
Sebenarnya, malam belum lama menjelang. Namun, hati dan jiwa yang damai membuai Anaya dan Izzar terlelap.
Tengah malam, Izzar terjaga. Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari dirinya sepenuhnya. Ia sempat terkejut dengan keberadaan Anaya yang meringkuk di sisinya, sebelum mengingat jelas apa yang telah terjadi.
Ditatapnya wajah tenang Anaya dan irama halus nafasnya. Perempuan keras kepala ini yang kelakuannya kerap membuatnya pening, akhirnya bisa pasrah juga di pelukannya.
Tengah Izzar meresapi perasaannya, Anaya bergerak dan membuka matanya.
"Hai!" sapa Izzar.
"Hai!" Anaya tersenyum. "Katanya kamu ngga mau nginap? Kenapa jadi tidur di sini?"
"Kan kamu yang ngelarang aku pergi." Izzar membalas
Anaya tersipu. Ditutupinya wajahnya dengan selimut, menyembunyikan rasa malu dan bahagia yang tak mampu ia ingkari.
"Anaya." Izzar menarik ujung kain yang menyelubungi kepala Anaya.
"Ya?"
"Kamu ngga marah?"
"Marah kenapa?" Anaya balik bertanya.
"Kita sudah melanggar perjanjian kontrak yang kamu buat. Kan kita dilarang melakukan hubungan suami isteri." Izzar mengingatkan sambil membelai pipi Anaya.
"Hmm... Nanti aku cek dulu sanksinya apa."
"Berapa lama lagi kontrak kita?" tanya Izzar.
"Hmmm. Enam bulan lagi," jawab Anaya.
"Jika nanti kontraknya habis, nasib kita bagaimana?"
"Kalau menurut perjanjian ya kita pisah." Suara Anaya lirih.
Mata Anaya dan Izzar saling bertatap. Saat ini, hal tersebut sama sekali tidak diinginkan oleh keduanya. Anaya menggigit bibirnya. Sungguh ia tak bisa membayangkan bagaimana cara mematuhi perjanjian yang telah mereka sepakati. Ia tak akan sanggup berjauhan dari lelaki di dekatnya ini.
"Kalau aku ngga mau pisah bagaimana?" tanya Izzar.
"Berarti sudah ada 2 pasal perjanjian yang kamu langgar."
Keduanya tertawa. Mata mereka tak puas saling memandang. Perlahan ujung jari Izzar menyentuh kening Anaya, kemudian bergerak menelusuri hidung, pipi, dagu dan berhenti di bibirnya.
"Aku sungguh ngga mau kita berpisah? " Izzar berbisik.
Ribuan bunga bermekaran di dada Anaya. Izzar merapatkan tubuhnya.
"Mau aku melanggar kontrak lagi?" tanya Izzar sebelum mencium bibir Anaya dalam.
Anaya mendesah. Ia menjawab pertanyaan Izzar dengan membalas hangat ciumannya.
Keduanya kembali terhanyut dan tenggelam dalam gelombang hasrat yang seolah tak bertepi.
***
__ADS_1
Pagi-pagi, Anaya terjaga oleh deringan dan getaran ponselnya. Randi menelefon, memberitahu orang tuanya dan kerabat yang lainnya akan meninggalkan hotel setelah sarapan. Jadi ia pun ditunggu untuk makan pagi bersama. Sebab, entah kapan lagi mereka akan bertemu bersama-sama lagi, terutama dengan Anaya.
Izzar sudah rapi dengan celana jeans dan kaus polo hitam. Anaya memandanginya heran.
"Memangnya kamu bawa baju semalam?" tanya Anaya. Seingatnya, Izzar tidak membawa tas pakaian semalam.
"Ada di mobil. Tadi aku turun ambil," jawab Izzar.
Anaya menyibakkan selimut dan bergegas ke kamar mandi. Saat mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, Anaya terpukau menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia merasa ada yang berbeda di wajahnya, di penampilan dirinya.
Ia bolak-balik memiringkan wajahnya. Mencari sesuatu yang membuatnya tampak lain. Hidungnya, pipi, bibir, dagu, rambutnya, tak ada yang berubah. Setelah beberapa saat ia memutuskan, mungkin hatinya yang sedang serupa taman bungalah yang membuat auranya lebih bersinar.
Di restoran sudah berkumpul sebagian keluarga besarnya. Mereka menikmati sarapan sambil berbincang akrab. Om Erik seperti kemarin, meminta Izzar dan Anaya duduk semeja dengannya.
Selesai makan, mereka saling berpamitan. Om Erik mendekap Anaya.
"Kamu bahagia kan? Ngga ada masalah dengan suamimu?"
Anaya menggeleng cepat. Ia maklum Om Erik bertanya demikian. Pasti karena peristiwa Sasika kemarin.
"Izzar lekaki baik, Anaya. Percaya saja padanya, oke!" bisik Om Erik.
"Oke!" Anaya tersenyum.
Setelah acara perpisahan selesai. Izzar mengajak Anaya kembali ke kamar. Ketika baru saja keluar lift, Mba Kemi menelefon memberi tahu bahwa ia dan Naira sudah kembali ke rumah.
"Pagi-pagi sudah diantar pulang?" tanya Anaya heran.
"Naira minta pulang. Badannya agak panas."
"Ibu cepat pulang saja, ya. Nairanya sekarang sedang tidur." Mba Kemi seperti enggan menjawab yang sebenarnya.
Rasa heran melanda Anaya.
"Kalian diantar tadi?"
"Ngga, Bu. Tadi kami naik taksi."
"Kenapa bukan papanya yang antar pulang?" Anaya bertambah curiga.
Di seberang sana, Mba Kemi bingung menjawab. Izzar menenangkan Anaya dan mengajaknya segera berkemas dan pulang.
