Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
13 - Tante Julid


__ADS_3

Tristan masih mencoba terus mendekati Anaya. Meski sudah membuka hatinya, Anaya menahan diri untuk tidak menemuinya hanya berdua saja. Ia mencegah jangan sampai terlihat lagi dengan orang yang mengenalinya, terutama Ridwan. Anaya tahu, Ridwan sangat ingin menemukan celah untuk menjatuhkan citranya.


Hubungannya dengan Izzar membaik. Kecanggungan mulai memudar meski Anaya tetap membentangkan jarak tak terlihat di hatinya. Anaya sudah tak keberatan memasak juga untuk Izzar, sebab lelaki itu pun tak pelit membelikan makanan untuk seisi rumah.


Hari Kamis malam, saat Anaya baru tiba di rumah, Izzar menyampaikan undangan mamanya yang akan merayakan ulang tahunnya di vila keluarga di daerah Megamendung. Mama Izzar mengundang kedua adiknya beserta keponakan-keponakannya, dan tentu saja Izzar dan Anaya.


“Biasanya kita berangkat Jum’at siang, dan kembali hari Minggu. Cuma kumpul-kumpul dan makan-makan saja, sih,” ujar Izzar.


Kening Anaya mengernyit. Di benaknya langsung terbayang pertemuan keluarga yang penuh basa-basi dan juga pergunjingan. Dua hal yang tidak terlalu disukainya. Lagipula, untuk apa ia mendekatkan diri dengan keluarga besar Izzar?


“Hmm… aku ngga wajib ikut kan?”


“Tapi saudara-saudaraku kaget pas tahu aku sudah menikah. Dan, mereka ingin ketemu dan kenalan denganmu.” Izzar menjawab santai. Polos.


Mata Anaya membelalak. “Kamu lupa pernikahan kita ini cuma pura-pura?”


“Aku ingat! Aku tahu! Tapi mereka kan ngga tahu, dan ngga perlu tahu juga kalau kita hanya bersandiwara… Atau kamu tak masalah bila mereka tahu?”


Anaya meletakkan kepalanya di sandaran sofa. Ia memejamkan matanya. Kepalanya mumet. Semula ia mengira hanya cukup memainkan sandiwara pernikahannya di depan Ridwan saja. Tetapi sekarang, semakin banyak dan luas audiensnya.


“Anaya?” Izzar memanggil lembut.


“Aku ngga bisa, Zar!” Anaya beranjak dari duduknya. “Kalau ditanya, bilang saja aku lagi ada event.”


Izzar menatap kepergian Anaya dari hadapannya. Walaupun Nada suara Anaya tak pernah lagi ketus, tetap saja sinar kecewa menyemburat di wajah Izzar.


Pagi-pagi keesokan harinya, Anaya terbangun oleh deringan ponselnya. Ia langsung terjaga penuh melihat nama Ridwan terpampang di layarnya.


“Halo?” Anaya menyapa dengan suara serak.


“Aku mau ke Bandung hari ini sampai Minggu… bisa aku ajak Naira?” tanya Ridwan tanpa basa-basi.


Anaya kaget mendengar permintaan tiba-tiba Ridwan seperti itu.


“Kenapa mendadak?”


“Memangnya kenapa?” Nada suara Ridwan mengeras.


“Kami mau ke Megamendung. Ada acara keluarganya Izzar. Pagi ini kami berangkat,” jawab Anaya.


Rasa enggan menyerahkan Naira untuk dibawa pergi jauh dan lebih dari sehari oleh Ridwan, mendorongnya mengambil wacana undangan mama Izzar sebagai alasan.


“Aku ayah kandungnya Naira loh, Nay!” Ridwan terdengar kesal.


“Aku ngga pernah bilang bukan. Tapi, sesuai perjanjian kita soal hak asuh, kalau mau ajak Naira kamu harus kasih tahu jauh-jauh hari! Jangan dadakan dan di saat aku sudah menjanjikan akan mengajaknya liburan ke tempat lain!”

__ADS_1


“Ngga usah cari-cari alasan!” Ridwan memutuskan telefonnya.


Anaya tersentak. Namun, ia mencoba tak peduli.


“Mama!”


Suara Naira menyadarkan bahwa anak itu masih terbaring di sampingnya, terbungkus selimut.


“Ya?” Anaya memeluknya.


“Siapa tadi yang telefon?”


“Papa.”


“Oh!” Naira menggembungkan pipinya. “Pagi ini, kita mau liburan ke Megamendung sama Ayah Izzar?’


Anaya mendesah. Rupanya Naira mendengarkan percakapannya dengan Ridwan tadi.


“Ngga, kita ngga kemana-mana.”


“Kok, Mama bohong? Tadi, aku dengar Mama bilang ke papa : kami mau ke Megamendung karena ada acara keluarganya Izzar?”


Duh! Anaya menyesal. Anak kecil ini terlalu pintar untuk dibohongi.


“Nanti, kalau papa tahu Mama bohong, papa marah loh! Mama juga dosa!”


“Ma?” Naira menatap Anaya dengan mata besar beningnya.


Anaya terjebak dalam dilema yang pekat rasanya. Di antara pertarungan nurani yang selalu mengajari kejujuran kepada Naira, dan egonya yang mencari kenyamanan dengan tak melibatkan diri dengan keluarga Izzar.


“Mama cantik, kenapa kok bengong?” Naira mengusap pipi Anaya. “Jadikah kita liburan sama Ayah Izzar?”


Anaya menghela nafas sebelum mengangguk. Naira tersenyum lebar.


