
Di dalam kamar, Anaya menangis dan mengomeli dirinya sendiri. Ia malu telah menyerupai isteri yang posesif penuh curiga, takut suaminya diambil orang. Ia sungguh sebal dengan gambaran itu.
Kenapa sih, ia tidak dapat mengendalikan dirinya untuk tetap cool, tidak terpengaruh dengan prasangkanya. Padahal sudah jelas memang bukan urusannya bila Izzar bertemu dengan siapapun. Izzar pun tidak pernah
merecokinya bertemu siapa.
"Anaya!" Izzar mengetuk pintu dan memanggilnya.
Lekas Anaya mengusap air matanya dan menahan tangisnya. Jangan sampai Izzar mendengar isakannya.
"Aku minta maaf, sudah bikin kamu marah. Ayolah, keluar!" Izzar memohon.
Anaya tidak menyahut. Sesungguhnya ia bingung harus bersikap bagaimana. Rasa malu karena telah menampakkan perasaannya tadi masih menguasai hatinya. Ia takut Izzar menertawakannya.
"Anaya?" panggil Izzar lagi.
Anaya tetap tidak menjawab. Izzar menghela nafasnya. Ia harus segera berangkat untuk menjumpai pengusaha kaya yang memaksa ingin menjumpainya. Namun, ia tak tega meninggalkan Anaya dengan kondisi seperti ini. Mengajaknya pun bukan gagasan yang bagus. Sebab, pengusaha yang akan ditemui Izzar adalah Pak Arsyad, mantan mertua Anaya. Dan, Pak Arsyad sudah mewantinya untuk merahasiakan rencana pertemuan mereka pada Anaya.
Di dalam kamar, Anaya tahu Izzar masih berdiri di luar menunggunya membuka pintu. Meski selama ini Izzar bisa begitu tenang menghadapinya, ia tak tahu seberapa sabar Izzar kali ini.
“Anaya! Please!... Aku harus pergi sekarang.” Izzar mulai terdengar gelisah.
“Pergi aja sana!” teriak Anaya.
Izzar terkejut mendengar nada tinggi suara Anaya, yang melebihi lengkingan Naira jika sedang tantrum saat tidak mendapatkan keinginannya atau kala tidak menyukai sesuatu. Anak dan ibu di rumah ini memiliki pola yang sama.
“Kamu mau ikut?” tanya Izzar basa-basi.
“Ngga! Pergi sana sendiri!” Suara Anaya semakin meninggi.
Izzar tersenyum. Ia hanya memancing reaksi Anaya saja sebenarnya. Ia berpedoman pada informasi Randi. Jika Anaya masih menyahutinya walau ketus, berarti tingkat kemarahannya masih pada level aman. Ia sungguh takut apabila Anaya akan mendiamkannya.
“Oke! Aku pergi, ya!” Izzar meninggalkan rumah dengan hati lebih tenang, meskipun tetap ada kekhawatiran Anaya pergi saat ia pulang nanti.
Sepeninggal Izzar, Anaya mencoba menikmati kesendiriannya dengan membaca buku dan menonton televisi. Dalam sekejap, semua membuatnya bosan. Akhirnya ia memutuskan datang ke kantor, menemui Dian dan timnya yang sedang lembur dan akan memaparkan rancangan konsep pernikahan Randi dan Sarah, walaupun
sebenarnya ia tak perlu hadir.
Pagi di hari libur itu, kantor Anaya tetap ramai. Anak buahnya yang mengerjakan *event *di malam Minggu, kebanyakan menginap di kantor. Mereka tengah bersantai sambil membahas pelaksanaan kegiatan semalam bersama Sandra.
Kedatangan Anaya yang membawa dua lusin donat disambut gembira. Sandra meski heran, gembira juga dengan kemunculan Anaya. Sebab, sebenarnya memang bukan jadwal Anaya menemani anak buah mereka yang bergantian bekerja di hari libur.
“Tumben kamu ke kantor, Nay?” tanya Sandra sambil mengambil sebuah donat dengan topping green tea, lalu mengajak Anaya ke ruangannya.
“Hari ini kan Dian mau paparan wedding projectnya Randi. Jadi aku kesini. Lagian, aku kesepian di rumah, Naira kan bersama papanya.”
__ADS_1
“Izzar kemana?” Sandra duduk di kursinya sambil menggigit donatnya.
“Ngga tahu pergi kemana.” Anaya mengangkat bahunya seakan tak peduli.
Siang hari, Randi dan Sarah datang untuk mendengarkan paparan Dian dan timnya tentang rancangan konsep pernikahan mereka. Anaya ikut hadir di ruang meeting untuk mengetahui detailnya. Karena rentang waktu yang singkat, hari libur pun mereka manfaatkan untuk mempersiapkan acara.
