
Pagi-pagi sekali, Sandra sudah datang di apartemen Anaya. Dia sedang mandi, Mba Kemi sedang mencuci, dan Naira pun masih bermuka kusut dengan piyamanya walau sudah bersantai di sofa menonton televisi.
"Good morning, Naira!" sapa Sandra.
"Morning," sahut Naira lirih. Lesu dan malas.
Sandra sampai merasa harus memegang kening Naira, khawatir gadis kecil itu demam. Sebab, tak biasanya Naira menyambut dirinya datar begitu. Raut wajahnya pun tampak berbeda. Seperti diselimuti muram.
"Kamu kenapa, Sayang?" Sandra duduk di sisi Naira dan memeluknya. Tubuhnya tidak hangat, malah cenderung dingin.
"Ngga apa-apa." Naira meringkuk di pelukan Sandra.
"Pusing?"
Naira menggeleng.
"Sakit perut?"
Naira menggeleng lagi.
"Masih ngantuk?"
Anak itu tetap menjawab dengan gelengan.
"Hmmm... Sedang sedih?"
Baru Naira mengangguk.
“Kenapa?” Sandra semakin melembutkan suaranya.
“Aku lagi kangen berat.”
“Waduh! Seberat apa, sih? Sandra tersenyum.
“Berat banget.” Suara Naira memelas.
"Kangen siapa?" Sandra bertanya, meski dalam hati ia sudah dapat menebak.
"Ayah." Bibir Naira melengkung ke bawah. Air matanya mengembang.
"Sssttt!" Sandra mengeratkan dekapannya. "Jangan nangis!"
Naira menurut. Ia membenamkan wajahnya di dada Sandra. Sandra dapat merasakan kepiluan Naira.
"Kita ke bawah yuk! Jalan-jalan!" ajak Sandra. Sekelebat muncul sebuah gagasan di benaknya.
Tanpa banyak kata, Naira mengikuti saja arahan Sandra untuk mengganti piyamanya. Mba Kemi membantu menyeka mukanya dengan tisu basah.
"Nay! Aku ajak Naira beli sarapan ya, ke bawah!" seru Sandra pada Anaya yang tengah berada di kamar mandi.
"Ya!"
Sandra menggandeng Naira keluar.
Di sebuah kedai kopi, Sandra memesan susu coklat untuk Naira, dan moccachino untuknya. Juga beberapa roti hangat.
Naira menelungkupkan kepalanya di meja menunggu pesanannya tiba. Anak kecil yang biasanya ceriwis ini benar-benar seperti bunga yang layu. Beratnya rindu yang ditanggungnya seakan menghimpitnya. Membuat tak berdaya dan memupuskan semangat.
Sandra menyentuh tangan Naira.
"Kita video call ayah, yuk! Mau?"
Kepala Naira terangkat seketika. Senyumnya terukir penuh harap.
"Mau!"
__ADS_1
"Tapi ini rahasia. Kamu ngga boleh cerita ke mama!"
"Iya! Aku ngga akan cerita!" Naira tidak sabar.
Sandra mengirimkan pesan dulu kepada Izzar, memintanya menerima panggilan videonya agar Naira bisa bicara sambal menatap mukanya. Semenit kemudian, ponsel mereka sudah tersambung.
Naira tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Begitu juga Izzar. Keduanya berebut bicara saling mengungkapkan kerinduannya dan bertukar kabar
Sandra tersenyum. Saat ini, menyaksikan kebahagiaan Naira dan Izzar, rasa takut Anaya akan marah jika mengetahuinya, hilang. Ia tak peduli jika sahabatnya itu mengomelinya nanti.
Keceriaan Naira kembali mewarnai wajahnya. Sandra takjub dengan kedekatan hati mereka berdua. Padahal, tak ada pertalian darah di antara mereka. Namun, ketulusan memang bisa mengalahkan segalanya. Bahkan kentalnya pertalian darah pun bisa terlewati.
Setengah jam, belum juga cukup menuntaskan rindu. Tapi, Sandra memohon Naira dan Izzar mengakhiri percakapan onlinenya. Bersyukur tak perlu bujukan lebih bagi Naira untuk mematuhi. Gadis kecil itu sudah menerima dan sudah cukup puas dengan kesempatan yang diperolehnya.
“Oke, Zar! Nanti kalau ada kesempatan lagi, kalian bisa video call, lagi.” Sandra bersiap mengakhiri panggilan.
“Sebentar! Titipanku waktu itu, sudah disampaikan ke Anaya?” Izzar menyela.
“Belum. Anaya ngga mau terima. Tapi, aku usahakan hari ini dia mau menerimanya,” jawab Sandra.
“Please, jangan lupa.”
“Apa sih isinya? Surat cinta?” goda Sandra.
Izzar tertawa.
“Surat cinta? Cieeee, romantis!” Naira ikut menimpali. Sok tahu.
“Betulkah?” kejar Sandra.
“Bukan! Cuma sesuatu yang mungkin bisa menebus sebagian rasa bersalahku.”
Sandra mengerti. Biarpun, ia malah tambah penasaran jadinya.
Naira mengangguk sambal mengedipkan matanya.
Anaya baru selesai berdandan kala Sandra dan Naira tiba.
“Mama mau kemana?” tanya Naira.
“Ke kantor.”
