Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
57 - Perjumpaan


__ADS_3

Menurut petunjuk peta di ponselnya, jarak perjalanannya ke kantor polisi tinggal sepuluh menit lagi. Anaya membuka tasnya hendak mengambil dompet. Ia memilih membayar tunai taksinya kali ini.


Tangannya menyentuh sesuatu yang terasa seperti kertas. Ia pun menariknya karena merasa tak tahu kertas apa. Jarinya menjepit sebuah amplop coklat, sama persis dengan yang disodorkan Sandra sebelumnya. Ia pun memaki dalam hati. Pintar sekali sahabatnya itu mengambil kesempatan menyelipkan ke dalam tasnya.


Setelah menimbang sebentar, Anaya membuka dengan merobek sedikit ujungnya. Selembar kertas cek menyembul, dengan nominal sama persis dengan bayarannya kepada Izzar tempo hari. Imbalan dari kontrak pernikahannya.


Seketika Anaya resah menebak maksudnya. Ia mencari-cari kertas atas catatan lain di dalam amplop itu. Tapi tak ada secarikpun yang menyertainya.


“Sudah mau sampai, Bu.” Sopir memberi tahu.


“Oh, iya!”


Anaya merapikan cek itu dan menyelipkannya di tengah buku catatannya, serta mengembalikannya ke dalam tas. Sopir menurunkannya di lobby kantor polisi. Pengacara Ridwan sudah menyambutnya di situ. Dia seorang Wanita muda sebaya Anaya bernama Tania.


Sambil menyertai langkahnya, Anaya berupaya menepis keresahan yang muncul di mobil tadi. Tania mengajaknya menunggu di ruang tunggu.


“Kita tunggu di sini. Bu Anaya sudah kudaftarkan sebagai pengunjung pagi ini.”


Ia merasa gugup.


“Pintu masuknya hanya satu?” tanya Anaya pada Tania.


“Iya, Bu. Kita masuk dan keluar lewat satu pintu itu. Ruangan tahanan ada di basement. Nanti kita diantar kesana,” jelas Tania. “Saya permisi ke toilet sebentar ya, Bu.”


Anaya mengangguk. Tania beranjak meninggalkannya.


Ruang tunggu ini berdindingkan kaca. Tak terlalu banyak orang di sini. Mata Anaya mengitari sekelilingnya. Lalu, tiba-tiba matanya tertumbuk pada seseorang yang tak asing. Lelaki itu baru keluar dari ruangan dalam. Matanya pun tengah tertumpu pada Anaya.


Izzar.


Anaya terpaku. Ia tahu tak mungkin ia bersembunyi meskipun ia sungguh ingin menghindar. Lelaki itu berjalan ke arahnya. Langkahnya sempat terhenti, kala seorang pria di belakangnya memanggilnya. Dia berbicara sesuatu seraya tangannya menunjuk Anaya. Pria itu mengangguk dan menepi ke sisi lain ruang.


“Hai!” Izzar menyapa dan duduk di sampingnya tanpa ada rasa sungkan.


Dada Anaya bergemuruh.


“Mau jenguk Ridwan?”


Anaya kaku mengangguk. Wajahnya lurus menghadap ke muka.


“Gimana kabarmu?” tanya Izzar. Ia tak menyerah hingga Anaya memperhatikannya.


Anaya menoleh. Wajahnya geram. “Apa maksudmu mengirimiku cek itu?”


“Oh, sudah kamu terima berarti.” Izzar tersenyum senang. Umpannya berhasil ditangkap Anaya.


“Kenapa ngga kasihkan langsung ke aku?”


“Memangnya kamu mau kutemui kalau ngga kebetulan seperti ini? Nomorku saja masih kamu blokir. Kutitipkan ke Sandra pun, awalnya kamu tolak kan?”


Izzar menatap wajah Anaya. Meski hatinya panas, Anaya tak sanggup juga terus menantang matanya. Ia memalingkan muka, menatap ke depan. Izzar tak peduli. Ia malah menikmati pemandangan profil samping wajah Anaya.


“Ridwan yang memintamu datang? Atau memang kamu yang ingin menjenguknya?”


“Bukan urusanmu.” Anaya menjawab pelan, tapi tajam. “Kamu sendiri ngapain di sini.”


Sesaat melintas ide untuk memberikan jawaban seketus Anaya, bahwa bukan urusannya pula Izzar berada di sini.


