
Setelah hari perkenalan itu, Safira lebih sering berkunjung kerumah sakit. Ia kini banyak bercerita pada Kanaya.
"Kadang aku iri sama kamu, Nay. Kau tahu ... aku sudah cantik dari lahir, aku juga dari keluarga berada, hanya saja nasib cintaku tak berpihak padaku, ia malah lebih sangat mencintaimu, kasihan banget aku kan ... ? sejak lita menginjak perguruan tinggi, aku sudah tertarik pada kak Riswan, tapi aku selalu melihat dia memandangmu, aku kira dia itu, kasihan sama kamu, tapi ternyata aku salah, dia mencintaimu, dan aku mencintai nya. Kau mencintai orang lain" ucap Safira pada Kanaya.
"Sekarang kau harus sadar dan bertanggung jawab untuk menyembuhkan luka hatiku ini, kau dengar aku, Nay" ucap Safira lagi seraya memegang tangan Kanaya.
Benar saja, Kanaya merespon ucapan Safira dengan menggerakkan jarinya. Membuat Safira bahagia, ia langsung berteriak memanggil Dokter.
"Dok, aku benar-benar melihat nya menggerakkan tangannya,Dok. Bukan hanya jarinya, tapi juga tangannya" ucap bahagia Safira.
"Nona, benar. Nona Kanaya sudah mengalami kemajuan lagi, kemungkinan jika ia seperti ini terus, ia akan cepat pulih, kami akan terus melakukan yang terbaik" ucap Dokter itu, dan salah satu dari suster itu memberikan obat melalui cairan infusnya.
Safira juga sudah mengirimkan pesan untuk Ilyas, tentang apa yang ia lihat. Benar saja, Ilyas langsung meninggalkan rapat hanya untuk melihat keadaan sang istri tercinta.
"Kau tidak bercanda kan, Saf?" tanya Ilyas
"Tidak, kak. aku juga sudah memberi tahukan Dokter tadi" ucap Safira.
"Syukurlah, sayang ... sekarang aku datang, perlihatkan sama aku sayang, benarkah kau sudah mau bangun ... ? sayang bangunlah, Ibu bapak juga sangat khawatir padamu, dan juga Mama. Kau tahu ... keluarga kita sudah banyak yang menunggumu" ucap Ilyas seraya mencium tangan Kanaya, tanpa Ilyas sadari, air matanya jatuh membasahi tangan Kanaya.
Seketika, Perlahan Kanaya membuka matanya, Safira yang menyadari itu, langsung berteriak.
"Kak, Kak ... lihatlah, Kanaya sudah bangun, ia membuka matanya Kak" ucap Safira seraya mendekati ranjang Safira. Sontak Ilyas langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi menggenggam tangan Kanaya.
"Sayang ... , lihatlah aku ... kau sudah bangun ... ?" ucap Ilyas seraya mencium kening Kanaya dan pipi, bahkan seluruh wajah Kanaya tak luput dari ciuman Ilyas.
"Mas, a ... aku ke.. napa ... ? kenapa aku bisa ada di sini" ucap Kanaya seraya melihat ke arah sekitar.
"Sayang, syukurlah ... Saf, kabarkan orang rumah, cepat" ucap Ilyas
"Baik, kak" ucap Safira seraya mengambil ponsel di tasnya.
"Sayang, kau jangan lakukan apapun, tetaplah begini" ucap Ilyas yang mana Dokter sudah datang karena pencetan bel yang ada di ranjang Kanaya.
__ADS_1
Safira melongo karena belum tahu akan keberadaan bel itu, ia tadi hanya berteriak saja kalau tahu ada bel nya, gak perlu lah dia teriak -teriak.
"Selamat Tuan, Nona selamat juga untuk anda, karena mau berjuang dalam keadaan anda, sejatinya kesembuhan segala penyakit itu, bukan hanya karena obat dokter, tapi dorongan drai diri sendiri, semangat dari diri sendiri, dan juga dukungan dari keluarga, Tuan Ilyas ... hampir 2 bulan anda sabar dalam memberi dukungan pada istri anda, selamat untuk anda Tuan" ucap Dokter itu.
"Lalu bagaimana dengan keadaan bayinya, Dok " ucap Ilyas
"Keadaan Nona masih lemah, jika ingin di biarkan, saya khawatir akan mempengaruhi kesehatan Nona" ucap Dokter itu yang mana membuat Kanaya terkejut.