“Kapan kita pindah rumah? Aku ngga betah di sini.” Naira merengut.
Anaya menoleh ke arah Sandra yang hanya mengangkat bahunya.
“Barang-barang kita belum datang semua. Sabar, ya.”
“Aku ngga mau sabar terus!” Naira mulai merajuk. “Ngga enak tinggal di sini! Aku bosan!”
Anaya menggigit bibirnya. Naira terbiasa tinggal di rumah tapak yang berhalaman, dan memiliki tetangga. Sudah tentu ia tak nyaman tinggal di bangunan yang tinggi dan terkungkung seperti ini. Walaupun memiliki taman bermain, tidaklah semenyenangkan bermain di halaman rumah sendiri.
“Ikut ke kantor aja, yuk!” ajak Sandra. Dikiranya hal tersebut adalah ide yang baik untuk mengatasi kebosanan Naira.
“Yes! Yes! Aku mau itu!” Gadis kecil itu langsung melompat kegirangan.
“Mandi dulu!” seru Sandra.
Naira bergegas berlari ke kamarnya.
Sandra baru menyadari Anaya tidak setuju dengan gagasannya Ketika ditengoknya wajah sahabatnya itu terlihat tak suka.
“Kenapa kamu ajak dia ke kantor?”
“Ngga apa-apa, kan? Biasanya juga dulu dia sering dibawa. Lagian banyak anak-anak kantor nanti yang nemanin main.” Sandra membela dirinya.
__ADS_1
“Masalahnya bukan itu.”
“Apa lagi? Kamu ngga kasihan sama anak itu? Kesepian ngga punya teman di sini? Masa temannya Mba Kemi doang.” Sandra mengingatkan.
“Masalahnya, aku sebenarnya bukan mau pergi ke kantor. Tadi pagi, pengacaranya Ridwan nelfon. Dia katanya pengen ketemu aku.” Anaya melirihkan suaranya.
Sandra terdiam. Anaya menghela nafasnya.
“Ya sudah, nanti bilang saja kamu mau ketemu klien, biar Naira ikut sama aku.”
“Aku ngga niat bawa mobil sendiri.”
“Naik taksi aja. Lagian di sana pun parkir susah. Atau kamu ikut aku ke kantor dulu dan nanti diantar Oji.”
“Aku naik taksi ajalah.”
Anaya memasukkan dompet ke dalam tasnya yang diletakkan di meja sofa. Tak lupa juga vitamin dan obat mualnya.
“Kemarin, waktu kamu nengokin pacarmu, kamu ketemu dengan Ridwan?” Anaya duduk di dekat Sandra, dan membuka bungkusan roti yang dibawanya.
“Bukan pacar! Jangan bikin gosip.” Sandra mengelak.
Anaya tersenyum menggigit sepotong roti kayu manis.
“Aku ngga ketemu Ridwan. Mereka kan terpisah sel. Tapi, kudengar pengacara mereka sedang mengupayakan penangguhan penahanan, supaya mereka tidak ditahan.”
“Apa yang kalian bicarakan kemarin?”
“Ya, aku kan pernah cerita dia berharap banget bisa nikahin aku. Aku dianggapnya orang yang paling mengerti dia. Intinya sih, dia cuma pengen ketemu aku, minta maaf atas perbuatannya, dan berharap perasaanku ngga berubah,” tutur Sandra.
“Tanggapan kamu apa?”
“Aku ngga nanggapin apa-apa. Soalnya, aku kan memang ngga punya perasaan apapun ke dia.” Sandra tertawa.
“Perbuatan yang dituduhkan kepada mereka, apa benar?” tanya Anaya.
“Dia ngga mau jawab. Tapi, aku cari-cari tahu kemarin, infonya sih memang benar… Bodohnya, dia mau saja diajak-ajak Ridwan. Untung saja aku ngga naksir dia.”
“Menurutku, dari awal dia sudah kelihatan integritasnya ngga baik. Soalnya, gampang banget bercerita ke kamu tentang hal-hal yang menjadi rahasia hubungan klien dan pengacaranya.” Anaya menilai.
“Ya, begitulah!” Sandra menjawab sambil lalu.
Ia membuka tasnya dan menyodorkan amplop titipan Izzar kepada Anaya.
“Apa?” Anaya heran.
“Dari Izzar.”
“Ngga, ah!” Anaya menolak.
“Nay, aku cuma nyampaikan amanah. Nanti dosa aku, kalau ngga disampaikan ke kamu.” Sandra membujuk.
“Suruh siapa mau dititipin segala?” ketus Anaya.
Tangan Sandra melunglai. Sebal benar ia dengan Anaya.
Tak lama kemudian, Naira sudah rapi. Mba Kemi juga telah menyiapkan beberapa baju ganti, dan mainan di dalam tasnya.
“Sebentar, mama ke kamar mandi dulu!”
Melihat Anaya pergi, Sandra bertindak cepat memasukkan amplop Izzar ke dalam tas Anaya. Diselipkannya di antara dompet dan buku catatannya.
Ia pun tersenyum lega setelah misinya selesai tanpa terpergok. Tak perlulah Izzar tahu cara ia menyampaikan suratnya. Yang penting benda itu sudah lepas darinya dan akan berada di tangan Anaya kelak jika ia membuka tasnya. Ia hanya berharap, Anaya tidak membuangnya nanti.
...***...
__ADS_1