
Anaya menyimpan gambar Naira dalam lemari di antara tumpukan pakaiannya. Ia tidak ingin gambar tersebut sampai jatuh ke tangan Ridwan. Bisa marah nanti dia jika mengetahui disisihkan begitu oleh anak kandungnya. Meskipun, salahnya sendiri telah menjauhi Naira dan baru-baru ini saja berusaha mendekat lagi.
Puterinya itu memang membutuhkan sosok ayah. Tapi, ada rasa takut di diri Anaya membiarkan Naira dekat dengan Izzar, sebab selain dapat memancing emosi Ridwan, juga bisa berdampak pada Naira jika kontrak pernikahannya berakhir nanti. Sementara, jika ia mendorong Naira lebih lekat kepada Ridwan, ia khawatir Ridwan bakal meracuni Naira untuk menjauhinya.
Sisa malam itu dilalui Anaya dengan gelisah memikirkan dilemanya. Ia baru terlelap menjelang subuh.
“Mama! Bangun! Aku mau sekolah!” Naira berteriak mengguncang-guncang lengan Anaya.
Anaya membuka mata, terperanjat. Naira sudah rapi dengan seragamnya. Sedetik kemudian, ia sadar apa yang tengah terjadi. Ia bangun kesiangan.
“Mama mandi dulu, ya!” Segera Anaya melompat dan menyambar handuk.
Di depan kamar ia berpapasan dengan Izzar yang juga sudah rapi.
“Kenapa aku ngga dibangunin?” Entah mengapa Anaya jadi menyalahkan Izzar atas keterlambatannya. Tinggal di rumah Izzar membuat jarak ke sekolah Naira menjadi sedikit lebih jauh. Seharusnya ia mengantar Anaya setengah jam lebih awal.
Izzar tampak kaget dengan luapan marah Anaya. Tangannya tiba-tiba menghadang Anaya yang akan masuk ke kamar mandi.
“Sudah, biar aku saja yang antar jemput Naira hari ini. Tambah terlambat dia nanti kalau menunggu kamu mandi dan bersiap dulu,” ucapnya.
Semula, Anaya ingin menolak, tapi ketegasan di suara Izzar dan tatapan matanya menyurutkannya.
“Lagian kamu seperti kurang tidur, bahaya kan kalau memaksa menyetir sambil ngantuk,” sambung Izzar yang semakin membungkam Anaya untuk membantah.
Anaya pun mengalah melepas Naira berangkat bersama Izzar. Wajah anak itu malah berseri-seri karena mendapat kesempatan bersama dengan Izzar.
Setelah Naira pulang dari sekolah, Anaya memutuskan untuk pergi ke kantornya. Sandra mengiriminya pesan bahwa ada klien yang memaksa bertemu dengannya. Anaya penasaran, tetapi Sandra merahasiakannya.
Tiba di kantor, Sandra langsung mengarahkan Anaya ke ruang meeting. Di sana ada seorang lelaki berkacamata, gagah dan berpenampilan rapi yang langsung berdiri begitu melihat kedatangan Anaya.
“Hai Anaya! Apa kabar?” Lelaki itu mendekati Anaya dan mengulurkan tangan menyalaminya.
Anaya spontan menutup mulutnya. Klien rahasia Sandra itu ternyata adalah Tristan, kawan SMA mereka. Dulu Tristan adalah ketua OSIS idola di angkatan Anaya dan Sandra. Tristan dan Anaya pernah saling menyukai, tapi ayah Anaya tidak mengizinkan Anaya pacaran saat masih SMA.
“Kamu ngapain di sini?” Anaya tersenyum sumringah menyambut uluran salam Tristan. Ia bisa merasakan aliran darahnya menghangat. Pipinya pasti memerah saat ini.
“Nyari kamu!” Tristan menggenggam erat jemari Anaya.
Jawaban Tristan membuat Anaya tersipu. Dilepaskannya genggaman Tristan halus, lalu ia menarik kursi di sebelah Sandra yang sedari tadi senyum-senyum memperhatikan dua temannya.
“Tristan kesini karena mau bikin acara outing kantornya, Nay!” kata Sandra.
“Oh ya?” Anaya memandang Tristan yang juga sedang memandanginya. Tubuh Tristan yang tinggi tak lagi kurus seperti dulu. Wajahnya juga sudah tidak sepolos saat remaja, lebih berkarakter dan dewasa sekarang, yang menjadikan wajah tampannya semakin rupawan.
__ADS_1
“Iya. Rencana di sekitaran Bogor saja yang dekat. Tapi, kami ingin acaranya yang benar-benar berkesan,” ujar Tristan.
Anaya mengangguk. Ia sudah mendengar jika Tristan adalah CEO sebuah perusahaan Teknologi Informasi. Tapi, yang membuat hatinya heran, mengapa harus Tristan sendiri yang mengurus rencana kegiatan outing kantornya. Kenapa bukan staf HRDnya.
Sandra memanggil Ferdi, salah seorang project manager yang biasa menangani corporate event, untuk mencatat dan menampung keinginan Tristan sebelum nantinya dibuatkan proposal acara. Lalu, ia meminta izin ke ruangannya sebentar sambil menyeret Anaya yang tergagap menuruti langkah Sandra.
“Kamu tahu ngga tujuan Tristan sebenarnya kesini?” tanya Sandra setelah menutup pintu ruangannya.
