
“Apa kabar Anaya?”
“Ehm… Baik!” Dengan hati tak karuan, Anaya menyalami mantan mertuanya tersebut, lalu duduk di samping Izzar.
“Seperti biasa ya… selalu sibuk bekerja sampai pulang malam.”
Nada suara Pak Arsyad sangat datar, namun terasa tajam mencela di hati Anaya. Ia merasa tersudut. Ingin Anaya membantah, tapi pasti akan percuma. Seperti di masa lalu, selalu dirinya yang menjadi tokoh paling bersalah.
“Kamu sebagai suami, tidak keberatan isterimu kerja sampai malam?” Pak Arsyad ganti bertanya pada Izzar.
Anaya menoleh pada Izzar. Ia berharap Izzar tidak ikut memojokkannya.
“Hari ini Anaya pulang malam karena baru siang berangkat ke kantor, mengurus dan menunggu Naira pulang sekolah dulu. Selama Anaya bisa bagi waktu, ngga masalah dia bekerja.” Izzar memegang bahu Anaya, berpura-pura mendukung dan bersikap mesra.
Meski agak risih, Anaya tersenyum tak mengelak. Ia lega Izzar pintar memainkan perannya. Pak Arsyad memandang Anaya dan Izzar bergantian. Entah apa yang ada di pikirannya.
Anaya menunggu cercaan apa lagi yang akan ia terima dari Pak Arsyad. Ia pasrah dengan hujatan yang biasa ditujukan kepadanya sejak hubungannya dan Ridwan dulu bemasalah. Biarpun ia merasa Pak Arsyad tak berhak mencampuri kehidupannya lagi sekarang.
“Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu. Makanya aku menunggumu tadi. Tapi, karena sekarang sudah terlalu malam, besok pagi saja kamu datang ke kantorku.” Pak Arsyad beranjak berdiri.
Anaya dan Izzar sama sekali tak tergerak berbasa-basi mencegah. Keduanya senang tamu tak diundangnya memutuskan pulang. Terutama Izzar, yang terpaksa menemani Pak Arsyad akibat ketidakpedulian Anaya. Izzar menyimpan kesalnya dalam hati. Ia tak bisa marah. Dikiranya hal tersebut adalah cara Anaya membalas atas ketidaknyamanannya atas kedatangan mama Izzar tempo hari.
Esoknya, dengan langkah berat, Anaya mendatangi kantor Pak Arsyad. Mantan mertuanya itu adalah seorang pengusaha kaya yang tak pernah memanjakan anak-anaknya. Ketiga anaknya termasuk Ridwan harus bekerja sendiri untuk kehidupannya. Hanya saja, ternyata Ridwan tidak diturunkan sifat Pak Arsyad yang pekerja keras dan penuh ambisi membangun bisnisnya.
Anaya diantar sekretaris Pak Arsyad ke ruang kerja luas yang didominasi nuansa putih. Begitu masuk, mata akan langsung tertuju pada lukisan kuda berukuran besar di dindingnya. Kuda adalah simbol kekuasaan dan kegagahan. Seperti itulah gambaran yang dicitrakan pada diri Pak Arsyad. Penuh kuasa dan wibawa yang kadang mengintimidasi.
“Kamu datang sendiri?” tanya Pak Arsyad begitu Anaya duduk di seberang meja kerjanya yang besar dan bersih tak berdebu.
“Sendiri.”
“Kamu tahu apa yang akan kubicarakan denganmu?”
Anaya menggeleng. Meski dalam perjalanan tadi ia sudah menduga-duga pembicaraan ini kemungkinan besar terkait dengan Naira.
“Kapan Naira ulang tahun?” tanya Pak Arsyad.
“Dua bulan lagi,” jawab Anaya. Ia tak yakin Pak Arsyad tidak ingat hari ulang tahun cucu pertamanya.
__ADS_1
Pak Arsyad menerawang. Anaya duduk diam menunggu.
“Kamu tahu, kalau aku sedang sakit?”
“Sakit? Sakit apa?” Anaya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Di matanya, Pak Arsyad tampak sehat-sehat saja biarpun tampak lebih tua dari waktu terakhir kali mereka bertemu.
“Ada masalah di jantungku. Sewaktu-waktu aku bisa saja kena serangan yang bisa berakibat fatal,” jawab Pak Arsyad tenang.
Hati Anaya pilu, teringat ayahnya yang meninggal karena penyakit jantung bawaan. Duh, mengapa Pak Arsyad pun memiliki masalah yang sama.
"Aku ngga tahu sampai kapan umurku, karena itulah, sebelum terjadi apa-apa, aku ingin memastikan anak cucuku menerima warisanku sejak sekarang. Aku ngga mau ketika aku mati nanti, anak-anakku sampai bertikai memperebutkan harta peninggalanku.”
Benar dugaan Anaya. Pertemuan ini memang akan membahas Naira.
“Untuk Naira, aku sudah mempersiapkan sejumlah dana dan aset. Rencananya kuberikan di hari ulang tahunnya nanti. Dan, karena dia masih di bawah umur, pengelolaannya akan kuserahkan kepadamu sebagai walinya. Tapi, karena kamu tiba-tiba menikah lagi, … sepertinya aku harus mempertimbangkan lagi rencanaku.” Pak Arsyad menatap Anaya.
