
Sekelilingnya tampak mengabur dan terdengar menjauh. Anaya terhanyut dalam keheningan dalam dirinya. Pembicaraan terakhir dengan Izzar di telefon terngiang kembali. Percakapan yang mengalir seperti dahulu. Tanpa sekat walaupun dirinya tetap dengan keegoan dan keangkuhannya. Dia menyesal telah menolak permintaan video call Izzar.
Kini, ia tak tak tahu Izzar kemana. Suara-suara yang samar merambah telinganya berkata tentang penculikan, pencucian uang, kasus Ridwan, dan sebagainya. Hal itu cukup untuk membuat dirinya memahami apa yang tengah terjadi. Kegiatan pencucian uang biasanya dilakukan oleh sindikat. Seperti yang pernah dilihatnya di film, perangai mereka keras, kasar dan cenderung menggunakan segala cara.
Nalarnya merunut kembali alasan dan penyebab semua masalah yang dihadapi dirinya dan Izzar. Perunutannya berujung pada kehadiran dan peran Pak Arsyad yang memang seperti membayangi perjalanan dan keputusan hidupnya.
Anaya jadi seperti tersadarkan. Matanya mulai terbuka. Mantan mertuanya itu sejak awal terlalu mencampuri hubungannya dengan Izzar. Dengan alasan demi Naira dan dirinya, dia mengatur dan menekan keluarganya. Padahal, sebenarnya dia telah menyandera Izzar dan menjebaknya untuk kepentingan pribadinya.
Rasa geram pelan menguasainya. Suara dan bayangan yang mengabur, kembali menyata di sekelilingnya. Matanya mulai bisa berfokus pada Randi yang sedang menelefon seseorang, dan Sandra yang menenangkan Mama Izzar. Ingin ia meledakkan bola api keresahan yang membakar dadanya. Namun, suara kecil yang memanggilnya menciutkan emosinya dan mengembalikan nalarnya.
“Mama!”
Naira yang muncul di tengah kekalutan orang dewasa, mendorong Anaya beranjak membawanya ke kamar.
“Oma kenapa? Kok kayak orang nangis? Om Randi juga kayak orang marah?” tanya si ceriwis.
“Ngga apa-apa, mereka lagi seru aja ngobrol.”
“Ngobrol apa?” kejar Naira.
“Biasa obrolan orang dewasa.”
Anaya mengambil piyama Naira dan mendorongnya ke kamar mandi.
“Kenapa aku harus tidur? Kan masih banyak tamu di rumah kita.” tanya Naira seusai digantikan piyama.
“Karena sudah malam dan waktunya beristirahat untuk anak kecil.” Anaya membimbingnya berbaring di ranjang.
“Kenapa ngga di kamarku aja tidurnya?” tanyanya.
“Malam ini temani mama dulu ya. Mama takut sendirian.” Anaya beralasan.
“Kan ada adik di dalam perut Mama?” tangan Naira memegang perut Anaya.
“Dia juga minta ditemani sama Kakak Naira.” Anaya melebarkan selimut di atas tubuh mereka berdua.
Gadis kecil itu tersenyum. Anaya memeluknya.
“Ma, Ayah kapan pulang?”
“Nanti juga pulang.” Anaya menekan galaunya.
__ADS_1
“Dulu kan aku pernah bilang, kalau kita pindah lagi ke rumah ini, aku maunya tidur sama ayah, soalnya dia kan pacarku. Tapi, nanti kalau dia sudah pulang, aku tidur di kamarku sendiri, Mama boleh tidur sama dia.”
“Benar nih?”
“Iya. Benar! Aku ngga mau jadi pacarnya lagi.”
“Kenapa?”
“Kayaknya aku mau pacaran sama yang seumuran aku aja.”
“Baguslah!” Anaya merasa lega.
“Mama ngga tanya, aku sudah punya pacar atau belum?”
“Kamu sudah punya pacar?” Anaya menuruti permainan Naira.
“Hmm.. Belum sih… Aku baru naksir aja.” Naira tersenyum malu.
“Siapa?”
“Anak di sebelah rumah oma. Namanya Raffa. Kemarin, aku diajak main ke rumahnya, terus dia kasih aku coklat. He’s so cute!” Naira tertawa sambil menutup mulutnya.
Naira tergelak. Anaya tahu, hal tersebut hanyalah proses tumbuh kembang Naira. Anaya tersenyum dan bisa sedikit melepaskan keresahannya menanti kabar Izzar. Biarpun dia malah jadi ingin segera menceritakan percakapannya dengan Naira ini kepada Izzar dan penasaran mendapati reaksinya.
