Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
21 - Pertemuan


__ADS_3

Izzar heran dengan dirinya, mengapa ia tak ingin Anaya tahu dirinya bertemu dengan Sasika. Apakah karena ia takut dengan ledekan Anaya, ataukah karena keinginan menjaga perasaan. Tapi, perasaan siapakah yang sebenarnya ingin dijaga. Anaya? Sasika? Atau dirinya?


Sasika seakan mengambil momen ulang tahun Izzar untuk mencoba mendekatinya lagi. Izzar curiga, Sasika mendapatkan info tentang dirinya dari Bu Erlina. Sejak Izzar bertemu Bu Erlina, beberapa orang teman Izzar, termasuk Randi, memberitahukan bahwa Sasika menghubungi mereka untuk memperoleh kabar terbaru tentang Izzar.


Dan, entah dari siapa perempuan itu mendapatkan alamat rumah baru Izzar. Tak mungkin dari Randi. Sahabatnya itu bercerita, ia malah melarang Sasika menghubungi Izzar lagi, sebab mantan tunangannya itu sudah menikah dengan sepupunya.


Tetapi, kenyataannya, Sasika tetap menghadirkan dirinya kembali melalui kiriman cake ulang tahun, yang disusul


dengan pesan-pesan  dan telefonnya. Izzar yang pening, menemui Randi di kantornya dan menceritakan kegalauannya.


“Jangan berbuat yang aneh-aneh, Zar!” Randi malah mengancam Izzar.


“Memangnya aku mau ngapain, sih?” Izzar malah heran sebab jadi dia yang dituduh Randi akan melakukan hal yang tidak diinginkan.


“Ya aku percaya kamu ngga ngapa-ngapain. Tapi aku yakin Sasika ngga akan diam saja. Aku dengar dia batal


menikah dengan pacarnya, dan mungkin dia juga sudah mendengar usahamu mulai bangkit lagi dari tantenya. Makanya, dia  berusaha mencari cara untuk balik mendekati kamu.”


“Untuk apa lagi, kan kamu sudah kasih tahu kalau aku sudah menikah dengan Anaya?”


Randi tertawa.  Walau ia lebih muda dua tahun dari Izzar, tapi ia lebih berpengalaman soal wanita.


“Bagi sebagian perempuan, status seorang lelaki kadang ngga jadi masalah, Zar. Dia bisa gunakan segala cara untuk mendapatkan pria yang diinginkannya, walaupun harus menyakiti dan menyingkirkan saingannya. Tapi, lelaki juga sama ada yang begitu juga, ngga peduli wanita yang diincarnya sudah punya suami.”


Izzar jadi teringat dengan Tristan, dan betapa takutnya Anaya menemui lelaki itu.


“Zar, aku mau tanya?” Randi berubah serius.


“Ya?”


“Kamu masih mencintai Sasika?”


Pertanyaan Randi mengejutkan Izzar. Namun, ia segera waspada untuk tidak tersandung jebakan Randi.


“Ngga!” Izzar memilih jawaban yang memang sudah sepatutnya ia pilih. Dan lagipula ia sudah lama kehilangan rasa terhadap Sasika.


“Aku amati, Sasika ini sepertinya nekat. Aku yakin, bukan tanpa sengaja ia mengirimkan kue ulang tahun ke


rumahmu, di saat ia sudah tahu bahwa kamu sudah beristeri. Kamu harus hati-hati, Zar! Jangan sampai kamu kasih kesempatan dia merusak keluargamu. Menurutku, dia sebenarnya sama saja seperti tantenya. Agak-agak licin dan licik begitulah,” ujar Randi.


Izzar diam meresapi kata-kata Randi.


“Anaya sendiri, bagaimana sikapnya waktu menerima kiriman kue dari Sasika itu?”


“Hmm… dia cuma ngeledekin dan nyindir aja, sih.”


“Ngga marah?”


Izzar mengangkat bahu. Sejak Anaya berdamai dengan Izzar, hampir tak pernah Izzar menemukan Anaya marah. Dalam kasus kiriman Sasika, tak mungkin juga Anaya marah. Sesuai perjanjian kontraknya, mereka tak punya hak saling mencampuri kehidupan pribadi. Walaupun, mereka sudah saling mempercayakan cerita terdalam diri mereka pada satu sama lain.

__ADS_1


Randi tidak tahu soal kontrak itu. Dan, tidak boleh tahu.


“Kamu sudah tahu, tingkat tertinggi dari segala bentuk kemarahan Anaya?”


“Hmm… Jujur aku ngga tahu. Kami baik-baik saja soalnya selama ini.”


Randi mencondongkan tubuhnya kepada Izzar yang duduk di seberang mejanya.


“Anaya itu, kalau sudah sangat marah, tidak akan teriak-teriak atau nangis-nangis. Dia cuma diam, lalu pergi. Jika


dia sudah melakukan hal itu, jangan harap kamu bisa mendapatkan maafnya. Contohnya si Ridwan.”


Izzar mengangguk tanda mengerti.


Selama berbincang dengan Randi, Izzar sengaja mensenyapkan ponselnya. Begitu ia membukanya sambil berjalan ke mobilnya di parkiran, ia menemukan notifikasi puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab. Paling banyak dari Sasika. Sedang ia mengamati layar ponselnya, Maharani menelefon. Ia memberi tahu Sasika menunggunya di kantor.


Randi benar, mantan tunangannya itu memang nekat.


