
Walau dada Anaya bergemuruh, kakinya terpaku. Kata-kata Dian terdengar mengambang di udara, tak sepenuhnya ia pahami. Satu pertanyaan besar memenuhi kepalanya. Bagaimana bisa Sasika ada di acara pernikahan Randi?
"Boleh kulihat daftar undangan acara ini?" pinta Anaya pada Dian.
Dian tampak heran dengan suara dan sikap tubuh Anaya yang mendadak sedikit gusar. Namun, dicarinya juga file daftar undangan di tabletnya, dan diperlihatkan kepada Anaya.
Jari Anaya cepat bergulir menelusuri tiap nama. Hingga baris terakhir, ia tak menemukan nama Sasika. Anaya mencari sosok perempuan itu tadi dengan matanya. Sasika sedang berjalan mengikuti si lelaki berkacamata menghampiri Randi dan Sarah untuk mengucapkan salam.
"Dian, kamu tahu lelaki berkaca mata yang sedang salaman dengan pengantin?"
Dian mengalihkan pandangannya ke arah yang disebutkan Anaya. Berusaha mengenali orang yang dimaksud Anaya.
"Oh! Dia kakak tirinya Sarah," jawab Sarah. "Saya dikenalkan waktu pengajian di rumahnya dua hari lalu."
"Wanita di sampingnya itu, siapanya?" Anaya penasaran.
"Ngga tahu, Bu. Pacar atau plus onenya mungkin. Setahu saya, kakaknya itu belum menikah." Dian menjawab keingintahuan Anaya.
Jawaban Anaya cukup membuatnya puas. Dilihatnya dari jauh reaksi Randi yang tampak kaget dengan kehadiran Sasika. Sepupunya itu tampak cemas. Ia membisikkan sesuatu entah apa kepada isterinya.
"Kenapa, Bu?"
"Ngga apa-apa," jawab Anaya sambil tersenyum. Ia tak ingin Dian mencurigainya.
Dian dipanggil rekannya. Anaya mempersilahkannya pergi.
Izzar yang masih berbincang dengan paman Anaya, menoleh ke arahnya dan tersenyum. Anaya membalas dan berjalan mendekatinya. Ia ingin Izzar tahu hatinya agak panas akibat kedatangan Sasika yang sama sekali tidak pernah diduganya.
"Anaya!" Om Erik yang merupakan sepupu almarhum mamanya menyapanya.
"Ya, Om!" Anaya menempatkan diri duduk di sebelah Izzar. Begitu dekat.
"Tahu ngga? Ternyata, kakeknya Izzar ini, dulu bosnya om. Dulu kami karyawannya begiliran diajak liburan di sini. Tapi dulu masih bangunan lama, belum direnovasi begini."
"Oh ya? Small world ya, Om!" kata Anaya.
Ya, dunia memang kecil. Orang yang kita kira tidak kenal, ternyata bisa saja memiliki akar yang sama. Orang yang tidak kita harapkan bisa tiba-tiba muncul karena memiliki keterkaitan satu sama lain. Seperti Sasika yang tanpa diduga mendadak hadir di antara mereka.
__ADS_1
Anaya mengikuti lanjutan pembicaraan Omnya dan Izzar tentang dunia konstruksi yang tidak terlalu dipahaminya. Ia ingin berlalu saja mencari kelompok lain dengan pembicaraan yang lebih menyenangkan. Tetapi, ia takut Sasika akan mendekati Izzar jika lelaki ini sendiri tanpanya. Atau mungkin saja malah Izzar yang menghampiri Sasika.
Tanpa disadari, Anaya menjadi posesif.
Namun, meski sebagai sepupu pengantin, Anaya juga adalah yang bertanggung jawab dengan acara pernikahan ini, maka ia harus membagi perhatiannya dengan pekerjaan yang dilakukan anak buahnya. Ia menyesal sekarang membiarkan Sandra mengawasi acara lain di Jakarta.
Mendengarkan pembicaraan yang seru, Anaya meyakini dirinya bahwa Izzar aman selama bersama pamannya. Maka ia pun memutuskan berkeliling dulu mengecek tugas timnya.
Anaya meminta izin pada omnya. Sebelum beranjak, ia berbisik di telinga Izzar.
"Kamu mau ketemu seseorang di coffee shop?"
Izzar terperangah mendengar pertanyaan Anaya. Ia langsung tahu yang dimaksud Anaya. Coffee shop seolah sudah menjadi frasa yang artinya terkait dengan Sasika.
"Ngga! Aku ngga akan kemana-mana." Izzar tersenyum menjawab tanya Anaya.
Namun, Anaya tidak membalasnya. Ia beranjak pergi dengan mata yang menyiratkan ketidakpercayaan pada Izzar. Ia meminta seorang pekerja catering mengirimkankan makanan untuk Izzar dan Om Erik, demi memastikan lelaki itu benar-benar tidak akan meninggalkan tempatnya.
MC yang ditugasi memandu acara, kehilangan moodnya. Kata Dian, gadis muda itu saat jeda tadi, menerima pesan yang memberi tahu pacarnya sedang jalan dengan wanita lain. Lengkap dengan foto dan video pula.
