
Pernikahan Randi tinggal menghitung hari. Anaya sibuk mengkoordinir persiapan acara, hingga agak terlupakan
dengan hubungannya yang mendingin dengan Izzar. Sebenarnya, dialah yang menjadikan suasana menjadi tak lagi hangat. Ia mengabaikan perhatian Izzar yang tetap tercurah seperti biasa. Sikap angkuh kembali dipilihnya untuk melindungi hatinya. Ia berharap dengan membekukan perasaanya, ia tak akan lagi kecewa jika Izzar memberikan waktu dan perhatiannya pada wanita lain, terutama Sasika.
Namun, meski Anaya memperlebar jarak, ia tak bisa sepenuhnya menghindari Izzar. Mau tak mau ia harus berbicara dengan lelaki itu untuk meminta akses vila dan memohon bantuannya mengurus perizinan di wilayah setempat.
Randi menyewa dua vila terdekat untuk keluarganya dan Sarah, juga sejumlah kamar hotel. Anaya termasuk dalam daftar keluarga besarnya. Ia tersenyum kecut membaca daftar pembagian akomodasi yang diberikan Randi siang itu, saat mereka tengah berdiri bersandar pagar rooftop vila memperhatikan tim Anaya dan pekerja vendor yang sedang mempersiapkan tenda dan kursi-kursi di halaman luas di bawah mereka.
Dirinya dan Izzar diberikan satu kamar di hotel yang sama dengan tempat Randi dan Sarah menginap.
“Kita sudah bisa check in mulai besok,” kata Randi. Itu artinya sehari sebelum acara pernikahannya.
“Aku cari tempat sendiri saja ya?” pinta Anaya.
“Terus, kamu mau nginap di mana? Di sini? Kan sudah penuh sama anak-anak kantormu?” Randi balik bertanya.
“Aku kan bisa langsung dari rumah aja. Naira juga kan masih harus sekolah.”
“Jangan bercanda, ah!” sela Randi tak suka dengan rencana Anaya. Ia yakin sepupunya ini sedang berusaha menghindari keluarga dan kerabatnya yang lain.
Anaya diam tak menanggapi. Pandangannya tertuju pada lengkungan Gunung Gede di kaki langit. Hati dan pikirannya berlarian menjejak pada sosok Izzar yang terasa asing sekarang. Sejak pertengkarannya terakhir, lelaki itu tetap memberikan perlakuan biasa kepadanya. Tapi, Anaya saja yang menjauh. Makanya ia mencoba menolak halus kamar hotel yang disediakan Randi.
“Nay!” Randi memanggil Anaya.
“Hmm?” Anaya menoleh. Randi memandanginya.
“Kamu kenapa?”
“Ngga apa-apa,” jawab Anaya datar.
“Masih ribut dengan Izzar?” selidik Randi.
Anaya menghela nafas. Kejadian di restoran beberapa waktu lalu sudah pasti diamati oleh Randi, yang sekarang menunjukkan keingintahuannya.
“Kenapa kalian ribut?” cecar Randi. Padahal pertanyaan sebelumnya belum juga dijawab Anaya.
‘Yaa… biasalah namanya juga rumah tangga. Pasti ada ributnya, Ran. Kamu juga nanti akan ngalamin.” Anaya menyikut pinggang Randi.
“Ya, tapi aku ngga mau juga seperti kalian berdua. Suka aneh, ngga jelas!” tuding Randi.
“Ngga usah mikirin aku, Ran. Aku baik-baik saja, kok!” sangkal Anaya.
__ADS_1
“Kamu sudah pasti akan selalu bilang baik-baik saja. Makanya aku ngga terlalu mikirin kamu. Aku lebih mikirin Izzar.”
Anaya merengut. Emosinya tersulut. Ini kedua kalinya Randi mengatakan hal serupa yang menunjukkan bahwa ia lebih mementingkan Izzar.
“Kenapa sih, setiap aku dan Izzar ada masalah, kamu lebih peduli dengan dia dibandingkan dengan aku?! Aku kan saudaramu?!” Nada suara Anaya meninggi.
Randi terbelalak dengan kemarahan Anaya yang tiba-tiba.
“Kenapa kamu marah?”
“Karena kamu selalu membela dia. Seolah dia ngga punya salah? Selalu aku yang salah?” Mata Anaya menatap Randi garang.
“Aku ngga menyalahkan kamu!” Randi balik menatap Anaya.
Anaya memalingkan wajahnya. Digigitnya bibir bawahnya, menahan luapan emosi di dadanya.
“Anaya…” Randi merangkul bahu sepupunya itu.
“Aku ngga membela Izzar dan ngga menyalahkanmu. Kalau aku kelihatan lebih peduli dengan Izzar, itu karena aku tahu dia sangat baik dan tulus kepadamu juga Naira.”
“Jadi, aku ngga baik?” tanya Anaya.
“Tapi, kenapa kamu seolah lebih memikirkan perasaan Izzar? Bukan aku?”
“Karena aku ngga pernah meragukan suamimu itu. Hati dan tindakannya selaras… Beda dengan kamu. Mulut dan hati kamu sering ngga sinkron,” Randi menjawab apa adanya.
