
Izzar menelefon memberi tahu bahwa ia tidak bisa memenuhi janji untuk mengantar Anaya ke gudang Randi karena urusan pekerjaannya belum selesai. Meski sedikit kesal, Anaya tidak bisa memaksa. Lagipula, hari ini kan hari kerja. Memang waktunya orang bekerja. Satu yang ia sesali adalah, ia tidak membawa mobilnya sendiri karena berpikir Izzar akan menjemputnya dan Naira.
Maka, jadilah ia dan Naira menumpang taksi online sebab, jika pulang dulu ke rumah, artinya perjalanannya menjadi lebih panjang karena harus mundur terlebih dahulu.
Tiba di komplek pergudangan di daerah utara Jakarta, Anaya masih harus menunggu Randi yang belum tiba. Lima belas kemudian, baru sepupunya itu muncul.
"Lama amat sih?" protes Anaya.
"Aih! Kamu aja yang kecepetan!" Randi tak mau kalah.
Anaya merengut.
"Mana Izzar?" tanya Randi sambil mengeluarkan kunci dari sakunya.
"Kerjalah dia..."
"Sibuk banget sih dia sekarang? Susah banget mau ditemuin." Randi membuka rolling door gudangnya.
Anaya tidak menjawab. Ia terperangah melihat dalam gudang yang hampir seluruh isinya adalah barang perabotan miliknya.
"Ini punyaku semua?"
"Iya," jawab Randi. Ia menggandeng Naira mencegah anak itu mengeksplor ruangan yang padat dengan dengan lemari-lemari, bufet, dan kursi-kursi berat berkayu jati, barang-barang elektronik, dan kotak-kotak berisi perlengkapan dapur, lukisan-lukisan dan lainnya.
Anaya memegang ujung sandaran kursi tamu berukir yang joknya sudah menipis.
"Mau dipindahkan semua lagi ke rumahmu?" tanya Randi.
Anaya ragu. Semua mebeulair adalah peninggalan orang tuanya, dan bahkan ada yang dari kakek neneknya. Rangka kayunya masih utuh semua, namun cat pliturnya sudah menipis dan kusam. Bahan pembungkus jok kursi juga banyak yang sudah memudar. Seingatnya sebelum dipindahkan, seluruhnya masih terlihat baik-baik saja. Mungkin karena tidak dirawat dan dibersihkan berbulan-bulan, sehingga semua tampak terlihat tua dan menyedihkan.
"Aku ragu, Ran... Kalau barang-barang elektronik, perlengkapan dapur, sepertinya masih banyak yang aku butuhkan. Tapi, kalau lemari, meja kursi dan tempat tidur itu... sudah ngga layak deh..." Anaya menimbang-nimbang.
"Sebenarnya semuanya ini masih bagus. Tinggal diperbaiki, plitur ulang, ganti jok... bagus lagi. Tapi, rumahmu sudah dirombak jadi model modern minimalis, ngga matching juga dengan barang-barang vintage begini," ujar Randi.
"Makanya." Anaya menghela nafasnya.
"Mau kamu lepas saja semua ini?" Randi menawarkan.
"Maksudnya?"
"Serahkan semua mebeulair itu ke aku, nanti kuperbaiki dan kujual lagi. Pasti ada kok orang yang nyari barang-barang antik kayak begini."
Anaya tercenung berpikir.
"Tenang, aku ngga ambil untung banyak!" sergah Randi.
Anaya tertawa. Randi sepupunya ini memang pengusaha segala ada. Apa saja bisa diolahnya untuk mendapatkan laba.
"Terserah kamulah!" Anaya pasrah.
__ADS_1
"Ngga ada yang ingin kamu simpan? Untuk kenang-kenangan?" tanya Randi.
Mata Anaya mencari-cari sesuatu yang disukainya. Tapi, ia bukan tipe orang yang terlalu romantis terhadap benda dengan menyimpan sesuatu yang telah usang dan memang tidak dibutuhkannya lagi. Lagipula, ia sudah punya keinginanan dan bayangan sendiri tentang benda-benda interior rumahnya nanti.
"Begini saja, kalau sudah aku rapikan semuanya, nanti kamu lihat dulu. Kalau ada yang menarik hatimu, bisa kamu ambil," usul Randi.
Ide yang bagus. Anaya langsung setuju. Selanjutnya, ia menandai barang-barang elektronik dan perlengkapan dapur yang masih tetap akan dipakainya. Juga benda-benda lainnya.
Anaya melakukan pemilahannya sampai menjelang sore. Naira yang bosan dan lapar sampai dibawa pergi dulu oleh Randi keluar area pergudangan untuk makan.
Selesai memilah, Anaya merasa lelah juga. Ia memandangi lembar-lembar post it yang bertebaran tertempel di segala barang yang akan kembali ke rumahnya. Randi sudah menyiapkan mobil pengangkut untuk besok pagi.
Randi mengantar Anaya dan Naira pulang. Jalanan sore yang macet, membuatnya baru tiba kembali di rumah saat senja.
