Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
14 - Hiking


__ADS_3

Sehabis sarapan, Izzar dan sepupunya bersiap hiking di sekitaran vila. Mereka akan menelusuri jalan-jalan kampung, kebun dan sawah, menuju hulu sungai berair terjun.


Mama Izzar menganjurkan Anaya ikut dan berjanji menjaga Naira. Semula, Anaya enggan meninggalkan anaknya, meskipun Naira dan mama Izzar yang meminta dipanggil oma sudah sangat akrab. Namun, begitu kembali bertatap muka dengan kedua tante Izzar, Anaya teringat pembicaraan julid keduanya semalam. Seketika ia menuruti anjuran mertuanya.


Izzar tak menyangka Anaya berkenan turut serta. Disuruhnya Anaya membawa baju ganti yang dimasukkannya ke dalam ranselnya. Anaya mengikuti yang lain mengenakan kaos dan celana pendek selutut. Untung saja Anaya memang mengenakan sepatu sneakers sejak berangkat kemarin.


Mereka berenam orang. Tiga lelaki dan tiga perempuan. Yang paling tua adalah Izzar dan yang termuda adalah Sheilla yang masih mahasiswi.


“Jauhkah lokasi sungainya?” tanya Anaya para Izzar.


“Jauh, Kak! Lima jam perjalanan!” sambar Sheilla yang posisinya di depan Anaya.


Jawaban Sheilla membuat Anaya sedikit gentar.


“Jangan ngarang, La!” tegur Izzar.


“Santai, Kak! Dekat kok! Tapi lumayan capek. Nanti kalau sudah ketemu air terjun dan mandi di sungai, hilang kok lelahnya. Tapi, balik ke vila ya, capek lagi!” Sheilla tergelak.


Anaya tersenyum.


Sheilla tipe anak muda yang ceria. Anaya lupa dia anak dari tante Izzar yang mana. Sifatnya lebih mirip ke mama Izzar yang humble. Sepanjang jalan ia mengajak Anaya berbicara tentang detail pekerjaannya. Ia juga menanyakan kemungkinan Anaya menerimanya bekerja part time.


“Aku bisa ngemsi, Kak! Aku bisa disain, nyanyi juga bisa, marketing boleh, apa ajalah, Kak. Kakak nyuruh aku apa aja, aku bisain!”


Rasa percaya diri Sheilla yang tinggi membuat Anaya tertawa.


“Kenapa ngga selesaikan saja dulu kuliahmu? Baru kerja?” tanya Izzar yang mengikuti percakapan mereka.


“Biar aku bisa segera punya uang sendiri, dan bisa cepat keluar dari rumah.” Sheilla menjawab jujur.


Izzar diam tak berani berkomentar lebih. Menyadari reaksi Izzar. Anaya pun enggan menanggapi Sheilla. Ia tak mau mencampuri masalah orang lain.


Sheilla tak henti berbicara. Gadis bekulit terang dan berambut seleher itu mengomentari semua hal. Ia juga tak kehabisan bahan menggoda atau meledek kakak dan sepupunya.


Sepanjang perjalanan, Izzar selalu berada tak jauh dari Anaya. Jika jalan cukup lebar, ia berjalan di sisinya. Bila sempit, ia berada di belakang Anaya. Nalurinya mengarahkan untuk menjaga wanita yang terpaksa terikat padanya itu. Semalam, Izzar bisa menangkap ada sesuatu yang membuat Anaya resah dan menangis, tapi tidak diceritakannya. Apapun penyebabnya, Izzar merasa bersalah dan harus bertanggung jawab.


Perlakuan Izzar yang laksana bodyguard bagi Anaya, mengundang jengah di diri Sheilla.


“Nempel terus! Jangan bikin iri orang jomblo ngenes kayak aku!” seru Sheilla kepada Izzar.

__ADS_1


“Makanya jangan terlalu cerewet! Bikin cowok pada takut jadi pacarmu!” balas Izzar.


