
Randi berubah pikiran. Ia malah membawa Anaya ke sebuah restoran di ujung timur Jakarta. Lokasinya di pinggiran hutan kota dan terletak di tepi danau. Bangunannya didominasi kayu dan bambu. Ia memilih saung dengan meja lesehan yang agak menyepi.
Anaya sama sekali tidak protes. Ia menurut saja dengan apa yang dipilih Randi yang memesankan ikan laut, sayuran, dan jus buah untuk Anaya.
"Katanya, kalau lagi hamil harus banyak makan ikan supaya anaknya nanti pintar. Kayak aku!" Randi menyerahkan catatan pesanannya kelada pelayan yang tersenyum mendengar kelakarnya.
Anaya tidak menanggapi. Ia berselonjor kaki dan menyandarkan tubuhnya di dinding saung sambil mengecek ponselnya. Pesannya kepada Pak Arsyad masih tercentang satu.
"Ada pesan dari Izzar?" tanya Randi.
Anaya menggeleng.
"Kalian sedang ada masalah?"
Anaya mengangguk.
"Ada kaitannya dengan Ridwan?"
Anaya mengangguk.
"Izzar tahu ngga, kamu hamil?"
Anaya menggeleng.
"Kenapa dia ngga tahu?" Randi mengubah jenis pertanyaannya menjadi terbuka yang menuntut penjelasan. Ia sebal hanya dijawab dengan bahasa isyarat gerakan kepala.
"Aku ngga mau dia tahu." Anaya menjawab tanpa matanya teralihkan dari layar ponselnya.
"Kenapa dia ngga boleh tahu?"
"Ngga penting."
"Eh! Ngga penting bagaimana? Aku yakin Izzar akan berbeda kalau tahu kamu hamil! Kalian kan bisa bicara baik-baik."
"Aku sudah membebaskannya untuk pergi, dan dia memilih pergi." Anaya mengangkat bahu, dengan mata kabur walaupun ponsel masih di depan mukanya.
Randi mengulurkan tangannya mengambil ponsel Anaya dari genggamannya dan meletakkannya di atas meja. Ditatapnya Anaya tajam.
"Fokus! Ceritakan semuanya dari awal!" Randi tidak sedang bercanda. Kata dan sikapnya sangat serius.
"Dari mana awalnya?" Anaya mengulur waktu dan jawaban.
"Terserah dari titik semula mana kamu mau cerita. Aku cuma minta kamu jujur. Terus terang saja, aku sebal kalau kamu sudah mulai begini. Mengabaikan perasaan orang lain."
"Orang lain siapa?"
"Izzar!"
"Kalau gitu, kamu tanya saja sama dia!" Anaya terpancing jengkel karena Randi selalu membela sahabatnya.
__ADS_1
"Nanti pasti akan kutanya dia. Sekarang kamu dulu kasih tahu aku ada apa sebenarnya! Kalau memang dia yang brengsek, aku yang beresin dia!" tegas Randi.
Anaya menarik nafas. Hatinya sebenarnya sudah siap mengungkapkan semuanya. Rahasia dan masalahnya. Ia hanya ingin memastikan Randi tidak memihak Izzar.
Sebaliknya, Randi yang mengenal baik sepupu dan sahabatnya, curiga Anaya terlalu mendramatisir persoalan.
Maka, dari bibir Anaya meluncurlah rentetan kisah yang sebenarnya sudah diketahui Randi, namun tidak disadari banyak yang disembunyikan darinya. Diungkapkannya darimana segalanya bermula.
Anaya menjeda uraiannya ketika makanan dan minuman datang. Dan melanjutkannya lagi setelah pelayan selesai menata meja.
Emosi hatinya yang semula bergelombang tidak tertib di dalam jiwanya, perlahan melandai.
"Jadi, begitu ceritanya." Anaya menutup dengan menyesap jus wortelnya.
Randi tak lepas memandanginya. Anaya menunggunya berkomentar. Sepupunya itu malah menggelengkan kepala dan menarik nafasnya panjang. Ia seperti sedang meluruskan nalarnya dalam mencerna kisah yang dituturkan Anaya.
"Gimana menurutmu? Aku ngga salah, kan? Wajar kan kalau aku marah karena dimanfaatkan?"
Randi mengerjapkan matanya. Ia tak menyangka pernikahan keduanya yang mendadak, dilakukan karena Izzar sedemikian putus asanya, dan pengorbanan Anaya sebab takut kehilangan Naira.
"Kalian berdua gila!" Kalimat itu meluncur sarkas dari mulut Randi.
Dia meneguk air mineralnya sedikit sebelum menuang nasi dan makanan lainnya ke atas piring.
"Cerita kamu bikin aku lapar!" cetusnya sambil memasukkan potongan cumi saus padang ke dalam mulutnya.
Anaya beberapa saat hanya bisa diam memperhatikan.
