
Anaya sesungguhnya tidak pernah takut menghadapi kemarahan seseorang. Dulu dengan Ridwan, mana mau ia mengalah. Ia akan terus membalas hingga emosinya sendiri memuncak dan akhirnha dia diam pergi. Namun, berbeda ketika ia menerima ungkapan amarah Izzar kali ini. Nada keras suaranya langsung mengoyak batinnya, menimbulkan luka dan gejolak yang tak tertib. tetapi, bukannya balik marah, ia malah ingin menangis.
Pintu lift terbuka. Anaya melangkah ke dalamnya diikuti Izzar. Ditempelkannya kartu kunci kamarnya yang juga berfungsi sebagai akses lift, sebelum menekan nomor lantai. Hanya mereka berdua yang berada di dalam ruang sempit berdinding separuh cermin itu.
Izzar berdiri di belakang Anaya, berjarak kurang dari setengah meter. Ia dapat mendengarkan nafas Anaya yang setengah memburu menandakan emosi labil di dalam dirinya. Mereka begitu dekat, tapi tampak bagai orang tak saling kenal.
Dalam hati, Izzar menyesal telah bersuara keras kepada Anaya. Ia mengamati kepala Anaya. Rambut panjangnya yang biasa tergerai, digelung asal dengan karet rambut, hingga menyajikan leher dan bahu putih bersih yang menggoda untuk disentuh.
Izzar mengalihkan pandangannya, mencoba menahan dirinya. Ia menarik nafas untuk memfokuskan kembali diriya pada kejengkelannya terhadap sikap Anaya.
Kamar Anaya terletak di ujung koridor. Ia membuka pintu kamar, menyalakan lampu, meletakkan tasnya, lalu berdiri di dekat jendela dengan kedua tangannya bersilang di dadanya. Entah mengapa, ia merasa ruang yang sebenarnya cukup luas, terasa sesak dengan kehadiran Izzar.
"Mau bicara apa?" tanya Anaya dengan suara dingin. Ia berusaha kembali menaikkan supremasi dirinya .
Izzar duduk di tepi ranjang, memperhatikan Anaya yang memilih berdiri tegak dan kaku, padahal ada kursi tak jauh darinya.
"Kenapa berdiri?"
"Ngga apa-apa!" jawab Anaya.
"Tadi katanya capek. Kenapa ngga duduk?" Izzar menegaskan karena kasihan melihat Anaya yang tegang.
Pertanyaan Izzar sungguh menyebalkan bagi Anaya.
"Kamu juga katanya capek sama aku, kenapa ngga langsung ngomong aja mau bicara apa?" Emosi Anaya mulai bercampur aduk.
"Oke! Kenapa tadi, sehabis kita begitu akrab lagi saat mengikuti games, kamu mendadak ngambek ngga jelas lagi?" Izzar memancing Anaya walaupun ia sudah punya dugaan pasti apa penyebab Anaya seperti memusuhinya lagi.
Anaya menundukkan pandangannya. Ia berpikir keras merangkai alasan yang tepat.
"Dari awal kita bersepakat, aku kan sudah minta ke kamu supaya kita bisa berteman baik. Jangan anggap aku musuh. Tapi, kamu kadang susah benar ditebak maunya. Sesaat baik, sedetik kemudian marah. Apa salahku?"
Anaya tersadar dengan kesepakatan yang mengikat dirinya dan Izzar. Terkadang ia lupa dengan kontrak tersebut. Ia jadi tak bisa menjabarkan kesalahan Izzar. Sebab, memang bukan salah Izzar bila ia disukai atau menyukai perempuan lain. Bukan salahnya juga jika mantan tunangannya misalkan menginginkannya kembali.
Sejenak Anaya merasa malu pada Sasika. Wanita itu pernah dekat dengan Izzar karena sejak awal mereka memang saling mencintai. Sedangkan, Izzar dekat dengan dirinya karena terpaksa, atau tepatnya dipaksa. Jika Izzar selama ini baik dan memperhatikan dirinya, sudah tentu sebab karakter pribadinya memang begitu, sebagaimana yang diakui orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Salahnya sendiri tidak bisa bersikap profesional dengan komitmen yang dibuatnya. Dialah yang bodoh membiarkan dirinya terhanyut dengan perasaan yang menganggap Izzar adalah miliknya.
"Anaya?" Izzar memanggilnya.
Kepala Anaya terangkat. Ia menatap Izzar yang matanya juga sedang tertuju kepadanya, dengan sorot tegas tapi teduh yang melelehkan jiwanya.
"Kenapa kamu sikap kamu selalu berubah setiap aku ketemu Sasika?" Izzar memperjelas pertanyaannya.
"Ngga apa-apa," jawab Anaya pelan.
"Jangan bilang ngga apa-apa, Anaya!" Izzar tak percaya. "Kalau ngga apa-apa, buat apa juga kamu kelihatan kesal dan mendiamkan aku di vila tadi?"
"Karena aku sebal kamu bohong!"
"Aku bohongi kamu apa? Aku sama sekali ngga tahu Sasika bakal datang ke pernikahan Randi. Aku pikir kamu pasti lebih tahu, sebab undangan kan terbatas, dan Randi ngga mungkin mengundang dia!"
Bibir Anaya terlipat rapat.
"Atau, kamu masih sebal soal bohongnya aku bertemu dengan Sasika di coffee shop? waktu dulu itu?"