Di perjalanan, Anaya menelefon Randi berkali-kali untuk mencari tahu alasan Naira dan Mba Kemi tidak diantarnya pulang. Namun, panggilannya tak juga dijawab. Anaya jadi kesal sendiri.
"Sudahlah... Nanti juga dia akan balas telefonmu. Mungkin dia sedang sibuk sekarang," ujar Izzar.
"Sibuk apa dia, sampai membiarkan anaknya pulang sendiri!" Anaya tak yakin.
"Pasti ada alasannya kenapa Mba Kemi dan Naira pulang sendiri. Tapi, jangan panik begitu."
Anaya memejamkan matanya. Ia sungguh berharap bisa bisa berteleportasi, tiba di tujuan hanya dalam hitungan detik. Tapi, dunia ini bukanlah cerita fiksi. Ia harus menunggu satu setengah jam untuk sampai di rumahnya. Ia bergegas melompat, meskipun mobil belum berhenti sempurna.
Naira terbangun mendengar suara Anaya. Anak kecil itu langsung memeluk mamanya.
"Mama!" tangis Naira pecah.
__ADS_1
"Ssshh! Iya Sayang, mama di sini." Anaya mendekap tubuh mungil puterinya. Dibiarkannya Naira menangis melampiaskan perasaannya.
Izzar mengetuk pintu kamar dan bergabung demgam keduanya. Seketika tangis Naira terhenti ia beralih menghambur ke pangkuan ayah tirinya.
"Aku ngga mau diajak menginap di rumah papa lagi!" kata Naira. "Papa orang jahat!"
Anaya kaget mendengat perkataan Naira. Ia menatap Izzar yang tampak tenang saja membelai rambut Naira.
"Kamu diapakan sama papa, Nak?" tanya Anaya resah.
"Papa marah teriak-teriakin bunda. Bunda juga teriak-teriak. Aku takut." Bunda adalah panggilan Naira untuk isteri Ridwan.
Hati Anaya pedih. Dulu bila ia bertengkar dengan Ridwan, ia selalu menjauhkan Naira agar tidak sampai mendengarnya. Anaya tak mau Naira terluka batinnya menyaksikan pertikaiannya orang tuanya, apalagi menimbulkan trauma seperti ini.
"Tapi, Nak... Papa marah ke kamu juga ngga?" tanya Anaya.
"Iya. Aku diteriakin juga, 'diam kamu! Dasar anak ngga berguna!'" tutur Naira dengan ekspresi polosnya.
Anaya terperangah. Tega-teganya Ridwan mengatai anaknya seperti itu.
Izzar pun sebenarnya kaget. Namun ia bisa mengendalikan dirinya. Diciumnya kening Naira lembut.
"Ayah, memang aku anak ngga berguna?" Naira menatap Izzar.
"Nggalah. You are precious. Artinya kamu berharga. Banyak yang sayang sama kamu." Izzar berusaha mengembalikan rasa percaya diri Naira.
Anaya beranjak turun dari tempat tidur. Ia geram pada Ridwan. Lelaki itulah yang tak berguna.
"Mau kemana?" tanya Izzar pada Anaya.
"Mau telefon Ridwan!" jawab Anaya sambil berjalan krluar kamar mencari ponselnya.
"Anaya!" Izzar berseru menahannya. Digelengkannya kepalanya, memberi isyarat melarang Anaya melakukan niatnya. Semula, Anaya ingin membantah. Namun, sorot mata tajam Izzar menyurutkan niatnya.
Lima belas menit kemudian, Naira sudah kembali ceria dan sedang menonton film kartun di TV. Izzar duduk di meja makan menghadapi laptopnya.
"Kenapa aku ngga boleh telefon Ridwan tadi?" tanya Anaya berbisik, sambil meletakkan secangkir teh di meja.
"Ngga perlu." Izzar menjawab nyaris tanpa suara.
"Tapi, kekerasan verbalnya ke Naira itu kan bisa jadi alasan aku buat menekan Ridwan supaya ngga lagi mengancam akan merebut hak asuh Naira," sanggah Anaya tetap dengan suara bisikan.
"Setelah komitmenku semalam, kamu masih takut dengan tuntutan Ridwan?... Kalau begitu, pasal perjanjian mana lagi yang harus aku langgar?" Izzar menatap Anaya.
Anaya tertawa. Ia berdiri dan memeluk bahu Izzar dari belakang. Izzar benar, untuk apa lagi ia mengkhawatirkan rencana gugatan Ridwan. Sebab, ia sudah memberikan keluarga yang lengkap untuk Naira.
Dalam hati, Izzar menduga, kemarahan Ridwan yang diceritakan Naira tadi adalah reaksi atas keputusan ayahnya membatalkan rencana penyerahan warisan Naira ke pemegang hak asuhnya. Tidak ke Anaya, tidak juga ke Ridwan. Seperti yang disampaikan Pak Arsyad di waktu lalu.
Mungkin, ketetapan Pak Arsyad tersebut sudah diinformasikan kepada Ridwan mengingat kondisi kesehatannya. Sebab, dua hari yang lalu pun Izzar sudah diminta menandatangani perjanjian yang melarangnya mengusik harta warisan Naira.
Tidak hanya itu, Pak Arsyad juga sudah memberikan kesempatan kepadanya mengajukan proposal proyek pembangunan kawasan superblok yang dijanjikannya.
Sesungguhnya, Izzar sangat ingin membagi sebagian berita tersebut kepada Anaya. Namun, ia terikat ikrar, untuk merahasiakannya dari Anaya. Dan menyimpan rahasia setelah ia berhasil menaklukkan wanita yang telah mengisi kekosongan hatinya itu, sangatlah menyiksa nuraninya.
***
__ADS_1