Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
42 - Mimpi


__ADS_3

Semula, Anaya ragu menceritakan penglihatannya pada Izzar. Namun, rasa heran mendorongnya memberitahukan juga alasannya pindah rumah makan.


"Serius? Mereka berdua?" Izzar tak percaya.


"Iya, beneran!" Anaya meyakinkan.


"Jadi, itu alasan kamu minta pindah?"


Anaya mengangguk.


"Bukan karena ayam woku ini?" Izzar menunjuk piring berisi potongan ayam berbumbu pekat dengan kemangi hijau di hadapannya.


"Bukan." Anaya tersipu menggeleng.


"Kenapa ngga bilang langsung saja tadi?"


"Aku kaget banget lihatnya. Jadi pengen cepat-cepat menjauh aja." Anaya berkilah.


Izzar meneguk minumannya.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Anaya.


"Apa?"


"Mereka berdua?" Anaya tak sabar.


"Biarkan saja. Kita ngga tahu mereka ngapain. Mungkin saja ada bisnis. Misalnya bukan pun, bukan urusan kitalah. Mereka orang-orang dewasa, pasti sudah tahu setiap perbuatan ada resikonya," jawab Izzar santai.


Untung saja Anaya tidak lantas menunjukkan kebersamaan Ridwan dan Sasika tadi. Bisa-bisa Izzar tak mau pindah restoran karena menganggap kebersamaan para mantan mereka tidaklah aneh dan bukanlah urusannya.


Meski Izzar kemudian melarangnya ikut campur, Anaya tak urung penasaran juga. Jika orang lain yang tak ada hubungannya, mungkin ia akan menaati larangan Izzar. Tapi, Ridwan ayah kandung Naira yang saat ini masih berstatus menikah. Sedangkan Sasika adalah mantan tunangan Izzar yang belum lama ini bermasalah dengan perusahaan Anaya.


Keterkaitan tersebut, menumbuhkan kecurigaan di hati Anaya. Namun, ia tidak mencurahkannya pada Izzar.


Dua hari berikutnya, dihabiskan Anaya dengan menata rumahya. Izzar yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, hanya mengantar dan menjemputnya saja, serta mengirimkan dua orang pekerjanya untuk membantu.


Kegiatannya tersebut mengalihkan prasangkanya terhadap Ridwan dan Sasika. Ia baru teringat kembali, ketika menerima pesan foto dari Sandra yang berisi gambar para mantan itu sedang duduk berbincang berlatar tempat restoran di pinggir pantai.


Anaya seketika menghentikan aktivitasnya memandu pemasangan lukisan dinding. Dipintanya kedua pekerja itu beristirahat. Ia memilih memusatkan perhatiannya pada hal lain. Menelefon Sandra.


"Hei! Dari mana kamu dapat gambar itu?" tanya Anaya tanpa berbasa-basi lagi.


"Aku melihat langsung mereka. Tapi mereka tidak melihat aku," jawab Sandra.


"Di mana dan kapan kamu lihat? Ngapain aja mereka? Cuma berdua?" cecar Anaya. Lupa ia dengan larangan Izzar untuk tidak peduli.


"Di Ancol. Aku habis nemenin anak-anak gladi resik di hotel. Mereka minta makan seafood. Ya sudah kuajak kesini. Apesnya kita ternyata, kok bisa-bisanya satu tempat dengan mereka berdua," ungkap Sandra.

__ADS_1


"Kalian masih di sana?"


"Masih. Aku sedang melipir ke pantai. Malas aku ketemu mereka. Mesra banget, Nay! Jijik aku lihatnya!" Sandra setengah beteriak.


"Dua hari yang lalu, aku pun melihat mereka di restoran. Aku bareng Izzar. Tapi, karena aku juga malas, aku ajak Izzar pindah makan di tempat lain." Anaya mengisahkan pengalamannya.


"Oohhh!... Kok aku jadi curiga dan penasaran ya. Kalau begitu..." Sandra memenggal kalimatnya.


"Kalau begitu apa?" Anaya penasaran.


"Kusamperin aja ya. Pura-pura kaget ngga sengaja ketemu mereka gitu!" Sandra mencetuskan idenya.


"Ehmmm..." Anaya bingung mau berkomentar apa.


"Oke, Nay! Kukerjain dulu mereka. Nanti kukabarin!"


"San?!" Anaya kaget. Namun, Sandra sudah mengakhiri percakapan telefonnya.


Anaya menghela nafasnya. Ada rasa khawatir di dadanya, tentang Sandra yang bisa saja bertingkah di luar batas terhadap Ridwan dan Sasika yang memang telah masuk daftar hitamnya.


Tengah Anaya menenangkan dirinya, Izzar datang dengan membawa Naira. Ia cepat menghalau pikirannya tentang keresahannya.


"Mama!" Naira menghampiri Anaya, yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Wow! Rumah kita jadi bagus!" Naira memandang berkeliling terpesona. "Aku mau lihat kamarku!"


