Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
19 - Ulang Tahun


__ADS_3

Rasa penasaran Anaya terhadap Sasika mendorongnya mencari tahu tentang sosoknya. Ia mencoba mengulik media sosial Izzar. Tetapi ternyata Izzar tidak mengumbar kehidupan pribadinya di jaringan online. Ia hanya punya satu akun instagram yang hanya menampilkan foto-foto dan video hasil kerjanya. Nyaris tak ada jejak digital tentang dirinya sendiri.


Ingin Anaya bertanya pada Randi, tapi ia malu. Sebab, Randi pasti akan meledeknya. Akhirnya, Anaya memutuskan untuk tidak mempedulikan sosok Sasika. Toh wanita itu ada di masa lalu Izzar, dan juga bukan urusannya pula, sebab Izzar kan bukan miliknya meskipun berstatus suaminya.


Ulang tahun Naira sepekan lagi.


Sewaktu menjemput Naira di minggu pagi, Ridwan menyampaikan keinginannya merayakan ulang tahun puterinya secara besar-besaran di hotel. Sedangkan Anaya sebaliknya. Ia ingin sederhana saja memperingati hari kelahiran Naira. Akhirnya, seperti biasa, keduanya pun kembali berdebat dan bertengkar.


“Kenapa sih, kamu selalu menentangku?” tanya Ridwan. Ia sama sekali tidak memelankan suaranya. Padahal mereka bicara di depan pagar rumah sambil menunggu Naira selesai sarapan.


Izzar meminta mereka masuk, tapi Ridwan menolak.


“Kamu sudah siapkan hotel, acara, souvenir, undangan dan lainnya?” tanya Anaya.


“Kamu kan punya perusahaan yang kerjanya mengurus itu semua? Masa acara orang lain kamu urusin, ulang tahun anakmu tidak kamu pedulikan?” Ridwan malah melempar persoalan pada Anaya.


Mata Anaya membelalak, menatap tak percaya pada Ridwan. Lelaki ini tak ternyata tak pernah berubah. Masih saja dia berusaha memanipulasi dan memanfaatkan wanita yang sudah menjadi mantan isterinya. Anaya jadi tambah bertekad tak mau lagi dipecundangi.


“Maaf, Wan. Bukan aku ngga peduli. Tapi, tahun ini aku sudah berencana akan mengajak Naira merayakan ulang tahunnya dengan berbagi di Panti Asuhan, supaya dia punya empati dengan anak lain yang tidak seberuntung dirinya. Kebetulan, anak buahku juga sudah penuh semua jadwalnya. Jadi, kalau kamu mau buat acara di hotel, silahkan urus sendiri.” Anaya berusaha mengelak dengan santun.


"Ulang tahun Naira kebetulan kan hari Minggu. Pas di jadwal kamu bersama dia. Aku akan buat acara di panti asuhan pada hari Sabtu saja, biar ngga ganggu acaramu,” sambung Anaya.


Ridwan merapatkan mulutnya. Rahangnya mengeras. Tampak jelas ia menahan geram mendengar perkataan Anaya. Ia seperti kehilangan kata-kata.


Anaya merasa puas dalam hati karena berhasil membungkam Ridwan. Meski sebenarnya rencana ulang tahun di panti asuhan hanyalah alasan spontan dirinya saja. Tapi, Anaya merasa bertanggung jawab bertanggung jawab dengan harus melaksanakannya.


Sepeninggal Ridwan yang membawa serta Naira, Anaya menceritakan perdebatannya kepada Izzar. Lelaki itu tertawa seraya menggelengkan kepala.


“Kalian berdua itu, sama-sama keras kepala. Ngga ada yang mau mengalah,” kata Izzar di sela suapan sarapannya.


Anaya tersenyum. Ia tidak mau mengalah karena enggan disepelekan dan dimanfaatkan Ridwan.


“Terus, kamu akan ke panti asuhan mana?” tanya Izzar.

__ADS_1


“Aku belum tahu. Kamu ada rekom di mana?”


“Hmm.. Coba kutanya Maharani.” Izzar mengambil ponselnya.


“Siapa dia?”


“Pegawai baruku. Kamu ketemu dia waktu ke kantorku tempo hari. Sewaktu kuliah dia suka mengajar anak-anak pra sekolah di panti.”


Izzar membuat panggilan di ponselnya. Anaya mengamati. Ia teringat wanita yang dimaksud Izzar. Gadis muda cantik yang agak pemalu dan kikuk dengan kehadiran Anaya.


“… Oke! … Kamu kesini saja, Ran! … Iya!” Izzar mematikan ponselnya. “Sebentar lagi dia datang kesini. Kamu ngobrol langsung saja sama dia.”


