Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
52 - Positif


__ADS_3

Meskipun sudah seperti yang diduganya semalam, testpack pertama yang digunakan Anaya di pagi hari, menunjukkan garis dua di bagian indikatornya.


Seolah tak percaya, Anaya membuka tiga kemasan testpack yang lain, dan memakainya sekaligus. Semua hasilnya dijejerkan di meja wastafel. Meski ada yang sangat nyata dan ada yang samar, tetap saja semuanya memberikan hasil dua garis


Anaya positif hamil.


Dengan hati galau, ia melemparkan semua alat uji kehamilan tersebut ke dalam tong sampah. Lalu mandi, dan kembali meringkuk di tempat tidur. Pusing dan mualnya makin menjadi.


Sandra yang baru selesai membuat teh, menghampiri Anaya.


"Bagaimana hasilnya? Positif?" tanya Sandra.


Anaya mengangguk.


"Mau kutelefon Izzar supaya dia kesini?" Sandra berpikir itu ide yang bagus.


Anaya menggeleng. "Jangan sampai dia tahu."


"Dia harus tahu, Nay." Sandra membujuk.


"Jangan coba-coba kamu berani kasih tahu dia!" gertak Anaya.


Sandra membelai kepala Anaya. Ia iba dengan kondisi fisik Anaya yang melemah di awal kehamilannya, seperti kala mengandung Naira dulu. Tapi, sekaligus juga ia kesal karena Anaya begitu kaku hatinya.


Dalam hati, ia bertekad memberitahukan Izzar. Bagaimanapun caranya. Ia hanya perlu mencari waktu yang tepat saja.


...***...


Hari pertama Izzar bekerja sebagai pemilik saham perusahaan Pak Arsyad berjalan terasa lambat dan menyebalkan baginya. Ia harus menghadapi penolakan sebagian besar direksi dan pegawai yang tidak terima dirinya yang tidak dikenal dan seolah datang dari antah-berantah tiba-tiba diserahkan kewenangan tinggi oleh Pak Arsyad melebihi jabatan Ridwan sebagai pewaris.


Izzar berusaha memusatkan perhatiannya meski sebagian pikirannya tertinggal bersama mamanya yang harus lebih lama tinggal di rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan karena dokter menemukan masalah di saraf kepalanya.


Ia juga memikirkan Anaya dan Naira. Ia sadar sepenuhnya bahwa keberadaannya sekarang di kantor perusahaan milik Pak Arsyad ini dikarenakan kedua perempuan itu. Sejak awal, semua dilakukannya demi mereka berdua. Dan kini, dengan Anaya yang telah melepaskan dirinya, ia jadi kehilangan motivasi. Tujuannya seakan tak lagi punya arti.


Selesai mengerjakan tugasnya hari itu, Izzar kembali ke rumah sakit. Di jalan, ia teringat pesan mamanya tentang nasi tim. Mengingatnya, membuatnya gusar karena jadi ingat Anaya, dan juga kecewanya.


Ia mampir di restoran bakmi, dan membelikan pesanan mamanya. Sampai di rumah sakit, diberikannya kotak makanan itu kepada Resti yang langsung menyiapkan dan menyuapkan ke mamanya.


Izzar menyandarkan tubuh dengan pikiran penatnya di sofa. Benaknya melayang pada Anaya dan Naira. Betapa ia merindukan gadis kecil itu. Yang panggilannya kepadanya selalu menumbuhkan naluri ingin menjaga dan melindunginya, dalam suka dan duka.


Meski berusaha dicegah, rasa rindu mulai menetes di ruang hatinya.


Tanpa ia sadari, mamanya menampakkan reaksi tidak puas dengan makanan yang dibawanya.


Perempuan itu memandangi anaknya. Walau selalu disembunyikan, dirinya selalu dapat melihat kegalauan di diri anak lelakinya itu. Biasanya, ia tak pernah cemas karena percaya Izzar dapat menyelesaikan masalahnya. Namun, kali ini dia merasa ada yang beda.


Dia berharap menantunya akan datang sendiri dengan makanan yang dipesannya. Yang terjadi, orangnya tak muncul, nasi tim yang dibawakan Izzar pun bukan buatannya. Bentuk dan rasanya sangat jauh berbeda dari yang pernah dicicipnya. Prasangkanya langsung muncul. Ada yang sesuatu yang tak beres tengah terjadi.


Hanya, dua suap saja, dia menyudahi makannya. Setelah minum, ia meminta Resti meninggalkan kamarnya sementara waktu.


"Zar..." Nada suara mamanya begitu lembut. "Sini!"


Izzar bangkit berdiri mendekati. Ia duduk di kursi di samping tidur, menghadap mamanya.


"Ya."


Mata mamanya menatap dirinya. Mengamati wajah sekaligus menelisik relung jiwanya. Izzar berusaha keras menyembunyikan perasaannya. Sewaktu perusahaannya terkena masalah, ia masih bisa menutupi dari mamanya. Ia berharap kali ini pun bisa.


"Kapan mama boleh pulang?" Mamanya sengaja mengalihkan pembicaraan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tunggu perintah dokter," jawab Izzar.


"Kamu kayaknya capek banget? Kenapa?"


"Biasa soal kerjaan, Ma."


"Bukan karena Anaya?" Mamanya menembak.


Izzar tertegun sesaat, sebelum menggeleng.


"Jangan bohongi mama, Zar." Mamanya tersenyum teduh. "Mama tahu kamu sedang ada masalah dengan Anaya."


"Mama kok sok tahu." Izzar mencoba menepis.


"Mama tahulah. Dari bukti yang ada,"


"Bukti apa?"


