Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
45 - Terbongkar


__ADS_3

Selama beberapa saat, Anaya dan Pak Arsyad berbincang hal lain yang intinya lebih banyak nasihat dari mantan mertuanya itu. Tentang keluarga, bisnis, dan kesehatan. Anaya mengingat semuanya. Menjelang berpamitan, Pak Arsyad meminta Naira diizinkan menginap minimal seminggu di rumahnya.


"Aku sungguh ingin bersama anak itu, Nay. Sekarang aku punya banyak waktu luang. Biar nanti sekolahnya aku yang antar dan jemput dari sini." Pak Arsyad memohon.


Pandangan penuh harap meluluhkan Anaya. Mana ia tega melihat tatapan mata tua yang tampak lelah itu.


"Ya, ngga apa-apa. Nanti saya kirimkan pakaian dan perlengkapan sekolahnya." Anaya tersenyum.


Anaya meninggalkan pria sepuh tersebut dengan perasaan haru yang memenuhi dadanya. Bagi dirinya yang sudah kehilangan ayah di usia muda, perhatian Pak Asyad kepadanya sangatlah berarti. Meski kadang sifat keras dan wibawanya kadang membuatnya segan.


Saat Anaya baru menapaki carport, sebuah mobil masuk ke halaman yang luas dengan tergesa. Anaya mengenalinya sebagai mobil Ridwan. Lelaki itu keluar dari mobilnya dengan gestur gusar dan wajah marah. Matanya tajam menghujam Anaya yang berjalan lambat menuju mobilnya yang terparkir di sebelah kendaraan mantan suaminya itu.


"Ngapain kamu kesini?" Ridwan bertanya tanpa kesan santun sedikitpun.


"Antar Naira. Ayahmu minta ketemu." Anaya menjawab tenang, berusaha tidak terprovokasi.


"Kenapa ayahku minta ketemu?" Ridwan semakin mendekati Anaya.


"Ayahmu kakeknya Naira. Masa kamu lupa? Wajarlah mereka ketemu." Anaya heran dengan pertanyaan Ridwan.


"Jangan alasan! Sudah jelas ada maksud lain kenapa kalian, terutama kamu kesini!" Lelaki itu mendengus tak puas.


Kesabaran Anaya diuji. Ia mulai tak nyaman dengan kata-kata tendensius Ridwan.


"Ayahmu nelfon aku, minta Naira nginap di sini, karena dia kangen ketemu cucunya. Kalau kamu terus heran juga, kenapa ayahmu bisa kangen, tanya diri kamu sendiri. Kenapa kamu ngga jemput-jemput Naira lagi dan mengajaknya ketemu kakeknya!" suara Anaya pun akhirnya terdengar ketus.


Ridwan tampak tidak berkutik sejenak.


"Sekarang aku yang tanya, kenapa kamu ngga peduli lagi dengan Naira?" Anaya menatap Ridwan.


"Aku sibuk tahu!" Ridwan setengah menggeram.


"Sibuk atau karena sudah tidak berambisi lagi mengambil hak asuh Naira? Kenapa?... Aku tahu tujuanmu mengejar hak asuh Anaya karena menginginkan harta yang dihibahkan ayahmu, kan?" serang Anaya.


Ada rasa terkejut membias di wajah Ridwan.


Anaya mengira Ridwan sudah merasa kalah karena tidak berhasil membuktikan kesalahan atau kekurangan Anaya. Dirinya tidak lagi single parent. Kehidupan masa kecil Naira telah lengkap dengan kehadiran ayah tiri yang menyayanginya.


"Kamu menang Anaya. Aku akui langkahmu lebih cerdas dari aku."


Sambil tersenyum sinis, Ridwan maju selangkah mendekati Anaya. Dalam hati, Anaya mencoba mencerna maksud perkataan Ridwan.

__ADS_1


"Aku sudah tahu akal-akalan kamu dan lelaki yang kamu nikahi itu untuk mengelabui aku. Pernikahan kalian hanya pura-pura. Berapa kamu bayar dia, hah?!"


Anaya sungguh terkejut. Jantungnya berdetak kencang. Darimana Ridwan tahu hal tersebut?


"Bukan urusanmu!" Anaya setengah membentak.


"Memang bukan! Kamu mau menikah lagi dengan siapa memang bukan urusanku. Apapun alasannya."


"Terus, kenapa sekarang kamu kayak orang emosi? Marah-marah bongkar urusanku?" Anaya balik menantang.


Ridwan mengepalkan telapak tangannya.


"Bukan kamu saja yang bisa licik! Aku juga bisa! Apapun akan aku lakukan buat Naira. Aku ngga akan membiarkan kamu merebutnya dari aku hanya demi hartanya. Kamu juga cuma pura-pura perhatian dengannya. Beruntung sekarang dia punya ayah tiri yang tulus sayang sama dia!" tegas Anaya berusaha menyudutkan Ridwan.


Ridwan tertawa bernada melecehkan. Anaya mengatupkan bibirnya.


"Kamu terlalu naif Anaya sampai bisa dibodohi lelaki itu. Atau mungkin karena kamu sudah terlalu dibutakan oleh cinta sampai ngga sadar kalau suamimu itu lebih culas? Tulus apanya? Dia yang pura-pura bersikap baik supaya kamu dan Naira menyukainya. Terbukti sudah kalian berdua terjebak muslihatnya."