Dian pusing dibuatnya. Ia tak berhasil membujuk gadis itu melepaskan sebentar kesedihannya.
Nama sepupunya itu Yanne. Cepat diutarakannya permintaan untuk menggantikan tugas pembawa acara, disertai janji imbalan yang sepadan.
"Kakak harus bayar mahal kalau begitu. Dua kali lipat dari MC Kakak itu!" tantang Yanne.
"Oke!" Anaya tidak menawar. Ia menggandeng Yanne ke arah panggung.
"Satu lagi, suami Kakak yang baru itu punya adik yang sama cool dan gantengnya juga ngga? Yang bisa dikenalin ke aku gitu?" Yanne tersenyum mengedipkan matanya.
Anaya terpana, tapi lalu tertawa. "Dia punya adik satu. Tapi, sayangnya perempuan."
Yanne merengut kecewa.
"Memangnya Izzar ganteng?" tanya Anaya menguji.
"Memangnya waktu Kakak mau menikah sama dia, ngga sadar kalau dia ganteng?"
__ADS_1
Anaya tersipu.
"Makanya Kakak bergabung sama kami dan tante-tante kita itu. Semua pada ngomongin. Tapi, hati-hati, Kak. Perempuan yang duduk satu meja denganku, ngelihatin Kak Izzar terus."
Anaya menyerahkan Yanne kepada Dian. Lalu ia menepi dan mencari sosok yang disebut Yanne. Ia menemukan perempuan yang dimaksud Yanne adalah Sasika. Yanne benar, Sasika sebentar-sebentar melirik ke arah Izzar yang masih tetap di posisinya bersama Om Erik.
Pemandangan itu seperti korek api yang menyulut kembali bara di dadanya.
Acara sudah berlanjut ke hiburan dan games. Semua tamu berebut berpartisipasi, sebab Randi dan Sarah menyiapkan hadiah-hadiah yang menarik. Konsep acara pernikahan yang hanya dihadiri keluarga dan kerabat terdekat tersebut sangat menyenangkan karena jadi mengakrabkan keluarga kedua belah pihak.
Om Erik meminta Izzar tetap menemaninya. "Aku sudah terlalu tua untuk permainan seperti itu."
Izzar tidak keberatan. Ia memang enggan turut serta membaur karena tidak mau sampai terlihat berinteraksi dengan Sasika. Berbeda dengan Anaya, ia belum mengerti bagaimana Sasika bisa muncul di acara pernikahan dengan undangan sangat terbatas ini.
Dirinya bukannya tidak tahu Sasika memperhatikan dan mencari sela mendekatinya. Gadis itu berkali-kali menelefon dan mengirimkan pesan, yang diabaikan Izzar. Ia harus berhati-hati. Bukan reaksi Anaya yang ia khawatirkan. Tapi, tindakan Pak Arsyad yang ia cemaskan. Apalagi, kemarin, ia sudah menandatangani perjanjian dengan Pak Arsyad yang isinya menyangkut Anaya dan Naira. Jangan sampai ia mengecewakan lelaki yang tengah berjuang melawan sakitnya itu.
Anaya hanyut menyaksikan keseruan acara games yang dipandu Yanne. Ia abai memperhatikan pergerakan Sasika. Gadis itu berpindah ke bangunan vila dengan alasan harus ke toilet. Sudah tentu ia masih sangat hapal denah vila ini karena di masa lalu, Izzar pernah mengajaknya kesini.
Izzar sendiri terlalu serius mendengarkan cerita Om Erik tentang pengalamannya menjadi anak buah kakeknya, sehingga tidak menyadari Sasika berada begitu dekat dengannya. Sehabis dari toilet, tanpa canggung ia menghampiri dan menyapa Izzar.
"Hai! Ternyata kamu di sini!" tegur Sasika. Ia tertawa senang karena berhasil menunjukkan keberadaan dirinya di hadapan Izzar.
Om Erik kaget dengan kehadiran Sasika. Ia menerka-nerka, apakah gadis semampai ini adalah salah satu keponakannya.
Izzar hanya membalas dengan senyum yang tertahan. Matanya mencari Anaya. Perempuan itu sedang larut dengan permainan kuis tebak kata bersama para sepupunya.
"Kenapa kamu di sini? Ngga ikut games di sana saja?" Izzar mencoba menghalau Sasika.
"Aku bosan!" Sasika malah duduk di sebelah Izzar. "Aku mau ngobrol saja sama kamu. Sudah lama kita ngga ketemu."
Izzar segera berdiri. Ia mulai jengkel dengan kenekatan Sasika.
"Permisi, Om! Saya mau ke Anaya dulu sebentar."
Om Erik mengangguk. Ia malah mendukung Izzar pergi, Ia sedikit kecewa karena kebersamaannya dengan Izzar berakhir gara-gara Sasika.
"Izzar! Mau kemana?!" Sasika berteriak gusar dengan cara mantan tunangannya itu menghindar.
__ADS_1
Izzar tidak peduli. Ia bergegas berjalan menuju acara permainan. Ia sungguh berharap Anaya tidak melihat kejadian tadi. Akan tetapi harapannya menguap. Di ujung pandangannya, Anaya sedang menatap dirinya. Matanya tajam, dan bibirnya terkatup rapat.
...***...