
Setelah lama berdiri di gedung teratas, Ilyas pun membawa Kanaya kembali keruangan nya.
Saat melewati beberapa karyawan Kanaya dan Ilyas bersikap normal, layak nya karyawan dan atasan, Namun ... siapa yang tidak tahu pernikahan mereka.
Pernikahan yang dilakukan secara mewah di hadapan publik. Hanya saja, Kanaya ingin di hargai bukan sebagai istri dari atasan mereka,ia ingin di hargai layaknya manusia.
"Bu, ada berkas yang harus di tandatangani Yuan Ilyas" ucap Karyawan wanita pada Kanaya yang belum masuk keruangan nya, sedang kan ILyas sudah masuk terlebih dahulu.
"Baiklah ... terimakasih Anisa" ucap Kanaya tersenyum pada Anisa.
Ruang sekertaris bukanlah satu ruangan dengan sang Bos hanya saja, bukan karena fisik Kanaya yang sudah berubah, tapi ... sebelum Kanaya berubah Ilyas sudah menempatkan Kanaya dalam satu ruangan dengannya.
"Jav ... antarkan makan siang kami keruangan" ucap Ilyas pada Jav dari balik ponselnya.
Setelah mengatakan hal itu pada Jav, Ilyas meletakkan kembali ponselnya.
"Jangan terlalu merasa di bebani, kalau tidak selesai hari ini ya sudah letakkan saja" Ilyas berkata seraya duduk di meja kerja Kanaya.
"Itu bukan kebiasaan ku Mas, apakah kita akan makan siang di ruangan ini ... ? nanti Tuan Jav tidak ada temannya loh" ucap Kanaya seraya mengetik tugasnya.
"Dia pria yang selalu tebar pesona di kantor, tidak sulit baginya untuk mencari teman, apalagi hanya untuk makan siang, banyak yang antri" ucap Ilyas mengusap lembut kepala Kanaya.
Kanaya tersenyum mendapati perlakuan Ilyas, malam ini ... Kanaya membiarkan ILyas Bertemu dengan Lola, agar semuanya menjadi jelas dan selesai, Kanaya mencoba untuk membiarkan hatinya tersakiti hanya malam ini saja, ia mencoba untuk percaya pada suaminya, perkataan Ilyas selalu meyakinkan bahwa ia sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Lola.
Tapi ... jika semua itu hanya omongan belaka ... Kanaya juga sudah siap untuk pergi dari kehidupan Ilyas, meski ... ia akan merindukan sikap Ilyas yang selalu lembut terhadapnya.
"Kau memikirkan apa ... ?" tanya Ilyas saat tangan Kanaya berhenti mengetik
"Tidak ada, hanya saja ... malam ini ... jika mas tidak kembali maka ... aku tahu jawabannya" Kanaya berkata seraya memandang Ilyas
"Kau percayalah, aku akan kembali ke apartemen ... kau tunggu lah, di saat itulah ... semua keraguan dan semua yang menjanggal di hatiku sudah terlepas, dan aku ingin kau satu-satunya istriku sepenuhnya " ucap Ilyas.
Ilyas memegang tangan Kanaya, di situlah Ilyas bisa tahu kecemasan Kanaya, setiap Kanaya cemas ... tangannya akan basah.
"kau begitu mencemaskan hal itu, kalau kau seperti ini ... aku tidak akan menemui nya sendiri, kita akan pergi bersama " ucap Ilyas
ILyas menggenggam tangan Kanaya begitupun dengan Kanaya.
"Tidak, aku tidak ingin ikut, aku akan menunggu di apartemen saja" ucap Kanaya tertunduk.
__ADS_1
Mana mungkin Kanaya akan ikut, melihat tadi saja, hatinya seakan teriris, nyesek yang di rasakan, apalagi nanti ... jika mereka saling mengingatkan hal yang lalu.
Saat mereka masih berbincang, suara ketukan pintu pun membuat Ilyas melihat kearah pintu.
"Masuklah ... !" ucap Ilyas
Pelayan pun masuk dengan nampan di tangannya, tentu pelayan itu melihat Ilyas yang duduk di atas meja Kanaya.
Mereka terlihat sangat dekat, membuat pelayan itu menjadi gugup.
Setelah meletakkan nampan, pelayan itupun langsung pergi dari ruangan yang menurut nya sangat lah dingin.