Mata Anaya nanar menatap Ridwan. Apa arti perkataannya?


"Kamu dulu memanfaatkan keterpurukannya dengan memberikannya imbalan uang untuk menikahi kamu supaya Naira punya keluarga lengkap. Tapi, kamu ngga tahu kan, dia menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan peluang dengan nilai berlipat-lipat dari yang kamu berikan kepadanya," papar Ridwan.


"Bukan hanya kamu yang dia tipu, tapi ayahku juga. Bisa-bisanya dia memperdaya ayah dengan alasan Naira. Dengan muslihatnya, dia buat ayah merubah wasiat harta untuk Naira. Dengan bujukannya, dia juga berhasil mendapatkan proyek besar!" Wajah Ridwan memerah karena emosinya.


"Dan hari ini, tiba-tiba saja ayahku memberikan setengah saham perusahaannya untuk dia! Memangnya siapa dia? Aku ini anaknya! Aku lebih berhak!"


Resah yang sangat dalam merasuk ke hati Anaya. Benarkah apa yang dikatakan Ridwan?


Meski sangat marah, Ridwan berhasil menahan suaranya tidak sampai berteriak kencang. Posisi mereka berdua jauh dari bangunan utama rumah. Namun, suaranya bisa saja terbawa angin dan sampai ke dalam.


"Kalian tidak jadi bercerai, kan? Itu karena dia telah berhasil membuat kamu jatuh cinta. Dia tidak akan mau berpisah dari kamu, Anaya. Tanpa kamu sadari, kamu dan Naira dijadikan tambang emasnya!" Ridwan tak henti mengungkapkan sisi lain Izzar. Melumatkannya ke dalam benak Anaya.


"Kamu baru tahu sekarang kalau ayahmu memberikan sahamnya ke Izzar?"


"Ya. Aku sendiri ngga percaya ayahku sampai merahasiakannya dari aku. Makanya aku kesini untuk nanya."


"Lalu, dari mana kamu tahu semua hal tadi?" tanya Anaya.


"Aku punya sumber yang bisa dipercaya."


"Sasika?"

__ADS_1


Nama itu begitu saja meluncur dari mulut Anaya, sebab ia teringat kedekatan Ridwan dan perempuan itu belakangan ini.


"Ya. Salah satunya."


"Kalian pacaran?"


"Bukan urusanmu!" ketus Ridwan. "Wanita itu sama saja liciknya dengan Izzar! Dia mendekatiku cuma ingin menjebakku. Aku curiga mereka berdua bekerja sama."


Anaya terdiam. Dia kehilangan kata-kata. Terlalu banyak informasi negatif yang berjejal di pikirannya. Ia masih tak percaya Izzar memanfaatkannya. Dan, Pak Arsyad rasanya terlalu pintar untuk bisa dikelabui atau dihasut.


Setelah merasa tak ada lagi yang perlu ia dengarkan dari Ridwan, Anaya masuk ke dalam mobil dan mengendarainya pulang. Sepanjang perjalanan, seluruh kata-kata Ridwan diresapinya satu-persatu.


Rasa heran muncul. Mengapa Pak Arsyad tadi tidak menceritakan soal pemberian saham? Apa iya Izzar senegatif yang dipaparkan Ridwan. Separuh hati Anaya menolak hal tersebut, namun sebagian yang lain menilai sebaliknya. Jangan-jangan, memang benar Izzar menjebaknya.


Ia mencoba mengingat perilaku yang mencurigakan. Diingatnya lelaki itu memang agak tertutup soal urusan bisnisnya dengan Pak Arsyad. Seperti ada yang disembunyikannya. Salah satunya adalah pertemuan tadi pagi.


Beuh! Anaya sungguh jadi gelisah. Ia harus segera mendapatkan jawaban.


Ditelefonnya Maharani, menanyakan posisi Izzar. Seusai mendapatkan informasi dia masih di kantornya, Anaya membelokkan mobilnya.


Hari menjelang senja dan jam kerja telah usai. Begitu Anaya sampai, Maharani menyambutnya dengan wajah cemas.


Walau heran, Anaya terus melangkah ke pintu ruang Izzar.


"Jangan masuk dulu, Bu!" Maharani mencoba mencegah.


Larangan Maharani tidak menyurutkan Anaya. Dia tetap membuka pintu. Di depan matanya langsung tersaji adegan Sasika yang tengah memeluk Izzar. Ia dapat mendengar jelas suara perempuan itu.


"Selamat, ya!"


Anaya terpana. Sedetik kemudian, ia berlari keluar, menuju mobilnya.


Maharani cuma bisa tertegun menyaksikan reaksi Anaya, teriakan Izzar yang memanggil Anaya, dan Sasika yang berusaha menahan Izzar. Ia menyesal tidak bisa mencegah para wanita itu masuk ke ruang kerja atasannya.


Air mata Anaya berlinang. Kalimat Ridwan terngiang jelas, "Aku curiga mereka berdua bekerjasama."


Mengingat pemandangan di ruangan Izzar tadi, segenap hati Anaya jadi berpihak pada Ridwan. Dia terus mengemudi tak peduli ponselnya berdering-dering.


Anaya tidak kembali ke rumah Izzar.


...***...

__ADS_1


__ADS_2