Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
10 - Mengabaikan


__ADS_3

Pening kepala Anaya diancam seperti itu. Masalah dengan Ridwan mereda, malah timbul keresahan baru yang diberikan mantan ayah mertuanya. Ingin ia berteriak bahwa dirinya tidak membutuhkan harta mereka, begitu juga Naira. Tapi, pasti akan percuma seperti teriakannya memohon pengertian Ridwan di masa lalu.


Ulang tahun Naira yang ketujuh, masih empat belas bulan lagi. Sementara kontrak pernikahannya dengan Izzar, tersisa kurang dari sebelas bulan lagi. Apakah artinya ia harus memperpanjang kontraknya dengan Izzar?


Anaya tak sanggup memikirkannya. Ia sungguh berharap akan terjadi keajaiban sebelumnya. Anaya membayangkan kemungkinan Pak Arsyad mengalami serangan jantung fatal dalam waktu dekat, yang dapat menghapus ancaman dan mengubah semua rencana yang telah dibuatnya. Tentu saja, setelah itu kemudian terbit rasa bersalah di hati Anaya, dan ia segera meminta ampun atas bayangan liarnya.


Kesibukan mengawasi langsung persiapan acara outing kantor Tristan yang akan dilaksanakan sebulan lagi, mendorong Anaya untuk tidak terlalu memikirkan ultimatum mantan mertunya. Tanpa disadari, ia bahkan terhanyut, sebab pekerjaannya menciptakan banyak kesempatan bertemu dengan Tristan.


“Pegang tanganku… bersama jatuh cinta… kali kedua pada yang sama…” Sandra menyanyikan sepenggal lagu Raisa dengan lantang saat mengetahui sore itu, Tristan meminta Anaya menyertai Ferdi mempresentasikan proposal mereka di kantor Tristan.


“Ih! Apa sih?” Bibir Anaya mengerucut.


“Senang saja kamu mulai move on!” Sandra tertawa. Ia senang menggoda Anaya yang sedang menekuni penawaran dari supplier-supplier di mejanya.


Anaya tersenyum. Ia tak mengingkari bila menyukai dan menantikan setiap pertemuan dengan Tristan. Dan, ia yakin, Tristan pun merasakan yang serupa.


“Tristan ngajak makan malam nanti.” Anaya malu-malu memberitahu Sandra.


“Ciieeee!” Sandra kembali menyanyikan sebaris lagu Raisa.


Anaya tersipu. Pipinya terasa menghangat. Ia jadi teringat bagaimana dulu harus mencuri-curi kesempatan bisa pergi berduaan dengan Tristan tanpa ketahuan ayahnya. Dan, sekarang, ia memperoleh peluang yamg sama lagi tanpa khawatir dimarahi oranga tuanya.


“Kamu harus ikut!” pinta Anaya tegas.


Sandra menggeleng. “Aku ngga mau jadi obat nyamuk!”


“Please! Jangan sampai aku terlihat cuma berdua saja sama Tristan.” Anaya memohon.


Menyadari resiko yang mungkin terjadi pada Anaya, mau tak mau Sandra mengiyakan.


Sementara itu, Izzar mulai menyadari bagaimana kesibukan Anaya membuatnya jarang di rumah. Anaya bangun pagi-pagi dan sibuk mempersiapkan Naira sekolah, lalu berangkat kerja, dan pulang saat hari sudah malam. Izzar tidak berani menegurnya, sebab ia yakin Anaya pasti tidak akan menerima tegurannya. Izzar enggan berdebat apalagi bertengkar dengan Anaya. Ia merasa Anaya sebenarnya berusaha menghindari dirinya.


Urusan antar jemput Naira pun seolah sudah menjadi tugas Izzar. Naira memang menolak Anaya melakukannya. Izzar tidak keberatan. Kehadiran anak kecil yang lucu itu menjadi penghibur di kehidupannya yang hampa bersama Anaya.


Ia sendiri mulai menyibukkan diri dengan proyek pekerjaan merenovasi rumah Anaya, dan proyek-proyek lain yang mulai berdatangan. Agar lebih profesional, Izzar berencana mendirikan perusahaan baru bersama Randi.


Hari ini, ia mengurus proses legalitas dan perizinan usahanya yang membuat tubuhnya penat. Sesampainya di rumah, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofabed. Entah berapa lama sudah ia jatuh tertidur saat Mba Kemi mengetuk pintu kamarnya.


“Ada apa, Mba?” Izzar membuka pintu dengan mata yang terasa sepat.

__ADS_1


“Maaf, Pak! Naira sakit, badannya panas.” Mba Kemi tampak cemas.


“Mamanya belum pulang?”


“Belum.”


“Sudah ditelefon?” tanya Izzar sembari langsung menyeberang ke kamar Naira.


“Belum. Hape saya rusak sejak kemarin,” jawab Mba Kemi sambil mengikuti langkah Izzar.


Izzar menghampiri Naira yang tertidur pucat. Seingatnya, sepulang sekolah tadi siang, anak ini tidak mengeluh apapun. Sekarang keningnya terasa panas.