Setelah selesai membersihkan diri dan meminta Mba Kemi menemani Naira bermain, Anaya menghampiri Izzar yang sudah kembali ke rumah sebelum dirinya. Lelaki itu sedang duduk termenung di sofabednya dengan ponsel di tangannya.
"Hei!" Anaya menyapa dan langsung duduk menyandarkan tubuhnya di sebelah Izzar.
"Hei!" Izzar membalas. "Sudah selesai milih barangnya?"
"Sudah. Tinggal angkut saja besok. Ngga semua tapinya. Banyak yang ditinggal kayak lemari-lemari, tempat tidur dan kursi. Terserah Randi mau diapakan. Tapi mau ngga mau, harus langsung beli yang baru," jawab Anaya.
Izzar diam tidak menanggapi. Anaya menyadari ada yang tak biasa.
"Kamu kenapa?" Anaya mengangkat tubuhnya dan menatap Izzar tajam.
"Hmmm.. Ngga apa-apa."
"Ada masalah?" tanya Anaya.
"Ngga apa-apa." Izzar menjawab segan.
"Ada apa?" Anaya mulai curiga.
Izzar menarik nafas panjang. Anaya menunggu jawaban. Namun, Izzar malah memandangi Anaya.
"Izzar?" Anaya tak sabar.
"Kalian apakan Sasika?" tanya Izzar.
Anaya terpana. Kenapa nama perempuan itu muncul lagi di antara mereka dan memancing emosinya.
"Benar kata Sandra rupanya, mantanmu itu seperti anak kucing saja. Cengeng! Tukang ngadu! Tadi pagi sama tantenya, terus sekarang sama kamu?" Anaya berubah sengit.
Izzar hanya memandangi Anaya tanpa kata. Dibiarkannya Anaya menceritakan kembali apa yang dikisahkan Sandra hingga emosinya terlampiaskan tuntas.
"Jadi, dia ngadu apa sama kamu?" Anaya menatap Izzar garang.
"Ngga ngadu apa-apa." Izzar menjawab santai.
__ADS_1
"Lah! Terus kenapa kamu nanya dia diapain oleh kami?" Anaya tak habis pikir.
"Tadi Bu Erlina telefon aku. Dia ngga terima Sandra memarahi keponakannya, dan seolah kalian meremehkannya. Dia juga marah karena kamu tidak menganggapnya sebagai klien penting lagi. Dia menuduh sikap kamu berubah gara-gara aku. Karena kamu cemburu sama keponakannya." Izzar tertawa di ujung kalimatnya.
Anaya diam.
"Bu Erlina sampai tanya ke aku, apa benar kamu cuti dan kita mau pindah rumah. Dia curiga itu alasan kamu menghindari keponakannya."
Tangan Izzar meraih kepala Anaya bersandar di bahunya.
"Jadi, bukan Sasika yang mengadu. Tapi, tantenya yang komplain. Aku kena getahnya juga, ikut dimarahin ngga jelas."
Anaya memejamkan matanya. Ia sungguh malas berhubungan dengan orang seperti Bu Erlina dan Sasika. Dikiranya, keterkaitannya dengan keduanya sudah selesai, tapi rupanya belum.
"Kalian harus hati-hati. Bu Erlina itu, jika sudah kecewa atau tak suka dengan seseorang, bisa sangat kejam. Ia baru puas kalau orang tersebut jatuh, sejatuh-jatuhnya... Contohnya aku."
Anaya membuka matanya. Ada rasa khawatir yang tumbuh di hatinya.
"Terus, aku harus bagaimana?"
Izzar bingung bagaimana harus menjawab. Ia malah jadi teringat perkataan Pak Arsyad dulu, yang akan menghabisi Sasika jika dia mengganggu Anaya.
Dalam hati ia berdoa, semoga lelaki tua itu tidak tahu persoalan ini. Bisa pecah perang kuasa nanti, antara Pak Arsyad dengan Bu Erlina.
"Zar, kenapa dulu kamu suka Sasika?"
Izzar terdiam sesaat sebelum menjawab, "dulu dia baik."
"Terus, kenapa kamu sekarang suka sama aku?"
"Hmm...Karena sudah telanjur terjebak sih kayaknya, habis tiba-tiba dipaksa nikahin."
Tangan Anaya spontan mencubit lengan Izzar. Membuatnya meringis kesakitan.
"Yang bener jawabnya!" Anaya cemberut.
Izzar tersenyum. Sesungguhnya ia bingung menjawab apa. Yang ia tahu, ia merasa nyaman dan lengkap berada dekat Anaya.
"Mama!"
Naira mendadak muncul di pintu.
"Ya?" Anaya menoleh.
"Jangan dekat-dekat pacar aku!" teriaknya marah.
Anaya yang berusaha bertahan memeluk Izzar mau tak mau mengalah kala tangan anak kecil itu ngotot menariknya menjauh dari lelaki idola mereka berdua.
Izzar menyempatkan mencium kening Anaya sebelum melepaskannya. Naira yang melihatnya menjerit protes tidak terima.
__ADS_1
Anaya tertawa meninggalkan Izzar yang harus membujuk melunakkan kemarahan Naira. Posesif sekali anak itu.
***