilyas sudah mendengar semua sakit dan keluhan Kanaya.
"Nay, kau baik-baik saja kan ... ?" Safira yang baru tahu keberadaan Kanaya merasa sangat sedih.
Safira memeluk Kanaya yang sudah lemas bersandar dalam dekapan sahabatnya.
"Fir, rasanya aku tidak kuat, apakah aku berhenti saja magang di sini ... ? aku juga tidak ingin membuat Tuan Ilyas bertengkar dengan Ibunya hanya karena aku, aku tahu ... Tuan Ilyas hanya membela ku karena atasan, tapi aku ... aku tidak enak Fir," suara Kanaya sudah lemah.
"Apa yang kau katakan, Nay ... kita sudah di pertengahan jalan, kalau kau berhenti ... kuliah mu harus di ulang lagi ..."
"Nay, ingat ... tidak akan ada kesuksesan melalui jalan yang mudah, bukankah kau yang mengatakan ini padaku ... ? ino bukanlah salahmu ... tapi ini karena mereka tidak punya hati nurani, hanya karena fisik mereka menghina orang lain, semoga mereka mendapatkan karma yang bisa membuat kesombongan mereka menamakan diri mereka sendiri" Safira kesal pafa istri pamannya, ia tidak menyangka hanya karena pengaduan Alina, tante nya itu bisa melakukan hak serendah itu.
Isak pilu tangis Kanaya perlahan mulai tenang, namun ... kini tidak ada semangat bagi Kanaya.
*****
Aaa ...
"Apa ini yang mama sebut ber Attitude yang baik ...? menghina orang lain tanpa tahu alasannya, saya tidak habis pikir, mama yang aku anggap sebagai panutan, bisa melakukan hal rendahan itu, sekarang mama ingat bagaimana akhir dari hidup Lilu .... dia memiliki fisik yang tidak sempurna sama seperti Kanaya, dia nekad bunuh diri karena hinaan orang lain, dan sekarang mama yang melakukan itu lada Kanaya ... apa bedanya Mama sama mereka yang secara halus di sebut pembunuh Lilu, sekarang terserah mama, renungkan kesalahan mama, mama bukan hanya mempermalukan Kanaya, tapi juga Ilyas, tentu juga Almarhum Papa" ucap Ilyas yang langsung meninggalkan mamanya di ruangan nya.
Ya ... Ilyas meninggalkan Mamanya di ruangan nya, lalu mengejar Kanaya, namun langkahnya terhenti saat ia melihat Safira yang juga menuju gedung dimana Kanaya berada.
Bayangan Lilu sahabat nya kini berseliweran dalam ingatannya, bagaimana Lilu mengalami depresi karena Bully-an itu.
__ADS_1
Kematian Lilu menjadi hari menyakitkan bagi Ilyas saat itu, Karena Lilu adalah sahabat sekaligus saudara bagi Ilyas.
Lilu adalah penyelamat bagi Ilyas, karena itulah Lilu menjadi idiot saat itu.
Karena kecelakaan itu telah membuat otak Lilu tidak berfungsi sempurna.
"Lilu ... maafkan aku ..." Ilyas terduduk lemas di tangga gedung, ia tertunduk lesu menyesal karena tidak bisa menghentikan penghinaan itu.
Sedangkan Mamanya Ilyas di ruangan Ilyas mendapati tatapan sengit dari Jav.
"Nyonya sangat tahu, kalau Tuan Ilyas tidak suka akan penghinaan, karena itu akan mengingatkan nya pada Nona Lilu, dan juga Nona Lola.
Jika Tuan sudah merindukan Nona Lola, Nyonya tahu sendiri bagaimana perasaan nya bukan ... ? rasa bersalah dan rasa cintanya akan sama-sama menyerang perasaan Tuan" Jav berkata penuh dengan penekanan.
