Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
62 - Menjauh


__ADS_3

Seperti kering kemarau yang habis terbasuh hujan, bumi terasa tenang dan damai. Identik dengan apa yang dirasakan Anaya.


Serupa berada di padang rumput luas yang luas namun sejuk. Hatinya lapang sudah. Egonya meluruh. Tanpa perlu banyak kata bernama dan mengandung cinta, ia memasrahkan dirinya. Pada lelaki yang pernah diabaikan namun dibutuhkannya.


Beberapa saat, Anaya membiarkan dirinya larut dalam perbincangan acak dengan Izzar, asalkan dia bisa mendengarkan suaranya.


"Kamu serius bakal namain anak ini Oboy?" tanya Anaya.


"Cuma panggilan aja. Dulu ayahku memanggilku begitu waktu aku kecil."


Anaya merasa panggilan itu cukup lucu.


"Kamu berharap dia anak lelaki?"


"Ya. Kan sudah ada Naira."


Sungguh jawaban yang membuat Anaya nyaman dan aman.


"Tapi, gimana kalau dia perempuan juga?"


"Ya ngga apa-apa. Tapi, kalau dia perempuan, aku berdoa dia nanti ngga seposesif Naira dan ngga sejudes kamu. Cukuplah kepusinganku menghadapi kalian berdua aja."


“Eits!” Anaya mendelik meskipun Izzar tak dapat melihatnya.


Izzar tertawa. Di benaknya, mata besar Anaya membulat dengan bibir menjebik khas jika ngambek.


“*Hei! Tukar video call, ya!” *Izzar ingin melihat langsung bayangannya.


“Ngga mau!” Anaya menolak.


“Kenapa?”


“Aku malu, belum mandi!” Anaya memegang pipinya.


“Aku kan sudah sering melihat kamu begitu.”


Anaya tetap menolak. Meski Izzar sudah pernah melihat dirinya dalam kondisi yang terburuknya, entah mengapa dia sungguh jengah bertatapan dengan lelaki yang kemarin masih dibencinya. Ia malu mengakui kesalalahan dan kekalahannya.


“Ayolah!” Izzar membujuk.


“Ngga!”


“Sombong!”


“Biarin!”


“Pelit! Mau lihat mukanya aja ngga boleh!”


“Makanya cepat pulang!”


“Oke! Aku pulanglah sekarang!”


Anaya tersenyum.


“Jemput Naira dulu, ya.”


“Hmm, bisa ngga, anak itu besok saja dijemputnya?”


“Kenapa?”


Anaya tertawa. Jika dijawab apa adanya, Izzar pasti meledeknya.

__ADS_1


“Oh! Aku tahu, kamu takut tersaingi sama dia. Iya, kan?” Izzar tertawa. “Tapi, aku harus mampir ke rumah mamaku dulu. Terserah Naira nanti mau langsung ikut pulang denganku atau ngga.”


Anaya tidak membantah, walau sudah pasti Naira akan lebih senang bersama dengan Izzar.


“Anaya!”


“Jangan lupa mandi, biar ngga malu lagi nanti kalau ketemu.”


“Ih!”


Seusai mengakhiri telefonnya, Anaya terlelap. Melepaskan ego, ternyata menguras energi juga.  Ketika ia terbangun, disadarinya dua jam ia telah tertidur. Hari sudah sore. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan mandi.


Di ruang makan, Anaya mendengar suara-suara,  berbicara dan tertawa . Ia menyangka Izzar telah datang. Kala ia muncul, semua orang melihat ke arahnya. Tak ada lelaki yang diharapkannya. Hanya Randi, Sarah, dan Sandra. Mereka sedang duduk menghadapi meja yang penuh dengan bungkusan makanan.


“Hei! Sudah sehat kan?” Sandra menghampiri dan membimbingnya duduk di antara mereka.


“Siapa yang bawa makanan? Banyak amat.” Anaya heran dengan banyaknya makanan yang tersedia.


“Aku. Habis ada event di restoran tadi. Sekalian aku pesan makanan buat di bawa kesini.” Sandra menjawab sambil


membukakan sekotak dimsum untuk Anaya.


“Sudah dapat kabar dari Izzar?” tanya Randi.


Anaya mengangguk.


“Kapan dia pulang?” Randi bertanya lagi.


“Mungkin malam. Dia harus ke rumah ibunya  dulu sekalian jemput Naira.”


“Oke! Nanti kalau dia sudah datang, kami pulang,” ujar Randi.


“Ya, kita sih termasuk manusia yang tahu dirilah!” jawab Randi tendensius meledek.


Anaya mencibir ledekan sepupunya. Sandra dan Sarah tersenyum simpul.


Selesai menikmati makanan, Anaya berbincang dengan Sandra tentang pekerjaan mereka. Sandra menceritakan perkembangan project-project yang dijalani perusahaan mereka.


Hingga malam, Izzar tak juga datang.


Ponselnya kembali tidak aktif ketika dihubungi Anaya. Tanpa dapat dicegah, gelisah kembali melanda. Ia menelefon mertuanya, dan mendapatkan kabar bahwa Izzar belum datang ke rumahnya.