“Mama… Kalau ayah sudah pulang nanti, boleh kita tidur bertiga lagi?... Eh! Sekarang jadinya berempat sih!”
Anaya mengangguk. Dia teringat kala mereka tidur berhimpitan di kamar kecil rumah Izzar. Bagaimana dia terbangun dengan badan pegal-pegal karena tidak bisa bergerak dipeluk dari kiri dan kanan. Tapi, dia bahagia saat itu. Kini, dia terharu bagaimana hal yang sederhana demikian bisa memberikan kehangatan dan kenyamanan pada dirinya. Sama seperti Naira, ia pun ingin mengulangi peristiwa itu lagi.
Setelah Naira tertidur, Anaya keluar kamar. Mama Izzar sudah lebih tenang, dan dimintanya beristirahat di kamarnya. Randi masih berbicara serius dengan staf Pak Arsyad di ruang tamu. Di depan mereka, Anaya menelefon Pak Arsyad, tetapi nomornya tidak dapat dihubungi. Anaya lantas meminta anak buah mantan mertuanya itu memberikan akses komunikasi kepadanya. Hasilnya pun sama. Dia malah diminta untuk tenang dan menunggu saja arahan dari lelaki tua itu.
Rasa kesal membuat Anaya bertambah geram terhadap lelaki tua itu. Dia jengkel, sebab Pak Arsyad seolah menghindar tidak bertanggung jawab dengan keselamatan Izzar, sementara dialah penyebab kericuhan ini.
“Kamu tenang dulu, Nay. Pasti dia ngga sedang tinggal diam. Mungkin demi keamanan juga makanya dia tidak bisa hubungi di nomornya itu.” Randi menenangkan.
Anaya menahan rasa tak nyaman yang berkecamuk di hatinya.
“Sejak awal, dia hanya memanfaatkan Izzar aja, Ran.”
Randi membimbing Anaya duduk di kursi dan merangkul bahunya.
Anaya diam sesaat. Dia merasakan mulai pening kembali dan mual. Didekatkannya kepalanya ke telinga Randi.
__ADS_1
“Gimana kalau aku nemuin Ridwan?” bisiknya.
“Buat apa?” Randi mendelik.
“Untuk membujuk dia supaya minta jaringannya melepaskan Izzar. Aku khawatir Pak Arsyad ngga mampu menangani masalah begini.”
“Jangan kamu coba-coba menemui dia lagi. Nanti tambah runyam masalahnya. Sudah, ngga usah mikir yang macam-macam. Sudah ada yang mencari dia kok. Kalau kamu lihat di luar, ada beberapa orang yang menjaga kita di sini.”
Anaya tetap ragu.
“Anaya, kamu boleh kok jengkel dengan Pak Arsyad. Tapi, percayalah. Dia ngga akan mengecewakanmu.”
Meski diyakinkan terus, tetap saja Anaya masih bimbang.
...***...
Dua hari berlalu, Anaya belum mendapatkan berita apapun tentang Izzar. Dia cuma bisa menanti dan berdoa. Mama Izzar yang juga cemas, tidak mau meninggalkannya. Dia bahkan tegas mengundur keberangkatannya ke Australia.
Rumah Anaya tak pernah sepi. Sepupu lelaki Izzar bergantian menemani, sebab Randi harus membagi perhatian kepada isterinya yang juga sedang hamil. Semuanya mencari kesana-kesini dibantu pihak yang berwajib.
Di hari ketiga, ponsel Anaya berbunyi menyuarakan panggilan dari Tania, pengacara Ridwan. Randi yang sedang berada di dekatnya mengingatkan untuk tidak mengiyakan jika Anaya diminta mengunjungi Ridwan lagi.
Anaya mengangguk, baru kemudian menjawabnya.
“Halo?”
“Halo, Bu Anaya?”
“Iya?
“Mohon maaf mengganggu. Saya hanya ingin memberi tahu berita duka…” Tania terdiam.
Anaya seketika tersentak. Tubuhnya dingin sementara suaranya bergetar. Suara lembut Tania seperti petir yang memperingatkan badai akan tiba.
“Berita duka apa?”
“Pak Ridwan tadi pagi mengeluh dadanya sakit. Kami berhasil mendapatkan izin membawanya ke rumah sakit. Tapi, beliau tidak tertolong. Setengah jam yang lalu Pak Ridwan meninggal di IGD dengan dugaan serangan jantung."
Anaya tertegun. Beberapa saat lidah dan seluruh tubuhnya membeku. Biarpun hubungannya dengan Ridwan lebih banyak ributnya, tetap saja hatinya berduka dalam mengetahui lelaki yang pernah dicintainya pergi untuk selamanya.
...***...
__ADS_1