“Mengantarkan data yang diminta penyelidik,” jawab Izzar. Ide konyol yang akan membuat Anaya semakin meradang dihalaunya.


“Kenapa kamu ngga jawab pertanyaanku soal cek itu?” tanya Anaya, tanpa sedikitpun menoleh pada Izzar.


“Jawabannya bisa panjang dan lebar. Ngga nyaman kalau dibicarakan di sini.”


Anaya mendengus kesal.

__ADS_1


“Anaya Paramitha!” Petugas di dekat pintu memanggilnya, bersamaan dengan kedatangan Tania yang baru saja kembali dari toilet. Waktu kunjungannya telah tiba.


“Aku tunggu kamu di sini, ya. Nanti kita bicara,” kata Izzar lembut.


Tanpa menjawab, Anaya beranjak menuju pintu bersama Tania. Di dalam, seorang petugas yang telah menunggu, memberikan tanda agar mengikutinya menuruni tangga dan menelusuri lorong. Entah dinding yang kusam, atau penerangan yang minim. Suasana yang dilaluinya terasa muram.


Di depan sebuah pintu besi, Anaya dan Tania diminta menyimpan tas mereka di loker-loker yang menempel di salah satu dinding, sebelum diizinkan masuk. Di baliknya, ada ruang tamu yang terpisah dari bagian ruang tahanan. Ridwan sudah menantinya.


“Waktu kita cuma setengah jam.” Tania memberi tahu sebelum mengambil jarak dan ruang untuk memberikan keleluasaan bagi Anaya dan Ridwan.


Anaya duduk di seberang Ridwan. Lelaki angkuh itu tampak kuyu dalam balutan kaus hitam dan celana pendek. Anaya prihatin memandanginya.


“Gimana kabar Naira?” Ridwan membuka percakapan.


“Baik.” Anaya menjawab pendek.


“Dia tahu tentang aku?” tanya Ridwan.


“Aku ngga cerita apapun.”


Anaya memang sudah melarang Mba Kemi dan Randi memberitahukannya. Ia juga telah memperingatkan Sandra sebelum pergi tadi, agar anak buahnya di kantor tidak ada yang membicarakan kasus Ridwan.


Meski begitu, ia tahu, tak bisa selamanya juga mereka menutupi. Naira tak lama lagi akan mulai bersekolah di tempat yang baru. Siapa yang bisa mencegah derasnya alur informasi di lingkungannya nanti.


“Kenapa bisa jadi begini, Wan?” tanya Anaya hati-hati.


“Semua gara-gara suamimu. Dia sudah menghasut ayahku, sampai kepemilikan perusahaan diserahkan begitu saja kepadanya. Mencampakkan aku sebagai anaknya.”


“Aku masih ngga percaya ayahmu setega itu?” Anaya meragukan pernyataan Ridwan yang sudah pernah didengarnya.


“Kenyataannya begitu. Dia ngga peduli sama sekali padaku. Bahkan dia ngga mau menolongku.” Ridwan tampak sekali kecewa.


“Ibumu bagaimana?”


Pak Arsyad sakit? Kenapa dia baru mendengar beritanya sekarang?


“Kok, aku ngga tahu kalau ayahmu sakit?”


Ridwan mengangkat bahunya.


“Lalu, apa tujuanmu memintaku kesini?” Anaya menyilangkan kedua tangan di dadanya.


“Kamu harus menolongku.”


“Tolong apa?”


“Bicara dengan suamimu supaya berhenti menuntutku, dan juga membujuk ayahku supaya dia mau membantuku.”


Anaya termenung. Permintaan yang sulit rasanya mengingat hubungannya dengan Izzar.


“Wan, aku ngga pernah mencampuri urusan pekerjaan Izzar. Dan, kapasitasku sebagai apa jika harus membujuk ayahmu. Bagaimana juga caranya, kalau dia sedang sakit dan ngga boleh dijenguk?” Anaya mencoba mengelak.


“Izzar suamimu. Bujuk ayahku melalui suamimu. Karena ayahku sudah dikuasainya” Ridwan memberi tahu cara.


“Aku ngga bisa,” elak Anaya.


“Harus bisa! Kamu tega Naira tahu bapaknya dipenjara.”


“Kamulah yang tega sama anak itu!” Anaya membantah.


Ridwan diam.