Sarah menginginkan acara outdoor yang sederhana namun elegan, bernuansa putih dan kuning muda. Semua vendor dan supplier sudah siap, yang belum ada justeru lokasi acara. Tempat yang diinginkan Sarah sudah padat dipesan hingga enam bulan ke depan. Dengan waktu yang sangat sedikit, sulit mencari venue ruang terbuka yang kosong di tanggal yang Randi dan Sarah inginkan. Apalagi saat memang sedang bulannya musim pernikahan.
Raut kecewa jelas tampak di wajah Sarah. Randi pun terlihat bingung. Ia tak ingin hari bahagia yang dinantinya
bergeser waktu karena kehabisan tempat.
Anaya menggigit bibirnya. Sejak awal ia mendengarkan paparan Dian, di benaknya sudah terbayang venue yang tepat. Hamparan rumput luas, udara yang sejuk, taman dan kolam renang, serta bangunan estetik di latar belakangnya, Bahkan lingkungan sekitarnya bisa juga digunakan untuk lokasi pemotretan prewedding. Hanya saja, ia belum tahu apakah akan diizinkan menggunakannya atau tidak.
“Nay! Kamu ada ide?” Randi menatap Anaya putus asa.
Tak tega juga Anaya melihat keresahan Randi.
“Ada sih.” Anaya bangkit mendekati Randi dan Sarah, lalu menunjukkan foto-foto di ponselnya.
Sarah langsung terpukau. Ia mengguncang-guncang tangan Randi saking tertariknya.
“Aku suka! Aku suka!... Kita bisa prewed di air terjun ini!” seru Sarah.
“Di mana ini? Kayaknya aku pernah kesini.” Randi memegang ponsel Anaya agar bisa melihat lebih jelas.
“Oh! Aku tahu tempatnya. Oke, di situ aja acaranya!” tegas Randi.
“Tapi, di Puncak, Ran.” Anaya ragu.
“Ngga apa-apa. Toh, undangan kami juga ngga banyak. Nanti keluarga bisa kuinapkan di hotel terdekat, atau di vila
yang tak jauh dari situ.” Randi merasa yakin dan bersemangat.
Anaya mengirimkan beberapa foto ke ponsel Dian. Ia langsung berdecak kagum.
“Vendor-vendor gimana, Dian?” tanya Anaya.
“Bisa dikondisikan, Bu,” jawab Dian antusias.
Randi dan Sarah tersenyum. Mereka senang mendapatkan alternatif tak jadi menunda hari perkawinannya.
“Ya sudah, kamu telefon Izzar minta izin dia. Soalnya, dia bilang, vilanya ngga disewakan untuk umum. Cuma untuk
keluarga dan teman dekat saja.” kata Anaya pada Randi.
__ADS_1
“Kenapa ngga kamu aja? Aku memang teman dekatnya, tapi kamu kan isterinya?” sanggah Randi.
Anaya tertegun. Seisi ruangan menatapnya. Tidak ada yang tahu ia sedang enggan berbicara dengan Izzar akibat
pertengkarannya tadi pagi.
“Oke. Aku WA dia dulu....”
“Kenapa pakai pesan? Kelamaan! Telefon aja!” sela Randi tak sabar.
Anaya sebal diatur-atur Randi. Tapi, akhirnya ia menekan tombol panggilan di ponselnya juga sambil berjalan keluar
ruangan. Ia tak ingin orang lain mendengarkan isi perbincangannya dengan Izzar.
“Hei!” sapa Izzar. “Kamu di mana? Aku pulang, ngga ada di rumah.”
“Di kantor,” jawab Anaya pendek.
“Ngga bawa mobil?”
“Lagi malas nyetir.”
”Mau kujemput pulangnya?”
“Aku bisa pulang sendiri!” tandas Anaya. Egonya masih terasa di lehernya.
Mungkin Izzar pikir Anaya menelefon karena membutuhkan dirinya dan sudah melupakan kekesalannya.
“Aku telefon karena ada yang mau kutanyakan… Randi dan Sarah sedang di kantorku. Kami sedang bingung karena kehabisan lokasi acara outdoor. Vila keluargamu kan bagus tuh, boleh dipakai untuk acara nikahan mereka?” Anaya betanya hati-hati.
“Boleh.” Izzar menjawab tanpa lama berpikir.
Anaya lega, jawaban Izzar sesuai dengan yang diharapkannya.
”Bilang Randi, tunggu aku di situ sampai aku datang. Aku mau ketemu dia.”
“Ya.”
“Kamu sekalian mau aku jemput?”
Mata Anaya terpejam. Walaupun masih kesal, ia tak dapat menahan tawanya. Lelaki ini pantang putus asa membujuk Anaya. Dan, akhirnya Anaya kehilangan alasan untuk menolaknya.
“Tapi pakai mobilku!”
“Oke!”
__ADS_1
Di seberang sana, Izzar tersenyum karena akhirnya berhasil meluluhkan Anaya. Setelah pertemuannya dengan Pak Asryad yang menghasilkan perjanjian cukup mengguncang dirinya tadi, ia sangat ingin berada di dekat Anaya dan mendapatkan keteduhan dari matanya.
***