
Tidak hanya sakit di perutnya, rasa pusing juga begitu hebat menelikung kepalanya. Tubuhnya melayang ringan dan dingin, sementara dunia di sekelilingnya serasa meliuk-liuk berputar menghilangkan keseimbangannya. Selanjutnya, semuanya menjadi samar-samar.
Bayangan tak jelas masih bisa tertangkap oleh matanya yang hanya bisa setengah terbuka. Juga suara-suara yang terdengar jauh meskipun terasa dekat.
Ia masih bisa merasakan tangan Izzar yang memeluknya.
Wajah-wajah buram orang yang mengerumuninya.
Atap dalam mobil.
Perjalanan.
Ruangan berbau obat.
Tangan-tangan kokoh yang membopongnya dan memindahkannya berbaring di tempat tidur kecil yang tak nyaman.
Tirai yang ditarik.
Perempuan yang menekan-nekan dadanya dengan alatnya, serta menarik kelopak matanya dan menyenter dengan cahaya yang menyilaukan.
Yang lain datang mencengkeram lengannya dan membebatnya dengan selongsong kain yang kemudian bergerak mengikat kencang dan tak berapa lama dilepaskan sembari berteriak memberitahukan tensi darahnya.
“Rendah! 80 per 50.”
Banyak sekali aktivitas di atas tubuhnya. Semuanya berbicara cepat.
Seseorang mengikatnya lengannya lagi, lebih kuat, mengoleskan sesuatu yang terasa dingin di kulitnya, dan dan melakukan sesuatu yang membuat venanya sakit.
Sementara di sisi yang lain ada yang memegang punggung telapak tangannya,
menekan-nekannya, menusuk dan memasang benda yang diplester kencang di kulitnya.
Anaya merasakan denyutan di perut bawahnya. Susah payah ia menarik baju seseorang yang berada dekat dengannya. Ia tak bisa melihat jelas wajah yang mendekatkan diri padanya. Dengan suara lemah, ia berbisik. Ia tak ingin kehilangannya.
“USG!” Wajah itu langsung berteriak dan menarik baju Anaya ke atas.
Izzar yang baru selesai memberikan data Anaya pada salah satu petugas, di ujung pintu ruang Instalasi Gawat Darurat, dihampiri seorang perawat berkerudung.
“Isteri Bapak, sudah masuk usia berapa kehamilannya?”
Ia tertegun.
...***...
Mata Anaya masih terpejam. Namun, ia merasa seperti baru saja dilemparkan dari dunia lain yang hampa. Perlahan ia membuka matanya. Meski pandangannya masih tidak fokus, ia melihat langit-langit yang tak sama. Dirinya telah berada di ruangan yang berbeda. Lebih tenang di sini.
Keheningan yang menyertainya perlahan menguap. Suara-suara di sekitarnya mulai menyambangi.
Ia mengangkat sedikit kepalanya yang pusing.
Di ujung tempat tidur ia melihat seorang lelaki berjas putih dan wanita berseragam perawat sedang berbicara dengan Izzar.
“Harus transfusi, karena HBnya terlalu rendah. Dia anemia. Memang sering dialami oleh wanita hamil.”
__ADS_1
“Tapi, di bank darah, stok darah jenis golongan ibunya sedang kosong.”
“Golongan darah saya berbeda.”
“Mungkin keluarganya?”
“Sebentar saya hubungi.”
Anaya merebahkan kepalanya lagi dan kembali menutup matanya. Semua percakapan itu tertangkap sayup-sayup di telinganya. Namun, ia merasa terlalu letih untuk mendengarkan lebih lanjut. Ia kembali tertidur.
Selang beberapa waktu, ia kembali terjaga. Ia tak tahu telah berapa lama ia tertidur. Pusing di kepalanya masih sedikit tertinggal. Tapi, ia mulai merasakan tubuhnya. Tak lagi ringan seperti sebelumnya. Di samping atas kepalanya, tergantung dua kantung plastik berisi cairan bening dan merah gelap yang terhubungkan dengan selang kecil ke tangannya.
“Hai…” Sebuah suara, lembut menegurnya.
Anaya menoleh. Di sampingnya berdiri Randi dengan cengiran khasnya. Anaya tersenyum membalasnya, walaupun sesungguhnya ia berharap orang lain yang menyapanya.
“Jam berapa?” Anaya kehilangan orientasi waktu.
“Delapan pagi.”
Anaya memandang ke jendela. Langit tampak telah terang. Hari telah berganti rupanya.
“Masih pusing?”
“Ya.” Ia meraba perutnya.
“Aman.” Randi menenangkannya. "Dokter bilang kamu harus bed rest."
Anaya lega meskipun resah juga karena artinya ia harus beristirahat total.
“Izzar?” Nama itu tersebut juga dari bibirnya.
“Barusan dia harus pergi.” Randi menarik kursi dan duduk di dekat Anaya.
