
Kondisi Naira lekas membaik. Kehadiran Anaya yang sengaja tidak ke kantor untuk merawatnya, mempercepat kesembuhan Naira. Ditambah lagi dengan perhatian Izzar yang memang melengkapi kebutuhannya akan kasih sayang dan kehadiran orang tua yang lengkap.
Melunaknya sikap Anaya terhadap Izzar juga membuat suasana di rumah lebih hangat. Tawa Anaya lebih lepas dan sering terdengar menanggapi tingkah lucu menggemaskan Naira.
Hari minggu, Ridwan tidak menjemput Naira karena sedang flu dan takut menulari Naira yang baru sembuh. Mengetahui hal itu, Naira malah melompat kegirangan. Ia senang bisa memiliki waktu libur bersama Izzar.
“Ayah!” Naira berlari ke kamar Izzar yang tengah bersiap hendak pergi.
“Ya?”
Naira menghentikan langkahnya begitu melihat Izzar tengah memasukkan laptop ke dalam ranselnya.
“Mau kemana?” tanya Naira.
“Kerja,” jawab Izzar.
Bibir Naira mengerut. Cemberut.
“Kenapa? Kok sedih?” Izzar dapat melihat kekecewaan di muka mungil Naira.
“Kan ini hari Minggu? Hari libur, kenapa kerja?”
“Sebentar kok! Cuma mau lihat perkembangan renovasi rumahmu.”
“Aku ikut!” seru Naira.
Izzar menggeleng.
“Aku mau lihat rumahku!” Suara Naira meninggi.
Terkejut Izzar mendengar lengkingan suara merajuk Naira yang disertai genangan air mata dan bibir yang bergetar yang ditahannya. Izzar tak kuat melihatnya.
“Oke! Tapi, ajak mamamu juga!” Izzar mengalah.
Naira mengangguk. Lalu ia membalikkan badan, melesat mencari Anaya. Beruntung Anaya yang memang ingin melihat keadaan rumahnya sekarang setuju untuk ikut.
Pekerjaan renovasi rumah Anaya baru sekitar 30% dari yang direncanakan. Anaya mengikuti langkah Izzar dan mandor yang menjelaskan apa saja yang telah dan akan dilaksanakan. Hanya setengah dari para pekerja Izzar yang bekerja di hari libur ini. Dan, beberapa dari mereka terpesona memperhatikan terus Anaya. Diam-diam ternyata Izzar mengamatinya.
“Kalian kenapa sih ngelihatin isteri saya terus? Iri ya?” tegur Izzar dengan nada marah main-main.
Mereka yang ditegur tertawa malu.
__ADS_1
“Maaf, Pak! Iya, saya iri… habis, isteri Bapak cantik!” sahut salah seorang dari mereka.
Gurauan Izzar efektif menghentikan tatapan kagum kepada Anaya. Ia sendiri enggan menanggapinya.
Setelah mengecek semuanya, Izzar mengajak Anaya dan Naira pulang. Anak kecil yang tangannya tak lepas dari genggaman Anaya itu menolak.
“Aku ngga mau pulang! Aku mau jalan-jalan! Bertiga!”
Tak ada yang menanggapi Naira. Izzar yang sudah duduk di belakang kemudi mobil sibuk dengan pesan yang masuk di ponselnya. Lalu. Ia memandang Anaya yang duduk di sampingnya.
“Randi minta ketemuan. Dia mau nunjukkan tempat yang bisa disewa untuk kantor baruku.”
“Terus?”
“Kalian mau diantar pulang dulu, atau bagaimana?” tanya Izzar.
“Aku sudah bilang, ngga mau pulang! Aku mau ketemuan juga sama Om Randi!” Malah Naira yang menjawab cepat.
Anaya tampak ragu.
“Kenapa? Malas ketemu Randi karena kemarin dia mengadukanmu?” tanya Izzar menebak.
“Kalau menurutku, sebaiknya kamu ikut saja. Sekalian kamu bisa menunjukkan dan menjelaskan ke dia bahwa kita ngga ada masalah.”
“Okelah!” Anaya menurut.
Tempat yang ditunjukkan Randi untuk kantor baru Izzar adalah bangunan kosong ruko dua lantai di lokasi yang cukup ramai. Randi tidak sendiri, ia membawa seorang lagi rekan lainnya yang ingin bekerja sama dengan Izzar. Anaya kadang heran sendiri dengan luasnya pergaulan sepupunya itu. Siapa saja dengan mudah menjadi temannya.
Tengah Izzar berbincang dengan rekannya itu, Randi menarik Anaya ke sudut ruangan menjauhi Izzar dan Naira.
“Kamu ngapain sama mantan pacar SMAmu kemarin itu?” tanya Randi pelan, tanpa basa-basi.
“Ngga ngapa-ngapain! Aku sama Sandra habis meeting bahas eventnya Tristan. Tapi, lalu Sandra pulang duluan. Pikiran kamu saja yang lebai, pakai lapor-lapor ke Izzar segala!” jawab Anaya berbisik. Ia meluapkan kesalnya.
