Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
36 - Kencan


__ADS_3

"Memangnya kenapa kalau mantan tunangannya Izzar? Lah, kamu kan isterinya?" Sandra manganggap status Sasika tersebut seharusnya tidak menjadi masalah bagi Anaya.


Namun, Anaya tetap menggeleng. "Aku takut kehadirannya bikin aku ribut lagi sama Izzar."


"Kapan kalian ribut?" tanya Sandra heran.


"Di kawinan Randi. Perempuan itu tiba-tiba datang dan bikin heboh." Anaya mengisahkan kronologis singkat kemunculan Sasika.


Sandra terkejut juga dengan cerita Anaya. Ia dapat melihat ketidaknyamanan Anaya. Dan ia tak akan bisa memaksa jika Anaya sudah berkehendak.


"Kamu ingin kita tolak saja acara Bu Erlina ini?


"Jangan ditolak, San. Bu Erlina langganan EO kita. Aku ngga mau gara-gara persoalan pribadiku, kalian kebawa-bawa. Terima saja. Tapi, aku ngga usah terlibat langsung seperti biasa," tegs Anaya.


"Oke! Kalau begitu, biar aku yang tanggung jawab acaranya." Sandra mengalah.


"Thank you, San!" Anaya tersenyum lega.


"Tapi, kamu harus traktir aku nonton nanti!"


"Oke! Ngga masalah! Mau kapan?" tantang Anaya.


"Malam ini?" jawab Sandra langsung.


"Eit! Jangan dong, San! Aku kan ada kencan nanti malam." Anaya keberatan.


"Hmm... Mulai bucin!" ejek Sandra.


"Makanya punya pacar tetap. Jangan sana sini terus!" balas Anaya mengkritik Sandra yang tidak pernah memiliki hubungan serius


"Kalau ada lelaki yang model kayak Izzar lagi yang bisa dijebak sih aku mau!" Sandra tertawa berderai.


Sebaliknya, Anaya merengut. Ia sadar, kalau bukan karena dijebak, entah bagaimana ia bisa mengenal Izzar. Tapi, bukankah cinta akan menemukan jalannya sendiri? Serumit apapun halang rintang yang harus harus dilalui.


Malam itu, Anaya pulang lebih cepat karena janjinya dengan Izzar. Mengetahui mama dan ayah tirinya akan pergi berdua saja, Naira protes dan meminta ikut. Ia baru rela tidak akan turut serta setelah diizinkan memesan pizza dan minuman bersoda, serta dijanjikan bakal gantian diajak Izzar ke mall bermain di playground.


Jam enam sore, Izzar belum sampai rumah. Ia mengabarkan akan terlambat. Anaya pun memilih bersantai menemani Naira.


Sejam kemudian, Izzar masih belum pulang. Anaya masih berusaha tenang. Namun, ketika waktu di ponselnya menunjukkan pukul delapan lebih, Anaya kesal. Pesannya hanya dijawab bahwa Izzar sedang di jalan dan terjebak macet. Anaya menyesal sudah berdandan secantik mungkin.


Tiga puluh menit kemudian, Izzar tiba. Rasa sesal pekat meliputi dirinya saat dilihatnya kekecewaan tampak jelas di muka Anaya yang sudah berpenampilan rapi.


"Hei! Maaf banget aku telat!" Izzar menghampiri Anaya yang duduk menanti di sofa.


Anaya tidak menjawab. Ia malah beranjak berdiri dan meninggalkan Izzar.

__ADS_1


"Anaya!"


Panggilan Izzar tidak digubri. Anaya masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di samping Naira yang belum lama tertidur, membelakangi pintu.


"Aku ngga tahu kalau jalanan akan semacet tadi. Tapi, aku sudah sampai sekarang. Ayo jalan!" Izzar duduk di tepi tempat tidur, di sisi Anaya.


"Ngga ah! Aku sudah capek duluan nungguin kamu. Aku mau tidur aja!" Anaya memejamkan matanya.


"Kamu marah?"


"Ngga! Aku bahagia, kok! Tenang aja!" jawab Anaya sarkas, dengan mata tetap terpejam menahan kesalnya.


Izzar menghela nafas. "Besok, aku janji pulang siang, dan kita ngedate, oke?"


"Besok aku sibuk!" Anaya menjawab ketus.


"Ya sudah, besoknya lagi." Izzar mengalah.


"Besoknya lagi juga aku banyak kerjaan!" balas Anaya tak mau memberi kesempatan.