“Dia tahu kalau aku…” Anaya mengusap perutnya.
“Ya.”
“Gimana reaksinya?”
“Kami semua habis kena marah karena sudah tahu kamu hamil, tapi ngga ngasih tahu dia.”
“Kami?”
“Sandra, aku… Mba Kemi nyaris juga." Randi bergidik. “Parah! Belum pernah kulihat dia marah-marah begitu.”
Anaya tidak bisa membayangkan separah apa Izzar mengungkapkan kemarahannya. Lelaki itu hampir tidak pernah dilihatnya berkata kasar.
“Kamu siap-siap aja.” Randi menakutinya.
“Aku bakalan dimarahin juga?”
“Ya pastilah! Aktor utamanya kan kamu. Kamu yang mengancam kami ngasih tahu dia. Jadi, kamu harus tanggung jawab.”
__ADS_1
“Tapi, aku kan lagi sakit, Ran.” Anaya memelas. Takut juga dia.
“Kalau dia tahu kamu hamil, mana mungkin kamu bakalan sakit begini.”
Anaya cemberut.
“Sudah, sarapan dulu!” Randi mengambil baki makanan di meja makan.
Randi membantunya mengangkat punggungnya dan mengganjalnya dengan batal. Matanya jadi lebih leluasa memandang sekelilingnya. Ia baru menyadari kamar yang ditempatinya ini sangat luas. Ada meja makan, sofa, TV layar lebar, kulkas dan pantry.
Dengan penuh perhatian, Randi menyuapi Anaya. Ia hanya bisa menelan beberapa suap buburnya saja.
“Siapa yang menungguiku tadi malam?”
“Izzar. Habis donor darah, aku pulang. Dia minta tolong aku nemanin kamu pagi-pagi. Karena harus pergi."
Anaya menelan vitamin yang disodorkan Randi.
“Sebentar lagi Mba Kemi kesini. Naira biar nanti ikut aku. Sandra ngga bisa ninggalin kantor.”
Selesai makan, Anaya kembali mengantuk dan tertidur.
Ia terbangun lagi saat waktu melewati tengah hari. Randi sudah beganti Mba Kemi. Perempuan itu memberikan sebuah lipatan kertas. Anaya membukanya. Di dalamnya ada bunga yang diwarnai krayon, dengan tulisan : get well soon Mama. Jagain adik aku ya.
Anaya terharu sekaligus merasa bersalah karena bukan dirinya yang memberitahu Naira tentang calon adiknya. Ia berharap, Naira kelak akan memahaminya.
Ia memikirkan Izzar. Apa yang akan dikatakannya nanti jika dia datang dan memarahinya seperti yang dikatakan Randi. Apakah lelaki itu berani mengomelinya. Hal itu tidak boleh terjadi. Apa haknya Izzar marah? Emosi Anaya bergemuruh.
Logikanya tiba-tiba hadir menantang. “Bukankah Izzar ayah dari janin di perutnya? Ya, dia berhak tahu, dong!
Emosinya sedikit meredup. Namun, tak lama bangkit kembali kala teringat cek yang masih tersimpan di tasnya. Dari mana Izzar mendapatkan uang sebesar itu belum juga terjawab.
Begitu juga pertanyaan-pertanyaan lama yang terulang karena belum terjawab. Mengapa ia langsung terlibat dengan kasus Ridwan. Kenapa ia tega dengan Ridwan. Bukankah Ridwan ayah Naira?
Dunia terasa berputar lagi. Pusingnya yang sudah mereda datang kembali. Anaya menutup rapat matanya. Ia tertidur lagi.
Sore berganti malam. Dokter telah datang memeriksanya dan perawat kembali mengambil darahnya. Mba Kemi dengan sabar menyuapinya makan malam. Perempuan itu tak banyak bicara.
“Kamu dimarahin Pak Izzar, Mba?” tanya Anaya.
“Hmm.. Ngga juga sih. Bapak memang tanya saya tahu apa ngga Ibu hamil. Saya bilang ngga tahu. Kan ibu memang ngga cerita, biarpun saya curiga soalnya ibu minum susu hamil." Mba Kemi menjawab apa adanya.
“Dia yang nyuruh kamu jagain aku di sini?”
“Iya.”
Pintu kamar terketuk. Mba Kemi beranjak membukakan. Seorang lelaki muda masuk memberikan salam, dan menghampiri Anaya. Anaya mengenalnya sebagai asisten Pak Arsyad.
“Mohon izin, Bu! Pak Arsyad datang mau menjenguk Ibu!”
Lelaki muda itu sigap berbalik melebarkan pintu. Dari baliknya, mantan mertua Anaya itu muncul dengan tubuh segar bugar dan senyum lebar yang mengembang.
Anaya terkejut. Bukankah Ridwan kemarin bilang ayahnya sakit dan dirawat.
__ADS_1
...***...