“Yeay!” Anak itu mencium pipi Anaya, melempar selimutnya, lalu berlari keluar kamar. Anaya paham ia akan mencari siapa untuk berbagi keriangannya.


Anaya menutupi kepalanya dengan bantal, dan berteriak kencang meluapkan kekesalannya.


Izzar yang semula heran dengan perubahan keputusan Anaya menjadi maklum setelah Anaya menceritakan penyebabnya. Mau tak mau mereka jadi berangkat pagi sesuai dengan perkataan Anaya kepada Ridwan. Anaya takut Ridwan memata-matainya.


Meski berangkat pagi, mereka tetap tiba sore hari, karena Izzar harus mampir dulu ke Sentul untuk mengecek proyek pembangunan restoran yang digarapnya, dan Anaya juga mesti menengok pekerjaan anak buahnya menangani event rapat kerja akbar sebuah instansi di Bogor.


Anaya terkagum melihat vila keluarga Izzar. Bangunan berlantai dua tersebut terletak di tengah tanah yang luas dengan lanskap mengikuti kontur tanah yang melandai di depan, dan meninggi ke belakang. Area parkir terletak di bagian bawah setelah gerbang masuk, disambung dengan hamparan rumput hampir seluas dua kali lapangan futsal dengan tanaman-tanaman khas pengunungan. Kolam renang menyambut di serambi dengan jejeran kursi-kursi santai.


Bangunan vila didominasi warna putih dengan ruang keluarga yang luas dan interior yang hangat. Ada 4 kamar tidur di lantai bawah dan tiga kamar tidur di lantai dua, serta taman rooftop dengan pemandangan lereng-lereng bukit yang menakjubkan. Banyak sudut-sudut yang instagramable di tempat ini.

__ADS_1


Anaya dapat membayangkan romantisnya private wedding jika dilaksanakan di halamannya.


“Siapa yang disain?” tanya Anaya.


Izzar menunjuk dadanya. “Dulu ngga begini, baru enam tahun yang lalu kurehab. Vila ini dulu yang bangun kakekku.”


Anaya terpukau. Ia menyukai selera dan gaya Izzar menata vilanya.


Mama Izzar yang sudah sejak siang tiba, dengan diantar sopir dan ditemani asisten rumah tangganya, memekik gembira melihat kehadiran ketiganya. Wanita periang itu mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan bawaan cake dan aneka roti yang dibeli Anaya di perjalanan tadi.


Kemudian ia mengenalkan Anaya dan Naira pada saudara-saudaranya yang sudah duluan tiba.


Izzar menunjukkan kamar mereka di lantai bawah. Anaya langsung resah melihat satu tempat tidur ukuran double di dalamnya.


“Tenang! Aku nanti tidur di bawah dengan matras.”


Keresahan Anaya sekejap lenyap.


Makan malam, berlangsung meriah. Naira sangat senang dan langsung berteman dengan anak-anak dari para sepupu Izzar. Semua bersikap sopan pada Anaya. Entah karena pada dasarnya baik, atau karena mereka menghormati mama Izzar sebagai yang tertua di keluarga mereka.


Kala Naira mulai mengantuk, mama Izzar menyuruh Anaya menidurkannya di kamar. Betapa leganya ia diberikan jalan menjauhi keriuhan. Tak lama setelah Naira terlelap, Anaya pun tertidur.


Lewat tengah malam, Anaya terbangun karena Naira terjaga dan meminta minum. Saat hendak turun, Anaya terkejut melihat Izzar tidur di atas matras di bawah tempat tidurnya. Sejenak Anaya memandanginya. Lelaki ini benar-benar memegang kukuh janjinya.


Dengan menghaluskan langkahnya, Anaya keluar kamar menuju dapur. Suasana vila terasa tenang. Pintu-pintu kamar tertutup, kecuali salah satu pintu di sebelah kamar Anaya. Masih terdengar suara berbincang di dalamnya.


Setelah mengambil segelas air, Anaya berjalan kembali dengan semakin mensenyapkan gerakannya. Namun, percakapan di kamar yang pintunya terbuka menarik perhatiannya.


Dari dalam kamar terdengar obrolan dua orang perempuan yang dari suaranya Anaya mengenalinya sebagai tante-tante Izzar.


Keduanya saling mempertanyakan keputusan Izzar menikahi Anaya yang merupakan janda dengan satu anak secara diam-diam. Serta membandingkan Anaya dengan Sasika, mantan tunangan Izzar, yang menurut mereka lebih cantik dan lebih baik.


“Jangan-jangan si Anaya itu sudah hamil duluan,” ucap salah satu dari tante Izzar itu.


Deg! Sakit hati Anaya mendengarnya. Kakinya gemetar dan dadanya sesak. Ia segera kembali ke kamar dan menutup pintunya agak keras hingga Izzar terbangun. Anaya berharap penghuni kamar sebelah yang sedang membicarakan dirinya juga kaget.


“Dari mana?” Izzar bertanya dengan mata setengah terpicing.


“Ambil minum.” Anaya bergegas membangunkan Naira dan meminumkan air yang dimintanya. Setelah beberapa teguk, Naira kembali tidur.


Anaya meletakkan gelasnya di atas nakas. Ia belum bisa menguasai letupan emosi yang memicu genangan air matanya.


“Kamu kenapa?” Izzar heran dengan raut gelisah di sikap Anaya.


“Ngga apa-apa!” Anaya menenggelamkan wajahnya di bantal.

__ADS_1


Air matanya menitik. Ia terluka


...***...


__ADS_2