Sesungguhnya, Anaya tidak peduli masalah warisan. Sebab, meski orang tuanya juga meninggalkan harta yang cukup banyak, ia terbiasa bekerja keras untuk memperoleh keinginannya. Ia yakin, kelak Naira pun akan lebih menghargai nikmatnya uang hasil dari keringat sendiri.
“Sekarang kamu pasti sibuk dengan pekerjaan, suami baru dan Naira. Supaya ngga repot, mengapa ngga kamu serahkan saja Naira kepada Ridwan?” pancing Pak Ridwan.
“Ridwan juga ayahnya!” sanggah Pak Arsyad.
“Please, jangan pisahkan Naira dari saya.” Anaya memohon. “Kalau Ridwan memang menginginkan warisan Naira, biarkan dia saja yang menerimanya. Saya hanya ingin Naira bersama saya.”
“Ridwan menginginkannya?” Pak Ridwan menatap Anaya penuh tanya.
Anaya menelan ludahnya. Ia merasa telah salah bicara. Meski begitu, ia enggan menjelaskan maupun meralatnya. Untunglah Pak Arsyad tidak mengoreknya lebih lanjut.
“Kamu mencintai suamimu?” Pertanyaan Pak Arsyad yang di luar dugaan mengejutkannya.
“Iya.” Anaya berusaha menjawab dengan nada tegas, walau batinnya meronta.
“Aku sudah menyelidiki suamimu. Sebelum dia menikah denganmu, dia sedang terlilit hutang. Begitu menikah denganmu, hutangnya langsung lunas. Kamu membantunya?”
“Iya,” jawab Anaya jujur. “Apa salah isteri membantu suaminya? Dulu pun saat dengan Ridwan, saya banyak membantunya.”
“Aku tahu itu. Tapi, kamu belum lama mengenal suamimu sekarang. Setahuku kalian baru kenal beberapa minggu.” Pak Arsyad meragukannya.
__ADS_1
“Apakah waktu pendekatan menjadi jaminan? Saya dan Ridwan pacaran empat tahun lebih, tapi pernikahan kami hanya bertahan 3 tahun.”
Pak Arsyad terdiam. Ia sangat paham mantan menantunya ini cerdas. Ia pribadi sebenarnya menyesali perpisahan Anaya dengan Ridwan, sebab ia menilai Anaya memiliki persamaan dengannya. Gigih dan tak mudah menyerah.
“Saya memilih menikah dengan Izzar karena dia lelaki yang baik, dan Naira menyukainya. Izzar banyak membantu saya merawat Naira.” Anaya mencoba memberikan kesan bahwa pernikahannya tidak main-main.
“Jika suamimu memintamu melepaskan karirmu, menjadi ibu rumah tangga saja, kamu mau?”
Aih! Pertanyaan macam apa ini. Jebakan kah?
“Kalau dia bisa memenuhi semua kebutuhan kami, mungkin saja.” Anaya menjawab diplomatis.
“Itu kan yang kamu tuntut juga dari Ridwan dulu… Apakah suamimu akan sanggup? Bukankah dia sedang dalam kondisi bangkrut sekarang?”
Anaya mendesah. Ia seperti sedang menjalani persidangan saja saat ini.
“Izzar lelaki pekerja keras. Terbukti kan dulu dia punya perusahaan yang cukup berhasil. Jika sekarang dia sedang dalam posisi kehilangan semuanya, bukankah hal biasa dalam bisnis? Kadang untung, kadang rugi? … Masalah yang dia hadapi pasti jadi pembelajaran yang akan membuat dia bisa lebih sukses lagi,” tutur Anaya lugas.
Pak Arsyad tersenyum penuh arti. “Kamu seperti sudah sangat mengenal pribadi suamimu.”
Bibir Anaya melebar, tersenyum. Sesungguhnya, ia heran sendiri dengan penilaiannya terhadap Izzar. Benarkah lelaki itu seperti yang ia gambarkan?
“Apakah nanti dia akan mengusik harta Naira?” Pak Arsyad masih belum puas mengulik diri Izzar.
“Saya jamin ngga. Sebab, sebelum menikah kami sudah membuat perjanjian tertulis yang tidak memperkenankan dia mengusik kepemilikan saya dan Naira.” Anaya cepat dan tegas menjawab. Ia tidak berbohong mengenai hal tersebut, sebab memang benar tercantum dalam kontrak pernikahannya dengan Izzar.
Pak Arsyad menarik nafas dan menyandarkan tubuhnya di kursi kekuasaannya. Ia tampak berpikir. Anaya memijat ujung jari-jari tangannya. Menanti pertanyaan lanjutan dari Pak Arsyad.
“Baiklah! … Aku akan menunggu setahun lagi. Mudah-mudahan umurku cukup panjang untuk menyerahkan langsung warisanku kepada Naira. Jika tidak pun, pengacaraku akan mengatur agar penyerahannya dilakukan saat Naira berulang tahun yang ketujuh.”
Anaya diam mendengarkan.
“Aku berharap pernikahanmu langgeng. Jangan kamu kira aku akan diam saja. Aku akan tetap mengawasi Naira, dengan caraku. Sedikit saja suamimu mengusik Naira, habislah dia! … Dan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Naira, maka kamu harus menyerahkan anak itu kepada Ridwan!”
Ancaman dan ultimatum Pak Arsyad membuat Anaya merinding dan resah seketika.
...***...
__ADS_1