Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
29 - Tidak Boleh Tahu


__ADS_3

Langkah malam terasa berjalan lamban. Hujan yang mendinginkan udara tak mampu meredam keresahan di hati Anaya. Baginya waktu merambat perlahan. Menyiksanya dengan penantian kabar keberadaan Izzar.


Tiga jam berlalu, ponsel Izzar masih juga tidak aktif. Pesan Anaya yang menanyakan posisinya tak juga tercentang dua apalagi berubah berwarna biru.


Habiskah baterai ponselnya? Dicuri orangkah? Hilangkah? Sengajakah?... Deraian tanya bersahutan di benak Anaya. Ia berhasil menepis kemungkinan kejadian-kejadian buruk dengan doa baiknya. Namun, ia tak bisa menghempaskan dugaan Izzar sedang bersama Sasika sekarang. Semakin ia menghalaunya, kian subur sangkaan tersebut bertumbuh di hatinya.


Anaya tak berdaya. Curiga membuatnya gelisah dan kesal sendiri. Sehabis menidurkan Naira ia menunggu Izzar sambil menonton TV.  Ia baru saja nemutuskan untuk tidur saja ketika suara mobil Izzar terdengar berhenti di depan rumah. Beberapa saat kemudian, Izzar yang memang membawa kunci sendiri muncul di pintu.


"Hei!... Belum tidur?" Izzar terkejut melihat Anaya yang tengah duduk bersandar di sofa dengan TV menyala di hadapannya. Sejak mereka bertengkar, Anaya kerap menghindarinya. Kini, wanita ini seolah menunggu dirinya pulang. Izzar tersenyum sendiri dengan perkiraannya.


Anaya menjawab dengan gelengan kepala. Matanya menatap Izzar penuh selidik. Lelaki itu tampak lusuh dan penat. Kemeja hitamnya kusut dan berdebu.


"Hape kamu kenapa? Naira minta telefon tadi, tapi ngga bisa?" Anaya menggunakan Naira sebagai dalih keingintahuannya sendiri.


Izzar duduk di seberang Anaya, membuka ranselnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Ia lalu menunjukkan layar ponselnya yang rusak retak nyaris hancur.


"Kenapa bisa begitu?" Anaya kaget melihat kondisi ponsel Izzar yang mengenaskan.


"Terjatuh dari lantai tiga," jawab Izzar pasrah.


"Kok bisa?" Anaya tak percaya.


"Aku sedang meriksa proyek gedung tadi. Ngga sengaja hapenya terlepas saat ambil foto." Izzar memeragakan dan menceritakan detail musibah yang menimpanya.


Anaya tersenyum tipis memperhatikannya.


"Meriksa proyeknya sampai malam?" Anaya tak tahan juga untuk mengorek. Mencari jawaban atas kecurigaannya yang dipendamnya sedari tadi.


"Aku mampir juga ke rumahmu. Ada yang ngga beres dengan instalasi listriknya. Lama di sana. Mau cari handphone baru, toko-toko sudah pada tutup," jawab Izzar.


Kepastian di nada suara Izzar membuat  Anaya ragu untuk tidak percaya.


"Kenapa kamu belum tidur? Nungguin aku?" Izzar menatap Anaya.


Mata Anaya mendelik. Ia sebal karena perkiraan Izzar benar adanya. Tetapi ia malu mengakuinya.


"Ngga!... Memang aku lagi ngga bisa tidur," elak Anaya.


"Gara-gara mikirin aku?" Izzar meledek lagi.


"Ih! GR amat! Sok Yakin!!" Anaya merengut.


"Yakinlah! Pasti kamu cemas mikirin aku yang belum pulang sampai larut malam. Mana ngga bisa ditelefon lagi. Iya, kan?" Izzar lanjut menggoda Anaya.


Godaan Izzar membuat Anaya jengah. Ia lantas berdiri dengan wajah kesal.


"Jangan sok tahu!... Sudah, aku mau tidur!" Anaya melemparkan bantal sofa ke arah Izzar sebelum berbalik meninggalkannya.

__ADS_1


Izzar tertawa menangkap bantal tersebut. "Sudah bisa tidur ya sekarang, karena aku sudah pulang?"


Anaya tidak menjawab. Ia berjalan masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Senyum mengembang di bibirnya.


Izzar tertawa sendiri. Walau Anaya membantah, ia tahu perempuan itu memang mengkhawatirkannya. Ia senang Anaya kembali memperhatikannya setelah berhari-hari berusaha mengabaikannya. Ia dapat tidur tenang malam itu, tanpa memikirkan ponselnya rusak.


Keesokan paginya, Anaya dan Izzar bangun kesiangan. Naira terpaksa diantar Mba Kemi dengan taksi online. Sambil sarapan di meja makan, Anaya memberi tahu Izzar tentang detail rencana pernikahan Randi yang akan dilaksanakan besok, di hari Sabtu.


"Aku berangkat bareng Sandra dan anak-anak kantor. Mereka akan jemput kesini. Aku langsung menginap. Kamu nanti bisa kan nyusul sehabis jemput Naira pulang sekolah?"


"Bisa. Tapi, aku harus ke toko handphone dulu... Terus, kita nginap di vila?" tanya Izzar sambil mengecek pesan di laptopnya.


"Ngga. Randi ngasih kita satu kamar hotel."


