Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
39 - Putus Hubungan


__ADS_3

Anaya sudah memutuskan untuk cuti selama dua minggu. Selain untuk menghindari Sasika, ia juga berencana merapikan dan menata rumahnya sebelum pindah kembali.


Pagi ini, ia berencana memilah barang-barang dan perabot rumah yang dititipkan di gudang Randi. Ia berharap Izzar dapat mengantarnya. Tetapi, Izzar tidak bisa. Ia sudah siap pergi bahkan sebelum Anaya mandi.


"Nanti siang saja kalau mau kuantar. Pagi ini aku ada meeting?"


"Kenapa pagi-pagi?"


"Aku kan cuma ngikutin jadwal dari klien. Sama kayak kamulah.” Izzar menjawab sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas.


“Siapa sih kliennya?” Anaya menghadang Izzar di pintu kamar. Ia penasaran karena Izzar belum juga menceritakan tentang proyek dari mantan mertuanya, dan hal itu kini membuatnya sedikit kesal.


Izzar menyandang tas ranselnya di bahu kanannya. Dipandanginya Anaya yang memblokir pintu dengan berdiri di tengah pintu. Tangannya disilangkan di dadanya, sementara kakinya direntangkan lebar menghalangi langkah Izzar.


Ada kekukuhan di sikap dan sorot mata Anaya. Izzar tahu, Anaya tidak akan mundur sebelum terpuaskan


keingintahuannya.


“Pak Arsyad?” Anaya tidak sabar lagi.


Izzar menelan ludahnya. Ia kaget Anaya sudah mengetahui rencana proyek barunya.


“Kamu sudah tahu? Dari mana kamu tahu?” tanya Izzar.


“Orang lain!... Karena kamu ngga akan cerita kalau ngga aku tanya, kan?” Raut wajah Anaya mulai mengeras.


“Ngga juga. Aku belum cerita karena belum ada kontrak hitam di atas putih. Bisa saja kan Pak Arsyad berubah pikiran?”


Anaya mendengus. Ia ingat, Pak Arsyad juga mengatakan hal yang serupa.


Izzar maju selangkah. “Kamu keberatan?”


“Aku masih heran, kenapa kamu yang dikasih proyek itu?”


“Karena dia suka dengan proposalku. Memangnya ada yang lain?”


Anaya mengangkat bahunya.


“Jadi, ngga masalah kan?”


Pertanyaan Izzar membuat Anaya bingung. Ia tak bisa mengungkapkan bahwa di lubuk hatinya ada sesuatu


yang samar meresahkannya, namun ia tak tahu apa.


“Anaya?” Izzar menangkupkan telapak tangannya di pipi Anaya. “Aku bukannya mau main rahasia. Aku pasti memberi tahu kamu. Cuma waktunya saja belum tepat.


“Oke!”


“Boleh aku pergi sekarang?”


Anaya mundur menepi. Tapi, Izzar malah menarik tubuhnya ke pelukannya, dan mencium keningnya. “Mandi dulu sana! Bau asem!”


Bibir Anaya merengut. Izzar tertawa.

__ADS_1


Setelah mandi cepat, Anaya mengantar Naira sekolah. Ia menunggu di kedai kopi di seberang sekolah. Setelah mengecek beberapa perkerjaan yang dikirimkan melalui email  kepadanya, Anaya menelefon Sandra. Ia ingin


menceritakan pertemuannya dengan Tristan di mall. Namun, Sandra tidak menjawab.


Anaya menunggu semenit, dan lanjut mengulang panggilannya. Sahabatnya itu tetap tidak menjawab. Tumben Sandra mengabaikannya.


Anaya tercenung sendirian. Di benaknya berseliweran pikiran-pikiran acak tentang bermacam hal. Mulai dari Izzar, Sandra, Pak Arsyad, Ridwan, Naira… Direnunginya perjalanan hidupnya hingga kini. Betapa berlikunya hidup yang harus dilaluinya.


Ia bersyukur berada di tahap sekarang ini. Hidupnya terasa sempurna sejak ia dan Izzar saling jatuh hati. Ia yang dulu memaksa Izzar masuk ke dalam kehidupannya, malah terjebak bersamanya.


Lima belas menit berlalu, Sandra balas menelefon Anaya.


"Sorry, Nay... Aku habis meeting.."


Suara Sandra terdengar terengah.


"Kamu habis lari juga? Kok ngos-ngosan?"


"Ngga. Aku habis emosi."


Terdengar Sandra menghembuskan nafasnya keras.


"Kenapa?" tanya Anaya lembut sekaligus menenangkannya.


"Kalau Bu Erlina nanti marah padamu, dan ngga pakai EO kita lagi, ngga apa-apa ya, Nay?" Ada sedikit nada khawatir di suara Sandra.


"Ngga apa-apa," jawab Anaya santai meski dadanya berdebar. "Ada apa memangnya?"


"Keponakannya ngeselin banget!" seru Sandra sebal.


"Cerewet bawelnya melebihi tantenya! Banyak maunya tapi ngga jelas dan ngga konsisten. Sok tahu pula. Proposal yang kita buat dicoretin semua. Padahal kita sudah kasih yang terbaik...  Dua kali aku ikut meeting dengannya, Nay... Beuhh!... Aku ngga suka gayanya. Sudak kayak CEO sok kuasa aja. Marah-marah ngga genah... Dia pikir kita anak buahnya kali, seenaknya diomelin!" Sandra mencerocos berapi-api mengungkapkan kekesalannya.


"Lalu?" Ananya jadi penasaran.