Anaya sontak bergerak melepaskan tangan Randi dari bahunya. Api di dadanya kembali menyala. Ia tak terima Randi seakan mendewakan Izzar, dan mengungkapkan kekurangannya. Meskipun gambaran tentang dirinya memang benar.
“Sinkron gimana? Kamu ngga tahu aja dia pernah bohong. Malam-malam aku lihat dia ketemu wanita lain di coffee shop. Dia bilang itu kliennya. Ngga tahunya, mantan tunangannya… Itu yang kamu bilang selaras?” Anaya mencibir.
“Hmm… aku yakin alasannya karena dia ngga ingin kamu punya pikiran macam-macam.” Randi menyanggah.
Anaya tersenyum sinis.
“Aku tahu, soal Sasika yang memaksa ingin menemui Izzar. Tapi, percayalah, Izzar ngga akan main-main memberikan harapan apapun kepadanya. Dia cuma bagian dari masa lalu Izzar, Nay. Percaya sama aku!”
Randi kembali melingkarkan tangannya di pundak Anaya. Tak lagi mengelak, Anaya malah menyandarkan kepalanya di lengan Randi. Ia memang tengah membutuhkan sandaran saat ini.
“Kalau mereka masih ketemuan juga, bagaimana? Waktu di restoran sama kamu dan Sarah, aku lihat Sasika mengirimkan pesan meminta bertemu.” Anaya akhirnya menceritakan penyebab pertengkarannya dengan Izzar.
“Jadi, sebenarnya kamu cemburu, kan?” Randi menahan senyumnya.
__ADS_1
Anaya diam tidak menjawab. Ia malu mengakui isi hatinya.
“Kamu sudah menyampaikan ke Izzar, kalau kamu ngga suka dia nemuin mantannya lagi?”
Anaya tetap tak juga menyuarakan jawaban. Lidahnya kaku tak bergerak dan bibirnya rapat terkunci..
“Beginilah Anaya yang aku tahu. Sulit mengutarakan perasaannya sendiri. Memilih diam atau malah ngomong yang bertentangan.” Randi mengeratkan rangkulannya. “Cobalah belajar jujur dengan dirimu sendiri, Nay!”
“Aku takut, Ran.” Anaya membuka sedikit celah kegundahannya.
“Takut apa?” tanya Randi.
Bibir Anaya terbuka, tapi sepatah kata pun tak keluar. Dia bingung sendiri bagaimana mengungkapkan ketakutannya jika ia jujur dengan perasaannya. Hubungannya dengan Izzar didasari dengan transaksi materi, bukan cinta. Ia takut akan kecewa suatu hari nanti.
“Kamu takut Sasika bakal merebut Izzar?” Randi mencoba menebak yang dipikirkan Anaya.
“Bisa jadi kan?”
“Kenapa kamu jadi ngga percaya diri begini, sih? Kamu tuh lebih dari Sasika. Dia ngga ada apa-apanya. Tapi, kamu harus bisa menerima keberadaan Sasika yang cuma mantan tunangan. Izzar saja bisa menerima Randi kan?... Buat apa kamu takut? Apalagi status kamu kan isteri Izzar?” Randi bertanya penuh rasa heran.
Anaya menarik nafas dan menengadah memandang awan yang berserakan di langit menjelang sore. Ia memang isteri Izzar, di atas kertas kontrak yang beberapa bulan lagi akan berakhir.
“Izzar bukan Ridwan, Nay! Tapi, sebagai perempuan, kamu tetap harus bisa mengikat mata dan hati suamimu biar ngga melirik perempuan lain. Jaga penampilan, romantis sedikitlah sama suami sendiri. Jangan lempeng aja kayak jalan tol,” ledek Randi.
“Ih!” Anaya membalas ledekan kakak sepupunya itu dengan cubitan di pinggangnya.
Setelah memastikan persiapan acara Randi sudah sesuai dengan yang direncanakan Dian dan timnya, Anaya pulang.
Sepanjang jalan, ia memikirkan ucapan Randi. Terutama tentang untuk belajar jujur pada dirinya sendiri. Ia belum mengerti bagaimana cara yang tepat. Ia hanya tahu, ia harus mengalah dengan menghempaskan jarak dengan
Izzar yang telah ia ciptakan. Mungkin, langkah pertama yang harus dilakukannya adalah mengakui bahwa ia merindukan kedekatan dan keakraban bersama Izzar.
Anaya tiba di rumah jam tujuh malam. Mobil Izzar tidak ada di carport. Mba Kemi bilang, sejak pagi lelaki itu belum kembali ke rumah. Anaya memberanikan diri menelefon, tapi ponsel Izzar tidak aktif.
Karena penasaran, Anaya nekat menghubungi Maharani. Namun, gadis itu tidak bisa memberikan jawaban tentang keberadaan Izzar.
“Saya ngga tahu Pak Izzar kemana, Bu. Dari siang Pak Izzar keluar kantor, tapi ngga bilang mau kemana.”
“Oke! Terimakasih.” Anaya mengakhiri panggilannya dengan hati galau. Hatinya disesaki pertanyaan tentang keberadaan Izzar
***
__ADS_1