"Kita satu kamar?" Izzar mengangkat wajahnya memandang Anaya di seberangnya.


"Ya nggalah! Jangan mengada-ngada!" jawab Anaya agak sengit.


"Lah, terus aku nginap di mana?"


Anaya diam. Ia bingung menjawabnya.


"Sudahlah ngga usah bingung. Tolong pesanin satu kamar hotel lagi saja buatku." Izzar kembali menekuni layar


laptopnya. Ia enggan membuat Anaya gelisah memikirkan bagaimana menghindari hal di luar kesepakatan mereka.


"Mereka ngga bakal tahu kalau kita hati-hati. Ngga usah terlalu dicemaskan. Oke?"


Anaya mengangguk.


"Boleh aku pinjam handphonemu sebentar? Aku harus telefon Maharani." Izzar memohon.


"Yakin yang ditelefon Maharani? Bukan orang lain?" Anaya meragukannya.


"Aku cuma butuh telefon Maharani saja," jawab Izzar. "Memangnya orang lain siapa yang kamu kira bakal aku telefon?"


"Mana ku tahu. Aku kan ngga bisa bedain mana teman, mana mantan. Kalau ditanya, pasti dijawabnya klien." Jawaban Anaya sarat sindiran. Diletakkannya ponselnya di atas meja dekat tangan Izzar. Lalu beranjak hendak berkemas.


Izzar agak terpana mendengar ucapan Anaya. Ingin ia membalas sindiran tersebut, namun diurungkannya. Ia tak mau perdamaian yang baru saja kembali terjalin, berantakan lagi. Dibiarkannya saja Anaya meluapkan isi hatinya. Paling tidak, ia tahu Anaya masih menyimpan rasa tidak suka dengan pertemuannya dengan Sasika dulu.


Menjelang tengah hari, Anaya sudah tiba di vila. Ia langsung disibukkan dengan mengawasi detail persiapan acara, dan juga menghadapi para kerabatnya yang sudah datang lebih dahulu. Tante Tania, Ibu Randi yang merupakan kakak almarhum mamanya, langsung menggamitnya dan menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan diam-diamnya.


"Mana suamimu?"


"Nanti juga datang," jawab Anaya dengan disertai senyuman terbaiknya. Ia berusaha tetap bersikap ramah meskipun hatinya tak nyaman.


"Tante sudah makan? Makan saja dulu, ya!" Anaya mencoba mengalihkan perhatian tantenya.

__ADS_1


"Tante ngga lapar." Tante Tania menolak. Tangannya tidak juga lepas memegangi lengan Anaya. "Bagaimana kabar suamimu?"


"Baik-baik saja, Tante." Anaya menjawab sopan.


"Kamu tuh, bikin heboh keluarga saja. Nikah ngga ngundang-ngundang, dengan lelaki asing yang sama sekali ngga dikenalkan ke keluarga pula." Tante Tania mengeluh.


"Ih, Tante. Izzar kan sahabatnya Randi, bukan orang asinglah."


"Tapi, tetap saja kamu bikin kami kaget."


Anaya tersenyum.


"Tante, boleh aku kesana sebentar?" Anaya menunjuk Sandra yang sedang berdiri di tepi halaman, mengawasi proses penyelesaian photobooth.


"Oke! Nanti kita ngobrol lagi ya!"


Anaya mengangguk, kemudian bergegas mendekati Sandra. Di tengah perjalanan, ponsel di saku celana panjangnya berbunyi. Randi menelefon. Mantan suaminya itu meminta izin membawa Naira menginap di rumah ibunya.


"Tapi, Randi akan menikah besok di Puncak. Dan Naira sudah bersiap mau jalan kesini sama Izzar."


"Ayahku, kakeknya Naira, sedang sakit. Dia sangat ingin ketemu sama cucunya, Nay!"


Anaya terdiam. Ia tahu, tak mungkin ia menolak permintaan Ridwan tersebut. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Pak Arsyad, dirinya nanti pasti akan disalahkan.


"Oke! Aku telefon Izzar dulu. Mudah-mudahan mereka belum berangkat."


Dalam sekali tekan, Anaya memutuskan telefon Ridwan dan langsung menghubungi Izzar. Ia sungguh berharap lelaki itu sudah mendapatkan handphone baru. Ketika beberapa detik kemudian terdengar suara Izzar di seberang sana, ia sungguh lega harapannya terkabul.


"Sudah jalan?"


"Belum."


"Ridwan mau jemput Naira. Ayahnya sakit, minta ketemu Naira. Tolong bilang ke Mba Kemi siapkan baju-baju Naira. dan dia seperti biasa juga ikut menemani Naira," pinta Anaya.


"Oke!" Izzar menjawab singkat.


"Kamu langsung kesini?"


"Hmm... karena aku ngga jadi bawa Naira, boleh aku kesananya nanti sore saja? Kebetulan ada urusan kerjaan dadakan." Izzar menawar.


Anaya tak kuasa mencegah. Ia pun mengiyakan tanpa bertanya lagi.


Di seberang sana, Izzar menarik nafas lega, sebab Anaya percaya dengan alasannya. Padahal, urusan kerja yang


dimaksud adalah mendatangi pengacara Pak Arsyad yang tiba-tiba memintanya bertemu di kantornya. Tapi, seperti pesan Pak Arsyad, Anaya tidak boleh tahu.


                                                                                ***

__ADS_1


__ADS_2