“Dia nanya Bapak kemana, kapan balik ke kantor. Sudah dibilang kalau Bapak hari ini ngga ke kantor, karena jadwal ke lapangan. Tapi dia malah tanya posisi Bapak lagi di mana. Kayaknya mau nyusul.” Maharani memelankan suara resahnya.


“Bilang saja, kamu ngga tahu aku di mana.”


“Sudah, Pak! Tapi saya malah dimarahi. Katanya sekretaris bodoh, masa ngga tahu bosnya kemana.” Maharani


terdengar kesal.


“Dia juga ngorek-ngorek soal Bu Anaya. Nanya soal kerjaannya, latar belakangnya. Saya sudah bilang saya ngga tahu karena ngga kenal, supaya ngga ditanya macam-macam… Eh! Saya malah diomeli lagi… Tolonglah, Pak! Bapak kesini atau telefon saja Bu Sasika itu!”


“Oke! Aku akan telefon dia. Kamu siap-siap pulang saja!”


Izzar jadi kasihan pada Maharani. Gadis cerdas itu benar-benar mati gaya menghadapi Sasika. Izzar juga heran dengan sikap keras hati Sasika.


Di dalam mobil, Izzar menelefon Sasika, yang langsung dijawab pada deringan pertama dengan nada suara merajuk menanyakan keberadaan Izzar.


Izzar memberitahunya ia tak akan kembali ke kantor, namun Sasika tetap memaksa untuk berjumpa.


“Aku ngga bisa. Aku harus pulang.” Izzar mengelak.


“Kalau begitu, kita ketemu di rumahmu saja. Aku belum pernah ke rumahmu yang sekarang.”


“Ada isteri dan anakku di rumah.” Izzar berusaha menyiutkan nyali Sasika.


”Ngga apa-apa. Biar sekalian aku kenalan sama mereka!”


Izzar kaget dengan respon Sasika. Kenekatan Sasika harus segera dihentikannya. Mungkin dia mengira Izzar akan menuruti apapun keinginannya seperti dulu.


“Kenapa kamu maksa banget ingin menemuiku, sih?”


“Ada yang harus kubicarakan.”

__ADS_1


Agar  Sasika tidak berusaha terus mengganggunya, akhirnya Izzar memberikan Sasika kesempatan menjumpainya, dengan kesepakatan hanya sebentar saja. Karena sudah menjelang sore, Izzar menyuruh Sasika menemuinya di sebuah coffee shop tak jauh dari rumahnya. Ia sudah berjanji pada Naira akan pulang cepat.


Dua puluh menit menunggu, Sasika datang juga. Dia mengenakan gaun kuning muda di bawah lutut, dengan sneakers putih dan sling bag yang disandangnya di bahu. Rambutnya yang ikal tergerai membingkai wajah bundarnya.


Bibir Sasika merekahkan senyum lebar begitu melihat Izzar. Ia nyaris mencium pipi Izzar seperti kebiasaannya dahulu jika baru bertemu, tapi Izzar halus menghindar. Izzar tak peduli dengan raut kecewa di mata Sasika. Rasa sakitnya terhadap wanita itu menciptakan jarak. Selain itu, ia merasa dirinya adalah lelaki yang sudah berkomitmen yang tak pantas berkontak fisik dengan wanita lain.


“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Izzar langsung setelah Sasika duduk di hadapannya.


“Ih! Kok ngga ada basa-basinya? Kita kan belum tanya-tanyaan kabar!”


“Kamu kan sudah cari tahu kemana-mana soal kabarku.” Izzar menyindir Sasika.


“Habis kamu menghilang!” Sasika berkilah.


“Kan kamu yang ninggalin aku duluan, terus mutusin aku.” Izzar tak mau kalah.


Sasika kemudian terdiam. Seorang pelayan datang. Ia memesan ice café latte.


“Jadi, kamu mau bicara apa?” Izzar melunakkan nada suaranya.


Sasika menatap Izzar. Ia menarik panjang nafasnya, sebelum berkata, “Banyak!”


Izzar menyesap tehnya menunggu Sasika melanjutkan kata-katanya.


“Yang pertama, aku mau minta maaf, sudah ninggalin kamu di saat kamu mungkin sebenarnya membutuhkan aku.” Sasika menggigit bibirnya.


Tak ada tanggapan yang diberikan Izzar.


“Yang kedua, aku kangen banget sama kamu… Aku menyesal dulu ngikutin saran Tante Erlina. Gara-gara dia aku jadi mutusin kamu…” Air mata Sasika menggenang.


Namun, Izzar tak terpengaruh. Hatinya kepada Sasika sudah telanjur mengeras.


“Aku dengar, kamu belum lama ini batal  menikah dengan pacarmu. Disuruh tantemu juga?” tanya Izzar. Ia seperti  belum puas menyudutkan Sasika.


“Bukan.”


“Kenapa?” Izzar jadi ingin tahu.


“Aku ngga cinta sama dia." Sasika menyusut air matanya dengan tisu. "Karena..., aku masih teringat kamu terus.”


Sasika tersenyum dan dengan binar mata yang menyiratkan ucapannya. Berharap Izzar memiliki rasa yang sama.


Melihatnya, Izzar jadi tersenyum juga. Bukan karena tersanjung dengan ungkapan perasaan Sasika, atau terpesona dengan senyum dan matanya. Tapi, karena ia malah jadi teringat Anaya. Mata Anaya lebih besar daripada Sasika, namun lebih teduh dan menenangkan untuk diselami.


Izzar tak menyadari, pemilik mata teduh yang sedang dipikirkannya, sedang mengamati dirinya di luar coffee


shop.


                                                                                     ***

__ADS_1


__ADS_2