"Apa maksudnya,Mas ... ?" tanya Kanaya
"Sayang, dengarkan aku, Anak adalah hal yang paling kita tunggu,tapi ... kesehatan mu jauh lebih penting bagiku,kau hamil sayang, dan sekarang sudah mau menginjak 15 minggu, Dokter menyarankan untuk membuang bayi itu agar kau lebih cepat pulih " ucap Ilyas ragu.
"Aku hamil ... ?" ucap bahagia Kanaya
"Tapi, kalian ingin mengambilnya, tidak akan aku biarkan, Mas. Jika dalam keadaan aku sakit, anak ini masih bertahan dalam rahimku, berarti dia sudah ditakdirkan hidup denganku" ucap Kanaya
"Kau koma selama hampir 2 bulan Sayang" ucap Ilyas seraya mengusap kening Kanaya
"Karena itu, Mas. jika selama 2 bulan, anak ini masih bertahan dalam rahimku, kenapa di saat aku sudah sadar, kalian malah ingin mengambilnya, bukankah kalian bisa berfikir, mungkin karena anak ini, aku sadar " ucap Kanaya.
"Dokter, seperti yang istri saya katakan, kami tidak ingin melakukan hal itu, terimakasih, Dok" ucap Ilyas
"Baiklah, kami akan memberikan obat terbaik untuk Nona" ucap Dokter itu.
Setelah itu, Dokter itu pun berlalu, sedangkan Ilyas langsung memeluk tubuh Kanaya.
"Kau tahu ... aku hampir frustasi melihat keadaan mu" ucap Ilyas
"Mengapa aku selama itu terbaring disini mas" ucap Kanaya
"Kau terlalu lelah, mulai saat ini, aku tidak alan mengijinkan kamu untuk bekerja lagi, aku mohon, dengarkan aku kali ini" ucap Ilyas
"Nay, kau segalanya bagiku, jika kau seperti ini, apa jadinya hidupku" ucap Ilyas
__ADS_1
"Maafkan aku, karena aku selalu membuat mas khawatir" ucap Kanaya.
mendengar Kanaya sudah sadar, semua orang rumah sudah menuju kerumah sakit, begitu juga dengan orang tua Kanaya.
Jav yang juga mendengar kabar itu, sampai duluan di rumah sakit. saat ia masuk, ia langsung bertatapan dengan Safira.
"Bagaimana keadaan Nona ... ?" tanya Jav
"Sudah sadar, masuklah" ucap Safira seraya menyingkir dari depan pintu, agar Jav bisa masuk kedalam.
Benar saja,Jav pun masuk kedalam ruangan Kanaya. Ia melihat keadaan Kanaya yang sudah membuka matanya.
"Bagaimana keadaan nya sekarang ... ?" tanya Jav yang kini datang sebagai sahabat Ilyas
"Sekarang kau lihat, dia sudah bisa tersenyum pada kita" ucap Ilyas seraya mengelus pipi Kanaya yang semakin chubi.
"Nay, kau gemukan" ucap Jav seraya menutup mulutnya.
"Benarkah ... ?" tanya Kanaya melihat ke Ilyas untuk meminta jawaban.
"Tidak apa-apa, anak kita sedang tumbuh di sini, jadi apapun keadaan mu, aku tidak perduli, asalkan kau sehat dan bayi kita sehat, itu sudah Kebahagiaan terbesar bagiku" ucap Ilyas. .
"Baiklah, syukurlah kalau kau sudah bangun, apakah kau tahu, dia hidup tapi serasa mati, kerjaan nya melamun terus, setelah melamun, ia pergi kemari, semua pekerjaan ia limpah kan padaku, benar-benar merepotkan, bukan ... ?" ucap Jav yang mana berhasil membuat Kanaya tersenyum.
"Safira kemana ... ?" tanya Kanaya
"Sedang ada diluar" jawab Jav
"Bisa temani dia gak ... ?" ucap Kanaya yang langsung membuat Jav dan Ilyas saling berpandangan.
"Temanilah Safira" akhirnya Ilyas berkata demikian, dan langsung di turuti oleh Jav.
Jav keluar dari ruangan itu, bersamaan dengan datangnya, Mamanya Ilyas dan kedua orang tua Kanaya, serta adiknya Kanaya.
__ADS_1
"Sayang, bagai mana keadaan mu, Nak?" tanya sang Mertua
"Seperti yang mama lihat, aku sudah sehat, Ma ... Maafkan Kanaya ya, jika kanaya menyusahkan kalian semua" ucap Kanaya.