"Kalau begitu, besok besoknya lagi. Akan kutunggu sampai kamu ngga sibuk dan ngga ada kerjaan." Izzar tak juga menyerah.


Anaya menggigit bibirnya menahan senyum karena kegigihan Izzar menghadapinya. Hatinya mulai mencair. Ia tak bisa menyalahkan kondisi macet yang kadang memang tidak bisa diprediksi.


Tangan Izzar terulur membelai rambut Anaya, lalu ditariknya lembut bahunya agar dapat terlihat mukanyanya. Anaya tidak melawan Ia malah membuka matanya menatap Izzar.


"Hai!" Izzar tersenyum. "Kamu sudah makan?"


Anaya menggeleng. Ia sengaja menahan lapar karena sebelumnya Izzar bilang mereka akan keluar makan malam.


"Aku juga lapar. Tapi kalau ke restoran yang kurencanakan pasti sudah tutup begitu kita sampai."


Izzar menerawang.


"Hmm... Ada sih restoran fastfood yang buka 24 jam. Ngga jauh." Izzar lalu menyebutkan restoran ayam goreng dan burger favorit Naira.


"Yuk!" Izzar bangkit menarik tangan Anaya.


Meski enggan dengan tempat makan yang ditawarkan, Anaya menurut juga. Selain lapar, ia hanya ingin menikmati waktu bersama Izzar.


Setelah menitipkan Naira pada Mba Kemi, mereka pun pergi.


Anaya hanya memesan beef burger, kentang goreng dan air mineral. Sedangkan Izzar memesan menu paket nasi lengkap dengan telur dan ayam goreng. Ditambah lagi dengan cheeseburger dan es cappucino. Semuanya ukuran besar.


"Kamu beneran kelaparan?" Anaya terpana melihat pesanan Izzar.

__ADS_1


"Dari siang aku belum makan."


"Kenapa?"


"Ngga sempat. Ada pesanan gambar desain yang harus selesai sore tadi," jawab Izzar sebelum mengunyah telurnya.


"Kamu sibuk terus sekarang. Rumahku malah belum selesai," protes Anaya.


"Rumahmu on schedule kok. Tapi kan kamu sendiri yang kemarin minta tambah kanopi di halaman belakang dan pagar diganti."


Anaya meringis.


"Klienmu sudah semakin banyak sekarang. Ada yang istimewa?" pancing Anaya.


"Cuma kamu klien yang paling istimewa." Izzar tersenyum membuat Anaya sedikit tersipu.


Ia membayangkan lingkungan kerja Izzar. Kemudian ia malah teringat Sasika dan rencana acaranya.


"Kamu dulu kenal Sasika karena sama-sama di dunia kerja yang sama?"


Izzar menghentikan makannya. Ia heran, menapa tiba-tiba nama itu disebut lagi?


"Bukan. Dia adik kelasnya Randi. Biarpun tantenya sama-sama pengusaha properti, tapi dia dulu ngga pernah tertarik."


Izzar menatap tajam Anaya. "Kenapa kamu tanya begitu? Kan kita sudah sepakat ngga membahas dia lagi?"


Anaya meneguk minumannya sebelum berkata, "perusahaan tantenya mau bikin acara launching apartemen. Dan dia jadi PICnya."


"Kamu ambil project acaranya?" Izzar agak khawatir.


"Sandra yang handle."


"Ya sudah. Bukan masalah kan berarti?"


Anaya mengigit sebatang kentangnya dan tenggelam dalam diam. Ia bingung bagaimana mengutarakan keresahannya jika terkait dengan Sasika.


Di seberangnya, Izzar pun jadi terdiam. Ia menahan rasa jengahnya karena Anaya kembali membahas perempuan yang telah dilupakannya. Meski ia menyadari, bagi Anaya, keberadaan Sasika yang tiba-tiba mewakili perusahaan Bu Erlina menjadi klien jasa event organizernya tentu membuatnya tidak nyaman.


Izzar bukannya tidak mau berempati. Tetapi, ia memiliki persoalan lain yang lebih memberati hatinya.


Dirinya sadar, ia harus menceritakan masalahnya itu pada Anaya. Hubungannya dengan Anaya yang semula murni simbiosis mutualisme , telah berubah menjadi hubungan personal dilandasi cinta. Dan cinta mestinya disertai dengan keterbukaan dan saling percaya.


Tapi, Izzar bingung bagaimana memulainya. Ia tidak bisa meraba bagaimana reaksi Anaya nanti jika mengetahui apa yang sebenarnya membuatnya terlambat pulang tadi.


Izzar menarik nafasnya panjang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2