"Kok, masih kosong?" tanya Naira heran. "Aku tidur dimana nanti?"


"Tempat tidurnya lagi dipesan. Belum datang," jawab Anaya sambil mengecek ponselnya.


"Jadi, kapan kita pindahnya?"


"Tunggu tempat tidur kita datang. Punya mama juga belum datang."


"Aku sudah ngga sabar mau pindah ke rumah ini lagi, Ma. Bosan aku di rumah yang sekarang." Naira mengungkapkan perasaannya.


Anaya tersenyum. Ia pun merasakan hal yang sama.


"Nanti, kamar ayah yang mana?"


"Barengan sama mamalah," jawab Anaya.


"Ngga boleh!" Naira melarang.


"Kenapa ngga boleh? Kami kan suami isteri, orang tua." Anaya menegaskan.


"Ngga boleh! Ayah itu pacar aku!" Naira membalas lebih keras.

__ADS_1


Anaya ingin mendebat anaknya, tapi Naira sudah berlari ke arah Izzar, mengadukan Anaya dengan menggunakan jurus merajuknya. Ia yakin Izzar akan membelanya.


"Mama nyebelin!" Naira menunjuk Anaya.


Izzar memandang Anaya meminta penjelasan.


"Pacar kecilmu ini terlalu posesif! Kalau pindah nanti, Aku ngga boleh sekamar sama kamu," jelas Anaya.


"Ngga boleh pokoknya!" seru Naira.


Izzar menahan senyumnya. Merepotkan ternyata memiliki dua perempuan yang saling memperebutkannya.


Anaya memanfaatkan kesempatan Izzar membujuk Naira dengan meninggalkan keduanya ke teras belakang. Sudah ada kursi di sana. Ia duduk mengecek ponselnya, Sandra pas menelefon.


Baru ia akan menjawab, Izzar memanggilnya. Anaya berbalik menekan tombol menolak panggilan dan bergegas mendekati Izzar.


"Ada apa?" Anaya mengira persoalan dengan Naira masih berlanjut.


"Ada tamu mau ketemu kamu." Izzar mempersilahkan seorang wanita sebaya Anaya yang berdiri di pintu masuk.


"Eh! Hai!" Anaya menyambut wanita berkerudung itu hangat. Dia adalah Farah, tetangga sekaligus teman sekolah Anaya sedari TK hingga SMP.


"Apa kabar? Lama ya kita ngga ketemu?!" Anaya menarik tangan Farah dan memperkenalkannya pada Izzar.


"Ini Farah. Tetangga di ujung sana. Tapi sejak kuliah pindah ke Makassar."


Izzar tersenyum mengangguk menyalami Farah.


"Iya. Aku sudah dua minggu pulang kesini nengokin mami. Mau ketemu kamu ngga ada. Tadi lewat di sini, kulihat ramai. Kebeneran pas kamu ada. Aku mau balik soalnya lusa," tutur Farah.


Anaya membawanya ke teras belakang, satu-satunya ruang yang nyaman ditempati saat ini.


Lalu, keduanya mengobrol panjang lebar. Mengabaikan segalanya. Dan Anaya sendiri pun lupa dengan Sandra.


Setelah Farah berpamitan, Anaya tidak lagi mendapatkan peluang untuk sendiri. Naira yang kumat manjanya, terus menuntut diperhatikan. Tak ada kesempatan menelefon balik Sandra. Ia hanya bisa mengirimkan pesan singkat bahwa ia akan menghubunginya nanti.


Apalagi, setelah mereka kembali ke rumah kecil Izzar. Ruang yang terbatas membuatnya tak mendapatkan sudut nyaman untuk berbicara bebas di telefon tanpa diketahui Izzar. Setelah Naira tidur, malah ganti Izzar yang meminta perhatiannya.


Anaya memutuskan akan mencari tahu yang akan disampaikan Sandra besok saja. Ia pun kemudian tertidur, terjepit di antara dua orang kesayangannya. Naira yang terlelap pulas, tidak menyadari Izzar tidur memeluk Anaya. Jika tahu, pasti dia sudah berteriak.


Tengah malam, Anaya terjaga dengan nafas memburu. Ia baru saja bermimpi aneh. Anaya mencoba merangkai kembali rekaman di otaknya. Di mimpinya tadi, ia berlari meninggalkan Izzar hingga ia terengah-engah. Meski lelaki itu memanggilnya, ia terus melaju. Sampai akhirnya ia berhenti, lalu berpaling ke belakang. Izzar tidak nampak. Menghilang entah kemana.


Anaya menoleh. Izzar berbaring miring rapat di sisinya. Nafasnya halus teratur.


Apa arti mimpinya tadi? Mengapa ia kabur menjauhi lelaki baik tempatnya bernaung kini?


...***...

__ADS_1


__ADS_2