“Tapi, benarkah kamu melakukan hal yang dituduhkan itu?” tanya Anaya.


Ridwan melengos. Ia tak berani memandang Anaya lagi.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa menolongmu kalau aku ngga tahu kejadian sebenarnya?” Anaya memancing.


“Kamu harus menolongku! Sebab, semua ini gara-gara suamimu itu!” Ridwan malah melotot marah. Mengulang lagi menyalahkan Izzar.


“Kamu sudah tahu kan kalau dia memang mengincarku? Dia menunggu sampai bisa menguasai perusahaan ayahku, lalu menghancurkan aku.” Ridwan geram.


“Aku ngga tahu soal itu.” Anaya menjawab sejujurnya.


“Jangan bohong dan membela suamimu itu.” Ridwan tak percaya.


“Aku ngga bohong.”


Anaya memperingatkan dirinya untuk tidak terpancing oleh Ridwan.


“Lagipula, buat apa dia melakukan hal itu?”


“Kok masih naif juga sih kamu? Aku kan sudah pernah bilang, dia memaanfaatkan kamu dan Naira supaya bisa merebut perusahaan itu!” Suara Ridwan keras. Cenderung membentak.


Tania di sudut ruangan sampai menoleh ke arah mereka.


“Pokoknya, kamu harus menolongku! Besok, suamimu harus mencabut laporan dan tuntutannya!”


“Jangan memaksaku!”


Dada Anaya berdebar keras. Ia jadi jengkel. Tabiat Ridwan tak juga berubah, menuding orang lain atas masalah yang dihadapinya.


Pening kepalanya terasa lagi. Tanpa mengucapkan apapun, ia beranjak, memberi kode pada Tania untuk pergi, mengakhiri kunjungannya.


Di ruang tunggu, Izzar setia menunggu Anaya. Ia langsung berdiri begitu melihat dirinya. Anaya berjalan cepat menuju pintu keluar. Mukanya masam menahan pusing dan mual. Ia tak dapat menutupi kejengkelannya karena seolah dituntut bertanggung jawab, gara-gara persoalan Ridwan dan Izzar.


“Anaya!” Izzar mengejar dan menyejajari langkahnya.


“Ngga usah ikutin aku!” ketus Anaya.


“Kita kan mau bicara?”


Anaya baru teringat lagi tentang cek yang diberikan Izzar. Ia juga jadi tersadar jumlah tersebut sangatlah besar untuk bisa dimiliki oleh Izzar yang baru setahun ini memulai bisnisnya lagi. Dari mana ia mendapatkan uang itu?


Langkah Anaya terhenti di halaman parkir kantor polisi. Ia juga baru menyadari kalau tidak membawa mobil. Bagaimana pula ia menghindari Izzar. Rasa kesalnya bertambah.


“Sudah bicara di sini saja. Cek itu, uang siapa?” Anaya berbalik menghadap Izzar.


“Ya, uangku lah!”


“Dari mana, kamu dapat uang sebanyak itu?”


“Dari seseorang.”


“Pak Arsyad?” pancing Anaya.


“Kenapa kamu mengira dari dia?” Izzar heran.


“Karena aku yakin, pasti ada kaitannya antara kamu, Pak Arsyad dan Ridwan. Juga aku dan Naira. Kamu masih belum menjelaskan alasan Pak Arsyad memberikan penguasaan perusahaannya ke kamu dan bukan ke anaknya. Dan sekarang, kamu menjatuhkan Ridwan dengan tuduhan menggelapkan uang perusahaannya. Kamu sengaja menyingkirkan dia!


“Lalu, tiba-tiba kamu pun punya uang, sebanyak yang kubayarkan ke kamu untuk menjadi suami pura-pura aku. Apa maksudnya dikembalikan, aku ngga ngerti. Mungkin kamu mau menghinaku. Tapi aku jadi curiga, jangan-jangan itu uang perusahaan atau dari Pak Arsyad!”


Anaya bicara berapi-api. Semua emosinya tergambar di matanya yang membesar dan kulit wajahnya yang memerah.


Sesungguhnya, ia masih ingin meneruskan omelannya. Tapi, denyutan di perut bawah yang diikuti rasa kram menghentikannya. Anaya merunduk memeganginya.


Izzar cepat menyangga tubuhnya. "Kenapa?"


"Bawa aku ke rumah sakit." Anaya meringis menahan nyeri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2