"Anaya, memangnya kemana Izzar? Tadi siang memang telefon juga mau kesini. Habis itu, ngga bisa lagi dihubungin. Mama jadi kepikiran. Soalnya dari siang ngga tahu kenapa, mama deg-degan terus loh!"


Anaya mengeluh. Sebab ia pun memiliki pertanyaan yang sama.


"Aku juga ngga tahu."


"Kamu sudah cek rumahnya?"


“Belum.”


“Ya sudah, Mama cek kesana sekalian ke rumahmu.”


”Mama ngga usah kesana. Nanti kalau Izzar datang bagaimana? Lagian, jalannya malah jadi memutar kalau mau kesini. Aku nanti minta tolong tetangga sana saja mengecek rumah itu.” Anaya mencegah.


"Mama sudah kirim pesan kalau Mama mau ke tempatmu. Sudah, biarkan mama kesitu sama Naira. Mama ngga tenang."


Anaya mengalah dan cuma bisa pasrah. Ia segera menghubungi Maharani yang ternyata juga bingung karena dia pun tidak bisa mengontak Izzar. Sepuluh menit menunggu, ia dikabari bahwa kediaman itu kosong.


Sejam kemudian, Mama Izzar dan Naira datang bersama asistennya.

__ADS_1


Anak kecil itu langsung berlari ke kamarnya. Dia berteriak gembira menemukan kamarnya telah terlengkapi dengan tempat tidur dan kotak mainannya.


"Kita beneran sudah pindah lagi kesini?" Naira mengguncang lengan Anaya.


"Iya." Anaya yang setengah berbaring di sofa ruang tengah mengangguk.


"Yeay!" Naira kembali ke kamarnya ditemani Sarah.


Mama Izzar duduk di sebelah Anaya.


“Kamu ngga cemas, Anaya?”


"Ya cemaslah. Randi juga lagi cari-cari info itu!" Anaya menunjuk Randi di teras belakang. Dia sibuk menelefon kesana-sini ditemani Sandra.


Sudah pasti ia cemas dan gugup. Baru saja ia lapang karena telah berhasil berbicara dengan Izzar, sekarang lelaki itu mendadak seperti menghilang lagi.


Dari sofa tempatnya berbaring, Anaya dapat melihat tingkah mereka melalui jendela kaca besar. Meski tak bisa


mendengarkan suaranya, Anaya bisa menyaksikan keduanya berbicara serius, setengah berdebat bahkan nyaris bertengkar. Lalu, kembali bercakap intens, dan kembali menlefon. Tak ada senyum, apalagi tawa. Tegang seperti menghadapi kemelut.


Anaya curiga.


"Kenapa mereka?" tanya Mama Izzar. Rupanya ia juga mengamati laku Sandra dan Randi.


"Ngga tahu, Ma."


Anaya hendak bangkit, namun bunyi bel pintu mengalihkan niatnya. Namun, Mba Kemi berlari dari arah dapur ke pintu depan.


"Mudah-mudahan Izzar." Mama Izzar berharap yang datang adalah anaknya. Namun entah mengapa Anaya ragu.


Mba Kemi kembali, tapi tidak menuju Anaya.


"Siapa, Mba?"


"Laki-laki cari Pak Randi." Mba Kemi berlalu memberitahukan sepupu Anaya itu perihal tamunya.


Randi bergegas melewati Anaya tanpa bicara. Diikuti Sandra.


"San! Ada apa? Siapa tamunya?" tanya Anaya.


"Ngga apa-apa! Sebentar! Kamu di situ aja!" jawab Sandra tanpa menghentikan langkahnya.


Anaya hendak beranjak, namun Mama Izzar mencegahnya. “Kamu diam di sini saja!”


Walau ingin membantah, Anaya menurut juga. Ia menelefon Izzar lagi dengan ponselnya. Suara pemberitahuan tidak aktif kembali menyapanya. Tak berapa lama, Sandra kembali ke ruang tengah dengan rupa wajah gelisah.


“Kenapa? Siapa datang?” tanya Anaya heran.


“Anak buahnya Pak Arsyad.” Sandra duduk di sisi lain Anaya.


“Ada apa?” Mamanya ikut bertanya dengan nada sangat khawatir.


“Sabar ya Anaya… Tante… Kita belum tahu pasti apa yang terjadi.” Sandra menjawab menenangkan.


“Iya kenapa? Ada yang terjadi dengan Izzar?” Mama Izzar tidak sabar.


“Habis Randi menelefon, anak buah Pak Arsyad membantu mencari Izzar. Sejam yang lalu mereka menemukan mobilnya di pinggir jalan sepi. Terkunci dari dalam. Izzarnya ngga ada. Tapi, hapenya ditinggal di mobil. Ada saksi yang melihat dari jauh, dia seperti digiring masuk ke mobil lain.”


Mama Izzar langsung meracau panik. Sementara Anaya cuma bisa terdiam. Kepalanya memberat. Ia memejamkan matanya. Suara Sandra dan mertuanya terdengar makin jauh.


...                                                                          ***...

__ADS_1


__ADS_2