Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
16 - Menghindar


__ADS_3

Izzar kehilangan rasa kantuknya dan jadi memikirkan Anaya. Dari nada suara perempuan itu, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres yang menyebabkan Anaya tiba-tiba ingin pulang. Sakitkah ia? Bertengkar dengan Sandra? Atau ada hubungannya dengan klien alias si mantan?


Banyak kemungkinan yang terjadi. Izzar tak mau melanjutkan menerka-nerka. Ia memilih menunggu saja Anaya datang, meskipun dengan hati yang sedikit cemas sebab saat ini sudah menjelang tengah malam.


Anaya mematikan ponselnya. Ia meminta sopirnya memberi tahu Sandra bahwa ia harus pulang karena Naira sakit dan batre handphonenya mati. Ia tidak ingin Sandra apalagi Tristan menghubunginya.


Lewat tengah malam, Anaya tiba di rumah. Izzar menyambutnya dengan senyuman yang melumerkan kegundahan Anaya. Selesai membersihkan diri dan mengganti baju, Anaya duduk memeluk lutunya di sofa, sementara Izzar membuatkan teh chamomile untuknya.


“Ada masalah apa?” tanya Izzar sambil meletakkan teh di meja.


“Ngga apa-apa. Cuma capek aja,” jawab Anaya sambil memandangi asap yang menguap dari cangkirnya.


“Siapa yang menganggumu?” Izzar duduk di sebelah Anaya. Tak percaya begitu saja jawabannya.


Anaya jadi teringat perlakuan ayahnya dulu saat ia kecil. Setiap, ia pulang bermain sambil menangis, ayahnya pasti bertanya hal yang sama. Persamaannya dengan Izzar itu mendorongnya tersenyum. Ia terkenang akan kasih sayang ayahnya.


Meski tak tahu alasannya, Izzar senang melihat senyum Anaya. “Sudah mau cerita ada apa?”


Anaya menggeleng. Ia malu mengisahkan perbuatan Tristan yang membuatnya tak nyaman.


Izzar tidak memaksa lagi.


Anaya mengambil dan menggenggam cangkir teh dengan kedua tangannya. Menghirup aromanya dan meresapi kehangatan di jemarinya.


“Aku tadi siang ke rumahmu melihat renovasi. Mau lihat fotonya?”


“Mau!” Anaya senang Izzar mengalihkan perhatiannya.


Izzar mengeluarkan ponsel dari saku celana. Anaya bergeser duduk mendekat. Izzar menunjukkan dan menjelaskan gambar-gambar perkembangan perubahan dan perbaikan rumahnya. Anaya sadar, ia duduk nyaris tak berjarak dengan Izzar. Tapi, tak ada penolakan di nuraninya. Ia malah senang mendengarkan suara Izzar, yang menghadirkan kedamaian yang memang lama didambanya.


Keesokan paginya, baru Anaya membalas pesan dan telefon Sandra. Ia enggan membahas kekecewaannya terhadap Tristan. Berulang kali ia meyakinkan Sandra bahwa alasannya meninggalkanya adalah karena Naira.


“Beneran?”


“Iya! Izzar panik badan Naira panas tiba-tiba. Padahal ngga apa-apa. Cuma kangen saja, karena biasanya kan tidur bareng aku.”


“Tristan kelihatannya kecewa tahu kamu pulang tanpa pamit. Jadi kelihatan pendiam dia sekarang.”

__ADS_1


Anaya enggan menanggapi ucapan Sandra. Pun ketika kemudian Tristan menelefon dan mengiriminya pesan beruntun meminta maaf, Anaya mengabaikannya.


Sabtu subuh, Mba Kemi mendadak izin pulang kampung karena orang tuanya sakit. Anaya yang harus mengawasi timnya menghandle acara resepsi pernikahan anak pejabat terkenal, mau tak mau mengajak Naira bekerja. Izzar tak bisa dititipi karena harus meninjau lokasi proyek yang penuh debu dan benda-benda berbahaya untuk anak kecil. Menitipkan pada Ridwan sudah tentu bukan pilihan.


Acara resepsi diadakan di ballroom hotel bintang lima. Tim project EOnya sudah sejak kemarin sibuk mempersiapkan semua detail kegiatan. Anaya beruntung, ada Meili, pegawai finance yang menawarkan diri menemani Naira karena ia tak terlalu sibuk di lapangan.


Naira sendiri menyukai suasana persiapan wedding. Ia antusias berkeliling mengamati dan menciumi bunga-bunga segar dekorasi. Ketika lelah berjalan mengitari ballroom dan ruang-ruang di sekitarnya, ia menggambar dan mewarnai di sudut meeting room kecil di samping ballroom yang dijadikan ruang panitia.


Dian yang menjadi project manager acara ini memang sungguh andalan. Perempuan berpenampilan sporty itu cekatan, disiplin dan komunikatif dengan anggota timnya. Sehingga nyaris tak ada drama teknis yang berarti. Anaya hanya perlu memastikan kebutuhan dan keinginan keluarga pemangku hajat terpenuhi.


