Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
41 - Memilih


__ADS_3

Keesokan paginya, Izzar memberikan Anaya akses laptopnya untuk melihat-lihat katalog mebeulair dan furnitur dari para rekanannya, juga foto-foto hasil pekerjaan desain interiornya.


Melihat semuanya, Anaya malah bingung karena jadi terlalu banyak pilihan yang menyebabkan konsep impiannya malah menjadi kabur. Waktu sejam tak terasa habis untuk menjelajahi semua gambar.


"Sudah dapat yang dicari?" tanya Izzar yang baru selesai menyuapi Naira sarapan.


"Kamu racun banget, sih! Aku jadi bingung!" Anaya melampiaskan kebimbangannya pada Izzar.


Izzar tertawa.


"Bantu aku pilih, Zar!"


"Kita ke tokonya temanku aja. Kamu bisa pilih langsung. Sekalian aku juga mau pesan barang di sana."


Anaya meminta Mba Kemi mengantar dan menemani Naira sekolah. Sementara ia ikut Izzar ke kantornya sebelum nanti ke toko furnitur yang disebutkan Izzar.


Dari dalam mobil, pandangan Anaya dilemparkan keluar jendela. Ia memperhatikan kesibukan di jalanan, terutama langkah cepat orang-orang yang dari penampilannya sedang menuju tempat bekerja. Wajah-wajah mereka serius dan sebagian tampak tegang. Mungkin karena diuber waktu, atau deadline. Bisa juga sebab dimarahi bos atau kliennya.


Anaya tersenyum sendiri. Jika tidak sedang mengambil cuti, mungkin ia pun akan seperti mereka. Tergesa mengejar target, menahan sabar pada klien yang menyebalkan. Meski ia pemilik perusahaan, tetap saja ia bisa merasakan nikmatnya tidak memikirkan pekerjaan.


"Kenapa senyum-senyum?" Izzar menegurnya di tengah konsentrasinya mengemudi.


"Aku lagi membandingkan orang-orang yang mau pada berangkat kerja itu dengan aku yang lagi cuti begini. Enak banget ternyata hidup ngga dibebani kerjaan."


"Ya sudah, kamu ngga usah kerja aja seterusnya," sahut Izzar.


Anaya langsung menoleh. "Maksudnya? Aku berhenti kerja gitu?"


"Ya kan kamu bilang enak hidup ngga dibebani kerjaan. Izzar membalikkan ucapan Anaya.


"Ya memang, tapi..." Anaya menjeda kalimatnya.


"Tapi apa?" Izzar meliriknya.


Anaya terdiam. Ia ragu hendak berkata 'aku dapat penghasilan dari mana?', sebab sedari dulu ia terbiasa mencari uang dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dan ia merasa bersyukur dengan kemandiriannya. Terbukti saat Ridwan mengkhianatinya, ia sama sekali tidak terpuruk secara ekonomi.


Sikap pemalas Ridwan dulu membuat Anaya menolak tuntutan menjadi ibu rumah tangga dan mendorongnya menjadi pekerja keras. Sedangkan bersama Izzar, Anaya belum tahu harus bagaimana. Ia belum memahami apakah ungkapan Izzar tentang tidak usah kerja seterusnya merupakan keinginannya atau hanya menanggapi ucapan Anaya saja.


Anaya merenung dalam hati. Sesungguhnya, ia kadang merasa lelah dengan pekerjaan yang dipilihnya. Pandangan hidupnya yang dulu money oriented, sekarang lebih berorientasi pada keluarganya.


Ia nyaman berada dekat Izzar. Ia senang saat lelaki itu menjaga dan melindunginya. Ia juga tak keberatan dibimbing dan diarahkan. Ia pun menyukai momen saat Naira cemburu padanya. Intinya, ia merasa lengkap dan bahagia.


Kembali pada gagasan berhenti bekerja, membuat Anaya menghela nafas. Ada satu pertanyaan yang menggelayuti hatinya. Jika ia berhenti bekerja, akankah Izzar bertanggung jawab penuh dengan semua kebutuhan keluarga mereka?


Ingin Anaya bertanya, namun disadarinya mereka telah tiba di depan kantor Izzar.


Sementara Izzar menyelesaikan tugasnya, Anaya menunggu ditemani Maharani. Gadis tetangganya itu tampak berbeda sekarang. Lebih dewasa dan pintar berdandan. Walau konon ibu Maharani pernah menjodohkan anaknya dengan Izzar, Anaya tidak merasa cemburu sedikitpun. Mungkin juga karena sikap Maharani yang wajar, tidak kecentilan dan menghormati Anaya.

__ADS_1


Dua jam kemudian, Izzar membawa Anaya ke toko furnitur temannya. Anaya terperangah melihat model-model mebel, serta perlengkapan dan dekorasi rumah beraneka macam desain yang tersedia. Semuanya tampak bagus di matanya.


Anaya kewalahan. Izzar yang semula ingin memberikan kebebasan, akhirnya membantunya mempersempit pilihan.


"Pilih yang paling kamu sukai, tapi yang memang benar dibutuhkan," kata Izzar.


Tak lama, Anaya selesai memesan barang-barang yang memang paling diperlukan. Ia menunggu semua dihitung, sambil memperhatikan Izzar berdiskusi dengan temannya tentang pesanan barang untuk proyeknya.


Seorang wanita pegawai toko memanggil Anaya ke kasir. Ia menyerahkan faktur pemesanan.