Setelahnya, masih ada beberapa lagi umpatan Randi. Anaya jadi kehilangan selera makannya. Hormonnya yang memang sedang berubah ditambah perasaan bersalah membuat auasana hatinya menjadi gloomy.
Ia kembali menyandarkan tubuhnya di dinding saung. Wajahnya muram.
Randi cepat menyadari hal itu.
"Kenapa ngga dimakan?"
"Ngga nafsu!"
"Gara-gara ocehanku?" tanyanya pira-pura lugu.
"Ya! Kamu ngga asik. Makanya dari dulu aku ngga mau cerita ke kamu. Tanggapannya nyebelin. Aku tahu aku salah, seolah sudah mempermainkan pernikahan, tapi ngga perlu menghakimi aku kayak gitu!" Anaya meluapkan kekesalannya.
Randi meneguk minumannya. Wajah Anaya yang merengut malah terkesan lucu baginya. Seperti saat mereka bertengkar di masa kecil dulu. Pasalnya, dia senang menggoda Anaya hingga merajuk ngambek atau bahkan menangis.
"Oke! Aku minta maaf karena bereaksi kayak tadi. Soalnya aku sama sekali ngga nyangka kalian membuat kesepakatan yang menurutku konyol begitu." Randi menahan tawanya.
Anaya melengos. "Tadi dibilang gila, sekarang konyol!"
"Sorry, Nay!" Randi mencoba menahan dirinya. "Makanlah dulu! Kasihan babymu itu!"
__ADS_1
Randi memotong-motong ikan bakar dan meletakkan bagian daging yang tak bertulang ke piring Anaya.
"Ayo, makanlah ikan itu! Bagus buat perkembangan otak anakmu!"
"Sok tahu!" Anaya menggeser juga duduknya mendekati meja.
"Tahulah! Ini buktinya!" Randi menunjuk keningnya. "Mamaku bilang dulu waktu hamil aku, suka banget makan ikan laut. Makanya aku lahir dengan otak yang cerdas."
Senyum jenaka Randi tersungging di bibirnya. Seperti yang biasa dilakukannya jika sudah mulai bercanda.
"Terserah kamulah!" Anaya mencelupkan potongan ikannya ke dalam sambal kecap.
Randi memperhatikan Anaya makan. Meski perlahan, dia puas karena cukup banyak juga yang dihabiskan Anaya. Entah mengapa ia merasa bertanggung jawab menjaga kehamilan sepupunya ini.
Benaknya dipenuhi siasat untuk memberitahukan Izzar tentang berita ini. Dia pasti akan bahagia akan memiliki anak kandung. Resikonya paling Anaya akan ngamuk dan memaki-maki dirinya.
"Nay... Kamu ngga ingin Izzar kembali?"
"Aku sudah kehilangan rasa percayaku."
Randi terdiam. Ia sesungguhnya tidak yakin Izzar bersikap dan berlaku seperti yang dituduhkan Anaya. Tapi, selama ia belum mendengarkan kisah dari sudut pandang Izzar, ia mencoba tak memihak.
Diam-diam, ia memfoto Anaya dengan ponselnya dan mengirimkannya kepada Izzar.
Tak lama, dia membalas. Namum hanya dengan satu emoji thumbs up saja. Tanpa kata yang lain.
"Jempol doang?!" Randi berseru.
"Ada apa?" Anaya heran.
"Ngga apa-apa. Cuma jengkel aja sama Sarah, sudah nulis pesan panjang cuma dijawab jempol aja."
Randi mengelak. Untung saja Anaya percaya. Ia tak tahu Randi sedang memendam rasa gemasnya pada Izzar.
Selesai makan, Randi akhirnya baru berbicara serius tentang pendapatnya terhadap kemelut yang dihadapi Anaya. Ia berusaha membuka hati Anaya untuk menerima kemungkinan lain. Ia bahkan menawarkan akan membantu menjembatani komunikasi Anaya dan Izzar.
Tapi, Anaya menolak.
Randi tidak memaksa. Ia yakin akan menemukan jalan dan cara lain.
Anaya diantar kembali ke apartemen oleh Randi. Ia tak jadi menengok rumahnya karena merasa sangat lelah dan mengantuk.
Saat berpamitan, Anaya berpesan, "jangan sampai Izzar tahu aku hamil! Kalau dia sampai tahu..." Telunjuk Anaya bergerak membentuk garis horisontal di lehernya.
Randi menggelengkan kepalanya. Bukan karena takut, tapi sebab kesal dengan kerasnya hati Anaya.
Di sisi lain kota, di kamar yang sebelumnya ditempati Anaya dan Naira, Izzar memandangi lagi foto yang dikirimkan Randi nyaris tanpa berkedip. Entah perasaannya saja, atau memang ada yang tampak berubah di wajah Anaya. Dia tetap saja cantik. Namun ada aura berbeda yang seperti hidup berpendar di diri wanita itu. Izzar tak tahu apa namanya.
Ia mendesah. Kepada udara, ia mengeluhkan keputusan yang telah diambilnya.
__ADS_1
......***......