Menjelang resepsi dimulai, Naira mulai bosan dan merajuk.


“Aku capek, Ma! Aku mau pulang!”


“Sebentar ya, Nak! Mama masih harus kerja. Kamu mau es krim? Beli sama tante Meili di restoran hotel, ya?”


Naira menggeleng. Bujukan Meili untuk bermain game di laptop juga tak lagi dihiraukannya.


“Pinjam hape Mama!” Naira mengulurkan tangannya.


Anaya bingung. Ia tak mungkin memberikan alat komunikasi yang sangat dibutuhkannya saat ini untuk dimainkan Naira.


“Sepuluh menit lagi, mama minta kembali, oke?” Anaya mengalah memberikannya.


Naira tidak menjawab. Ia berlari kembali ke ruang meeting diikuti Meili.


Sepuluh menit kemudian, Anaya menemukan Naira sudah tertidur di sofa dengan ditunggui Meili yang sedang membuka laptopnya. Ada rasa tak tega di hati Anaya melihat anak itu sebenarnya.


Sedang perhatian Anaya tertuju pada tamu-tamu yang mulai berdatangan, Izzar menelefonnya memberi tahu ia sudah berada di pintu samping ballroom. Anaya kaget dengan kehadiran Izzar yang tiba-tiba dan segera menemuinya.


“Kamu ngapain kesini?” tanya Anaya heran.


“Naira telfon, minta dijemput.”


Anaya baru tersadar tujuan Naira tadi meminjam ponselnya. Duh, terkadang Anaya sering lupa anaknya itu terlalu cerdik. Dan, ia tahu Izzar sangat bisa diandalkannya.


“Dimana dia, biar kubawa pulang.”

__ADS_1


Anaya membawa Izzar ke tempat Naira tidur. Anak itu terbangun dan gembira melihat kehadiran Izzar yang langsung menggendongnya. Anaya memutuskan membawakan tas Naira dan mengantarkan keduanya ke mobil.


Banyak yang memperhatikan Anaya dan Izzar, karena keduanya memang hampir tidak pernah tampil bersama. Di mata umum, ketiganya memang terlihat bagai gambaran keluarga muda yang bahagia dan idaman. Anaya enggan terpengaruh dengan tatapan orang-orang tersebut.


Di depan ballroom, mereka berpapasan dengan Bu Erlina, klien langganan EOnya yang juga seorang pengusaha properti. Wanita anggun high class tersebut sumringah menyapa Anaya.


“Hai Anaya!”


Anaya terpaksa menepi dulu dan membalas sapaan Bu Erlina serta memperkenalkan Izzar di sampingnya. Namun, ternyata, Bu Erlina dan Izzar sudah saling mengenal.


“Oh! Ternyata kamu sudah menikah dengan Izzar?” Bu Erlina menoleh dan memandangi Izzar yang tersenyum. “Kami sudah lama kenal. Iya kan, Zar?”


Izzar mengangguk. Ia tak bisa ikut menyalami Bu Erlina dengan posisi kedua tangan menyangga Naira yang memeluk lehernya. Sopan ia menanyakan kabar Bu Erlina.


“Kabarku baik. Aku baru tahu kalau kamu sudah menikah dengan Anaya.”


“Iya,” sahut Izzar.


“Bagaimana usahamu?”


“Baik-baik saja sekarang.”


“Datanglah ke kantorku, Zar! Mungkin ada yang bisa kita bicarakan.”


“Ya, mungkin nanti kalau ada waktu.” Izzar menjawab diplomatis. “Kami permisi dulu!”


Setelah mengucapkan salam berpamitan, Anaya mengikuti langkah Izzar menuju parkiran.


“Kamu pernah ada proyek kerjasama dengan Bu Erlina?” tanya Anaya sambil berjalan.


“Ya, dulu. Sudah lama.”


“Tadi dia nyuruh kamu ke kantornya, berarti ada kemungkinan dapat proyek besar nih?”


Izzar hanya tersenyum menanggapi dugaan Anaya.


Mereka telah tiba di mobil. Anaya membantu membukakan pintu. Setelah melepas Izzar dan Naira, Anaya kembali ke tempat acara.

__ADS_1


Sambil menyetir, Izzar teringat ekspresi Bu Erlina saat melihatnya tadi. Entah apa yang dipikirkan wanita itu mengetahui dirinya bersama Anaya sekarang. Dalam hati, ia berjanji tidak akan mempedulikan permintaan Bu Erlina untuk menemuinya meskipun Anaya tampak antusias. Andai Anaya tahu, jika Izzar masih menyimpan kecewa yang sangat dalam, sebab Bu Erlina adalah salah seorang yang dulu berperan besar memperberat keterpurukan Izzar sewaktu mengalami masalah.


...***...


__ADS_2