"Aih, Zar!..." Mamanya menggeleng tak habis pikir dengan penyangkalan anaknya. "Kamu beli dimana nasi timnya?"


Izzar tersentak. Ia terlupa mamanya sangat peka lidahnya.


"Di dekat sini." Tak ada gunanya mengelak.


"Anaya kemana?"


Deg! Pertanyaan yang ia takutkan terucap juga.


"Nasi tim itu bukan buatan Anaya. Tanpa kamu bilang, mama langsung tahu. Dan kenapa juga dia ngga menjenguk mama di sini?"


Izzar terdiam.


Izzar tambah menutup rapat mulutnya. Gelisah yang dipendamnya mulai meletup mencari celah menguasai hatinya. Sulit baginya untuk mengindari pertanyaan mamanya kali ini. Selain itu, ia juga tiba-tiba merasa sangat lelah.


"Izzar..."


"Ya, Ma..."


"Ceritalah..."


Suara lembut itu memberikan kedamaian, meluangkan ruang luas untuknya mengadu melepaskan beban yang menghimpitnya.


Mamanya adalah peraduannya, separuh jiwa sejatinya. Seorang wanita yang tidak akan mengkhianati dan menghakiminya. Apapun yang terjadi pasti akan membela dan tak pergi dari sisinya.


Dihelanya nafas panjang sebelum mencurahkan semuanya dari awal hingga akhir. Setiap kata yang terucap, menguraikan gelisahnya. Satu-persatu, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya dadanya terasa lapang. Plong.


"Jadi, begitu ceritanya." Izzar menutup curhatan hatinya.


"Mama sudah menduga ada sesuatu yang melatari pernikahan kalian dulu. Tapi, entah kenapa mama abaikan karena nyaman saja melihat kalian bertiga. "


Izzar diam.


"Kamu akhirnya sungguh mencintai Anaya?" tanya mamanya memastikan.


"Ya." Izzar mengangguk dan menjawab lirih. Ia tak mampu menipu sanubarinya.


"Kamu mau dia kembali?"


"Mau, tapi sepertinya sulit karena aku sudah salah langkah sedari awal."

__ADS_1


Mamanya memandanginya dengan senyum yang manis menghiasi wajah. Tak ada hujatan dan cacian. Hanya tatapan penuh pengertian.


Setelah itu, langkah Izzar lebih ringan terasa.


Dua hari kemudian, mamanya diperbolehkan pulang. Masalah di saraf kepalanya tidak mengkhawatirkan dan masih bisa diatasi dengan obat dan istirahat.


Izzar mengurus sendiri administrasi dan mengantarnya pulang. Wanita itu sudah kembali pulih dan segar. Tiba di rumah pagi, siang harinya sudah pergi keluar rumah dengan taksi online tanpa mau ditemani Resti.


Dilapori hal tersebut oleh Resti, Izzar hanya bisa geleng-geleng kepala. Nasibnya mungkin, hidupnya selalu disinggahi perempuan-perempuan yang mandiri dan berkemauan keras.


Tugas-tugas yang diinstruksikan Pak Arsyad membuatnya bisa sedikit melupakan Anaya. Izzar harus melaksanakannya dengan hati-hati. Ada temuan besar yang akan diumumkannya dua hari lagi.


Dengan alasan memenuhi pesan adiknya, yang tidak bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat, untuk menjaga orang tua mereka, Izzar memilih pulang menginap di kediaman mamanya. Ia malas pulang ke rumahnya sendiri. Sebab tak ada lagi senyum Anaya dan tawa Naira di sana.


Malam itu, menjelang tidur, mama menghampiri ke kamarnya.


"Mama belum tidur?"


"Belum."


"Kenapa? Sudah malam ini. Mama harus istirahat."


Tapi, mamanya malah duduk di tepi tempat tidurnya, sehingga mau tak mau Izzar pun bangkit duduk dari berbaringnya.


"Mama hanya mau memberikan kamu ini."


Izzar disodori amplop tipis berwarna coklat.


Izzar membukanya. Di dalamnya terdapat selembar cek dengan jumlah sama persis dengan uang yang diberikan Anaya dulu sebagai imbalan kontrak pernikahannya.


"Apa ini, Ma?"


"Kembalikan uang Anaya yang kamu terima dulu."


Izzar tertegun sesaat.


"Mama dapat dari mana uang sebanyak ini?"


"Uang simpanan mama. Papamu dulu kan meninggalkan cukup banyak tabungan untuk mama. Uang yang sering kamu dan Renata berikan juga selalu mama simpan sebagian."


"Mama simpan saja ini. Aku juga sedang kumpulkan uang sendiri untuk ganti uang Anaya." Izzar menolak pemberian mamanya.


"Terima, Zar! Kembalikan, dan ambil lagi harga dirimu. Perbaiki kesalahan langkahmu bersama Anaya."


"Tapi, Ma..."


"Ngga ada tapi!" sela mamanya tegas.


Izzar menunduk.


"Mama ngga menyalahkan siapapun. Mama berharap kalau saja kamu dulu meminta bantuan mama untuk menyelesaikan masalahmu.


"Tapi, ya sudahlah, anggap saja keputusanmu waktu itu adalah siasat semesta untuk mempertemukanmu dengan Anaya dan Naira.


"Mama bulan depan akan ke Australia nemui Renata. Adikmu itu memaksa mama tinggal bersamanya sementara waktu. Jadi, tolong... Perbaiki hubunganmu dengan Anaya sebelum mama pergi, oke?!"


Izzar mendesah. Ia ragu Anaya mau menerima uang dan dirinya kembali. Perempuan itu bisa teramat sulit untuk diluluhkan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2