“Thermometernya di mana?” tanya Izzar pada Mba Kemi.


Wanita sederhana itu langsung mencari-cari di meja dan kotak-kotak yang menumpuk di kamar.


“Di mana ya?” Mba Kemi bertanya sendiri sambil terus mencari.


Izzar jadi tak tega melihatnya kebingungan. “Dikompres saja dulu, Mba!”


Mba Kemi segera keluar kamar.


“Halo, Ran?” Izzar segera menjawab dengan maksud memintanya menelefon kembali nanti.


“Zar! Kamu di mana?” tanya Randi.


“Di rumah. Bisa kutelefon lagi nanti? Naira se…”


“Kamu tahu Anaya di mana?” Randi seperti tidak peduli, suaranya gusar.


“Mungkin masih di kantornya. Aku belum tahu, makanya aku mau telefon dia. Bisa nan-…“


“Anaya lagi makan malam dengan mantan pacarnya!” Randi memotong perkataan Izzar.


Izzar tertegun. Ia bingung harus bereaksi apa. Beberapa detik Izzar membisu memandang Naira yang terbaring lemah memeluk boneka Minnie Mousenya.


“Di mana?” tanya Izzar sambil berjalan keluar kamar, meninggalkan Naira bersama Mba Kemi.


“Di Tiss.” Randi menyebut sebuah nama tempat yang juga dikenal Izzar. Ada beberapa restoran di kawasan itu.

__ADS_1


“Aku pas ada janji sama rekanku di sini. Aku lihat mereka, tapi Anaya ngga lihat aku,” sambung Randi.


Izzar memijit kepalanya. Dalam hati ia mengumpat Anaya yang tidak berhati-hati berduaan dengan lelaki lain di tempat umum sampai terpergok Randi begini.


“Hmm… Aku baru ingat, tadi pagi Anaya memang bilang mau ketemu kliennya hari ini. Katanya teman lamanya. Mungkin dia itu yang kamu lihat.” Izzar mencoba meredakan kegusaran Randi.


Randi di seberang sana terdiam. Sepertinya ia meragukan ucapan Izzar.


“Santai aja, Ran! Nanti sampai rumah Anaya pasti cerita kok hari ini kemana dan ketemu siapa saja.”


”Aku berharap ngga ada masalah di antara kalian. Baik-baik dengan Anaya ya, Zar!” pinta Randi.


“Tenang saja , Ran! Aman, kok! … Sorry, bisa kita sambung lagi nanti? Aku mau urus Naira dulu.”


“Oke, Zar!” Randi memutuskan sambungan telefonnya.


Izzar langsung menelefon Anaya, tetapi kembali berakhir tanpa jawaban. Ia kembali ke kamar. Naira sudah terjaga dan mulai menangis begitu melihat Izzar.


“Kepalaku pusing, tenggorokan aku juga sakit!”


Iba Izzar melihatnya. Dipeluknya gadis kecil itu.


Dicobanya kembali menghubungi Anaya, namun tetap saya tidak terjawab. Ia hanya bisa menahan rasa kesalnya dalam hati.


“Kita ke dokter, ya?”


“Iya… Aku ngga mau sakit!” Naira merebahkan kepalanya di bahu Izzar.


Izzar tak punya pengalaman menangani anak sakit. Ia memutuskan membawa Naira ke dokter karena ia pikir itu langkah yang terbaik karena Anaya entah di mana. Sementara Mba Kemi juga bingung harus berbuat apa tanpa petunjuk Anaya. Ia meminta Mba Kemi menyiapkan perlengkapan pergi Naira dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Di perjalanan, izzar beberapa kali melanjutkan upaya menelefon Anaya sebelum memutuskan menyerah dan mengiriminya pesan pendek : Naira sakit.


Di tempat lain, Anaya menyesap lime juice sambil menahan senyum mendengarkan cerita lucu Tristan. Ia sangat menikmati makan malam yang akhirnya cuma berdua saja karena Sandra harus ke bandara menjemput ayahnya yang datang mendadak dari Surabaya. Anaya sengaja menyimpan ponselnya di dalam tas agar perhatiannya tidak teralihkan.


Anaya baru tergerak mengecek ponselnya saat dilihatnya jam di tangannya menunjukkan pukul sembilan. Jam tidurnya Naira. Di layar ponselnya, ia menemukan tujuh panggilan tidak terjawab dari Izzar, dan dua pesan yang mengabarkan Naira sakit dan di bawa ke IGD rumah sakit.


Pesan tersebut langsung membuat Anaya panik. Dengan tangan bergetar ia balas menelefon Izzar. Namun, tidak terjawab. Ia ganti menelefon Mba Kemi, tapi nomornya tidak aktif.


Anaya seketika merasa ditimpa dan dihimpit ratusan ton rasa bersalah karena ini kali kedua ia mengabaikan panggilan Izzar di ponselnya. Apalagi kali ini terkait Naira.

__ADS_1


***


__ADS_2