Sheilla mencibir dan menggandeng lengan Anaya, berjalan di samping atau di belakangnya. Anaya senang sebab mendapat teman.


Ketika melewati pematang sawah, Sheilla yang sedang bercerita seru tentang dosennya, tergelincir dan spontan berpegangan pada bahu Anaya yang langsung kehilangan keseimbangan karena kaget dicengkeram tiba-tiba oleh Sheilla. Keduanya memekik dan tersungkur jatuh ke sawah yang masih bertanah lumpur.


Izzar yang tertinggal beberapa langkah, cepat menghampiri. Ia khawatir terjadi sesuatu pada dua perempuan itu, terutama Anaya. Namun, setelah mengaduh sedetik, Anaya dan Sheilla malah tergelak menertawakan peristiwa yang baru saja terjadi. Tangan Anaya yang berlumur lumpur diusapkan ke pipi Sheilla, yang langsung dibalas Sheilla dengan hal yang sama. Tawa keduanya semakin kencang. Tak peduli sebagian tubuh dan pakaian yang kotor.


Melihat adegan tersebut, Izzar dan sepupu yang lain pun urung menolong. Mereka malah mendokumentasikan ‘penderitaan’ Anaya dan Sheilla dengan kamera ponsel masing-masing.


Setelah puas tertawa dan ditertawakan, Sheilla bangkit dan meminta bantuan kakaknya untuk ditarik ke atas pematang. Anaya mengikuti, namun gerakannya tertahan oleh rasa sakit di pergelangan kaki kirinya. Ia mengaduh menatap Izzar.


“Kakiku sakit!”


Sigap Izzar mengulurkan tangannya. Dibantu dua orang sepupu lelakinya, Izzar menarik Anaya dan menyanggah tubuhnya. Rasa sakit dan panas, menjadikan Anaya tak sanggup menumpukan tubuhnya pada kaki kirinya. Izzar akhirnya menggendong Anaya di punggungnya dan membawanya hati-hati ke saung di ujung pematang. Anaya pasrah. Sakit di kakinya mengalahkan risihnya harus menempelkan badan dan bersentuhan kulit dengan Izzar.


Sheilla yang panik membawakan tas ransel Izzar sambil terus meminta maaf dan baru berhenti setelah Anaya bilang memaafkannya dan menyuruhnya untuk tenang.


Salah seorang sepupu Izzar memanggil Mak Sadah, seorang petani yang pandai memijat. Izzar membantu membukakan sepatu dan kaus kaki Anaya. Semua mengitari Anaya yang meringis kesakitan diurut tangan tua Mak Sadah.


“Ngga apa-apa kok ini, Neng! Cuma terkilir sedikit. Sebentar juga sembuh,” ujar Mak Sadah dengan logat sunda yang kental.


Saat tinggal mereka berdua, Anaya jadi teringat perkataan Randi yang bilang Izzar lelaki baik. Di saat bersamaan, perkataan tante Izzar semalam yang merendahkan statusnya sebelum menikah dengan Izzar dan tuduhan hamil, kembali terngiang.


“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Izzar sambil memberikan tisu basah untuk membersihkan lumpur kering di pipi Anaya.


Alis Anaya terangkat tanda memperbolehkan.


“Semalam kamu kenapa?”


Anaya tak percaya Izzar masih memikirkan kejadian semalam.


“Ngga apa-apa,” jawab Anaya berkelit. Ia mengenakan kembali kaus kaki dan sepatunya.


“Anaya, kamu bebas cerita ke aku.” Izzar memperhatikannya.


“Iya, aku tahu. Tapi, semalam ngga apa-apa. Aku cuma ngga nyaman aja berada di tempat baru.”


Izzar memandangi Anaya. Ia mulai memahami karakter perempuan di hadapannya. Di balik ketegaran dan kadang kejudesan sikapnya, sebenarnya Anaya rapuh di dalam. Terlalu banyak perasaan, keinginan, dan persoalan yang dipendamnya dan berusaha diselesaikannya sendirian.

