
Anaya bergegas meninggalkan Tristan dengan alasan anaknya sakit. Ia tak menghiraukan Tristan yang ingin mengantarkannya. Ia hanya ingin secepatnya menemui Naira.
Sambil mengemudi, Anaya kembali menelefon Izzar. Pada deringan keempat, Izzar menjawab.
“Langsung saja pulang ke rumah!”
Sambungan telefon diputus Izzar. Kalimat pendek dan tegas lelaki itu disuarakan dengan nada menyiratkan rasa geram yang ditahan. Anaya menghela nafas. Ia mengerti jika Izzar marah padanya karena telah mengabaikannya dan Naira. Ia pasrah sudah. Yang membuatnya khawatir adalah, ia belum tahu bagaimana Izzar meluapkan kemarahannya. Mungkinkah seperti Ridwan yang biasa menyerangnya secara verbal dengan hujatan kata-kata kasar dan hinaan yang dilanjutkan dengan mendiamkannya berhari-hari?
Anaya tiba beberapa saat setelah Izzar, Naira dan Mba Kemi kembali di rumah. Izzar baru meminumkan Naira obat dan Mba Kemi menggantikan bajunya. Izzar mendiamkan Anaya yang langsung mengambil alih mengurus Anaya. Dari Mba Kemi Anaya mengetahui jika anaknya terkana radang tenggorokan akibat bertukar bekal makanan berupa keripik yang mengandung MSG tinggi dengan temannya. Naira memang memiliki tenggorokan yang sensitif dengan makanan yang memakai perasa terlalu banyak.
Seusai Naira tertidur, Izzar memanggil Anaya ke kamarnya. Anaya menurut, dan duduk canggung di sofabed, sementara Izzar memandangi dari kursinya.
“Kamu kemana saja tadi, sampai malam baru pulang?” tanya Izzar. Raut mukanya tegang dan memancarkan rasa jengkel yang dipendam. Meski begitu, nada ucapannya tetap landai.
“Ada kerjaan yang harus aku selesaikan,” jawab Anaya.
“Kenapa ngga jawab telefonku?” Mata Izzar tak lepas menatapnya.
Anaya menggigit bibirnya. Sejenak ia bimbang antara berterus terang ataukah berbohong.
“Aku sedang ada meeting dengan klien.” Suara Anaya pelan.
“Meeting atau ngga mau diganggu karena sedang makan malam dengan mantan pacar?” tanya Izzar menembak langsung.
Muka Anaya memerah. Ia heran, bagaimana Izzar bisa tahu tentang pertemuannya dengan Tristan.
“Dia benar klien, yang mau pakai EOku untuk acara outing kantornya!” Anaya mencoba membantah.
“Dengar Anaya! Aku paham..., kamu mau makan malam, makan siang, atau mau apapun dengan lelaki lain, bukanlah urusanku. Tapi, kalau aku telefon, tolong jangan didiamkan! Aku ngga akan mengganggumu jika bukan karena masalah yang penting, terutama urusan Naira. Bersyukur anak itu hanya kena radang tenggorokan saja tadi.” Suara Izzar meninggi.
Anaya tertunduk didera rasa bersalah.
“Aku juga paham, bahwa kamu tak ingin kehilangan kesempatan bertemu dan melanjutkan hidupmu dengan lelaki yang kamu sukai setelah perjanjian kita berakhir nanti. Aku ngga akan menghalangi hubungan asmaramu dengan orang lain. Kamu hanya perlu memberitahuku kamu sedang dekat dengan siapa, supaya aku ngga kaget jika tiba-tiba ada yang memergokimu dan melaporkannya ke aku, karena menduga kamu berselingkuh. Untung saja Randi yang melihatmu tadi, bagaimana kalau Ridwan?”
__ADS_1
Anaya memejamkan matanya. Jadi, Randilah yang memergoki dirinya berduaan dengan Tristan dan menginfokannya kepada Izzar? … Duh! Kenapa ia tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya di restoran tadi.
Ucapan Izzar juga semakin menenggelamkan egonya. Dulu ia diselingkuhi oleh Ridwan, dan sekarang ia dituduh berselingkuh. Ya ampun! Betapa rendah moralnya jadinya. Tapi, orang yang menganggapnya begitu tak bisa disalahkan, sebab hubungan dirinya dengan Izzar biarpun hanya pura-pura, tetap saja terikat hukum, nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
“Anaya…, aku ngga keberatan membantumu dalam hal apapun, mengurus Naira, menutupi hubunganmu, dan yang lainnya. Tapi, perjanjian kita akan berjalan baik jika kita bekerja sama dan mau saling berkomunikasi. Aku pernah memintamu supaya menganggapku sebagai teman kan? Tujuannya supaya kita merasa nyaman saja menjalani kesepakatan hubungan ini.” Izzar mencondongkan tubuhnya ke arah Anaya, memancing Anaya mengangkat wajahnya dan mengangguk.
