
Meski sebenarnya Anaya tahu, Sasikalah yang mendatangi Izzar, ia tetap saja jengkel. Ia memperhatikan Izzar dengan tatapan menusuk. Namun, saat Izzar menatapnya balik dengan sorot mata tak gentar merasa tak bersalah, Anaya surut juga.
Izzar berdiri di sebelah Anaya tanpa berucap sepatah kata. Anaya yang masih panas hatinya, tak bisa menahan dirinya.
"Kenapa ditinggal? Kasihan, padahal mungkin dia lagi kangen." Anaya berbisik. Memancing emosi Izzar.
Izzar menoleh. Ditatapnya wajah Anaya yang bersemu memerah terkena matahari walau udara sejuk. Ia tak nyaman dengan situasi yang harus dihadapin namun tidak diinginkannya. Berada di satu lokasi yang sama dengan Sasika, yang memaksa ingin mendekatinya lagi dan Anaya yang entah berperasaan apa kepadanya, membuat kesabarannya terkikis.
Didekatkannya bibirnya ke telinga Anaya.
"Aku ninggalin perempuan itu, yang aku juga ngga tahu kenapa tiba-tiba ada di sini, karena ngga mau ada masalah yang merugikan kamu. Apalagi disini banyak keluargamu. Tapi, kalau kamu kepengen aku ngobrol dan nemanin dia, ngobatin kangennya, it's oke! Aku balik lagi kesana!" Izzar berkata halus tapi tegas. Ia bersiap membalikkan badannya.
Anaya cepat menahan langkah Izzar dengan memegangi lengannya. Kepalanya menggeleng.
Izzar melunak. Ia tak tahan melihat sesal di mata Anaya. Ia tahu, wanita keras kepala di sampingnya ini kadang harus ditegasi agar keangkuhannya tidak terus mendominasi.
Keduanya lantas berdiri bersisian, namun saling tak bicara lagi. Keduanya tenggelam dalam kegundahannya masing-masing.
"Oke! Sekarang adalah permainan selanjutnya permainan memindahkan balon, berpasangan, tanpa boleh memegang atau menyentuh dengan tangan!" seru Yanne.
Anaya mencari celah untuk beranjak menyepi. Mendadak ia ingin sendiri saat ini. Sikap keras Izzar barusan, sedikit mengoyak egonya. Tetapi, tiba-tiba, entah dari mana, Randi mendorong Anaya dan Izzar ke tengah arena permainan.
"Hei! Aku ngga ikutan!" Anaya berusaha menghindar.
Namun Randi tak mau dibantah.
"Bersikap mesra sama suamimu kalau ngga mau dia didekatin perempuan lain!" bisik Randi pelan tapi agak galak.
Perkataan Randi membuat Anaya tertegun. Rupanya Randi memperhatikan yang telah terjadi.
Anaya dan Izzar serta semua pasangan yang ikut serta dalam permainan diminta berdiri berhadapan. Seseorang memberikan balon yang harus disangga badan keduanya tanpa boleh menggunakan tangan, lalu dibawa hingga ke titik akhir yang telah ditentukan tanpa diperkenankan menjatuhkannya.
__ADS_1
Di tengah keramaian, rasa canggung sesaat masih menguasai hati Anaya. Demikian juga Izzar. Mereka saling tatap. Peringatan Randi kembali terngiang, dan mulai terasa lucu di benak Anaya. Senyum merekah di bibirnya, mengundang Izzar tersenyum juga. Akhirnya kecanggungan yang menyekat mereka lenyap.
Seolah ketagihan, keduanya larut menikmati permainan tersebut dan juga games lainnya. Keduanya tertawa lepas. Anaya tidak ragu meski mau tak mau ia dan Izzar harus bersentuhan fisik. Dan entah siapa yang mengomandani, Yanne yang memandu permainan dan tim kerja Dian seperti tidak memberikan kesempatan pada Sasika untuk turut serta.
Acara berakhir menjelang sore, tamu-tamu bergegas pulang, sebab langit telah digelayuti awan-awan hujan tebal. Anaya mendampingi Tante Tania menerima salam pamitan. Kepada keluarga dan kerabat Sarah, Tante Tania memperkenalkan Anaya sebagai pemilik *event organizer *yang mengatur pernikahan Sarah dan Randi, sekaligus mempromosikan agar menggunakan jasanya.
Anaya hanya tertawa menanggapi perlakuan tantenya. Ia tak keberatan dengan keceriwisan tantenya kali ini. Ia terus menebarkan senyum dan mengucapkan terima kasih sambil menyalami satu-satu. Semua bersikap ramah, kecuali seorang wanita yang hari ini menjadi momok yang berusaha dihindari olehnya dan Izzar.
Sasika hanya memberikan salam dengan ujung jarinya. Anaya spontan menjaga jarak, walau berhasil tetap tersenyum. Wajah Sasika datar dengan mata yang sama sekali tidak ramah. Tampak jelas aura ketidaksukaan di sikapnya.
Namun, dasar Anaya, yang kadang malah berlaku berani jika ditantang. Ia malah menunjukkan keramahan yang lebih kepada Sasika.