"Anda sudah termakan oleh hasutan Nona Alina, yang sudah jelas-jelas bukanlah wanita yang Tuan inginkan, tapi karena ke egosian Anda, Tuan menerima pertunangan itu, kenapa anda semakin membuat Tuan tidak menyukai anda dan Nona Alina ...? Nyonya ... biarkan Tuan yang menjalani kehidupan nya, jangan anda paksakan lagi, atau saya akan turun tangan agar anda berhenti bertindak" ancam Jav pada Nyonya nya.
Seketika wajah Mamanya Ilyas menjadi pias, ia lupa bahwa kartu As nya, ada di tangan Asisten putranya.
Ia tidak menyangka perbuatan nya akan berdampak buruk nagi putra nya sendiri, ia bisa melihat jelas kesedihan Ilyas saat menatap mamanya.
*****
"Nay, bukankah kau bilang, tujuan hidupmu hanyalah satu, ingin membuat orang tuamu bangga akan keberhasilan mu, sekarang ... perjalanan kita sisa separuh, kuatkan dan anggap saja itu anjing yang menggonggong, itu adalah ujian, buktinya sekarang kau di letakkan di bagian Sekertaris, bukankah itu suatu kemajuan yang lumayan ... "goda Safira
"Kau benar ... aku masih ada hal yang harus aku perjuangkan, Safira ... terimakasih karena di saat yang lain meninggalkan aku, hanya kamu yang ada di sisiku, di saat yang lain menghinaku, hanya kamu yang menyemangati ku" Kanaya menatap Safira.
"Itu gunanya sahabat," Safira memeluk Kanaya.
Kanaya larut dalam pelukan sahabat nya.
__ADS_1
Ilyas yang melihat keadaan Kanaya kini bisa lebih tenang, ia pun kembali kedalam ruangan nya, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Apakah ada acara untuk ku malam ini ...?" tanya Ilyas pada Asisten nya.
"Tidak ada Tuan"
"Baguslah, aku ingin tidak ada seorang pun yang mengganggu ku malam ini, dan juga ponsel ku, matikan saja" Ilyas berkata seraya melempar kan Ponsel nya kearah Jav, tentu Jav langsung menangkap nya.
"Baik, Tuan"
Hanya itu jawaban yang bisa Jav katakan, meski ada rasa khawatir yang Kav rasakan, tapi ia tahu ... Tuan nya tidak alan melakukan hal yang bisa merugikan diri sendiri.
Jam pulang kantor sudah tiba, semua mata tertuju pada Kanaya, sosok yang beberapa akhir ini menjadi pusat perhatian.
Kanaya tahu, ini akan terjadi, selalu itu yang Kanaya alami.
*****
"Kau masih sakit hati dengan ucapan mamaku ...? maafkan aku ..., Nay ... apa kita bisa berteman sekarang ... ?" ucap Ilyas saat sudah berada di apartemen nya.
"Tuan adalah atasan saya, kita berteman dalam hal apa, Tuan" Kanaya menata makanan yang sudah ia siapkan di atas meja.
"Aku tahu ... perkataan mamaku, sudah sangat melukai hat dan perasaan mu, tapi percayalah ... aku akan membantumu, aku janji ... aku akan membungkam semua mulut yang sudah menghina mu, aku akan membuat mu cantik, bahkan tidak akan ada mata yang berkedip dalam menatap mu"
Ilyas berkata penuh dengan emosi.
Kanaya tersenyum remeh.
"Saya aslinya sudah jelek, maka akan tetap jelek,Tuan ... anda tidak perlu lagi membantu saya, sudah banyak yang anda lakukan untuk saya selama ini" Kanaya menundukkan Kepalanya saat berkata.
__ADS_1
"Semangatmu adalah hal yang ingin aku bantu, tidak semua orang memiliki semangat seperti dirimu, aku pernah memiliki seorang teman yang tidak memiliki semangat bahkan ia mengakhiri hidupnya karena sebuah penghinaan"
Ilyas berkata seakan-akan ia melihat sosok Lilu di hadapan nya.