"Kamu tahu kan Ferdi, yang sudah ratusan kali handle acara perusahaan, punya pengalaman seabrek, mana sabar banget pula... Tadi, dibentak sama dia, dikatain ngga becus, dan tolol!..."


Anaya menutup mulutnya. Terkejut ia mendengarnya. Ia dan Sandra tidak pernah memarahi anak buahnya sampai seperti itu. Bahkan, sebenarnya mereka nyaris tidak pernah marah.


"Aku ngga terima perlakuannya. Jadi... kubentak balik dia. Kubalas dengan membeberkan kesoktahuannya mutar balik susunan acara yang sebenarnya sudah disesuaikan dengan protokol pemerintah daerah. Dia mau ngundang gubernur segala, tapi ngga tahu kalau ada aturan bakunya.


"Kamu tahu kan gimana kalau aku sudah emosi? Kata-kataku bisa sama kasarnya dengan preman terminal!" lanjut Sandra.


Anaya tertawa. Ia membayangkan Sandra memaki-maki Sasika.


"Reaksinya bagaimana?"


"Anak kucing dia itu! Sok galak tapi cengeng... Dia ngga ngomong apa-apa, cuma diam. Terus pergi begitu aja ninggalin kita semua. Staf yang dampingin dia yang kelabakan. Mohon-mohon aku minta maaf, supaya Sasika ngga lapor ke Bu Erlina... Kubilang, biar saja dia ngadu sekalian!"


Anaya menyesap es coklatnya. Ia tak menyalahkan Sandra. Pasti dirinya pun akan berlaku yang sama. Apalagi ada unsur subyektif dengan latarnya sebagai mantannya Izzar.


"Pantaslah kalau kamu ngga nyaman sama dia, Nay. Aku heran kenapa Izzar dulu mau sama modelan kayak begitu," cela Sandra.


"Ngga tahulah, San. Mungkin dulu sikapnya ngga begini," kata Anaya.

__ADS_1


"Atau mungkin Izzarnya yang kelewat sabar... Untunglah, jadi dia sudah expert ngadepin perempuan nyebelin. Makanya dia berhasil naklukin kamu yang suka random juga kelakuannya," kata Sandra menganalisa.


Perkataan apa adanya Sandra membuat Anaya tersedak. Namun, kemudian ia tertawa juga. Ia mengakui bahwa kesabaran Izzarlah yang meluluhkan hatinya.


"Tapi, aku ngga separah Sasika, kan?" Anaya tak mau disetarakan dengan perempuan itu.


"Hmm.. Jauhlah. Biarpun tetap saja kamu kadang suka ngeselin." Sandra tergelak.


Ponsel Anaya menyuarakan notifikasi panggilan lain. Bu Erlina menelefonnya.


"San! Bu Erlina nelfon!"


"Oke! Jawablah dulu!" Sandra memutuskan sambungannya.


Anaya menarik nafas panjang sebelum menjawab. Menguatkan dirinya menerima amarah yang sudah terbaca dari wanita pengusaha yang tak suka dibantah itu.


"Anaya! Kenapa Sandra sangat kurang ajar sama Sasika?!"


Kalimat pertama yang menembus telinga Anaya sama sekali tidak ramah. Bernada tinggi penuh kesumat. Belum sempat Anaya menyahut, sudah disusul dengan perkataan-perkataan lain yang sama kerasnya. Anaya hanya diam mendengarkan luapan emosi Bu Erlina.


"Kamu masih mau pekerjaan launching ini?" tanya Bu Erlina setelah sedikit mereda dengan serapahnya.


"Ya, jika Ibu masih percaya dengan kami. Sebelum ini, kita tidak pernah ada masalah kan?" Anaya menjawab dan bertanya balik.


"Oke! Tapi harus kamu langsung yang handle semuanya! Sasika sudah ngga mau kerjasama dengan Sandra."


 Apalagi Anaya. Justeru sejak awal ia berusaha tidak bersinggungan dengan wanita itu.


"Maaf, Ibu... Saya ngga bisa handle langsung."


"Kenapa?"


"Saya sedang cuti. Saya mau pindahan rumah. Saya sudah pernah bilang ke Ibu kan sebelumnya?"


"Sekarang, rumah dan keluarga lebih penting rupanya ya?"


Anaya terkejut, tak mengiri Bu Erlina akan berucap penuh sindiran seperti itu. Ia dulu memang lebih mengutamakan klien dan pekerjaannya. Tapi, sekarang berbeda.


"Kalau begitu, kami batal menggunakan jasa kalian!"


"Baik, Bu! Ngga apa-apa kalau Ibu ngga berkenan dengan kami." Anaya menjawab cepat.


Bu Erlina tidak merespon beberapa saat. Ia mungkin kaget dengan tanggapan Anaya yang di luar harapannya. Dikiranya Anaya akan memohon agar dia tetap menggunakan jasa EOnya.


"Oke! Seterusnya kami tidak akan memakai jasa kalian lagi! Kita putus hubungan!" tegas Bu Erlina.


"Baik, Bu! Tapi, izinkan saya tetap berterima kasih atas kerja sama yang baik selama ini." Anaya tidak terpancing. Ia malah mengucapkan terima kasih dengan nada tulus dan sopan.


Bu Erlina mengakhiri telefonnya tanpa berkata apa-apa lagi.


Anaya tertawa sendiri. Ia tidak merasa rugi telah kehilangan klien besar daripada timnya menderita harus menghadapi sikap arogan Sasika dan Bu Erlina.


Ia juga tenang, sebab dengan begini, Sasika tidak punya celah masuk ke dalam kehidupannya dan Izzar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2