“Yakin cuma bahas event?” Randi tak percaya.
“Kenapa kamu curiga sama aku?” Anaya balik bertanya.
“Aku harus mencurigai kamu. Kamu saudaraku. Aku ngga mau terjadi masalah denganmu.”
“Ngga ada masalah apa-apa.”
__ADS_1
“Tadinya aku ngga mau mencampuri urusanmu. Tapi, aku melihat ada yang aneh di sini. Pertama, kamu mendadak menikah dengan Izzar. Kedua, aku mendengar selentingan bahwa Ridwan mau ambil alih asuh Naira. Ketiga, ayahnya Ridwan sudah mulai bagi-bagi warisan padahal masih hidup. Keempat, tiba-tiba aku melihat kamu makan malam berduaan dengan Tristan. Aku jadi…”
“Dari mana kamu dengar soal Ridwan dan ayahnya?” Anaya menyela penuturan Randi.
“Tahulah, aku kan berteman dengan lambe turah.” Randi tergelak.
Anaya mencibir. Ia tahu Randi masih akrab dengan Ridwan.
“Aku makan malam dengan klienku kan hal biasa, Ran. Sama saja dengan waktu kamu hang out bersama teman-teman bisnismu yang perempuan.”
Randi menggeleng. “Aku tahu kamu, Nay! Meskipun aku sebentar saja mengamatimu kemarin itu, aku bisa melihat bagaimana berbinarnya mata dan wajahmu saat di hadapan Tristan. Sementara ke Izzar kamu menjaga jarak.”
Ucapan Randi membuat Anaya terhenyak. Ia tak menyangka sepupu yang tiga tahun lebih tua darinya itu sedemikian memahami sikap dan dirinya.
“Kami baik-baik saja, kok! Kamu ngga usah khawatir.” Anaya tersenyum mencoba meyakinkan Randi.
“Aku sebenarnya malah mengkhawatirkan perasaan Izzar.”
Anaya mendelik. Bagaimana bisa Randi yang masih bertalian darah dengannya malah memikirkan perasaan orang lain, bukan dirinya?
“Izzar lelaki baik, Nay. Aku sudah lama mengenalnya. Dia kakak tingkat di kampus dulu. Biarpun lumayan ganteng, tapi dia itu ngga suka tebar-tebar pesona.”
“Ngga kayak kamu, ya? Menebar pesona kemana-mana, tapi ngga ada satupun yang nyangkut!” Anaya meledek Randi pedas.
Randi tertawa. Tertembak telak dengan sindiran Anaya.
“Maksudku, Izzar itu lelaki yang setia. Sasika, mantan tunangannya dulu itu, adik tingkatnya. Ditungguin dengan sabar sampai lulus kuliah, terus kerja, dan akhirnya tunangan. Cuma memang brengsek saja di Sasika itu. Sewaktu Izzar jatuh usahanya, bukannya ditemani malah ditinggal. Aku menyaksikan keterpurukannya, Nay. Tolonglah, jangan sampai kamu buat dia menderita lagi.”
Anaya terdiam mendengarkan ucapan Randi, sambil matanya mengawasi Naira yang sedang berputar-putar di sekitar Izzar. Pandangannya mau tak mau juga jadi terfokus pada Izzar yang tiba-tiba balik memandangnya dan tersenyum. Anaya membalasnya sekilas.
“Ran!” Anaya memalingkan wajahnya kembali kepada Randi. “Kenapa kamu seolah takut aku mengecewakan Izzar? Bukankah ada kemungkinan juga, justeru dia yang menyakiti aku? Seperti Ridwan?”
“Izzar bukan Ridwan. Aku yakin Izzar memperlakukanmu dengan baik. Dia sangat menghargai dan melindungi perempuan,” jawab Randi.
“Kamu wanita yang tahan banting, Nay! Aku ngga terlalu khawatir kalau ada yang macam-macam denganmu. Seperti wonder woman, kamu kuat menghadapi banyak masalah sendirian,” sambung Randi.
Pujian Randi tersebut tidak membuat Anaya jumawa. Sebaliknya, ia kecewa karena banyak orang menilainya perempuan tangguh. Tak adakah yang menyadari bahwa ia sebenarnya lemah. Bahwa ia kadang lelah berjuang dan menjadi imam untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Ia juga jenuh dimaanfaatkan dan dimanipulasi oleh pria. Sejak berpisah dengan Ridwan yang manipulatif, ada beberapa pria yang mencoba mendekatinya. Namun, Anaya menutup hatinya sebab motif mereka cenderung hanya ingin mencari nyaman dengan kemapanan dirinya.
Anaya menoleh ke arah Izzar yang masih berbincang dengan rekannya Randi sambil menggendong Naira. Benarkah lelaki itu sebaik dan setulus yang digambarkan Randi. Tidakkah Izzar juga termasuk lelaki yang memanfaatkannya, dengan menerima tawaran kontrak darinya demi membayar hutang-hutangnya?
***
__ADS_1