"Terima kasih ya kehadirannya!" ucap Anaya. Kemudian berpaling ke tamu yang lain, tak peduli dan menganggap tak berarti sikap Sasika yang seperti kucing hendak memamerkan taringnya. Ia membiarkan keinginan Sasika mengintimidasinya tidak terpuaskan.
Akan tetapi, Anaya tampaknya terlalu percaya diri. Kedekatannya dengan Izzar yang tak tersekat sebelumnya membuatnya lengah. Kenekatan terakhir Sasika di acara itu luput dari pengamatannya. Ia terlalu berkonsentrasi menyalami tamu terakhir, ketika Tante Tania mengguncang lengannya dan menunjuk ke bagian area parkir.
Di sana tampak Izzar yang sedang dipeluk Sasika. Padahal, Izzar tengah berdiri di samping Om Erik.
"Eh! Siapa itu yang peluk-peluk suamimu?!" Tante Tania memekik kaget.
"Siapa, Nay? Keluarganya Sarah? Mereka saling kenal?" Tante Tania bertanya beruntun saking penasarannya.
Sungguh Anaya tidak tahu harus bagaimana menjawab semua pertanyaan tantenya.
"Kamu ngga marah?" tanya Tante Tania. "Ngga sopan perempuan seperti itu!"
"Nanti saya marahi Izzarnya, Tante. Sudah Tante tenang saja," ujar Anaya sambil tersenyum meski hatinya memanas.
"Tante mau tanya Sarah, siapa dia itu." Tante Tania memanggil Sarah.
Anaya tidak mencegahnya. Namun, ia diam-diam beranjak pergi, menjauhi tantenya. Ia memilih menemui Dian dan anak buah lainnya dan membantu mereka berkemas. Ia sengaja mengalihkan perhatiannya melupakan peristiwa tadi dan juga Izzar yang setia menungguinya sambil berbicara dengan penjaga dan pengurus vilanya di teras samping.
__ADS_1
Randi, Sarah dan keluarga intinya telah meninggalkan vila. Selesai memberikan apresiasi kepada anak buahnya. Anaya pun bersiap kembali ke hotel. Ia bimbang antara menginap lagi ataukah pulang ke rumah. Sebab, Naira pun masih bersama Ridwan hingga besok.
"Mau ke hotel sekarang?" tanya Izzar seusai Anaya mengucapkan terima kasih kepada penjaga dan pengurus vila.
Anaya mengangguk. Rasa kesal yang ditahannya akibat menyaksikan pelukan Sasika tadi membuatnya enggan bicara. Sepanjang perjalanan ia menutup rapat mulutnya.
"Kamu mau menginap atau pulang?" tanya Izzar. Berkali-kali ia melirik Anaya di sela konsentrasinya mengemudi di jalan yang berliku.
Bibir Anaya kian terkatup rapat.
"Anaya?"
Bukannya menjawab, Anaya malah memalingkan wajahnya ke jendela. Ia serupa Naira saat sedang ngambek.
Akhirnya, Izzar memilih diam juga. Ia merasa pasti, sikap Anaya yang kembali mengabaikannya disebabkan melihat pelukan Sasika yang diterimanya saat gadis itu akan pulang tadi dengan dalih berpamitan. Ia tidak menyalahkan Anaya. Ia pun sebenarnya jengkel dengan perbuatan Sasika yang teramat berani. Untung saja Om Erik yang menyaksikan, sesudah dijelaskan singkat langsung mengerti dan tidak menghakiminya.
Izzar jadi lelah menghadapi Anaya. Jika saja perempuan di sebelahnya ini jujur dengan perasaannya kepadanya, semua pasti akan lebih mudah. Tapi, Anaya selalu menyekat dirinya dengan komitmen perjanjian mereka. Tapi, tiap ada yang tak berkenan di hatinya, ia lantas mengasingkan diri. Izzar sungguh tak tahan lagi. Ia memutuskan akan segera mengakhiri kondisi yang berulang muncul dan membuatnya tak nyaman.
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di hotel. Izzar sengaja langsung memarkir mobilnya di area parkir ketimbang menurunkan Anaya di pintu lobby terlebih dahulu. Ia khawatir Anaya akan meninggalkannya, sementara ia tidak tahu nomor kamar Anaya.
Izzar mengikuti langkah Anaya. Melintasi lobby menuju lift.
"Aku belum pesan kamar untuk kamu." Anaya saat menunggu pintu lift terbuka. Ia kembali membatasi interaksi mereka dengan dalih isi kesepakatan kontrak mereka.
"Aku ngga akan menginap. Tapi, kita harus bicara dulu."
"Bicara apa sih? Aku capek!" Anaya mencoba mengelak.
"Aku juga capek, Anaya! Aku bosan menghadapi sikap kamu yang selalu kayak anak kecil begini? Tukang ngambek. Melebihi Naira!" balas Izzar dengan nada marah yang tak lagi tertahan.
Anaya tertegun. Belum pernah Izzar bicara sedemikian keras kepadanya. Lelaki ini sepertinya, sudah kehilangan sebagian kesabarannya.
__ADS_1
Mendadak, Anaya takut.
...***...