“Jadi, aku minta, mulai sekarang, jangan pernah mengabaikan telefon atau pesan dariku lagi!"
Anaya menghela nafas. Ia menatap Izzar. Kalimat tegasnya terdengar jelas tak mau dibantah meskipun ketegangan di sikapnya telah surut.
“Oke! Aku minta maaf.” Anaya cepat mengalihkan matanya ke arah lain. Pancaran kharisma di diri Izzar tiba-tiba membuatnya jengah.
“Kita berteman?” tanya Izzar memastikan.
Anaya mengangguk. Izzar tersenyum puas dengan respon Anaya.
“Oke! Istirahatlah!”
Pagi-pagi Anaya terbangun. Naira masih tertidur. Ia senang kening dan badan gadis kecil itu sudah tidak panas lagi.
Anaya beranjak ke dapur bersiap membuatkan sarapan untuk Naira dengan bahan yang ada, sebab setahunya persediaan makanan sudah hampir habis. Namun, ketika ia membuka kulkas dan lemari kering, ternyata semuanya penuh dengan bahan makanan, termasuk susu Naira, dan bahkan teh chamomile favoritnya.
Anaya tertegun melihatnya. Seingatnya ia belum memberikan uang belanja kepada Mba Kemi. Ia pun mencari Mba Kemi yang sedang mengutak-atik ponsel di teras belakang seusai menjemur pakaian.
“Mba?!”
Mba Kemi tergagap dengan panggilan Anaya. Ia takut Anaya akan memarahinya karena bermain ponsel pagi-pagi.
“Ya, Bu!” Mba Kemi menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya.
Anaya memandanginya heran. “Katanya hape kamu rusak. Sudah benar sekarang?”
“Eeee… bukan, Bu! Kata Pak Izzar hape saya sudah ngga bisa dibetulkan. Jadi, semalam Bapak kasih hape lama bekasnya ke saya.
__ADS_1
Mba Kemi malu-malu menunjukkan ponselnya. Anaya tertegun melihatnya, ia tak mengira Izzar akan memberi perhatian sedemikian pada asisten rumah tangganya.
“Masih bagus banget ini, Bu!”
Anaya tersenyum. Ia ikut senang melihat Mba Kemi gembira.
“Mba, aku mau tanya, kok kulkas sudah penuh, siapa yang belanja bahan makanan?”
“Pak Izzar!”
Jawaban cepat Mba Kemi mengejutkan Anaya.
“Kemarin pagi, Pak Izzar minta dibuatkan sarapan telur dadar, tapi telurnya habis. Terus, Ibu juga lupa kasih uang. Tahu-tahu, pulang dari jemput Naira, Bapak bawa belanjaan banyak. Habis itu, pergi lagi.” tutur Mba Kemi menjelaskan.
Anaya tak mengira Izzar mau melakukan hal tersebut. Sebab, dulu Ridwan merasa kegiatan membeli keperluan dapur adalah urusan perempuan. Jika maupun, Ridwan malah meminta uang untuk membayar belanjaan yang sering jadinya malah lebih banyak untuk membeli kebutuhannya sendiri.
Aih! Kenapa Izzar berbeda dengan lelaki yang banyak dikenalnya. Rasa terkesan atas yang dilakukan Izzar, mendorong Anaya memasakkan sarapan untuknya, yang biasanya dilakukan Mba Kemi. Dibuatkannya nasi tim dan omelette. Ia bahkan menyeduhkan teh chamomile juga untuk Izzar.
Rasa heran muncul di hati Izzar, mendapati secangkir teh kesukaan Anaya tersaji di meja makan untuknya.
“Siapa yang buat?” tanya Izzar pada Mba Kemi.
“Ibu… Ibu juga yang masak nasi tim dan telurnya.”
Meski heran, Izzar menikmati sarapannya itu dengan disertai rasa syukur atas perubahan sikap Anaya. Dan, baru satu suapan saja, ia sudah mengakui kebenaran perkataan Randi tempo hari, bahwa Anaya memang pintar memasak. Makanan yang dibuatnya sungguh lezat.
Selesai makan, Izzar menemui Anaya yang sedang menyuapi Naira di kamar.
“Hei! Terima kasih sarapan dan tehnya!” Izzar tersenyum pada Anaya, mengucapkan apresiasinya tulus.
Anaya tersipu. Entah bagaimana senyum dan ucapan terima kasih Izzar memantik rasa hangat di dadanya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
...***...
__ADS_1