“Sebentar lagi? Memang rumahnya di mana?” Anaya heran.


“Di ujung jalan ini. Dia anaknya Bu Lilis,” jawab Izzar.


Jawaban Izzar membuat Anaya tertegun. Pantas saja ia merasa pernah melihat gadis itu. Ternyata mereka bertetanggaan.


Anaya mengangguk. Ia ingat siapa Bu Lilis. Masih terbayang di benaknya, bagaimana ekspresi wajah perempuan itu yang kecewa tiba-tiba mengetahui Anaya adalah isteri Izzar. Padahal di saat bersamaan ia tengah bersemangat menjodohkan puterinya dengan Izzar.


Dan, kini, Anaya baru tahu jika Maharani, puteri Bu Lilis itu, bekerja dengan Izzar.


“Kok bisa dia kerja di tempatmu?” Anaya penasaran.


“Ibunya minta tolong ke aku untuk bantu carikan anaknya kerjaan. Kebetulan pas aku butuh pegawai untuk bagian administrasi, ya sudah kutawari. Tapi, dia memang pintar kok, lulusan ekonomi universitas negeri,” tutur Izzar.


“Kenapa ngga kamu ajak Sheilla, keponakanmu? Bukannya dia ingin kerja sambil kuliah?”


Izzar menggeleng. “Kamu tahu sendiri ibunya bagaimana.”


Anaya kemudian terdiam. Ia sadar, bahwa ia tak berhak mencampuri urusan pekerjaan dan kehidupan Izzar. Namun, ia tak bisa menghindari percikan resah yang mencuri hadir di hatinya.


...***...

__ADS_1


Acara ulang tahun Anaya di panti asuhan berjalan lancar berkat bantuan Maharani. Setelah mengenal Anaya, gadis itu sudah tidak kikuk lagi meghadapinya.


Naira senang dengan peringatan ulang tahunnya itu. Walau Naira memang tampak berbeda penampilannya dengan segala kelebihannya, tapi ia tak jengah bermain bersama anak-anak sederhana tersebut. Gadis kecil yang berperasaan halus itu bahkan meminta Anaya mengantarnya ke panti itu lagi nanti, agar bisa memberikan mainan yang sudah tidak ia gunakan untuk dibagikan ke teman-teman barunya.


“Boleh, Ma?” tanya Naira.


“Boleh!”


“Mama juga bisa membelikan mereka baju?... Soalnya aku lihat, ada yang bajunya robek, Ma,” bisik Naira.


“Bisa. Nanti kita belikan ya. Atau baju-bajumu yang sudah tidak terpakai juga boleh disumbangkan ke sini.”


Naira langsung gembira. Sudah tentu hal tersebut menyenangkan Anaya, tujuannya menumbuhkan simpati dan empati Naira sepertinya berhasil. Ia sungguh ingin Naira kelak menjadi manusia yang peduli dengan orang lain.


Malamnya, Anaya baru menyadari ulang tahun Izzar ternyata berbeda selang sehari dengan Naira. Sungguh ia merasa bodoh karena tidak memperhatikan data Izzar kala dulu mengurus administrasi pernikahannya. Mungkin karena ia dulu memang belum mengenal dan dekat dengan Izzar. Lagipula, lelaki itu juga seperti tidak memikirkan hari jadinya. Ia malah ikut sibuk membantu acara Naira.


Namun, Anaya ingin mengingatkannya. Pagi-pagi, sebelum Ridwan menjemput Naira, ia mengajak anaknya itu memberikan kejutan ucapan selamat pada Izzar, walau hanya dengan sepotong donat yang ada di lemari es dan diberi lilin.


“Happy birthday!” seru Anaya dan Naira kompak, saat Izzar membuka pintu kamarnya yang diketuk Anaya.


“Wow! Terima kasih!” Izzar kaget senang dengan kejutan dari dua perempuan yang menjadi tanggung jawabnya dengan cara yang tak biasa. Meskipun ia tak terlalu suka dengan perayaan ulang tahun dirinya, tapi ia menikmati juga perhatian keduanya.


Sedang ketiganya bersenda gurau dan bergembira, ada kurir berseragam toko kue terkenal mengantarkan sebuah kotak karton berukuran besar. Anaya yang menerimanya langsung bisa menebak isinya adalah cake ulang tahun.


“Kiriman untuk Pak Izzar, Bu,”


“Dari siapa?”


Kurir itu melihat kertas di tangannya. “Dari Sasika.”


Anaya terpana. Mengapa perempuan itu mengirimkan kue di hari ulang tahun mantan tunangannya?


...***...

__ADS_1


__ADS_2