"Semua barang yang ready stock akan dikirim besok ya, Bu. Kalau yang custom paling lama dua minggu lagi. Nanti kita infokan.


"Oke!" Anaya mengeluarkan kartu debit dari tasnya.


"Sudah dibayar kan, Bu."


"Siapa yang bayar?" Anaya heran.


"Bapak," jawab wanita itu sambil menunjuk Izzar yang duduk membelakanginya.


Ia tak menyangka Izzar akan mengeluarkan uang cukup besar untuk membayari semua belanjaannya.


"Izzar... Kenapa kamu yang bayarin tadi?" tanya Anaya saat mereka berada di mobil lagi.


"Ngga boleh suami bayarin?"


"Jangan meremehkan aku dong Anaya! Dulu kamu nikahin aku memang pas kondisi aku lagi terpuruk. Aku mau menerima uangmu waktu itu, karena memang sifatnya transaksional. Kamu butuh suami bohongan, aku butuh bayar hutang. Tapi, bersyukur semuanya berubah dan mulai membaik, kan?"


"Iya, tapi tetap aja aku ngga enak," kata Anaya.


Izzar mengerem mobilnya halus. Lampu merah di depan sana memaksanya berhenti.


"Kok, jadi ngga enak?" Izzar memandangi Anaya. "Kita keluarga kan?"


Anaya mengangguk.


"Aku kerja keras memangnya untuk siapa? Ya buat keluargakulah! Kenapa kamu jadi ngga enak?... Atau, kamu masih menganggap aku orang lain? Suami pura-pura?" Izzar melontarkan pertanyaannya dengan disertai tawa getir.


"Ngga!" Anaya merasa tersudut. "Tapi, paling ngga kita bisa sharing!"


Izzar menggeleng.


"Aku dididik mamaku untuk menghargai dan ngga membebani perempuan. Apalagi isteri."


Anaya diam. Setelah ia ingat-ingat, Izzar memang tak pernah meminta uang kepadanya selama ini. Berbeda dengan Ridwan, yang untuk membeli bensin saja menadahkan tangan.


"Kamu dan Naira itu tanggung jawabku. Walaupun kamu bekerja dan punya penghasilan sendiri, aku yang wajib memenuhi kebutuhan kalian. Kelak jika uangku sudah cukup, aku juga akan membelikan rumah yang lebih layak dari jerih payahku. Jadi, jangan pernah merasa ngga enak, oke!" Telunjuk Izzar menyolek pipi Anaya.

__ADS_1


"Jadi, kalau aku ngga kerja, ngga apa-apa?" Anaya teringat pertanyaan yang tertinggal di hatinya.


"Ngga apa-apa. Aku ngga pernah memaksa kamu, kan?... Aku malah senang kamu banyak di rumah.


"Kalau aku bosan gimana?"


"Tinggal liatin muka aku aja. Pasti dalam sekejap kamu akan kembali ceria dan bersemangat menjalani hidup."


Tangan Anaya seketika melayang hendak mencubit lengan Izzar. Namun, Izzar lebih cepat menangkapnya. Beberapa saat keduanya saling menarik dan menahan, hingga terdengar klakson mobil di belakang mereka memperingatkan lampu lalu lintas telah berubah warna hijau.


"Kamu kadang nyebelin, Zar!" Anaya merengut.


Izzar tertawa. Ia kembali memusatkan pandangannya ke depan dan spion.


"Sebenarnya ngga, asal kamu tuh santai sedikit. Jangan ngambekan."


"Memangnya aku tukang ngambek?"


"Iya. Makanya Naira ikut-ikutan. Posesifnya mirip kamu. Cuma, anak itu berani ngomong apa adanya. Beda sama kamu yang cuma dipendam, tapi uring-uringan ngga jelas," tutur Izzar apa adanya.


Anaya menahan tawanya. Ia selalu tak bisa berkutik jika Izzar sudah membacakan kelakuannya. Betapa ia cinta pada lelaki di sampingnya ini. Ia sungguh berharap Izzar juga benar-benar tulus mencintainya.


Izzar mengajak makan siang sebelum ke rumah Anaya untuk menata barang-barang yang telah dikirimkan Randi.


Mereka berhenti di sebuah restoran. Saat Izzar sedang memarkir mundur mobilnya, Anaya yang pandangannya tetap bebas ke segala arah tiba-tiba melihat dua orang dikenalnya. Jantungnya langsung berdebar seketika.


Dari ruang pandang di sisi kirinya, ia melihat Ridwan dan Sasika berdampingan memasuki pintu restoran.


"Izzar!"


"Ya?" sahut Izzar yang masih berfokus merapikan posisi mobilnya.


Anaya menyadari, Izzar tidak melihat Ridwan dan Sasika.


"Kita makan di tempat lain saja, ya!" Anaya memohon.


"Memangnya kenapa di sini?" tanya Izzar heran. Sebab, Anaya sebelumnya tidak keberatan saat ia menawarkan rumah makan ini.


"Aku berubah pikiran. Dari kemarin lagi pengen banget makan ayam woku. Aku baru ingat di depan sana ada restoran khas masakan Manado."


"Jauh ngga? Aku sudah lapar banget."


"Ngga! Cuma 200 meter dari sini."


"Oke!"


Anaya lega Izzar menurutinya. Ia memilih menyimpan sendiri pemandangan yang tadi dilihatnya, biarpun benaknya penuh tanya. Bagaimana bisa Ridwan dan Sasika bisa bersama?

__ADS_1


***


__ADS_2