Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
23 - Pertengkaran


__ADS_3

Kecewa tak dipungkiri tumbuh di hati Anaya. Ingin ia marah. Tapi ingatan akan kontraknya dengan Izzar memunculkan kegusaran dan rasa serba salah sendiri. Logikanya menyuruhnya mematuhi pasal-pasal dalam perjanjiannya yang menegaskan hubungannya dengan Izzar seharusnya profesional tidak melibatkan perasaan. Sedangkan nuraninya malah menuntut lebih.


Dalam perjalanan pulang ke rumah sore itu, Anaya menyalahkan dirinya, mengapa ia mau menerima tawaran Izzar untuk berteman dengannya. Sekarang, kala ia telanjur merasa nyaman berdekatan dengan Izzar, ia jadi tak bisa menghindari rasa cemburu saat lelaki itu bersama wanita lain. Apalagi dengan mantan tunangannya.


Randi bilang, wajar jika ia marah bila mantan tunangan suaminya mencari perhatian lagi. Tapi, hal itu boleh dilakukan jika ia memang isteri sungguhan Izzar. Status sebagai isteri Izzar hanya di atas kertas. Meski demikian, Anaya mengakui, belakangan Ia merasa Izzar telah menjadi bagian yang melengkapi hidupnya. Entah Izzar menganggap Anaya apa.


Sampai di rumah, Anaya menemukan Izzar dan Naira sedang bercengkerama di kamarnya. Izzar mengajarkan Naira menggambar menggunakan aplikasi paint di laptop.


“Mama! Lihat yang aku gambar!” seru Naira seraya menunjukkan hasil coretannya di layar.


Benak Anaya yang risau, malas menerka gambar apa yang dibuat Naira.


“Gambar apa? Mama ngga ngerti.” Anaya tak mau ambil pusing. Ia duduk di sofabed memperhatikan kesibukan Naira dengan mousenya sambil menatap layar laptop, di sebelah Izzar.


“Ah, Mama ini! Kok ngga bisa menebak lukisanku yang spektakuler ini?... Ini Amy Rose, temannya Sonic The Hedgehog!” Naira menggelengkan kepala, seolah menyesali mamanya yang tidak mengenali karakter film yang sering ditontonnya.


Izzar tertawa mengusap rambut hitam Naira. Ia menoleh kepada Anaya, berharap melihat tawa Anaya juga. Tetapi, dari sekilas saja, ia dapat menangkap kerisauan di wajah Anaya.


“Kamu kenapa? Bete banget rupanya,” tanya Izzar.


Anaya mengalihkan pandangannya ke arah Izzar. Jika kemarin ia langsung meleleh dengan kepekaaannya, sekarang Anaya malah sebal. Entah mengapa ia jadi berprasangka Izzar tak tulus mempedulikannya. Baginya, jika Izzar memang menganggap dirinya, dia tidak akan menyembunyikan pertemuannya dengan Sasika.


“Ngga apa-apa!” sangkal Anaya.


Izzar tidak percaya. Ingin ia bertanya lagi, tapi Anaya beranjak keluar, membersihkan diri, berganti pakaian dan kemudian menepi sendirian menonton televisi. Biarpun hati dan pikirannya berkelana ke lain tempat.


Ketika kemudian Naira menghampiri, duduk di sebelahnya dan menceritakan kegiatan di sekolahnya hari itu, baru Anaya bisa memusatkan perhatiannya. Anak menggemaskan itu memang sungguh-sungguh pelipur kegelisahannya.


“Mama,” Naira berbisik.


“Ya?” Anaya balas berbisik.


Naira melirik ke arah Izzar yang sedang membuat teh di dapur, sebelum berkata pelan, “Mama lagi ada pikiran, ya?”


Anaya selalu dibuat terpana dengan kecerdasan anaknya.


“Kok tahu?” Anaya memeluk Naira.


“Ini!” Naira menunjuk bagian kening di antara alis tebal Anaya. “Berkerut seperti kulit oma.”


‘Hush!” tegur Anaya.


Naira tertawa. “Makanya, Mama jangan banyak pikiran, nanti jadi cepat tua!”


“Siapa yang banyak pikiran?” timpal Izzar sambil duduk di sebelah Naira dan menyodorkan secangkir teh pada Anaya.

__ADS_1


“Terima kasih.” Anaya menerimanya. Ia tak mungkin menolak teh chamomile yang selalu dibikin Izzar khusus untuknya setiap ia pulang kerja.


“Mama tuh!”


“Sok tahu kamu, anak kecil.” Anaya menyanggah.


“Ih! Aku bukan anak kecil! Umurku sudah enam tahun! Sudah mau masuk SD!” Naira membantah.


Anaya menahan senyumnya. Namun, ia berusaha keras tidak bertukar pandang dengan Izzar yang juga tersenyum menanggapi sanggahan Naira.


Kebersamaan mereka bertiga berlanjut dengan menonton film kartun favorit Naira, sampai anak itu mengantuk dan tertidur di pangkuan Anaya. Izzar membantunya membopong Naira ke kamar. Anaya mengikuti di belakangnya. Setelah menyelimuti Naira, awalnya Anaya hendak langsung berbaring, Tapi, tak jadi begitu menyadari Izzar masih berdiri di pintu memandanginya.


“Apa sih?” Anaya meras risih dipandangi demikian.


“Kamu ada masalah apa? Dan kenapa ngga mau cerita?”