Wajah Anaya tertunduk kembali.
Izzar menunggu Anaya menanggapi pertanyaan dan uraian panjangnya. Tetapi, Anaya seperti kehilangan lidahnya.
"Jujur, Anaya... Setelah beberapa waktu kita tinggal bersama, aku mulai menyukaimu. Tapi, kalau kamu bolak-balik ngambek ngga jelas setiap Sasika muncul, lama-lama aku lelah menghadapi kamu! ... Kalau kamu cemburu, bilang! Jangan bertingkah seperti anak kecil! Kalah Naira!" " Nada suara Izzar meninggi. Ia jengkel sebab Anaya hanya diam saja sedari tadi.
Di luar dugaan, mendengar ungkapan apa adanya Izzar, Anaya malah jadi geram.
"Kalau lelah menghadapi aku, ya sudah, pergi saja sana!" Anaya berteriak, berlari ke kamar mandi dan menguncinya.
Izzar kaget dan heran dengan reaksi Anaya. Betapa sulitnya meruntuhkan keangkuhan perempuan ini. Ingin Izzar benar-benar pergi meninggalkan Anaya sesuai permintaannya. Tetapi, ia teringat perjanjiannya dengan Pak Arsyad yang mengharuskannya memenangkan hati mantan menantunya ini. Dan, ia memanh tak bakal juga mampu pergi dari Anaya.
Di dalam kamar mandi, Anaya menumpukan tangannya di atas wastafel. Ia butuh waktu dan ruang untk mencerna semua perkataan Izzar. Meski hatinya berbunga mengetahui Izzar menyukai dirinya, ada juga rasa jengkel sebab Izzar seolah menyerah menghadapi dirinya, serta ia tak terima diperbandingkan dengan Naira. Namun, yang sangat mengusiknya adalah tuntutan Izzar untuk mengakui perasaannya. Ia memang sangat cemburu kepada Sasika.
Anaya memandangi bayangan dirinya di cermin. Ucapan Randi di vila terngiang di telinganya.
__ADS_1
“Beginilah Anaya yang aku tahu. Sulit mengutarakan perasaannya sendiri. Memilih diam atau malah ngomong yang bertentangan.”
Ya, Randi sangat mengenal Anaya. Dia tak pernah salah dalam menilai orang. Dan, ia benar tentang Izzar. Sahabatnya itu memang lelaki baik. Anaya sudah pasti akan dianggap bodoh jika meninggalkannya.
Setelah membasuh wajah dan mengeringkannya, Anaya menguatkan hatinya keluar dan menghadapi lelaki yang telah membuat hatinya membutuhkannya.
Izzar sudah berpindah tempat. Ia tak lagi duduk di tepi tempat tidur, melainkan berdiri bersandar di dinding dekat pintu. Seperti bersiap hendak pergi.
"Mau kemana?" Anaya cemas.
"Kamu nyuruh aku pergi kan tadi? Aku nunggu kamu buat pamitan saja."
Anaya menggigit bibirnya. Izzar membalikkan badannya dan melangkah ke pintu.
Anaya tercekat, bibirnya gemetar dan tubuhnya mendingin. Ia tak mampu berkata-kata. Hanya air matanya saja yang tak bisa dicegah mengalir di pipinya. Pandangannya berkabut memandang punggung Izzar yang menjauhinya.
Izzar berharap Anaya akan berteriak memanggilnya. Tetapi, hingga tangannya memegang handle pintu, tak ada suara dari perempuan itu. Izzar pun menoleh. Dan ia terkejut melihat pilunya Anaya yang menangis dalam diam. Izzar salah kira. Disangkanya, taktiknya pura-pura meninggalkan Anaya akan berbuah reaksi ekspresif yang meminta dirinya tidak pergi dan berbuntut pengakuan tentang isi hatinya.
Anaya wanita yang berbeda. Izzar lupa Anaya pernah gagal dengan pernikahannya, dan dia wanita kuat yang tidak akan mengemis lelaki untuk tetap di sampingnya, meskipun sebenarnya jiwanya rapuh.
Izzar berbalik. Dalam beberapa langkah, direngkuhnya tubuh Anaya.
"Pergi saja, ngga apa-apa, kok." Suara Anaya tersendat di antara tangisnya.
Izzar mempererat pelukannya. Dibenamkannya kepala Anaya di dadanya hingga isakannya terhenti. Setelah dirasakannya Anaya tenang, Izzar melonggarkan dekapannya. Anaya menengadah.
"Yakin, mau aku pergi?" Izzar mengusap lembut pipi Anaya yang basah.
Anaya menggeleng. Ingin hatinya berkata banyak hal. Tapi, lidahnya kelu.
"Tapi, janji ngga akan ngambek-ngambek lagi gara-gara Sasika!" Izzar menatap serius.
"Ya. Tapi janji juga ngga akan bohong lagi dan macam-macam sama dia," balas Anaya.
Izzar tersenyum. Sudah tentu ia tidak akan melakukannya.
__ADS_1
Kemudian, perlahan diciumnya bibir menawan di hadapannya, lembut. Anaya tidak mengelak. Ia memejamkan matanya meresapi pesona dan sensasi yang diterimanya. Pun ketika Izzar lalu merebahkannya di tempat tidur dan membelai leher dan bahunya yang sudah menggoda sebelumnya. Keduanya larut menyatukan hasrat yang selama ini tersekat.
...***...