
Tak penting sudah bagi Anaya untuk menanyakan dari mana Pak Arsyad tahu tentang keberadaannya saat ini.
Asisten muda Pak Arsyad merapikan kursi di samping tempat tidur Anaya, lalu mengajak Mba Kemi menunggu di luar. Pintu pun tertutup, memberikan waktu dan ruang leluasa untuk mereka berdua.
Pak Arsyad dengan kharisma wibawanya duduk di kursi tersebut. Tersenyum ramah pada Anaya. Sementara Anaya masih saja dengan keheranannya melihat kondisi baik-baik mantan mertuanya itu.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" tanya Pak Arsyad.
Anaya mengangguk. Wajahnya masih diliputi kebingungan.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Pak Arsyad menahan senyumnya.
"Katanya sakit. Tapi, kok sehat begini?" Anaya mengungkapkan keherannnya.
"Kata siapa aku sakit?"
"Ridwan,” jawab Anaya.
"Aku memang ingin dia beranggapan seperti itu."
Kening Anaya berkerut. "Maksudnya?
“Dia ingin aku sakit. Jadi, aku membuat dia mengira aku memang sakit.
“Apa artinya, selama ini pura-pura sakit?"
Pak Arsyad tidak menjawab.
"Yang waktu kita terakhir bertemu, juga pura-pura?" Anaya ingat bagaimana lemahnya Pak Arsyad sewaktu ia mengantarkan Naira ke rumahnya.
"Kalau kepadamu, aku ngga pernah pura-pura. Saat itu aku memang benar-benar sakit. Tapi, sekarang sudah sembuh."
Anaya pening. Hubungan ayah dan anak lelakinya itu memang tidak pernah sederhana.
"Kalau sudah sembuh, kenapa ngga mau menemui dan menolong Ridwan dan malah berpura-pura sakit lagi?" Anaya masih bingung. Ia teringat Ridwan yang meminta membujuk ayahnya.
"Karena dia adalah penyebab sakitku. Kalau kutemui dan kutolong sama saja dengan melukai diriku sendiri lagi."
“Tapi dia butuh ayahnya saat ini. Kenapa tidak dibela? Namanya anak, seburuk apapun bukankah harus didukung?”
Pak Arsyad malah tertawa.
“Kenapa tertawa?’
“Bukannya kamu dulu berseteru dengan Ridwan? Kenapa sekarang memikirkan nasibnya? Sudahlah! Ngga perlu membela dia. Kamu ngga tahu masalahnya," ujar Pak Arsyad.
“Lalu, apa masalahnya?” Anaya ingin tahu.
__ADS_1
“Apa yang kamu sudah dengar?”
“Dia menggelapkan uang perusahaan.”
“Dari mana kamu dengar?” selidik Pak Arsyad.
“Berita dari mana-mana, setelah dia ditangkap.”
“Izzar tidak memberi tahu?”
Anaya merengut mendengar nama itu.
“Anaya. Kenapa kamu meninggalkan Izzar?” Pak Arsyad mengalihkan topik.
Anaya diam.
“Bukankah sudah kubilang supaya hidup berbahagia dengannya? Dia lelaki yang baik, dapat dipercaya dan bertanggung jawab.”
“Dapat dipercaya apa?” Anaya langsung menyela. Agak sengit.
“Aku percaya padanya.” Pak Arsyad menjawab yakin.
“Kenapa percaya dengan orang yang baru dikenal ketimbang anak sendiri?” Anaya tidak habis pikir.
Pak Arsyad malah memandang Anaya aneh.
“Aku tahu alasanmu dulu menikah dengan Izzar cuma karena ambil jalan pintas supaya Ridwan tidak mengambil Naira. Kamu pilih mengorbankan banyak uangmu supaya tidak kehilangan anak itu. Beruntunglah kamu, karena kamu tidak salah memilih orang!”
Anaya tercekat. Ia sadar, tak akan pernah bisa mengelabui lelaki berkuasa ini.
“Tapi, dia banyak bohong!” Anaya masih berusaha mengingkari.
“Bohong apa?”
“Soal proyek, saham, macam-macam.”
“Termasuk wanita lain?”
Anaya menggigit bibirnya.
“Apakah Sasika masih mengganggumu?”
Anaya diam lagi.
“Katakan kepadaku kalau dia masih mengusik. Tapi, aku ngga yakin dia masih akan berani mengganggumu lagi setelah perbuatannya yang terakhir. Bagiku, dia perempuan ular, sama dengan tantenya.” Pak Arsyad tampak kesal.
Anaya mengalihkan pandangannya. Hatinya tak menentu. Ia ingat gadis itu berusaha meminta maaf padanya melalui Ridwan. Apa yang telah terjadi padanya?
__ADS_1
“Anaya aku kesini karena ada yang akan kusampaikan kepadamu. Aku tahu banyak hal yang membuatmu resah. Aku minta maaf, karena semua itu kuakui adalah kesalahanku. Salahku karena Ridwan ternyata gila harta, dan nekat menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Salahku memaksa Izzar melakukan keinginanku dan memaksanya menutupi dan berbohong padamu.”