Anaya mengeluh. Izzar terlalu memahami dirinya dan selalu gigih mencari tahu apa yang mengganjal di hatinya.


“Ngga apa-apa,” tukas Anaya.


Izzar tidak bergerak. Ia tetap tak puas.


“Oke! Aku memang sedang ada yang dipikirkan. Randi mendadak mau menikah. Kamu tahu?”


“Ya, Randi bilang tadi pagi.”


“Jadi itu masalah yang kamu pikirkan?”


Anaya mengangguk. Meski hatinya berteriak, “Bukan! Kamulah masalah yang kupikirkan!”


“Yakin cuma itu? Ngga ada yang lain?” tanya Izzar masih tetap berusaha memastikan.


“Ngga ada, Izzar! Sudah sana tidur! Aku ngantuk!” Anaya mulai kesal dan mengusir Izzar.


“Oke!” Izzar tersenyum. “Selamat tidur!”


Pintu tertutup lembut.


Anaya berbaring dengan mata yang sulit terpejam. Ia bingung dengan sikap biasa Izzar. Lelaki itu tetap perhatian dan peduli kepadanya. Tapi, kenapa ia berbohong soal pertemuannya dengan Sasika. Apa alasannya?


Walau ingin marah untuk mengungkapkan kekecewaannya, Anaya tidak bisa menemukan caranya. Logikanya kembali mengingatkan, bahwa ia tak punya hak mengatur Izar bertemu dengan siapa.


Hari-hari berikutnya, Anaya mencoba juga bersikap biasa kepada Izzar. Tapi, ternyata sukar baginya. Bayangan Sasika selalu membayangi. Ia mencurigai semua gerak-gerik Izzar. Setiap melihat Izzar menerima panggilan telefon atau pesan di poselnya, ia langsung menduga dari Sasika.


Tanpa disadari, Anaya jadi terobsesi dengan Sasika. Dengan menggunakan akun Sandra, ia stalking semua akun media sosial Sasika. Pada hari ulang tahun Izzar, Anaya menemukan postingan foto estetik bergambar sepotong strawberry cheesecake, dengan caption : happy birthday to you.

__ADS_1


Dada Anaya terasa terbakar membacanya.


Hari Minggu pagi, setelah Naira dan Mba Kemi seperti biasa dijemput Ridwan, Izzar berpamitan akan menemui klien, yang menurutnya hanya bisa ditemui di waktu libur.


Anaya heran, biasanya Izzar mengajaknya turut serta kemana pun, jika ia sendirian di rumah. Ketika menyadari penampilan Izzar lebih rapi dari biasanya, Anaya jadi curiga dan tak tahan lag.


“Mau ketemu klien, atau mantan?” Anaya menyindir dengan nada tajam.


Izzar menghentikan langkahnya dan berbalik. “Apa?”


“Aku tanya, mau ketemu klien atau mantan?” ulang Anaya.


Izzar meletakkan ransel laptopnya di meja dan duduk di seberang Anaya. Ia kaget dengan sindiran Anaya. Apakah ia tahu dirinya pernah bertemu Sasika? Pantas saja Anaya uring-uringan akhir-akhir ini.


“Kenapa kamu tanya begitu?”


“Aku cuma nebak saja. Soalnya, tempo hari kamu pernah bilang ketemu klien di coffe shop, padahal sebenarnya janjian dengan mantanmu, kan?” ujar Anaya. Mata bulatnya menatap Izzar tak berkedip. Ada rasa marah yang memancar.


Izzar memaki dirinya dalam hati. Benar dugaannya. Anaya akhirnya mengetahui juga tentang pertemuan itu. Kini ia menyesal dua kali.


“Dari mana kamu tahu?” tanya Izzar.


“Aku melihat sendiri.”


Izzar tertegun. Berarti Anaya sudah lama mengetahuinya, dan dia tetap diam. Izzar merasa semakin bersalah.


“Oke! Aku minta maaf. Aku memang terpaksa menemui Sasika waktu itu. Sebab dia mengejarku terus, sampai mendatangi kantor. Kamu bisa tanya Maharani,” tutur Izzar.


“Tapi, kenapa kamu membohongiku dengan bilang habis ketemu klien?” Anaya tak puas.


“Jujur aku ngga tahu kenapa aku melakukan itu. Mungkin sama alasannya sewaktu kamu diam-diam ketemu dengan Tristan,” jawab Izzar.


Anaya tersinggung Izzar menyebut lagi nama Tristan.


“Aku hanya ngga bilang waktu ketemu Tristan, bukan bohong! Lagian, aku mau ketemu siapa, bukan urusanmu!” Suara Anaya meninggi.


Izzar jadi ingin tertawa mendengar kata-kata terakhir Anaya.


“Lalu, kenapa kamu sekarang meributkan pertemuanku dengan Sasika? Kan juga bukan urusanmu?” Izzar membalikkan ucapan Anaya.


Wajah mulus Anaya memerah. Ia merasa ditampar oleh perkataan Izzar. Padahal logikanya sudah sering kali mengingatkan bahwa ia tak berhak menggunakan perasaannya dan patuh pada perjanjian kontraknya. Ia sadar, menipu nurani memang tak pernah semudah yang ia kira.


Rasa malu mendera Anaya, Ia beranjak pergi meninggalkan Izzar.


“Anaya!” seru Izzar.

__ADS_1


Anaya tidak menyahut. Dengan menahan air matanya, ia masuk ke kamar dan mengunci pintunya.


...***...


__ADS_2