__ADS_1


“Ayo jalan lagi!” Anaya menjejak-jejakkan kaki kirinya di tanah. Walau masih sedikit linu, Anaya memaksa kembali melanjutkan perjalanan. Ia membiarkan Izzar memandu dan memegangi tangannya bila melewati jalan yang curam atau licin.


Jarak ke sungai yang dituju tidak terlalu jauh lagi. Dalam waktu singkat, keduanya telah tiba dan bergabung dengan Sheilla dan saudara-saudaranya. Anaya duduk di batu besar dan merendam kakinya di air yang sangat jernih dan dingin.


Awalnya, ia hanya memperhatikan saja yang lainnya berenang dan bermain air. Namun, Izar mulai iseng menciprati tubuhnya dengan air. Disusul dengan Sheilla. Akhirnya ia pun turun menikmati aliran air terjun dengan tetap dijagai Izzar.


Mereka sampai kembali di vila menjelang tengah hari.


Bergantian dengan Izzar, Anaya membersihkan diri dan berganti pakaian. Sewaktu makan siang, Anaya berusaha menghindari berdekatan dengan kedua tante. Ia memisahkan diri dengan alasan menyuapi Naira di kursi teras samping.


Dari pintu dan jendela kaca, Anaya dapat mengamati aktivitas di ruang dalam. Tante Widya, ibunya Sheilla, terlihat sedang berbicara dengan Izzar. Entah apa yang dibicarakan. Namun, Anaya memperhatikan wajah Izzar yang terbiasa ramah berubah mengeras. Ia meninggalkan tantenya dengan sikap masam.


Izzar menghampiri Anaya dan duduk begitu dekat di sebelahnya.


“Semalam, kamu mendengar omongan yang ngga enak dari kedua tanteku, ya?” tanya Izzar setengah berbisik di dekat telinga Anaya.


Biarpun sempat ragu, Anaya akhirnya mengangguk. Izzar terdiam menatapnya beberapa saat.


“Ngga apa-apa kok, Zar. Jangan dipermasalahkan,” pinta Anaya seraya tersenyum menguatkan hatinya sendiri.


“Oke! Aku ngga mau kamu ngga nyaman. Selesai makan, kita pulang saja!"


Terkejut Anaya dengan keputusan Izzar. Tapi, ia juga memang tak mau menentangnya.


Beralasan bahwa Anaya akan ada event yang harus disupervisinya nanti malam, Izzar meminta izin pulang duluan pada mamanya. Mama Izzar tidak keberatan. Ia melepas Anaya dan Naira dengan memeluk dan menciumi pipi keduanya.


Anaya menyadari, mama Izzar sesungguhnya adalah tipe mertua idaman. Wanita itu sangat ramah dan tidak suka ikut campur urusan anak menantunya.


Dalam perjalanan pulang, Anaya diam-diam memperhatikan Izzar yang tetap tenang mengemudi dan sabar menanggapi keceriwisan Naira menceritakan kegiatannya bersama oma dan keponakan-keponakan Izzar.


Perlakuan Izzar kepadanya yang selalu menjaga kenyamanan dan melindunginya kembali memberikan pendaran hangat di hatinya. Anaya bersyukur telah menurunkan egonya dengan menerima uluran pertemanan dari Izzar. Karena, lelaki di sampingnya ini pada dasarnya memang menyenangkan.


Ponsel Anaya berbunyi. Mba Kemi menelefon.


“Halo, Mba? Ada apa?” sapa Anaya.


“Maaf, Bu! Barusan Pak Ridwan telefon saya, nanyain Naira dan Ibu kemana. Saya cuma bilang Ibu sekeluarga lagi ke Puncak. Terus, ditanya kapan pulang. Saya bilang belum tahu.”


Anaya menghela nafasnya. Benar dugaannya kemarin, Ridwan pasti akan menguji kebenaran alasan Anaya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2