“Bukannya mau bikin outing?” Anaya menjawab lugu.
“Itu alasan saja!” sahut Sandra sambil duduk di kursinya. “Utamanya, dia nyari kamu!”
Ucapan Sandra membuat Anaya terhenyak.
“Ngapain dia cari aku?”
“Mau dekatin kamu. Katanya dia baru putus dari pacarnya.”
“What?!” Anaya terbelalak.
Sandra mengangguk dan tersenyum menggoda.
“Kamu ngga bilang aku sudah menikah?”
“Ngga.” Sandra menjawab cepat.
“Memangnya pernikahanmu beneran?” Sandra balik bertanya.
Tertegun Anaya dibuatnya. Kenapa ia bisa lupa bahwa pernikahannya dengan Izzar hanya pura-pura saja?
“Waktu tempo hari kamu mencari suami, kita kok ngga kepikir Tristan, ya.” Sandra seolah menyesal.
Anaya merenung. Ia dulu memang pernah menyukai Tristan. Tapi, sejak kemudian lulus SMA, mereka jarang berkomunikasi. Apalagi sejak Ia menikah dengan Ridwan.
“Tristan masih suka sama kamu, Nay.”
“Sudah terlambat, San."
“Belumlah! Kamu tinggal bilang ke Tristan, sabar menunggu setahun lagi. Atau, sembari menjalani kontrakmu bersama Izzar, kalian bisa tetap berhubungan melanjutkan CLBK … Cinta Lama Belum Kelar.…” Sandra tertawa.
“Ih! Saran paling ngaco yang pernah aku dengar dari kamu!” Anaya mencibir.
“Lah! Kenapa? Memangnya kamu mau selamanya dengan Izzar?”
__ADS_1
Anaya menggeleng.
“Ya sudah! Buka hatimu buat Tristan!”
Sandra menarik Anaya kembali ke ruang meeting. Mata Tristan langsung berbinar melihat Anaya muncul kembali.
Sisa hari itu, dihabiskan Anaya mengobrol dengan Tristan dan Sandra, mengenang masa-masa SMA mereka dulu. Merasa belum puas bercakap-cakap, reuni kecil mereka berlanjut dengan makan malam.
Anaya tak bisa mengingkari, berbicara serta berada dekat lagi dengan Tristan, menumbuhkan kembali percikan-percikan rasa di masa lalu yang sudah ia hempaskan. Ternyata demikian mudahnya membuka hati untuk lelaki yang memang pernah mencuri hati remajanya.
Sedang Anaya mendengarkan Tristan bercerita tentang sepenggal kisah masa kuliahnya di Amerika, ponselnya membunyikan pesan. Anaya membukanya. Dari Izzar.
Izzar : Kamu di mana?
Sejenak Anaya merasa jadi isteri yang dicari suaminya karena terlambat pulang. Segera ditepisnya perasaan itu dan menjawab singkat pesan Izzar.
Anaya : Meeting.
Izzar : Masih lama? Ada tamu di rumah.
Anaya : Masih.
Anaya memilih nada senyap di ponsel dan menelungkupkannya di meja. Ia enggan mengulik tamu yang dimaksud Izzar. Selain karena tengah menikmati kebersamaannya bersama Tristan, Anaya mengira kemungkinan besar keluarga, teman atau tetangga Izzar yang datang ke rumah. Sebab, kecuali Ridwan dan Sandra, tak ada teman atau kerabatnya yang tahu dimana kediamannya sekarang.
Sandra dan Ridwan berencana meneruskan pertemuan mereka di sebuah klub dan mengajak Anaya. Langsung Anaya menolak. Ia teringat Naira.
Setelah berjanji akan secepatnya bertemu lagi membahas rencana outing, Anaya berpisah dengan Tristan dan Sandra. Ia baru saja menyalakan mesin mobil kala Izzar menelefonnya.
“Kamu di mana?” tanya Izzar.
Suaranya terdengar agak cemas.
“Di jalan pulang!”
Anaya mematikan panggilan Izzar. Pertanyaan Izzar membuatnya jadi teringat Ridwan yang selalu memantau keberadaannya saat mereka masih menikah. Hal tersebut membuatnya risih dan tak nyaman. Buat apa Izzar menyelidiknya seperti ini?.
Anaya tiba di rumah sejam kemudian. Di depan pagar rumah ada sebuah mobil sedan hitam. Seorang lelaki yang berjongkok di sampingnya berdiri begitu melihat Anaya.
“Selamat malam, Bu!” sapanya.
Jantung Anaya seketika bergemuruh kencang. Ia mengenal lelaki yang berprofesi sebagai sopir tersebut. Bergegas ia memasuk rumah dengan satu pertanyaan besar di hatinya. Mengapa pemilik sedan itu berada di kediamannya?
Di kursi ruang tamu, Anaya disambut keberadaan seorang lelaki tua penuh wibawa yang menoleh dan langsung tersenyum pada Anaya. Senyum ramah sebenarnya, namun membuat Anaya tercekat.
__ADS_1
Sementara, di sisi yang lain, Izzar juga duduk menatapnya dengan sorot mata kesal. Pastilah ia jengkel harus menerima tamu yang sama sekali tak diduganya. Lelaki tua itu adalah Pak Arsyad, ayah Ridwan, mantan mertua Anaya.
...***...