Anaya memandang lagi wajah mantan mertuanya. Memusatkan lebih perhatian pada ucapan lelaki tua itu.
“Kamu sudah tahu kan, apa latar belakang rencanaku membagikan hartaku saat aku mulai sakit. Hanya agar tidak ada perebutan harta warisan seperti yang banyak terjadi. Namun, kemudian aku jadi tahu karakter Ridwan sesungguhnya setelah mengetahui dia menekanmu soal Naira.
"Aku menyewa profesional untuk menyelidiki semuanya. Sampai akhirnya, aku menyesal telah melibatkan dia dalam usaha yang kurintis sebelum dia lahir ke dunia. Diam-diam dia ternyata telah menggerogoti perusahan seperti yang kamu dengar kasusnya sekarang. Dia bekerja sama dengan sindikat yang menjadikan perusahaanku sebagai sarana kejahatan pencucian uang.”
Mata Pak Arsyad berkaca-kaca. Anaya menggigit bibirnya.
“Aku membangun perusahaan itu dengan integritas. Meskipun dunia bisnis penuh tipu daya, sejak awal aku tidak mau terlibat permainan kotor dan membahayakan seperti itu. Ambisinya membutakan hatinya, sampai dia membuatku sakit. Tak perlulah kuceritakan bagaimana dia sebenarnya ingin membuatku cepat mati.”
Anaya terkejut. Sebegitu tegakah Ridwan kepada ayahnya sendiri?
“Aku ingin menghukumnya saat aku tahu. Tapi, ada alasan yang menahanku. Isteriku, dan anak-anakku yang lain. Sulit memidanakan dan memecat anak sendiri dari perusahaanmu tanpa menyebabkan perpecahan keluarga. Jadi, aku menyusun rencana. Tadinya, aku ingin meminta tolong padamu untuk menjalankan rencana itu. Tapi, kamu perempuan yang main perasaan. Kamu akan mengorbankan apapun jika orang yang kamu cintai terancam. Contoh nyata, alasanmu menikahi Izzar. Tanpa nalar sama
sekali.” Pak Arsyad menggelengkan kepalanya.
Anaya sedikit merasa malu.
“Tapi, kemudian kutemui Izzar ternyata lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Dia pun sama denganmu, akan melakukan apapun untuk orang yang disayanginya. Hanya saja, dia pakai logika dan sangat bisa mengendalikan emosinya.”
Pak Arsyad menghela nafasnya.
“Maafkan karena aku telah mengujinya sekaligus memanfaatkannya. Kumanfaatkan dia menjalankan rencanaku, untuk melepaskan parasit Ridwan dari perusahaanku sekaligus membersihkannya. Kuuji dia dengan menjadikan kamu dan Naira sebagai jaminan sekaligus juga ancaman. Mau tak mau dia menurutiku karena dia tidak ingin kehilangan kalian berdua walaupun resikonya besar. Kehilangan kepercayaanmu salah satunya.”
Mata Arsyad tertuju pada Anaya yang berubah gelisah. Penuturan rahasia mantan mertuanya membuatnya sedikit terguncang.
“Kamu tahu Anaya?” Pak Arsyad mencondongkan badannya. “Penyerahan sahamku kepadanya sebenarnya hanyalah perjanjian sementara untuk memberikan dia wewenang mengeksekusi Ridwan. Namun, menjelang eksekusi itu terjadi, aku berubah pikiran, Kutawarkan dia untuk benar-benar memilikinya. Selain sebagai imbalan, juga karena dia memang kompeten. Tapi, apa yang dia lakukan?”
Pak Arsyad menunda kalimatnya untuk membuat Anaya penasaran dan seakan memberikan efek dramatis.
“Dia menolak! Dia tidak mau menerima apapun. Proyek properti yang sudah kuberikan pun akan diserahkan kembali karena dia tak yakin aku memberikannya karena memang aku suka proposalnya.” Suara Pak Arsyad mencerminkan kekagumannya.
“Dia cuma minta, supaya aku bisa merealisasikan jaminanku, bahwa kamu dan Naira akan kembali kepadanya. Saat itu, dia bahkan belum tahu kamu hamil."
Anaya tertegun dan lalu bertambah resah. Ia tak berani lagi melihat langsung mantan mertuanya itu. Perkataan Izzar yang memintanya untuk percaya saja kepadanya terngiang kembali.
“Tapi, kenapa dia harus merahasiakannya dariku?" Anaya masih belum puas.
“Aku yang memintanya. Karena aku tahu, kamu bersahabat dengan Sandra. Sahabat saling berbagi kan, walau tanpa sengaja. Sementara Sandra dekat dengan salah satu pengacara yang bekerja sama dengan Ridwan.”
Anaya terdiam merenungkan semuanya, mengaitkan semua kepingan cerita. Dari awal sampai akhir. Dari yang terkecil sampai yang terbesar.
Semuanya, kecuali satu telah terjawab. Jika Izzar tidak menerima imbalan banyak uang, darimana Izzar mendapatkan nominal uang dalam cek yang dititipkan pada Sandra?
...***...
__ADS_1