"Letakkan dulu tugasmu, kita makan siang" Ilyas menarik tangan Kanaya agar berjalan mengikuti nya.
Benar saja ... Kanaya hanya diam layaknya anak kecil yang fi bawa ayahnya.
"Ingin kusuapi ... ?" goda Ilyas
"Tidak lah mas ... seharusnya aku yang berkata seperti itu" ucap Kanaya
"Kalau begitu ... suapi aku" ucap Ilyas sambil membuka mulutnya
ILyas menikmati suapan istrinya, yang sesekali Kanaya mengambil kan minum untuk Ilyas.
"Makan dari tangan orang lain ternyata lebih nikmat, apalagi dari tangan seorang istri, nikmatnya berkali-kali lipat"ucap Ilyas
"Aku rasa, setiap hari Mas semakin jago berkata tentang hal yang alay" ucap Kanaya yang kini mengisi perutnya sendiri, karena sedari tadi ia menyuapi suaminya.
Ilyas mengambil piring di tangan Kanaya lalu menyuapi Kanaya.
"Bagaimana beda kan rasanya ... ?" ucap Ilyas saat menyuapi Kanaya
Kanaya tersenyum, ia berharap malam nanti adalah awal yang baik untuk awal hubungan mya dengan Ilyas.
*****
"Ah, ... ! kenapa harus menunggu malam nanti, kenapa sikap Ilyas sudah jauh berbeda dari yang dulu, Lola ... kau harus cari cara agar Ilyas kembali ke pelukan mu, buatlah ia tetap tergila-gila padamu, tapi bagaimana caranya ... ?" ucap Lola pada dirinya sendiri.
Lola berfikir keras, lalu menatap dirinya di cermin, gaya nya sudah jauh beda dari yang dulu , Kini Lola memiliki cara agar ILyas bisa seperti yang dulu lagi.
__ADS_1
"Kau pintar Lola ... pantas saja dulu Ilyas tergila-gila padamu, buatlah malam ini Ilyas menjadi milikmu seutuhnya " ucap Lola pada dirinya dari pantulan cermin.
Lola mengubah kembali penampilan nya seperti dahulu sebelum ia meninggal kan Ilyas.
"Lola ... ini salahmu juga, seandainya hari itu kau tidak pergi apakah akan ada hari ini, tentu sekarang.kau sudah menjadi Nyonya Ilyas Hakim sekarang, tapi belum terlambat kan ... ? mereka baru saja menikah ... tentu akan mudah masuk dalam hati Ilyas kembali, Ilyas adalah mesin ATM baginya, meski ia sudah lama pergi, namun Ilyas selalu mentransfer uang bulanan pada Lola, bentuk tanggung jawabnya karena Lilu meninggal karena menyelamatkan Ilyas.
Malam telah tiba, Ilyas menjadi gugup.
"Mas sudah sangat tampan" ucap Kanaya seraya membenarkan dasi dan jas Ilyas
Tangan Kanaya gemetar saat memegang jas yang Ilyas kenakan.
Ilyas memeluk Kanaya.
"Tunggu aku malam ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan mu" ucap Ilyas
"Aku akan menunggu malam ini" ucap Kanya seraya mendongakkan kepalanya
Ilyas mencium kening Kanaya dengan begitu lama nya.
"Sudah jam 8, pergilah ... !" ucap Kanaya
Ilyas terdiam ia menatap wajah Kanaya yang di paksa untuk tersenyum.
"Aku pergi ... " ucap Ilyas akhirnya
Kanaya mengantarkan Ilyas hingga kedepan pintu kamarnya
"Hati-hati " ucap Kanaya
"Kau juga, istirahatlah " ucap Ilyas seraya menyentuh pucuk kepala Kanaya.
Ilyaspun melangkah kan kakinya, langkah itu terasa semakin jauh dari pandangan Kanaya.
Banyak ketegangan dan ketakutan yang Kanaya rasakan saat ini, hatinya begitu tidak nyaman melepas kepergian sang suami untuk bertemu sang mantan yang begitu di nanti.
Begitu juga dengan ILyas, banyak kecemasan yang ia rasakan, ia sudah menyiapkan segala hal, segala kata yang ingin Ilyas katakan pada Lola.
Ilyas berharap semoga ia bisa menjaga kepercayaan Kanaya.
__ADS_1